Lu[C]Ka Cinta

Lu[C]Ka Cinta
13. ANOTHER PRETTY BOY


__ADS_3

Lucka memanggil dokter pribadi keluarganya untuk memeriksa kondisi Cinta. Cinta masih tak sadarkan diri. Dan pipi kirinya mengalami memar akibat pukulan yang dilayangkan oleh Reno.


Setelah kejadian sore tadi, sudah dipastikan Reno tak akan bisa lagi mendekati Cinta. Lucka akan mengerahkan pengawal pribadi untuk Cinta kalau itu diperlukan.


"Bagaimana kondisinya, Dokter? Apakah lukanya parah?" tanya Lucka sedikit cemas.


"Semua organ vitalnya bagus. Tidak menunjukkan gejala yang parah. Hanya saja, pipi kirinya mengalami memar. Namun lukanya tidak terlalu dalam. Sekitar satu minggu, lukanya sembuh dan memarnya hilang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Tuan. Nona Cinta orang yang sangat kuat."


"Baiklah. Terima kasih, Dokter."


"Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan. Jika ada apa-apa tinggal hubungi saya saja. Ini resep obat untuk Nona Cinta. Dan ini salep untuk menghilangkan bekas memarnya."


"Baik, Dok. Sekali lagi terima kasih."


Lucka menjabat tangan dokter Rey dan mengantarnya sampai ke halaman depan mansion utara. Kemudian ia memanggil Teddy dan seluruh asisten di rumahnya untuk berkumpul.


"Saya minta pada kalian semua. Kejadian hari ini, jangan sampai terdengar ke telinga kakek dan nenek. Dan juga, ke keluarga Cinta. Kalian mengerti?!" tegas Lucka.


"Iya, Tuan!"


"Baiklah. Kalian boleh kembali bekerja."


Lucka kembali ke kamar Cinta dan memeriksanya. Cinta masih belum sadarkan diri. Lucka duduk disamping tempat tidur Cinta dan memandanginya. Ada rasa iba di hatinya. Melihat Cinta terpejam membuatnya merasa tenang. Wajah cantik Cinta yang masih lugu mulai menggelayuti pikirannya. Diraihnya satu tangan Cinta dan di genggamnya. Lucka mencium punggung tangan itu. Lucka memejamkan mata dan berdoa dalam hati. Ia ingin Cinta segera sadar.


"Lucka..." Terdengar lirih suara yang tak asing bagi Lucka.


Lucka membuka mata dan mendapati Cinta mulai membuka matanya. Refleks Lucka melepas genggaman tangannya.


"Ka-kamu sudah sadar?" Lucka terlihat gugup.


"Kamu tidak apa-apa kan?" Tanya Cinta dengan menahan sakit di wajahnya.


"Dasar gadis bodoh! Kamu sudah terluka begini masih saja mengkhawatirkan orang lain! Bagaimana bisa kamu ikut campur dalam perkelahian laki-laki? Lihat akibatnya! Pipimu sampai bengkak begitu."


Cinta tersenyum. "Terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku."


"Siapa yang mengkhawatirkanmu?! Jangan ge'er deh. Sebaiknya kamu istirahat saja. Dokter bilang memarnya akan hilang dalam beberapa hari." Lucka mulai salah tingkah, dan memutuskan pergi dari kamar Cinta.


Cinta tersenyum puas. Ia tahu kalau Lucka mulai memberikan perhatian padanya. Sepertinya hubungan mereka akan mulai berjalan baik dari sekarang.


...***...


Satu minggu kemudian,

__ADS_1


Kondisiku sudah pulih. Memar di pipiku juga sudah hilang. Kakek dan Nenek sudah kembali dari perjalanan bisnis mereka. Dan tentu saja, mereka tidak pernah tahu kejadian waktu itu.


Seperti biasa, rutinitasku di pagi hari masih tak berubah. Aku menyiram semua bunga dan tanaman, lalu setelahnya aku memasak sarapanku sendiri. Hari ini aku akan masak yang simpel saja. Tahu telur kecap.


"Ini pasti yang bernama Cinta!"


Aku tersentak. Sangat terkejut. Aku kenal suaranya, tapi kenapa agak berbeda dengan nadanya?


Kupalingkan wajahku ke arah sumber suara. Oke! Aku makin terkejut melihat siapa pemilik suara itu.


Itu adalah Lucka. Eh, bukan! Dia seperti Lucka. Tapi bukan! Mungkinkah dia...?!


"Tuan Lucki!" seru Alisa menghampiri kami berdua.


