Lu[C]Ka Cinta

Lu[C]Ka Cinta
7. CINCIN


__ADS_3

...***...


Pagi itu, Cinta sedang memasak di dapurnya dengan terisak. Alisa melihat Nonanya dan menghampiri Cinta.


"Nona, apa yang Nona lakukan? Bukankah Chef Marko sudah kembali bekerja, dan Nona tidak perlu memasak lagi."


"Tidak apa, hiks. Aku akan memasak makananku sendiri. Hiks..."


"Nona, apa Nona menangis? Apa ini karena Tuan Lucka?"


"Hiks... Tidak, aku tidak menangis. Aku sedang mengiris bawang, Alisa. Makanya aku terlihat seperti menangis. Hiks."


"Nona, aku tahu Nona sedang bersedih..."


"Pergilah! Aku tidak apa."


"Tapi, Nona..."


"Pergilah!"


Alisa menatap sedih Nonanya itu, namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Dan ia pun meninggalkan Cinta yang masih terisak.


Dari jauh Alisa bisa melihat, kalau Nonanya itu memang sedang menangis, bukan karena bawang merah yang diirisnya, namun karena hatinya sedang terluka.


...***...


Kakek, Nenek, Lucka dan Cinta duduk bersama untuk menyantap sarapan pagi. Seperti biasa tak ada perbincangan antara Lucka dan Cinta. Cinta hanya melirik sesekali ke arah Lucka.


"Cinta, mata kamu kenapa? Kenapa merah?" Tanya Jansen yang memergoki mata merah Cinta.


"Tidak apa-apa, Kek. Tadi saat memasak, aku mengiris bawang. Jadi, masih terasa perih," alasan Cinta.


"Lain kali tidak perlu memaksakan diri untuk memasak sendiri." imbuh Jessi.


"Tidak apa, Nek. Cinta suka memasak makanan sendiri."


"Oh ya, nanti setelah sarapan, kamu datang ke kamar Nenek ya. Ada yang mau Nenek bicarakan." ucap Jessi menatap Cinta.


"Iya, Nek."


Usai sarapan, Cinta dan Jessi berjalan menuju kamar. Jessi meminta Cinta menunggu di kursi tamu. Jessi datang membawa sebuah kotak di tangannya.


"Cinta, nenek tahu mungkin ini terlalu cepat. Tapi, nenek percaya kalau kamu memang jodoh terbaik untuk Lucka. Meskipun, sikap Lucka terhadapmu kurang baik, tapi percayalah, Lucka sebenarnya memiliki hati yang lembut. Hanya saja dia tidak tahu bagaimana cara menunjukkannya."


Cinta hanya terdiam mendengar penjelasan Jessi. Sepertinya Jesii tahu kalau saat ini Cinta bersedih karena Lucka.


"Sejak kecil Lucka memang punya dunianya sendiri. Dia tidak pandai bergaul. Namun dia anak yang cerdas, dan baik. Lucka banyak berubah setelah kecelakaan yang menimpa orang tuanya..."


Cinta menggenggam tangan Nenek. Pasti berat menceritakan tentang musibah yang dialami oleh orang terdekat.


"Cinta, nenek ingin kamu bisa mendampingi Lucka. Dia terlihat kuat diluar, tapi sebenarnya dia rapuh. Dia butuh kamu di hidupnya. Dan ini..." Jessi menunjukkan sebuah kotak pada Cinta.


"Apa ini, Nek?" tanya Cinta.


"Ini adalah cincin warisan keluarga. Dulu adalah milik nenek, kemudian menjadi milik mendiang mamanya Lucka, lalu sekarang ... ini adalah milikmu."


"Eh? Tapi, Nek. Cinta rasa Cinta belum pantas menerimanya." tolak Cinta secara halus.


"Siapa bilang tidak pantas? Kamu adalah calon istri Lucka. Kamu berhak atas cincin ini. Ambillah! Bila tidak mau memakainya, maka simpanlah dulu."


.

__ADS_1


.


.


Cinta memandangi cincin bermatakan batu zamrud hijau yang sangat indah itu. Berkali-kali ia bertanya pada hatinya, apakah pantas menerima cincin warisan ini? Dan sambil memandang cincin yang muat di jari tengahnya itu, Cinta selalu menghela nafas.


"Nona kenapa? Sepertinya dari tadi sedang memikirkan sesuatu." ucap Alisa.


"Hmm, begitulah. Ibu Rini belum datang ya?"


"Waduh, aku lupa bilang! Tadi Bapak bilang kalau Ibu Rini akan datang terlambat. Ada urusan mendadak katanya. Nona, itu cincin milik Nyonya Arina ya?"


"Arina? Mamanya Lucka maksud kamu?"


"Iya. Apakah sekarang itu jadi milik Nona?"


"Entahlah. Aku sendiri masih tidak tahu tentang masa depanku disini. Meskipun aku adalah calon istri Lucka, tapi aku tidak merasa benar-benar akan menikah dengannya."


"Nona..."


