Lu[C]Ka Cinta

Lu[C]Ka Cinta
EXTRA PART : HONEYMOON


__ADS_3

Cinta menatap Lucka tajam setelah insiden sarapan pagi berakhir. Lucka benar-benar tidak tahu jika semalam, dirinya dan Cinta akan melakukan malam pertama dengan setengah sadar. Untuk Lucka sendiri, dia sangat sadar ketika melakukannya. Namun bagi Cinta, entah kenapa terasa bagai mimpi saja.


Saat itu Cinta memang sudah terlelap ketika Lucka memasuki kamar pengantin mereka. Lucka membersihkan diri terlebih dahulu lalu setelahnya ia ikut merebahkan tubuh lelahnya disamping Cinta.


Entah bagaimana memulainya, Lucka yang akan terpejam tiba-tiba dikagetkan dengan tangan Cinta yang terulur memeluknya. Tentu saja Lucka tidak bisa menolak lagi. Dengan gerakan pelan, Lucka pun membalas pelukan Cinta.


Posisi mereka yang begitu intim membuat Lucka kehilangan kendali. Tentu saja dia menginginkan Cinta sudah sejak lama. Bahkan setiap kali bertemu rasanya ia ingin merasakan manisnya madu yang diberikan oleh bibir Cinta.


Lucka dengan pelan menempelkan bibirnya ke bibir tipis Cinta. Awalnya hanya sebatas ciuman biasa. Namun lama kelamaan menjadi sebuah ciuman panas yang menuntut.


Cinta yang masih terpejam pun ternyata ikut terbawa dalam suasana panas dipenuhi gairah. Bahkan bibirnya mengeluarkan suara lembutnya yang membuat Lucka makin bersemangat.


Hingga akhirnya...


"Hentikan!" Cinta menghentikan Lucka yang sedang bercerita mengenai malam pertama mereka.


"Baiklah. Ini ... sudah menjadi takdir. Mungkin memang aku ditakdirkan untuk begini." lirih Cinta sendu.


"Sayang... jangan bicara begitu. Kita bisa mengulanginya lagi nanti."


Cinta memberikan tatapan membunuh kearah Lucka.


"Oke! Aku tidak akan bicara lagi. Aku akan membantumu menuju kamar mandi. Kamu tenang saja. Aku hanya membantu saja, sayang. Jangan takut!"


Cinta pun mengangguk patuh. Lucka menggendong Cinta ala bridal dan membawanya ke kamar mandi.


"Mandilah dulu! Aku akan siapkan pakaian ganti untukmu!" ucap Lucka penuh perhatian.


Didalam kamar mandi, Cinta merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa dirinya tidak ingat sedikitpun tentang malam pertama mereka? Bukankah banyak orang bilang jika malam pertama adalah malam yang paling berkesan? Dan kini Cinta malah tidak mengingatnya.


Lima belas menit Cinta berada di kamar mandi dengan badan yang sudah segar.


"Aku tidak tahu seperti apa selera berpakaianmu. Aku mengambilkan ini. Semoga kamu suka!"


Cinta terharu dengan perlakuan hangat Lucka padanya. Usai mengganti baju, Lucka membantu Cinta untuk mengeringkan rambut panjangnya.


Cinta tersipu malu ketika dengan telatennya Lucka menyisir rambut panjangnya.


"Terima kasih, suamiku. Kamu tidak perlu sampai harus melakukan ini padaku." ujar Cinta.


"Tapi aku suka melakukannya. Jadi, jangan melarangku."


Cinta tertawa. "Ayo kita keluar! Aku gak enak kalau di kamar terus."


"Ibumu tadi pergi bersama bude Sri dan yang lainnya." balas Lucka.


"Hah?! Pergi kemana?"


Lucka mengedikkan bahunya. "Aku tidak tahu. Tapi sepertinya mereka memang sengaja meninggalkan kita sendiri disini." Lucka menggaruk kepalanya.


"A-apa maksudmu?" Cinta melongo bingung.


"Mungkin mereka ingin memberi kejutan sebuah hadiah bulan madu di pulau kapuk."


"Pulau kapuk? Dimana itu?" tanya Cinta serius.


"Tuh!" Lucka menunjuk kearah tempat tidur.

__ADS_1


"Ish, kamu ini!" Cinta memukul lengan Lucka kemudian keluar dari kamarnya.


Memang benar tidak ada siapapun disana. Sepertinya apa yang dikatakan Lucka memang sebuah kebenaran.


Hingga siang menjelang, Cinta dan Lucka hanya bersantai ria dan duduk di sofa sambil menonton acara televisi.


"Sayang, kamu ingin bulan madu kemana?" tanya Lucka.


"Hmm? Bulan madu? Aku rasa itu..."


"Sssttt! Jangan membantah! Aku ingin memiliki waktu berdua hanya denganmu. Please!" Lucka memohon.


"Huft! Memangnya kita mau kemana? Aku tidak pernah pergi jauh ataupun ke luar negeri." Cinta meringis.


"Kita akan menaiki pesawat jet pribadi milik JB Grup. Jadi, kamu akan nyaman ketika mengudara. Bagaimana?"


