Lu[C]Ka Cinta

Lu[C]Ka Cinta
21. TANPA KATA CINTA


__ADS_3

Pukul sembilan malam, Lucki dan Cinta kembali ke kediaman keluarga Bahari. Lucki sudah berjanji pada Lucka kalau ia akan membawa Cinta kembali pulang.


Tak ada percakapan selama perjalanan pulang. Cinta masih tak enak hati karena Lucki menyatakan perasaannya. Begitupun Lucki yang makin canggung setelah mengungkapkan perasaannya.


Sesampainya di rumah Bahari, Lucki dan Cinta langsung menuju kamar mereka masing-masing. Sudah melewati jam malam yang artinya mereka harus tetap berada dikamar sampai pagi.


Cinta berdiri di belakang pintu kamarnya dan mengatur nafas. Ia masih tak percaya kalau Lucki akan mengatakan hal semacam itu padanya. Cinta menampar pipinya sendiri.


PLAK!


"Aw, sakit! Ini bukan mimpi!" Cinta mengelus pipinya.


Dari pada berlama-lama larut dalam perasaannya yang tak menentu, Cinta memutuskan untuk membersihkan diri dan bersiap untuk tidur.


Mungkin saja saat esok bangun, ia akan lupa tentang yang baru saja terjadi.


...***...


Hari-hari Cinta sudah kembali seperti biasa. Aktifitas paginya dimulai dengan mengurus taman, lalu memasak, kemudian  belajar bersama Ibu Rini.


Sudah tiga hari berlalu sejak Lucki menyatakan perasaannya pada Cinta. Dan Cinta belum memberikan jawaban pada Lucki.


"Al, sepertinya aku harus melakukan meditasi---"


"Eh? Meditasi? Memang ada apa, Nona?"


"Hahaha, tidak ada kok. Sudah, lupakan saja. Anggap saja aku tak mengatakan apapun." Cinta tersenyum lebar pada Alisa.


Sudah saatnya aku memutuskan apa yang dikatakan hatiku. Aku akan menemui Kak Lucki... batin Cinta yang merasa sudah yakin dengan keputusannya.


#


#


#


Lucki menemui Gerald di kediaman keluarga Rayyan. Saat hatinya sedang gusar, ia terbiasa datang pada kakeknya untuk berkeluh kesah. Namun kali ini, ia hanya terdiam dan memilih ke kamar mendiang ibunya dan berbaring disana.


Mama, kenapa aku tak pernah ditakdirkan seperti Lucka? Kenapa kami selalu berbeda? Aku anak Mama juga kan?


Air mata Lucki tak bisa lagi dibendung. Lucki membenamkan wajahnya kedalam bantal. Ia tak mau kakeknya mendengar suara tangisnya.


Gerald mendatangi Lucki di kamar Arina. Kamar itu masih tertata rapi. Meski Arina sudah lama pergi. Di kamar yang sudah berhawa dingin ini, Gerald melihat Lucki sedang menangis. Ia tahu kalau cucunya ini sedang bersedih. Dan sudah bisa dipastikan ini ada hubungannya dengan saudara kembarnya, Lucka.


Gerald duduk di samping tempat tidur Arina. Ia mengelus rambut Lucki, dan membuat Lucki tersadar kalau ia tak sendiri di kamar Mamanya.


"Kakek?"


Lucki memposisikan diri untuk duduk disamping kakeknya. Gerald masih tak bicara apapun.


"Sudah lama sekali aku tidak datang kesini. Kamar ini serasa dingin. Seperti aku," ucap Lucki.


Dan Gerald masih terdiam.


"Kakek, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa seperti ini terus---"


Gerald menarik nafas dan menghembuskannya lembut.


"Ini!" Gerald memberikan sebuah amplop pada Lucki.


"Hanya ini yang bisa dilakukan saat ini," lanjutnya.


Lucki membuka amplop itu dan membaca isinya. Matanya berkaca-kaca. Sebuah penawaran yang diberikan Gerald untuk Lucki agar hatinya tak lagi bersedih.


"Kakek!" Lucki memeluk Gerald.


"Tidak apa, Nak! Kamu tetap cucu kakek. Dan kakek menyayangimu---"


"Terima kasih banyak, Kek. Aku akan melakukan yang terbaik."


"Iya, Nak. Kakek percaya padamu."


Lucki menghapus air matanya lalu tersenyum.


...***...

__ADS_1


Suasana mansion utara terasa sunyi. Tak ada canda tawa yang biasa terjadi saat Lucka kembali dari kantor.


Lucka memicingkan mata ke arah taman. Tak ada siapapun disana. Lucka tak mau ambil pusing dan langsung menuju kamarnya.


Lucka membersihkan diri dan berganti dengan kaos berkerah ala polo shirt. Ia masih berkutat dalam kamarnya. Sejenak ia ingin merebahkan diri di sofa untuk melepas penat. Namun baru sebentar ia berbaring, pintu kamarnya kembali di ketuk. Itu suara Tommy. Dengan malas Lucka bangun dan menuju pintu.


"Ada apa Tom? Aku ingin istirahat sebentar saja---"


"Lucka!" Suara Tommy panik.


"Kenapa? Apa yang kamu bawa itu?" Tanya Lucka melihat ke arah tangan Tommy yang memegang sebuah kertas.


"Lucki.. Dia...?"


"Kak Lucki kenapa?" tanya Lucka ikut panik.


"Ini!" Tommy menunjukkan kertas yang dipegangnya.


"Apa ini?" Lucka mengambil kertas dari tangan Tommy yang ternyata sebuah surat.


Lucka membaca surat itu.


Lucka, maaf jika aku harus berpamitan dengan cara begini. Aku tidak bisa menemuimu secara langsung. Aku terlalu marah, dan juga kecewa.


