Lu[C]Ka Cinta

Lu[C]Ka Cinta
23. PANGGILAN SAYANG


__ADS_3

"Selamat pagi, Mas!" sapa Cinta dengan senyum mengembang di wajah cantiknya.


"Astaga! Kamu ngapain di depan kamarku?" Lucka terkejut.


"Aku mau olahraga bareng kamu." Jawab Cinta menunjukkan giginya.


"Bukannya biasanya kamu mengurus taman?"


"Setelah olahraga baru aku akan mengurus taman. Lagipula, olahraga pagi kan bagus untuk badan kita, hehehe."


Lucka memutar bola matanya. "Terserah kamu aja. Aku duluan ya!" Lucka berlari kecil dan meninggalkan Cinta.


"Lho, mas! Tunggu!!" Cinta menyusul Lucka dan berlari disamping Lucka.


"Jangan cepat-cepat dong larinya."


"Makanya sering jogging, jadi kamu kuat berlari."


"Aku paling lemah di pelajaran olahraga."


Lucka tertawa kecil dan mengacak rambut Cinta. Cinta tersipu malu. Dan mempercepat larinya menyusul Lucka.


Usai berolahraga, Cinta dan Lucka menyiram tanaman bersama. Sesekali mereka bercanda dan tertawa bersama. Ternyata Lucka bisa tertawa lepas saat Cinta mengeluarkan beberapa candaan dengan menggunakan bahasa khas Tegal.


Dari kejauhan terlihat Alisa dan Tommy yang memperhatikan gerak gerik mereka berdua.


"Sepertinya semua berjalan dengan lancar, Kak!"


"Iya, Al. Semoga saja. Lucka sudah mulai membuka hatinya untuk Cinta."


"Syukurlah."


"Tapi, ada satu yang masih mengganjal pikiranku."


"Apa itu, Kak?"


"Hmmm, gak sih. Gak penting juga. Yang terpenting sekarang adalah mereka berdua bahagia."


"Kakak! Jangan memikirkan hal-hal yang buruk. Nanti jadi kenyataan, lho!"


"Tidak akan kalau Lucka punya pendirian yang kuat."


"Heh?"


"Sudahlah, lupakan. Kakak pergi dulu."


...***...


Sore itu, Lucka pulang cepat dari kantor dan langsung menemui Cinta yang sedang sibuk di taman seperti biasa.


"Hai, Mas. Sudah pulang ya?"


"Mas! Mas! Apaan sih?" kesal Lucka.


"Lho? Kenapa? Gak salah kan aku panggil 'mas'?. Masa panggil 'Mbak'?"


"Tapi rasanya terdengar aneh di telingaku."


"Kalau begitu mulai sekarang harus dibiasakan."


"Kenapa?" tanya Lucka.


"Kita harus punya panggilan sayang, Mas."


"Sudahlah! Masalah itu bahas nanti saja. Sekarang ayo ikut aku!" Perintah Lucka.


"Mau kemana?"


"Nanti juga kamu tahu!"


Lucka meraih tangan Cinta dan membawanya ke suatu tempat.


"Mau ngapain kesini, Mas?" tanya Cinta bingung.


"Ayo masuk!"

__ADS_1


Cinta ragu untuk masuk. Karena itu adalah taman milik mendiang Arina, mama Lucka. Bukankah Cinta dilarang memasuki area itu? Kenapa sekarang Lucka membawa Cinta kesana?


"Ayo! Jangan bengong disini!" Lucka kembali meraih tangan Cinta dan membawanya masuk.


"Cinta, mulai sekarang kamu rawat taman ini juga ya!" ucap Lucka.


"Hah? Apa? Aku gak salah dengar, Mas?"


"Enggak. Aku serius."


Mata Cinta berbinar bahagia.


"Benarkah? Terima kasih ya, Mas!" Cinta sontak memeluk Lucka dan berjingkat kegirangan.


"Ups, maaf." Cinta melepas tangannya yang melingkar di pinggang Lucka.


Suasana jadi kembali canggung. Ini pertama kalinya mereka bisa sedekat dan seakrab ini.


"Terima kasih banyak, Mas. Aku tidak menyangka kamu akan mengijinkan aku untuk merawat taman Mama kamu."


"Bukan hal yang besar kok. Tidak perlu berterimakasih. Aku rasa, aku bisa percaya padamu untuk merawat taman ini."


"Jadi, bagaimana? Soal panggilan sayang?" ungkit Cinta lagi.


"Heh?"


"Umm, maksudku supaya kita terasa lebih akrab, hahaha." Cinta memaksakan tawanya.


"Ooh, begitu. Boleh sih. Kamu akan memanggilku, 'Mas'?"


"Hehehe, iya. Kedengarannya lebih akrab dan romantis."


"Cih, apa sih yang kamu tahu soal romantis? Kamu tuh masih kecil tahu! Belum pantas untuk bicara tentang romantis-romantisan."


"Enak saja! Aku udah gede, Mas! Aku udah punya KTP kok! Dan juga sebentar lagi aku akan berulang tahun yang ke 18. Itu berarti aku hampir menuju dewasa."


"Dasar! Dewasa tidak ditentukan dari usia saja, tapi dari sikap juga. Lihat aja, kamu masih kayak anak kecil gitu. Mana bisa di bilang dewasa."


"Memangnya kalau aku udah bisa bersikap dewasa, Mas bakalan jadi suka sama aku?"