Cinta tidak bisa menjawab lagi. Ia hanya mengangguk patuh.


#


#


#


"Jadi, kamu beneran mau bulan madu dengan Cinta?" tanya Tommy menyelidik.


"Iya, Tom. Tolong nanti kamu handle semua pekerjaanku ya!"


"Ah, kebiasaan! Kapan aku juga bisa berlibur?" keluh Tommy.


"Dih, sorry lah! Aku akan mencari alternatif liburan sendiri saja. Dari pada gratis tapi makan hati." Tommy menjulurkan lidahnya dan membuat Lucka terbahak.


Di dalam kamar Cinta di kediaman keluarga Bahari,


Gadis yang sudah tidak perawan itu kini sedang membereskan barang-barang yang akan di bawanya berbulan madu. Sebenarnya ia tak ingin membawa banyak barang, karena pastinya Lucka akan memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.


"Sayang, apa sudah siap?" tanya Lucka memasuki kamar mereka.


"Hmm, sudah semua sih. Tapi aku takut nanti ada yang gak kebawa." Cinta mengecek kembali barang bawaannya.


"Sayang, kita bisa membelinya nanti disana. Oke?"


"Suamiku, kalau disini ada, ngapain susah susah beli disana? Sudah sana kamu mandi saja! Aku akan mengecek semuanya lagi."


Lucka menggeleng pelan dengan tingkah aneh istrinya.


Tibalah mereka di hari yang di nanti-nanti. Sebenarnya Lucka memilih tempat bulan madu yang tidak jauh dari negara mereka. Selain karena ia takut Cinta terlalu lelah karena perjalanan jauh, juga karena disana juga banyak tempat yang indah.


Lucka memilih Macau untuk tempat mereka berbulan madu. Tempat yang sangat cocok untuk pasangan muda memadu kasih.


Cinta dan Lucka berpamitan dengan kedua keluarga masing-masing sebelum berangkat berbulan madu.


"Semoga setelah pulang, kalian membawa kabar yang baik ya," ucap Jessi.


"Nenek!" Cinta tersipu malu ketika nenek menggodanya dengan hal seperti itu.


"Lucka, jaga cucu menantu nenek ya! Jangan membuat dia kelelahan karena ulahmu!" Jessi memukul pelan lengan Lucka.

__ADS_1


Cinta berpamitan pada Inah dan anggota keluarga yang lain.


"Ibu, doakan aku ya!"


"Iya sayang. Ibu selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Sekarang pergilah. Nak Lucka sudah menunggumu."


"Hei, buddy. Sukses ya dengan bulan madunya." ucap Tommy.


"Sialan kau! Kau mau mengejekku hah?!"


"Astaga, Bos. Anda sensitif sekali. Jangan-jangan..."


"Jangan-jangan apa?" Semua orang menunggu kalimat lanjutan yang akan di katakan Tommy.


"Tidak ada lanjutannya. Sudahlah, kalian cepat berangkat dan buatkan keponakan yang lucu-lucu untukku, hehe." celetuk Tommy.


"Dasar kau! Makanya menikah sana! Kau akan tahu menyenangkannya sebuah pernikahan."


Cinta memukul lengan Lucka. "Kamu tuh! Kalau bercanda jangan kelewatan deh!" bisik Cinta.


"Baiklah, semuanya. Aku dan Cinta berangkat dulu ya! Daaah semuanya!"


#


#


#


Perjalanan menuju Macau pun di mulai. Cinta terkagum-kagum dengan desain interior yang ada di dalam pesawat.


"Sudah jangan melongo terus. Nanti ada lalat masuk lho!" lerai Lucka dengan terkekeh.


"Haaah! Kamu ini. Aku duduk dimana?" tanya Cinta polos. Ada beberapa tempat duduk disana dan hanya ada mereka berdua disana.


"Duduk dimana saja, sayang... Duduk di pangkuanku juga boleh!"


"Dih...!" Cinta mengerucutkan bibirnya.


Setelah beberapa jam mengudara, kini mereka telah tiba di sebuah resort dekat pantai.


Cinta bersorak gembira melihat gulungan ombak yang saling berkejaran.


Ia langsung terjun ke pantai dan menikmati dinginnya air laut yang menerpa kakinya.


"Cinta, kamu gak capek?" tanya Lucka.


"Tidak. Aku ingin langsung menikmati semua ini. Boleh ya?"


Mana mungkin Lucka menolak. Ia hanya mengangguk dan mendapat suara teriakan gembira dari bibir Cinta.


"Hmm dasar! Hei! Apa masa kecilmu kurang bahagia hingga begitu senang hanya dengan melihat ombak?" teriak Lucka.


"Iya! Masa kecilku memang tidak seberuntung kamu!" balas Cinta.


Melihat Cinta yang begitu bersemangat, membuat Lucka akhirnya ikut terjun ke pantai. Mereka bermain air laut berdua.


Tawa dan canda memenuhi pantai yang ternyata hanya ada mereka berdua saja.

__ADS_1


__ADS_2