![Lu[C]Ka Cinta](https://asset.asean.biz.id/lu-c-ka-cinta.webp)
Esok paginya, Cinta sudah berkutat dengan tanaman seperti biasa. Tak ada lagi raut kesedihan di wajahnya seperti semalam. Dia meminta Edi untuk menukar posisi tanaman sesuai dengan keinginannya.
"Nona, kenapa di pindahkan?" Tanya Alisa.
"Agar mereka tidak bosan berada di tempat yang sama setiap harinya."
"Nona---"
"Hahaha, aku hanya bercanda, Al, jangan dianggap serius. Emh, aku hanya ingin mengelompokkan mereka saja. Karena menurutku, ada tanaman yang cepat rapuh dan layu, lalu ada juga tanaman yang tangguh seperti aku, hahaha."
"Lalu? Apa yang akan Nona lakukan?"
"Kita kumpulkan tanaman yang tangguh di sebelah sini, karena disini sinar matahari lebih terik di banding yang sebelah sana. Aku yakin mereka akan tetap berdiri kokoh meski diterpa badai sekalipun, seperti aku, iya gak sih?"
"Saya baru kepikiran, Nona. Ide Nona bagus juga." Timpal Edi.
"Benarkah? Oke kalau begitu ayo kita mulai memilah." ucap Cinta penuh semangat.
Di sisi lain di mansion utara,
"Kamu tidak menjenguk Cinta seperti yang Nenek kamu minta. Kasihan kan dia. Alisa bilang Cinta terlihat sangat sedih semalam," ucap Tommy.
"Tidak perlu! Lagipula untuk apa aku menjenguknya? Yang ada dia jadi besar kepala nantinya. Coba kamu lihat itu!" Lucka menunjuk ke arah Cinta.
"Dia kelihatan baik-baik saja. Malah dia kelihatan bahagia. Sudahlah, kita lanjut joggingnya lalu bersiap pergi ke kantor." lanjut Lucka tanpa melihat ke arah Cinta lagi.
...***...
Pukul enam pagi Cinta masih berada di kebun. Karena ternyata memilah tanaman membutuhkan waktu yang cukup lama dari yang dia kira. Saat sedang menata ulang posisi tanaman, Alisa memberi kabar kalau Chef Marko sedang ada di dapur milik Cinta.
Cinta bergegas meninggalkan taman dan menuju dapur.
"Hai, Chef..." sapa Cinta.
"Hai, Nona. Bagaimana kabar Nona? Saya dengar Nona tidak enak badan semalam." Balas Chef Marko.
"Aku gak kenapa-napa kok, chef. Oiya, kenapa chef memasak disini?"
"Jadi, Nona belum tahu? Tuan dan Nyonya sedang ada urusan bisnis selama beberapa hari. Dan Tuan Jansen meminta saya untuk memasak di dapur milik Nona saja."
"Eh? Kakek dan nenek pergi? Kapan?" tanya Cinta.
"Tadi malam, Nona." Chef Marko kembali menyiapkan bahan-bahan yang akan di masaknya.
"Hari ini mau masak apa, Chef?"
"Nasi goreng."
__ADS_1
"Kalau begitu biar aku saja yang melakukannya."
Chef Marko mengernyitkan dahi. Dan Cinta membalas dengan senyuman manisnya.
"Chef, sini aku bisikin." Cinta berjinjit untuk bisa meraih telinga Chef Marko.
"Apa?! Nona yakin?"
"Iyalah yakin. Sangat yakin! Mari kita lakukan!" Ucap Cinta dengan bersemangat.
Cinta memutuskan untuk memasak sendiri menu sarapan pagi hari ini dibantu oleh Chef Marko. Hanya nasi goreng. Ini sangat mudah baginya. Tapi, bukan itu bagian tersulitnya. Kali ini Cinta ingin memasak untuk semua asisten di rumah itu. Lalu menyantapnya bersama dengan mereka disini.
Cinta meminta Alisa untuk menyiapkan meja dan kursi tambahan agar di tata di dekat dapur. Lalu meminta Alisa untuk memanggil semua asisten yang shift pagi ini agar sarapan bersama di mansion utara.
Lucka sudah berdandan rapi dengan setelan jasnya seperti biasa bersama Tommy yang setia mendampingi langkahnya. Lucka mengerutkan kening kala melihat kesibukan Cinta dan Alisa yang dibantu Edi sedang menata meja dan kursi di meja makan. Ada beberapa meja makan tambahan di sekitar meja makan yang biasa ia tempati.
Lucka nampak tak suka dengan apa yang dilakukan Cinta kali ini. Ia tak bisa mentolerir lagi perbuatan Cinta yang seenaknya sendiri.