GLEK!


"Mas! Jawab dong!" Rayu Cinta dengan bergelayut manja di lengan Lucka.


Lucka tersenyum simpul.


Aku tidak tahu kapan aku bisa mengakui perasaanku sendiri, Cinta. Kamu gadis yang baik. Dari hari ke hari semua hal tentangmu mulai masuk kedalam otakku, kedalam hatiku.


Lucka mendekat ke arah Cinta. Mengangkat kedua tangannya dan menangkupkannya di wajah Cinta.


CUP


Satu kecupan mendarat mesra di bibir Cinta.


Cinta membulatkan matanya mendapat ciuman pertamanya dari Lucka. Tubuhnya bagai tersengat aliran listrik 1000 volt. Ia mematung dan tangannya mengepal erat.


Wajah Cinta bersemu merah ketika Lucka menatapnya. Cinta menundukkan kepala karena sangat malu. Ia yang sedari tadi cerewet tiba-tiba diam seribu bahasa.


Dicium oleh pria yang disukainya di taman penuh bunga lili dengan suasana romantis didalamnya bagaikan berada di sebuah dongeng. Namun ternyata tubuh Cinta melakukan reaksi yang berbeda.


"Hiks hiks hiks" Cinta malah menangis.


Lucka panik melihat Cinta meneteskan air mata setelah ia menciumnya. Ia berusaha menenangkan Cinta. Namun tangisan Cinta makin keras.


...***...


"Hahahaha, kamu gila ya? Kamu apain anak orang sampai nangis begitu?" Tommy tertawa mendengar cerita Lucka.


"Jangan sembarangan, Tom! Aku gak ngapa-ngapain kok!"


"Serius?" Tanya Tommy penuh selidik.


Lucka merasa terpojok dan enggan berdebat dengan Tommy. "Terserah! Aku akan menemuinya nanti jika dia sudah tenang!" Lucka melangkah pergi.


"Ingat, Lucka! Jangan kebablasan!" Teriak Tommy.

__ADS_1


Dari jauh Lucka mengepalkan tinjunya ke arah Tommy.


Tommy tertawa geli melihat tingkah sahabatnya yang malu-malu kucing.


...***...


"Nona? Nona baik-baik saja kan?" tanya Alisa.


Cinta mengangguk.


"Lalu kenapa Nona menangis?" tanya Alisa bingung.


Cinta menggeleng.


"Duh, Nona jangan bikin saya bingung." Alisa menggaruk kepalanya.


"Tinggalkan aku sendiri, Alisa. Please!" perintah Cinta.


"Baiklah. Nona istirahatlah!"


.


.


.


Cinta duduk bersandar di tempat tidurnya. Kedua tangannya memeluk lutut. Pikirannya tak bisa lepas dari kejadian sore tadi.


Itu sangat mengejutkan dan membuatku syok. Kenapa Lucka tiba-tiba menciumku? Apa dia menyukaiku? Lalu kenapa dia tak mengatakan apapun? Ini adalah ciuman pertamaku. Tapi rasanya---seperti aku hanya di permainkan. Apa yang sebenarnya kamu rasakan, Lucka?  Katakan sejujurnya---


.


.


.


Tok tok tok,


Cinta mengernyitkan dahi. "Siapa yang datang? Bukannya aku sudah bilang pada Alisa jika aku sedang ingin sendiri," gumam Cinta.


Dengan malas Cinta berjalan ke arah pintu dan membukanya. "Alisa, aku kan udah bilang, aku mau sendi---"


"Hai!" Itu bukan suara Alisa.


"Mas Lucka?"


"Maaf jika aku mengganggu. Mungkin sebaiknya aku pergi saja---"


"Tu-tunggu! Masuklah." Cinta mempersilahkan Lucka masuk ke kamarnya dan duduk di sofa. Mereka duduk saling berhadapan.


Masih tak ada perbincangan diantara mereka berdua. Hingga akhirnya,


"Maaf..." Ucap Lucka lirih.


"Mas minta maaf karena sudah menciumku?"


"Bu-bukan begitu, Cinta. Tapi, aku sangat takut karena melihatmu menangis. Aku pasti sudah menyakitimu."


"Menyakitkan untukku jika Mas tidak mengatakan perasaan Mas yang sebenarnya." Mata Cinta kembali berkaca-kaca.


"Cinta, aku..."


"Katakan! Apa yang Mas rasakan terhadapku?"


Lucka menghela nafas. Ia tidak tahu harus bicara dari mana.


"Mas menyukaiku?" Dan Cintalah yang akhirnya mengajukan pertanyaan itu.


Lucka menatap kedalam mata Cinta yang air matanya sedikit lagi mulai terjatuh.


"Iya, aku rasa aku mulai menyukaimu."


Pernyataan Lucka akhirnya membuat air mata Cinta yang sedari tadi memenuhi pelupuk matanya, kini mengalir membasahi pipi Cinta. Ia menangis haru bahagia.


Lucka berpindah tempat duduk ke sebelah Cinta. Ia meraih bahu Cinta lalu memeluknya. Gadis yang ia lihat selalu tertawa ceria, kini menangis dipelukannya. Pelukan Lucka makin erat dan Cinta pun membalas pelukan Lucka. Kesabarannya selama beberapa bulan ini akhirnya berbuah manis.

__ADS_1


...©©©©...


Bersambung,,,,


__ADS_2