Lu[C]Ka Cinta

Lu[C]Ka Cinta
42. KARENA KAMU CINTA


__ADS_3

Sudah satu minggu Lucka jadi murid kursus Cinta di kelas memasak. Lambat tapi pasti, Lucka mulai terbiasa dengan berada di dapur. Ia mulai membuat menu makanannya sendiri meski masih dibantu oleh Chef Marko. Suasana di kediaman Baharipun mulai kembali ceria dengan kehadiran Lucka yang selalu menghebohkan rumah dengan acara memasaknya. Lucka menghidupkan kembali dapur yang dulu dipakai Cinta untuk memasak, namun sudah lama terbengkalai.


Kakek Jansen dan Nenek Jessi menyukai perubahan Lucka yang kini nampak lebih ceria. Lucka yang dulu dikenal dengan si muka kaku, kini lebih sumringah saat bertemu dengan orang lain.


Hari itu Cinta tak ada kelas mengajar. Ia yang sedang santai di rumah, tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan Chef Juna yang mengajaknya keluar.


"Kita mau kemana?"


"Bisa tidak kalau aku ajak pergi, kamu gak usah nanya mau kemana."


"Oops! Maaf, hehe. Habisnya ini kan aku libur mengajar. Biasanya Mas menyuruhku untuk istirahat saja di rumah. Kenapa tiba-tiba...?"


"Ada sesuatu saja. Makanya aku mengajakmu pergi."


Cinta tak bertanya apapun lagi dan menikmati perjalanan mereka.


#


#


Sesampainya di sebuah tempat,


"Tunggu, Mas! Ini kan ... hotel? Mas mau apa ajak aku ke hotel?"


"Jangan negative thinking dulu kenapa sih? Aku tidak mengajakmu 'ngamar'. Ayo ikut saja!" Chef Juna berjalan cepat mendahului Cinta.


"Ngamar katanya? Hiiiii!" Cinta bergidik ngeri.


Ternyata mereka menuju sebuah resto yang ada di hotel bintang lima tersebut.


"Masuklah! Seseorang menunggumu disana." Ucap Chef Juna.


"Seseorang? Siapa?" Cinta mulai ragu.


"Sudah kubilang aku tidak akan melakukan hal yang tidak kamu sukai. Pergilah! Kamu pasti ingin menemuinya juga."


"Heh?"


Meski ragu, Cinta tetap masuk ke dalam resto yang tertutup.


"Nona Cinta!"


"Eh? Pak Teddy?" Cinta mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Silahkan, Nona. Tuan besar sudah menunggu."


"Tunggu! Tuan Besar? Apakah maksudnya adalah..."


"Kakek?" Cinta senang sekaligus terharu bertemu lagi dengan Kakek Jansen.


"Cinta, kemarilah, Nak." Kakek Jansen menyambut Cinta dengan senyuman.


Mata Cinta berkaca-kaca saat bertemu dengan Kakek Jansen.


"Apa kabarmu, Nak? Kamu sudah besar sekarang."


"Kakek, maafkan Cinta. Selama ini tidak pernah mengunjungi kakek dan nenek."


"Tidak apa, Nak. Kakek tahu kamu masih marah dengan kakek."


"Tidak, Kek. Cinta gak marah sama kakek."


"Bagaimana kabar ibumu?"


"Kabar ibu baik, Kek. Bagaimana dengan nenek? Kenapa tidak ikut dengan kakek?"


"Syukurlah kalau kalian baik-baik saja. Maaf meminta Juna membawamu kesini. Karena kakek takut kamu tidak mau menemui kakek."


"Jangan menganggapnya sebagai hutang, nak. Itu adalah kewajiban kakek."


"Tapi, kenapa kakek tiba-tiba ingin bertemu denganku?"


"Kamu pasti sudah bertemu dengan Lucka, bukan?"


Cinta mengangguk.


"Dia mendaftar di kelas memasakmu. Maaf kalau dia merepotkanmu."


"Tidak sama sekali, Kek. Lucka ... dia sangat cepat belajar."


"Dia sudah banyak berubah, Cinta. Sejak kakek memintanya untuk mengurus perusahaan Papanya di Singapura, dia mulai berubah. Kakek yakin itu pasti karena kamu."


"Eh? Karena aku?" Cinta menghela nafas lalu tersenyum.


#


#

__ADS_1


#


Cinta terus memikirkan kata-kata Kakek Jansen kemarin. Rasanya tidak pernah nyata kalau kakek Jansen akan berterimakasih padanya. Cinta memang merasakan kalau Lucka sudah berubah. Dia bukan lagi pria kaku dan egois seperti dulu. Cinta merasakannya setelah melihatnya beberapa kali di kelas mengajar. Dan hari ini, mereka akan kembali bertemu.


Cinta terus menghela nafas kala Lucka selalu mencuri pandang untuk menatapnya diam-diam. Keadaan sangatlah canggung, namun Cinta berusaha untuk bersikap profesional. Ia tak menghiraukan tatapan Lucka yang terlihat berbeda terhadapnya.


Kelas memasak telah usai dan Cinta masih berkutat membereskan alat-alat masak. Sudah tak terlihat lagi Lucka yang biasanya ikut nimbrung membantunya.


"Syukurlah kalau dia sudah pulang." Batin Cinta.


Cinta mengunci pintu kelas dan memastikan lagi kalau pintu telah tergembok rapat.


"Aku antar pulang ya, Chef!"


Suara itu membuat Cinta terkesiap tak percaya. "Lucka?! Kamu ngapain masih disini?"


"Aku menunggu Chef. Gimana? Aku antar pulang ya! Sebentar lagi hari mulai gelap, lho!"


"Gak perlu, terima kasih. Aku bisa naik taksi."


"Tapi disini kayaknya jarang ada taksi lewat deh! Udah ikut aja, Chef!"


"Lucka! Jangan maksa!"


"Cinta, ada apa?" Chef Juna datang menengahi mereka.


"Gak ada apa-apa, Mas. Ini hanya..."


"Mas? Hahaha, yang benar saja? Kamu memanggil dia, 'Mas'? Apa tidak salah? Hahahaha." Lucka memotong kalimat Cinta.


"Apanya yang lucu, tuan muda Lucka?" Chef Juna mulai kesal.


"Udah, Mas. Gak usah diladeni." Cinta melerai.


"Tunggu! Tunggu! Jadi kalian...? Kalian punya hubungan? Yang benar saja!" cebik Lucka.


"Iya, saya adalah kekasih Cinta sekarang. Anda mau apa?"


"Saya gak mau apa-apa, tapi coba lihat dong. Kalian sama sekali gak cocok! Dan kamu, Cinta! Masa iya kamu mau sama cowok yang usianya dua kali lipat dari usia kamu? Yang benar saja?!"


"Apa kamu bilang?!" Chef Juna siap mengarahkan tinjunya ke arah Lucka kalau saja Cinta tak menghalanginya.


"Hentikan, Lucka! Bukan urusan kamu, aku mau bersama dengan siapa. Ayo, Mas, kita pergi dari sini. Jangan pedulikan dia!"

__ADS_1


Lucka tersenyum menyeringai melihat kepergian Cinta dan Chef Juna.


__ADS_2