"Ada apa ini? Kenapa ada banyak meja dan kursi disini?" tanya Lucka dingin.
"Hai, Lucka. Kamu sudah datang. Silakan duduk!" Dengan santainya Cinta menyapa Lucka yang matanya sudah memerah karena marah. "Tommy, kamu juga duduk disana. Kita akan sarapan bersama hari ini."
"Sarapan bersama? Apa yang sebenarnya kamu lakukan, huh? Apa karena kakek dan nenek tidak ada disini jadi kamu melakukan hal seenak hatimu sendiri?" geram Lucka.
"Ya ampun, Lucka. Ini hanya sarapan pagi. Breakfast! Oke! Tidak ada yang lain kok."
"Nah, itu mereka datang. Alisa! Cepat persilakan mereka untuk duduk."
Tommy terkekeh melihat Lucka yang kalah debat dengan Cinta. Ia akui Cinta memang pantang menyerah meskipun Lucka berkali-kali membuatnya bersedih.
Setelah semua tamu datang, Cinta memberi sedikit pidato di depan semua asisten. Ia berucap jika semua asisten disini adalah keluarganya juga. Dan ia berterimakasih karena sudah disambut baik selama tinggal di rumah keluarga Bahari.
Lucka berdecih ketika semua asisten menyukai makanan buatan Cinta dan berterimakasih karena sudah menyiapkan sarapan untuk semua orang. Lucka merasa kalah kali ini.
...***...
Usai sarapan pagi, Cinta membereskan semua tempat ke kondisi semula. Meski saat itu Lucka tak berkomentar apapun lagi dengan apa yang sudah dilakukannya, namun ia masih was-was kalau tiba-tiba Lucka memarahinya lagi seperti kemarin.
"Saya akui, Nona memang luar biasa." Puji Chef Marko.
Cinta tersenyum simpul. "Terima kasih atas pujian dari Chef. Aku hanya melakukan apa yang dikatakan oleh hatiku."
"Nona lebih dewasa dari usia Nona sebenarnya. Dan juga, Nona mempunyai jiwa yang tangguh. Saya yakin Nona bisa meluluhkan hati Tuan Lucka."
"Hahaha, masa sih Chef? Apa iya si songong itu bisa bertekuk lutut di depanku?"
"Perjuangan Nona masih panjang. Bersemangatlah, Nona!"
__ADS_1
"Thanks, Chef, sudah menyemangatiku."
Saat sedang membereskan peralatan dapur, Chef Marko mendapat panggilan video dari seseorang.
"Hai, bro, gimana kabarnya? Tumben lo lama gak mampir ke resto gue."
"Iya, gue sibuk. Sorry-sorry. Mungkin weekend ini gue ke tempat lo."
"Iya, lo harus mampir. Gimana sama calon nyonya baru lo disana?"
Chef Marko mulai canggung karena temannya menyebutkan tentang Cinta. Cinta sontak menatap ke arah Chef Marko.
"Dia ada disini, Juna..." Akhirnya Chef Marko mengenalkan Cinta pada temannya yang bernama Juna.
"Hai..." sapa Cinta.
"Hai juga. Salam kenal Nona kecil."
"Kamu...? Adalah Chef Juna yang terkenal itu?" ucap Cinta tak percaya.
"Iya, ternyata Nona mengenal saya juga. Saya dengar Nona suka memasak."
"Iya, Chef. Saya belajar banyak dari Chef Marko."
"Hei, Jun. Sudah dulu ya. Nanti gue kabarin kalo mau ke sana. Bye!" Chef Marko mematikan panggilan video. "Maaf Nona, jika si Juna agak tidak sopan."
"Tidak apa. Jadi, Chef berteman dengan dia? Bagaimana dia jika di dunia nyata? Apa galak juga seperti yang diperlihatkan di televisi?"
"Tidak. Juna orang yang baik. Dan dia sangat disiplin. Dulu aku bersaing degannya untuk bisa masuk ke rumah ini."
"Hah? Benarkah? Lalu, dia kalah dari Chef?"
"Tidak juga. Dia dipercaya untuk mengelola akademi memasak yang di sponsori oleh JB Grup."
"Akademi memasak?" Cinta cukup terkejut mendengar ada hal semacam itu disini.
"Semacam sekolah memasak untuk amatir dan profesional. Tiap tahun akademinya hanya menerima 20 murid saja." jelas Marko.
"Oh begitu. Jadi Chef Juna juga pengajar disana." Cinta menggaruk tengkuknya.
"Ya, begitulah."
Cinta mengangguk dan tersenyum.
...***...
Bersambung...
__ADS_1
*Chef Juna bakalan jadi cameo disini 😁😁