Lu[C]Ka Cinta

Lu[C]Ka Cinta
27. LUKA CINTA (2)


__ADS_3

Sejak kembali ke rumah, yang dilakukan Cinta hanya menangis di kamar dan mengurung diri. Ibu dan keluarganya yang lain merasa bingung harus melakukan apa.


Hingga Lucka datang dan menemui Ibu Cinta. Lucka menceritakan semuanya pada Inah. Saat ini putrinya sedang patah hati, dan tidak mau diganggu oleh siapapun.


Lucka memohon agar Inah mengijinkannya menemui Cinta. Namun bukan Inah yang memang tak memberi ijin. Tapi Cintalah yang tak mau menemui Lucka.


Berkali-kali Lucka datang ke rumah Cinta, namun tak pernah bisa bertemu dengan Cinta. Tapi Lucka tak patah semangat. Ia setiap hari datang ke rumah Cinta dan menunggu.


Dan semua yang Lucka lakukan akhirnya membuat Cinta luluh dan bersedia menemui Lucka.


Cinta meminta Lucka menunggu di taman sekolah dekat rumah Cinta.


Cinta menyiapkan hati menemui Lucka. Hatinya masih sakit dengan apa yang sudah Lucka lakukan padanya.


Cinta berjalan perlahan menghampiri Lucka. Lucka begitu gembira melihat Cinta. Lucka mendekat ke arah Cinta namun Cinta memberi jarak dengannya.


"Ada perlu apa kamu datang kemari? Kenapa tidak berhenti saja? Apa yang aku tulis di surat itu sudahlah jelas. Kita akhiri saja perjodohan ini!"


"Tidak! Jangan lakukan itu Cinta! Maafkan aku ... aku bersalah padamu. Tidak seharusnya aku menemui Sally. Aku minta maaf, Cinta. Aku terpaksa menemuinya karena dia mengancam akan menemuimu di rumah. Dan aku gak mau kamu salah paham soal..."


"Cukup! Tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Aku sudah tahu semuanya."


"Cinta, pulanglah..."


"Pulang? Rumahku disini. Disana bukan tempatku."


"Aku mohon! Kakek tidak akan memaafkanku kalau kamu tidak kembali ke rumah..."


"Aku pergi karena aku kecewa sama kamu kenapa kamu gak pernah cerita ke aku soal Sally. Aku pikir kita sudah mulai dekat dan terbuka. Tapi, kamu bahkan gak mau cerita tentang masa lalu kamu. Kamu anggap aku apa? Apa pernyataan cinta kamu itu hanya main-main?"


"Cinta, bukan begitu! Aku hanya tidak suka membahas soal masa lalu."


"Semua orang punya masa lalu, Lucka. Dan tidaklah buruk jika kamu pernah jatuh cinta pada wanita lain sebelum aku."


"Sally tidak seperti yang kamu kira. Dia wanita yang nekat, dan dia suka melakukan hal sesuka hatinya. Aku gak mau dia menyakiti kamu dengan mendatangimu ke rumah---"


"Aku tidak apa-apa, Lucka. Kalau memang dia mengancam akan menemuiku, kenapa gak kamu biarin aja dia datang ke rumah. Aku akan menemuinya. Dan aku akan memberitahunya kalau dia hanyalah masa lalu bagimu, dan aku adalah masa depanmu. Aku tidak takut dengannya karena aku yakin kamu mencintai aku, bukan dia."


"...................." Lucka terdiam. Ia tak mengira kalau Cinta adalah gadis yang kuat.

__ADS_1


"Atau kamu sebenarnya tidak mencintaiku?" sarkas Cinta.


Lucka terhenyak. "Tidak, Cinta! Bukan begitu..."


"Pernah tidak kamu melakukan sesuatu dengan hatimu? Melakukan sesuatu dengan tulus tanpa ada paksaan? Kamu menyetujui perjodohan ini karena terpaksa kan? Apa kamu juga berpura-pura mencintaiku agar Kakek merasa senang?"


Lucka menggeleng. "Aku memang melakukan semua ini untuk kakek. Perusahaan, dan perjodohan ini. Tapi, setelah lama mengenalmu aku merasa kalau ada sesuatu yang berbeda denganmu. Aku marah saat kamu dekat dengan kakakku, aku menjadi posesif dan tak mau kehilangan kamu. Dan otakku tak bisa berhenti memikirkanmu. Aku mencintai kamu, Cinta."


"Hentikan! Aku tak bisa melakukan ini, Lucka. Kamu tidak melakukan ini dengan hatimu." Cinta melepas cincin di jari manis kirinya.


"Cincin milik mamamu sudah kukembalikan. Dan ini, cincin pertunangan kita. Aku kembalikan. Aku sudah membatalkan perjodohan ini. Jadi, aku tak perlu menyimpannya." Cinta meraih tangan Lucka dan menaruh cincin pertunangannya di telapak tangan Lucka.


Dan tanpa ada kata perpisahan darinya, Cinta meninggalkan Lucka yang berdiri mematung menatap cincin di telapak tangannya. Air mata Lucka tak terasa sudah jatuh.


