![Lu[C]Ka Cinta](https://asset.asean.biz.id/lu-c-ka-cinta.webp)
Cinta memandang penuh tanya. Ia bangun dari duduknya agar bisa berhadapan dengan orang yang menyapanya.
"Kak Reno?"
"Kamu sedang apa disini?" tanya Reno.
"Eh? Aku? Aku menunggu kak Lucki," jawab Cinta jujur.
"Ooh, cucunya Profesor Gerald. Atau lebih tepatnya adalah saudara kembar Lucka," ujar Reno bernada tak suka.
Cinta tak menanggapi omongan Reno dan memalingkan wajah.
"Gimana kabar kamu? Lama gak bertemu," lanjut Reno.
"Kabarku baik." Cinta menjawab singkat karena kikuk bertemu lagi dengan Reno setelah insiden tak menyenangkan setahun lalu. "Kakak sendiri gimana kabarnya?"
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja." Reno tersenyum lebar.
"Aku tahu ini sudah sangat terlambat, tapi, aku ingin minta maaf sama kakak. Atas kejadian setahun yang lalu..."
Reno tertawa kecil. "Terima kasih karena sudah meminta maaf. Aku juga minta maaf sudah memukulmu. Aku beneran gak sengaja melakukannya."
Dan mereka mulai mencairkan suasana dengan saling meminta maaf.
__ADS_1
"Kalau boleh aku tahu, sebenarnya apa yang terjadi hari itu? Alisa bilang kalau anak buah Lucka membawamu ke suatu tempat. Apa mereka melakukan sesuatu padamu?"
Reno kembali tertawa kecil. Dan itu membuat Cinta sulit menafsirkannya.
"Aku pikir mereka akan menghabisiku saat itu juga. Aku pikir aku gak bisa pergi hidup-hidup setelah memasuki kawasan keluarga Bahari. Tapi nyatanya, aku masih hidup dan aku baik-baik saja."
"Lalu apa yang sebenarnya terjadi?" Cinta makin penasaran dengan cerita Reno.
Reno mengambil sesuatu dari dalam tas ranselnya.
"Ini...." Reno menyerahkan secarik kertas yang terlipat pada Cinta.
"Apa ini?"
"Bukalah, dan baca!"
"Jadi, Lucka melakukan ini padamu?"
"Iya. Dia menemuiku setelah membawamu masuk ke dalam rumah. Dan dia memintaku untuk menandatangani surat perjanjian itu. Jika aku menemuimu lagi, maka dia akan memenjarakanku. Tentu saja aku setuju. Aku gak mau orang tuaku sampai tahu soal ini. Apalagi, karirku masih panjang. Aku gak mau merusaknya hanya karena aku terobsesi denganmu."
"Jadi, Lucka tidak mencelakaimu?"
"Tidak. Aku tahu caranya memang aneh untuk melindungimu. Tapi dari situ aku sadar, kalau dia memang sangat mencintaimu."
__ADS_1
Reno merebut kembali kertas di tangan Cinta lalu merobeknya dan membuangnya ke tempat sampah.
"Namun sekarang, surat itu sudah tidak berlaku lagi. Karena kalian sudah berpisah. Tapi kamu tenang saja. Aku akan tetap mentaati isi surat perjanjian itu. Bukankah laki-laki di segani karena ucapannya? Jadi, aku akan tetap memenuhi janjiku pada Lucka."
Cinta menatap Reno penuh rasa terima kasih.
"Mas Reno!" Seorang gadis memanggil Reno.
"Aku pergi dulu, Cinta. Aku berharap, apapun keputusan kamu, kamu bisa bahagia."
Reno meninggalkan Cinta, dan merangkul gadis yang memanggilnya. Cinta bisa menebak kalau gadis itu adalah kekasih Reno.
Cinta kembali duduk di bangku taman. Ia memikirkan surat perjanjian yang Lucka buat untuk Reno.
Apa benar kamu serius mencintaiku, Lucka? Tapi kenapa semua ini rasanya tidak nyata? Sangat sulit untukku mempercayai semuanya. Kenapa hatiku begitu sakit bila mengingatmu?
"Cinta!" Lucki memanggil Cinta yang sedang duduk termenung. Sudah kesekian kalinya Cinta terus melamun.
"Kak Lucki? Sudah selesai urusannya?"
"Iya, sudah. Apa yang kamu pikirkan?"
"Eh? Gak ada kok. Aku hanya ... menikmati suasana disini. Hehehe." Cinta berusaha untuk tetap tersenyum.
__ADS_1
"Ya sudah. Ayo temui kakek Gerald, dan masakkan sesuatu yang enak untuknya. Aku yakin dia pasti akan suka dengan masakan buatanmu."
Cinta tersenyum dan lagi-lagi ia tak bisa menolak tangan Lucki yang meraih tangannya.