"Aku jadi kangen rumahku. Kangen Ibu, kangen Bude Sri, Bulik Tati, Teh Rina, mereka semua merindukan aku atau tidak ya?" tanya Cinta pada dirinya sendiri sambil menatap langit-langit kamar.


"Kenapa Nona tidak menelepon saja?"


"Tidak. Aku takut mereka khawatir. Setiap hari aku berkirim pesan dengan ibuku. Dan aku mengirim foto kegiatan kita." cerita Cinta.


"Tersenyumlah, Nona. Jangan murung! Tunjukkan pada Tuan Lucka kalau nona adalah calon istri yang terbaik untuknya."


"Ha ha, aku? Benarkah aku pantas untuk Lucka?" Cinta tersenyum getir.


"Tentu saja." balas Alisa tulus dengan senyum di bibirnya untuk meyakinkan Cinta.


...***...


"Apa?!" Lucka terperanjat. "Kenapa buru-buru, Kek?"


"Ini tidak terburu-buru, Lucka. Minggu depan adalah hari yang baik."


Cinta melirik Lucka dengan tatapan ragu. 


"Bagaimana, Cinta? Kamu setuju kan?" tanya Jansen


"Eh? Aku ... aku ... terserah Kakek saja."


"Kalau begitu, besok kalian pergilah ke toko langganan kita, dan pilihlah cincin pertunangan kalian."


Lucka dan Cinta saling melempar pandang.


.


.


.


Keesokan harinya,


"Kenapa kita harus repot ke toko perhiasan segala sih? Bukankah biasanya Pak Teddy yang menyiapkan semua?" Kesal Lucka pada Pak Teddy.


"Tuan Besar yang meminta. Tuan Lucka mau ditemani Tommy atau?" ucap Teddy.


"Tidak perlu. Aku bisa sendiri."

__ADS_1


"Kalau begitu, saya akan menemui Nona Cinta agar bersiap-siap."


"Tidak perlu, Pak. Saya sudah disini." Cinta tiba-tiba sudah datang.


"Nona, apa perlu ditemani Alisa?" tanya Teddy.


"Aku bilang tidak perlu! Aku akan pergi berdua dengannya saja! Cepat masuk mobil!" Bentak Lucka.


"Eh? I-iya." Dengan sedikit rasa bingung dihatinya, Cinta masuk kedalam mobil.


"Kenapa kamu duduk di belakang? Duduk di depan!" Perintah Lucka lagi.


"I-iya, maaf. Aku pikir kamu menyuruhku duduk di..."


"Sudah, jangan banyak alasan. Pak, kami pergi dulu! Bilang pada Kakek kalau aku pergi bersama Cinta." ucap Lucka lalu masuk ke dalam mobil.


"Baik, Tuan Muda." Teddy membungkukkan tubuhnya.


.


.


.


"Pilihlah yang kamu suka!" Ucap Lucka saat mereka berdua tiba di sebuah toko perhiasan langganan keluarga Bahari.


"Kalau kamu suka yang mana?" Tanya Cinta dengan senyum yang mengembang.


"Aku seorang pria mana mungkin tahu soal yang seperti ini." balas Lucka malas.


"Aku mau kita memilihnya bersama." Cinta menarik lengan Lucka ke deretan cincin yang ada di etalase.


Mereka mencoba beberapa cincin dengan model berbeda-beda. Cinta sangat gembira bisa mencoba beberapa perhiasan yang bertahtakan berlian. Sesekali berpose dengan kamera di ponselnya, dengan jari manis yang memakai cincin.


Dan tanpa Cinta sadari, dari jarak yang tak begitu jauh, Lucka memperhatikan gerak gerik Cinta yang sedang bingung memilih cincin. Lucka tersenyum kecil ketika melihat Cinta mengerucutkan bibirnya karena sangat ingin memiliki semua perhiasan di toko itu. Perempuan mana yang tidak tergoda saat di bawa ke toko perhiasan? Pasti rasanya ingin membeli semuanya. Iya kan?


"Ada apa?" Lucka mendapati Cinta yang tiba-tiba murung sambil memandangi sebuah gelang.


"Aku jadi ingat Ibuku. Aku sangat ingin membelikannya sebuah perhiasan." ucap Cinta sendu.


"Kamu suka yang itu? Kalau begitu ambil saja, untuk ibumu."


"Eh? Jangan Lucka. Tidak perlu, terima kasih." Cinta melambaikan kedua tangannya.


"Tidak apa. Dia kan calon ibu mertua aku. Benar kan?"


"Tapi..."


"Mbak, tolong ambilkan gelang yang itu juga." perintah Lucka.


"Baik, Mas Lucka." si pelayan langsung membungkus gelang emas pilihan Cinta.


Kemudian Cinta menatap Lucka dengan penuh kekaguman.


"Terima kasih, ya." ucap Cinta sambil mengulas senyum manisnya.


"Sama-sama." balas Lucka datar.


...©©©...


Bersambung

__ADS_1



__ADS_2