Aku hanya minta satu hal darimu. Tolong jaga Cinta. Dia mencintai kamu. Jangan pernah menyakitinya lagi.


Aku harap kalian bisa bahagia. Doaku selalu bersama dengan kalian.


Salam,


Lucki


Lucka menghela nafas setelah membaca surat dari kakaknya. Lucka terhenyak dan memikirkan banyak hal.


Jadi, gadis itu memilihku? Tidak mungkin!


"Lucka, kamu baik-baik saja?" tanya Tommy yang melihat Lucka diam tanpa kata.


"Iya, aku tidak apa-apa."


Lucka berjalan lemas kedalam kamarnya. Ia duduk di sofa dengan masih menggenggam surat dari Lucki.


...***...


Di bandara,


"Lucki, sudah saatnya kamu masuk." ucap Gerald.


"Iya, Kek. Terima kasih banyak atas bantuan Kakek."


"Tidak perlu berterimakasih. Kamu adalah cucu kakek. Kakek ingin kamu bisa bahagia. Jika dengan ini kamu bisa bahagia, maka lakukanlah."


"Bertemu banyak orang dari negara lain, membuatku bisa lebih hidup, Kek. Mungkin dengan begitu aku bisa melupakan Cinta." ucap Lucki getir.


"Suatu saat nanti pasti kamu akan menemukan wanita yang baik juga seperti Cinta."


"Aku masuk dulu, Kek. Sebentar lagi pesawatnya berangkat."


Lucki memeluk Gerald. Lucki melambaikan tangan dan tersenyum pada Kakeknya.


Didalam pesawat, Lucki kembali teringat dengan pernyataan yang Cinta katakan padanya.


"Hari ini aku akan menjawab pernyataan Kak Lucki. Aku tidak tahu harus mulai dari mana tapi---"


"Tidak apa, Cinta. Jangan dipaksakan."


"Kak, aku sangat menghormati kakak. Aku juga senang bisa mengenal kakak. Bersama kakak aku merasa sangat bahagia. Tapi aku menyukai Lucka. Entah kenapa hatiku tidak bisa melupakannya. Maafkan aku, Kak. Sekali lagi, maaf---"


Lucki menatap langit yang gelap berbintang dari dalam pesawat. Entah kapan ia akan kembali lagi ke rumah.


Selamat tinggal Cinta. Semoga kamu bahagia bersama Lucka.


...***...


Beberapa hari kemudian,

__ADS_1


"Cinta!" Lucka mendatangi Cinta yang sedang berada di taman.


"Lucka?" Cinta menyambut Lucka dengan senyum manisnya. Gadis itu memang selalu terlihat ceria dalam kondisi apapun.


"Ada yang mau aku bicarakan. Ikut denganku!"


Lucka membawa Cinta ke perpustakaan keluarga Bahari.


"Ada apa?" tanya Cinta.


"Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Lucka tanpa basa basi.


"Heh? Melakukan apa?" Cinta bingung.


"Kenapa ... kamu memilihku?" tanya Lucka sedikit gugup.


Cinta tertawa kecil mendengar pertanyaan Lucka.


"Kenapa malah tertawa? Aku serius bertanya!" ucap Lucka tak terima.


"Aku juga serius!" jawab Cinta.


"Serius apa?" Giliran Lucka yang tak paham.


"Aku serius memilih kamu!" tegas Cinta.


Gadis itu berhasil membuat wajah Lucka mulai bersemu merah.


"Jangan bercanda!" ketus Lucka.


"Aku tidak bercanda, Lucka!"


"Kenapa memilihku?" Lucka masih tak percaya.


"Karena aku menyukaimu," ungkap Cinta jujur.


"Kenapa menyukaiku?" tanya Lucka yang sebenarnya sudah amat gugup. Namun ia sebisa mungkin menutupinya.


Cinta mengedikkan bahunya. "Entahlah. Aku tidak tahu apa alasannya!"


"Kamu haru tahu apa alasannya!" tekan Lucka.


"Tidak juga sih!" jawab Cinta enteng.


"Bukankah kamu menyukai kakakku?" Lucka mulai menyeret nama Lucki.


"Kata siapa?" tanya Cinta dengan mata membola.


"Aku lihat kalian selalu bersama. Dan kamu selalu tertawa lepas jika bersama dengannya. Apa itu namanya kalau bukan suka?!"


"Kak Lucki memang orang yang baik. Tapi bukan berarti aku jatuh cinta padanya." balas Cinta.


"Kenapa tidak jatuh cinta padanya saja?"


"Kenapa kamu yang atur? Ini kan hati aku. Terserah aku dong mau jatuh cinta sama siapa." kesal Cinta.


"Kamu itu masih kecil. Tahu apa kamu soal cinta?"


"Tentu saja aku tahu!" tegas Cinta.


"Memangnya kamu pernah jatuh cinta?" tanya Lucka mengejek.


"Tentu pernah! Sekarang! Denganmu!" tegas Cinta yang membuat Lucka bungkam.


"..............."


Dan Lucka tak mampu berkata-kata lagi menjawab pernyataan Cinta. Kemudian ia pergi dari perpustakaan tanpa berpamitan pada Cinta.


Setelah Lucka pergi, Cinta tertawa puas. Ia mulai yakin jika Lucka juga menaruh hati padanya.


...©©©©...


Bersambung,,,,


*Sedikit absurd ya ceritanya, tp masih oke lah 😆😆😆

__ADS_1


Ternyata tulisan thn 2020 dgn tahun setelahnya sangat berbeda 😂😂😂


*Jangan lupa tinggalkan jejak kesayangan 😘


__ADS_2