Cinta kembali ke rumahnya dan langsung menuju kamar. Cinta merebahkan dirinya ke tempat tidur dan menangis disana. Hatinya masih tertuju pada Lucka, namun bibirnya berkata lain.


Ini adalah yang terbaik, Cinta. Kamu harus melepasnya. Kalian tidak bisa bersatu. Terlalu sulit. Semua terlalu sulit. batin Cinta untuk menguatkan hatinya.


...***...


Lucka kembali dengan langkah gontai. Seakan tak memiliki tenaga, Lucka jatuh tersungkur. Tommy yang melihatnya segera menghampiri Lucka. Dan memapah Lucka menuju kamarnya.


Jansen prihatin melihat cucu kesayangannya tak memiliki semangat hidup. Kini ia tahu kalau Lucka memang mencintai Cinta.


"Nak, bersemangatlah. Jangan begini!"


"Kakek, tolong aku, Kek. Tolong bawa Cinta kembali! Aku ... aku janji tidak akan menyakitinya lagi. Aku mohon!" Lucka memohon dan bersimpuh di hadapan Jansen.


Jansen tak menjawab permohonan Lucka. Ia tahu kalau cucunya sangatlah menyesal. Tapi ia juga tahu, kalau Cinta punya pendirian kuat. Ia tak bisa goyah dengan hanya dibujuk oleh Jansen.


Namun tak ada salahnya jika mencoba. Jansen pun menemui Cinta di rumahnya. Cinta tak mau menemui siapapun dari keluarga Bahari.


"Sudah kubilang, Bu. Aku gak mau bertemu siapapun dari keluarga itu."


Inah, Sri, dan Rina, tak bisa memaksa Cinta. Tapi Jansen tak mau menyerah. Ia sudah menguping pembicaraan Cinta dan ibunya dari luar rumah. Kini saatnya ia masuk ke dalam rumah.


"Termasuk dengan kakek?" Jansen menerobos masuk kedalam rumah.


Cinta terkejut karena Jansen tiba-tiba memasuki rumahnya.

__ADS_1


"Kakek?" Cinta mengernyitkan dahi.


"Bisa kakek bicara denganmu?"


Cinta menghela nafas. Ia tak mungkin menolak Jansen. Meskipun ia bersikeras tak mau menemui siapapun dari keluarga Bahari, tapi nyatanya saat melihat Jansen, Cinta tak kuasa menolak. Jansen sudah terlalu baik padanya. Cinta tak tega menyakiti Jansen.


Cinta setuju untuk menemui Jansen dan bicara empat mata.


"Kakek kemari karena ingin meminta maaf padamu." Jansen menangkupkan kedua tangannya. " Tolong maafkan, Kakek!"


"Kakek, jangan bicara begitu!"


"Seandainya saja kakek tidak menjodohkanmu dengan Lucka, maka kamu tidak perlu menderita begini." Jansen mulai berkaca-kaca.


"Apa maksud kakek?"


"Cinta, sebenarnya kakekmu menginginkan kamu dijodohkan dengan Lucki, bukan dengan Lucka."


Bagai disambar petir di siang bolong, Cinta terkejut mendengar pernyataan Jansen.


"A-apa?"


Jansen sudah meneteskan air matanya. "Maaf karena kakek mengingkari janji bersama kakekmu hanya karena ego yang ada dalam diri kakek. Jika saja kakek mengikuti wasiat kakekmu, pasti kamu akan lebih bahagia. Jika saja kakek menjodohkanmu dengan Lucki, pasti kamu tidak akan sakit hati begini..."


Cinta ikut terisak. Air matanya yang sudah kering kini basah kembali.


"Kakek melakukan ini hanya karena Lucki tak mau mengurus perusahaan. Aku menjauhkannya dari saudara kembarnya karena ia tak mengikuti keinginanku. Maafkan kakek, Cinta."


Cinta mengatur nafasnya. Ia menyeka air matanya. Ia harus kuat sekarang.


"Aku mengerti, Kek. Tapi, aku tidak bisa kembali ke rumah kakek. Bersama Lucka maupun Kak Lucki ... aku tidak bisa bersama mereka. Maafkan aku, kakek."


Jansen mengangguk. "Apa yang kami lakukan bertahun lalu, hanyalah keegoisan kami semata tanpa memikirkan perasaan kalian. Kakek tidak akan memaksamu lagi. Kamu masih muda, dan jalanmu masih panjang. Jika nantinya kamu memang berjodoh dengan salah satu cucu kakek, itu sudah merupakan takdir dari Tuhan. Sekarang ijinkan kakek untuk mengabulkan permintaanmu. Kakek akan lakukan apapun untuk menebus kesalahan kakek."


"................." Cinta berpikir sejenak. Ia tahu kalau Jansen kali ini tidak main-main.


"Baiklah. Kalau itu memang mau kakek. Aku akan mengajukan satu permintaan pada Kakek, dan kakek harus mengabulkannya," tegas Cinta.


...©©©©...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2