"Hai, Alisa. Kamu sudah besar ya sekarang." sapa balik pria itu.


Baiklah. Ini adalah kembaran Lucka. Yang bernama Lucki. Aku tersenyum canggung. Dilihat sekilas, dia memang tidak berbeda dengan Lucka. Tapi entah kenapa atmosfer yang mereka bawa sangatlah berbeda. Dan juga gaya berpakaian mereka sangatlah berbeda. Yang ini sangat casual. Aku suka gayanya, hihihi.


"Tuan, kapan datang?" Alisa terlihat sangat senang dengan kedatangan kembaran Lucka.


"Tadi malam."


"Oh ya, Tuan. Ini adalah Nona Cinta. Tunangannya Tuan Lucka."


"Iya, aku sudah tahu. Kakek sudah memberitahuku soal ini. Senang bertemu denganmu, Cinta." Lucki mengulurkan tangannya.


"Maaf, tapi tanganku kotor. Aku sedang memasak."


"Kenapa kamu memasak? Bukankah ada Chef Marko yang menyiapkan makanan?" tanya Lucki sedikit bingung.


"Begini Tuan. Nona Cinta kurang cocok dengan makanan disini. Jadi dia memutuskan untuk memasak sendiri makanannya."


Dan sekali lagi Alisa lah yang menjawab bagian yang harusnya kujawab.


"Oh ya? Wah banyak sekali yang berubah dari tempat ini. Rasanya baru kemarin aku meninggalkan tempat ini."


"Tuan Lucki, kenapa tidak tinggal disini saja?"


Ada raut kesedihan di wajah Alisa. Aku tahu itu.


"Sudah saatnya sarapan. Aku akan ke mansion kakek. Kamu juga Cinta. Segeralah menyusul."


Kak Lucki tidak menjawab pertanyaan Alisa dan malah mengalihkan pembicaraan. Ada yang aneh disini.

__ADS_1


Kesan pertamaku tentang Kak Lucki, dia adalah orang yang ramah, dan murah senyum. Benar-benar berbeda dengan Lucka.


Ah sudahlah. Selesaikan masakanmu, Cinta. Dan menuju ke mansion kakek.


...***...


Suasana meja makan pagi ini terasa ramai dengan hadirnya satu orang yang sudah lama tak pulang ke rumah. Aku bisa merasakan sedikit keceriaan disini.


"Setelah ini kamu akan tinggal disini kan, Lucki?" Tanya Nenek.


"Belum tentu juga, Nek. Aku masih punya beberapa kontrak pekerjaan."


Aku hanya menyimak saja obrolan mereka. Aku hanya orang asing disini.


"Pekerjaan apa yang kamu lakukan? Kenapa tidak ke perusahaan saja bersama Lucka?" Giliran Kakek yang bertanya.


"Kakek tahu kan sejak dulu aku tidak cocok di perusahaan. Benar kan, Lucka?"


"Tidak tahu juga. Kakak yang memutuskan pergi. Maaf semuanya, aku harus pergi ke kantor. Ada meeting pagi."


Lucka terlihat menghindari saudara kembarnya. Si cowok aneh ini memang menyebalkan. Dia tak pernah bersikap ramah pada siapapun. Padahal sebenarnya, dia adalah orang yang hangat, dan bisa dikatakan baik. Kenapa dia menutupi itu semua? Dia bersembunyi dari siapa?


Usai sarapan, aku langsung menuju kelasku bersama Ibu Rini. Kali ini aku belajar tentang pengetahuan umum. Seorang istri di keluarga Bahari, diharuskan cerdas agar bisa berbaur dengan rekan bisnis yang bahkan dari luar negara. Baiklah, anggap saja aku sedang kuliah. Iya kan?


Pukul dua belas siang, pelajaranku bersama Ibu Rini usai.


"Hoam, rasanya lelah sekali."


Aku berjalan kembali ke kamarku. Dan disana sudah ada Alisa yang menyambutku.


"Nona sudah kembali?"


"Hu'um. Oh ya, aku akan istirahat sampai nanti sore. Aku lelah sekali. Dan jangan ada yang menggangguku. Kamu mengerti kan?"


"Iya, Nona. Silakan beristirahat. Bila butuh sesuatu kirimkan pesan saja padaku."


"Terima kasih, Alisa. Kamu memang yang paling top."


Aku mengacungkan jempolku pada Alisa. Lalu aku lihat Alisa meninggalkan kamarku. Dan aku akan merebahkan tubuh lelahku ini selama beberapa jam ke depan.


...©©©...


Bersambung,,,

__ADS_1


__ADS_2