Lu[C]Ka Cinta

Lu[C]Ka Cinta
EXTRA PART : After Lamaran


__ADS_3

Keesokan harinya, Lucka sangat bersemangat untuk bertandang ke rumah Cinta usai semalam lamarannya di terima oleh Cinta. Sesuai dengan tradisi yang diutarakan oleh Cinta jika setelah acara lamaran, calon mempelai wanita berkunjung ke rumah calon mempelai pria dengan membawa makanan yang di masak oleh keluarga si wanita.


Lucka hanya mematuhi apa yang Cinta jelaskan saja. Ia berpamitan pada Jessi dan mengatakan akan menjemput Cinta.


Sementara di rumahnya, Cinta sedang sibuk menyiapkan berbagai menu untuk ia bawa ke rumah keluarga Bahari. Istilah lainnya adalah 'ngirim' calon mertua setelah prosesi lamaran.


Cinta bersama dengan keluarga yang selalu menyayanginya, memasukkan makanan yang sudah dimasak kedalam kotak makanan.


"Nduk, ini namanya sambal gorenv tempe. Kalau disini biasanya di sebut orek tempe. Tapi ibu membuatnya khas dengan bumbu sana saja." jelas Inah.


Cinta tersenyum. Hatinya lega karena semalam satu babak dalam hidupnya telah ia lewati. Tinggal menunggu babak-babak selanjutnya yang akan terjadi nanti.


Terdengar bunyi ketukan di pintu rumah Cinta. Gadis itu segera berlari menuju depan pintu. Ia merapikan sedikit penampilannya agar terlihat segar di mata Lucka.


Senyum mengembang ia perlihatkan untuk menyambut sang kekasih hati. Namun ternyata senyum itu surut tatkala ia tak mendapati Lucka yang berdiri di balik pintu melainkan orang lain.


"Chef Juna?" Cinta terpekik kaget.


"Hai, Cinta. Kamu kaget? Apa kamu pikir saya ini Lucka?"


Cinta menggaruk tengkuknya. "Bukan begitu, Chef. Mari masuk, Chef."


"Tidak perlu. Saya hanya sebentar saja. Saya ingin berpamitan denganmu."


"Eh? Memangnya Chef mau kemana?" tanya Cinta.


"Saya akan kembali ke luar negeri. Saya akan kembali berkarir disana."


"Eh?" Ada semburat kesedihan di wajah Cinta.


"Selamat ya, Cinta. Akhirnya kamu meraih kebahagiaanmu sendiri. Kamu selalu memikirkan orang lain. Sudah saatnya kamu memikirkan kebahagiaan kamu sendiri."


Cinta menghela napas. "Kenapa mendadak, Chef?"


"Ini tidak mendadak. Saya sudah mempersiapkan ini jauh-jauh hari."


"Apa ini karena aku?"


"Bukan. Tentu saja bukan. Baiklah, sudah saatnya saya pergi."


"Aku antar sampai depan gang ya, Chef..."

__ADS_1


Chef Juna mengangguk. Mereka berjalan beriringan.


"Sampai disini saja. Terima kasih, Cinta. Kamu sudah memberikan banyak hal berharga dalam hidup saya. Semoga kamu dan Lucka selalu bahagia."


Cinta mengangguk. "Hati-hati di jalan ya, Chef. Semoga selamat sampai tujuan."


Chef Juna melambaikan tangan lalu masuk ke dalam mobil. Cinta juga melambaikan tangan ketika mobil Chef Juna kian menjauh.


Mata Cinta menghangat melihat kepergian orang yang sudah menemaninya beberapa tahun terakhir.


"Kamu sesedih itu kehilangan dia?"


Suara itu membuat Cinta menoleh. Ia segera menghapus buliran bening di wajahnya.


"Lucka? Kamu sudah datang?"


"Hmm, dan aku melihat semuanya!"


Cinta memegangi lengan Lucka. "Jangan marah! Chef Juna hanya berpamitan saja kok."


"Aku tahu. Dia juga berpamitan dengan keluargaku pagi ini."


Cinta menatap Lucka penuh arti. "Kamu sudah tahu soal ini dan kamu tidak memberitahuku?"


Cinta masih merengut.


"Apa kamu tidak mengajakku ke rumahmu dan hanya akan berdiri di depan gang begini?" Lucka mulai menunjukkan rajukannya.


"Iya, Lucka sayang. Ayo masuk!" Cinta melingkarkan tangannya ke lengan Lucka dan mereka berjalan bersama menuju rumah Cinta.


#


#


#


Cinta tiba di rumah kediaman Bahari dengan membawa banyak makanan yang di masak oleh dirinya dan juga ibunya. Ia menghidangkan semuanya di atas meja makan.


Lucki datang ke mansion neneknya dan mencium aroma harum dari arah meja makan.


"Oh pantas saja aromanya sangat menggoda. Ternyata ada sang ahli masak disini," ucap Lucki.

__ADS_1


"Ish, kakak! Ini bukan aku saja yang memasak, tapi ibu dan juga dibantu yang lain."


Lucka datang bersama dengan Jessi.


"Hmm, aromanya sangat menggugah selera, Nak." ucap Jessi.


"Nenek harus makan yang banyak." Cinta menarik kursi dan mempersilakan Jessi untuk duduk.


Lucka dan Lucki juga langsung memasang posisi.


"Ternyata mengikuti adat itu sangat menyenangkan ya!" celetuk Lucki.


"Kalau begitu kau juga harus mencari jodoh yang seperti Cinta juga," sahut Jessi.


"Hei, jangan yang seperti Cinta dong, Nek! Karena Cinta itu hanya milik Lucka saja!" timpal Lucka tak mau kalah.


"Aku yakin kakak akan mendapatkan jodoh yang terbaik." ucap Cinta dengan menggenggam tangan Lucka yang duduk di sampingnya.


Usai makan siang yang hangat, Jessi kembali ke kamar untuk beristirahat. Lucki pergi dengan mobilnya karena harus mengurus sesuatu di kampus.


Sementara Lucka dan Cinta berjalan menuju mansion utara dimana Lucka tinggal. Lucka mengantar Cinta ke kamar yang dulu di tempatinya.


"Kamu istirahat saja dulu. Nanti sore aku akan antar kamu pulang," ucap Lucka.


Cinta mengangguk. "Lalu kamu sendiri?"


"Oh, aku akan ke ruang kerja. Ada beberapa pekerjaan yang harus kuselesaikan."


"Baiklah. Sana pergi."


Cinta membuka pintu kamar dan akan menutupnya. Namun tiba-tiba...


"Cinta!"


"Ya, ada apa?"


Sebuah ciuman singkat mendarat di bibir Cinta.


"Selamat istirahat!"


Wajah Cinta merona ketika mendapatkan sebuah hadiah kecil dari Lucka.

__ADS_1


"Iya, kamu juga. Semangat kerjanya!" Cinta melambaikan tangan kemudian menutup pintu kamar.


__ADS_2