![Lu[C]Ka Cinta](https://asset.asean.biz.id/lu-c-ka-cinta.webp)
Satu tahun kemudian,
TENG
"Waktu kalian tinggal 15 menit lagi. Gunakan waktu kalian dengan baik!" ucap Chef Juna tegas.
"Yes, Chef!" jawab semua murid serempak.
"Ayo fokus! Ini adalah ujian akhir untuk kalian!" imbuh Chef Juna.
"Yes, Chef!"
"Fokus! Gunakan indra perasa kalian agar makanan yang kalian buat bisa memuaskan para juri."
"Yes, Chef."
...***...
Tak terasa waktu cepat berlalu. Sudah setahun sejak aku meminta keinginanku pada Kakek Jansen. Aku pikir aku akan memilih keinginan hatiku, yaitu bersama Lucka. Tapi tidak! Itu terlalu egois untuk dilakukan. Jadi, kuputuskan untuk melanjutkan pendidikanku. Aku memutuskan untuk masuk ke akademi memasak milik Chef Juna, teman Chef Marko. Aku ingin melanjutkan bisnis keluargaku, meski hanya sebatas memiliki warung nasi kecil-kecilan. Aku yakin aku bisa memperluas jaringan warteg ibuku jika aku memiliki pendidikan yang bagus di bidang memasak. Masalah hati, saat ini aku tidak memikirkan itu. Meski tak bisa kupungkiri, aku selalu menyimpannya dalam hatiku. Sekarang aku baik-baik saja. Dan akan selalu begitu.
"Cinta! Cinta!"
"Eh? Iya, Chef."
"Fokus! Ini adalah ujian akhir. Fokus, Cinta!"
"Iya, Chef. Maaf..."
Huft, aku menghela nafas. Chef Juna memang benar seperti yang digambarkan di televisi. Tapi, dia bukan orang yang galak. Di hanya bersikap disiplin, dan tegas. Aku senang bisa berada disini. Karena hanya ada 20 orang saja yang terpilih tiap tahunnya.
"Waktu kalian tinggal 5 menit lagi. Perhatikan dengan benar makanan yang kalian buat. Pastikan rasanya sebelum di berikan pada juri."
"Yes, Chef."
Aku tidak berharap jadi yang terbaik. Karena banyak yang lebih baik dariku. Paling tidak, aku sudah berusaha. Dan aku akan menghargai tiap usahaku selama satu tahun ada disini.
"Terima kasih kepada para siswa yang sudah berjuang selama satu tahun disini. Hari ini kalian akan dinyatakan lulus dari akademi memasak ini. Namun, ada beberapa siswa yang mendapat predikat terbaik, selama menempuh pendidikan disini. Dan untuk tahun ini siswa terbaik diberikan kepada..."
Kami semua bergandengan tangan. Rasa gugup dan tak tenang jadi satu. Kami sudah bersama selama satu tahun. Berjuang bersama untuk menghasilkan cita rasa masakan yang berbeda dari yang pernah ada.
"Selamat kepada ... Cinta Putri. Kamu berhasil mendapat predikat terbaik."
"Kyaaa! Selamat ya Cinta!!"
Semua orang bersorak gembira untukku. Mereka mengucapkan selamat dan memelukku. Tapi entah kenapa, jiwaku merasa hampa. Aku bahagia, sangat bahagia. Namun terasa ada yang kurang.
...***...
Setelah semua selebrasi kelulusan murid-murid akademi memasak, saatnya para murid kembali menemui keluarga mereka yang sudah menunggu.
Cinta mencari keberadaan ibu dan keluarganya.
"Nona!" Alisa melambaikan tangan pada Cinta.
__ADS_1
"Alisa?" Cinta menghampiri Alisa. "Kamu datang? Sama siapa saja?" Cinta celingukan mencari orang yang datang bersama Alisa.
"Dengan kami." Tommy dan Chef Marko menghampiri Cinta dan Alisa.
"Tommy? Chef Marko? Kalian datang? Terima kasih banyak sudah datang."
"Sama-sama, Nona," jawab Alisa.
"Alisa, aku bukan nonamu lagi. Tidak perlu memanggilku begitu."
"Kamu akan selalu jadi nona kami." Lanjut Tommy.
Selain Alisa dan Tommy, beberapa asisten dari keluarga Bahari juga datang untuk memberikan selamat pada Cinta. Teddy menyampaikan pesan dari Jansen yang juga ikut bahagia atas kelulusan Cinta.
Aku sangat senang, banyak yang datang untuk memberiku selamat. Aku hanya tinggal disana selama 3 bulan. Tapi mereka tidak melupakanku. Aku bahagia ... dan aku baik-baik saja.
Cinta menemui keluarganya dan memeluk mereka satu persatu. Inah sangat bangga pada putrinya itu. Gun dan Sri juga datang. Sedangkan Tati dan Rina, menyiapkan hidangan istimewa di rumah untuk perayaan kelulusan Cinta.
"Ayo pulang, Nduk! Bulik Tati sudah menyiapkan pesta penyambutan untukmu."
Cinta mengangguk. Ia berpamitan pada Alisa dan yang lainnya.
...***...
Sesampainya di jalanan gang menuju rumah, Cinta di kejutkan oleh kehadiran seseorang yang sudah lama tak ditemuinya. Inah kembali ke rumah lebih dulu dan membiarkan Cinta menemui tamu spesialnya hari ini.
"Selamat ya Cinta. Aku bangga padamu."
Oke! Sejenak otakku menginginkan kalau yang ada di hadapanku adalah Lucka. Tapi dia bukan Lucka.
"Kamu sudah semakin besar saja." Lucki memberi satu paket buket bunga lili putih pada Cinta.
Cinta menerimanya dan masih bingung dengan situasi ini.
"Terima kasih, Kak."
Tanpa berbasa-basi lagi, Lucki memeluk Cinta. Sebuah pelukan hangat dan erat.
"Kakak---"
"Aku merindukanmu, Cinta. Setahun ini rasanya ama sekali."
Cinta tak kuasa melepas pelukan Lucki. Dalam hati ia berharap, kalau Lucka juga datang menemuinya dan mengucapkan selamat padanya. Tapi itu semua tidak terjadi.
Lucki melepas pelukannya dan tersenyum bahagia.
"Kapan kakak kembali? Kenapa tidak mengabariku?"
"Emh, sekitar dua hari yang lalu. Aku sudah mengabari ibumu. Dan aku ingin membuat kejutan untukmu. Ayo ke rumahmu! Aku sudah menyiapkan pesta kecil-kecilan untukmu." Lucki meraih tangan Cinta dan menggenggamnya erat.
Entah apa yang dirasakan Cinta saat ini. Sudah satu tahun ia tak berhubungan dengan keluarga Bahari. Tapi kini semua memori akan keluarga itu kembali dalam ingatan Cinta.
...***...
__ADS_1
Lucki menyiapkan pesta ulang tahun sederhana untuk Cinta. Yap, hari kelulusannya dari akademi memasak bertepatan dengan hari ulang tahunnya.
Cinta tak ingat hal itu. Karena ulang tahunnya tahun lalu ... adalah hal buruk yang pernah ia alami.
"Selamat ulang tahun, Cinta. Kamu sudah bukan anak-anak lagi sekarang. Usiamu sudah 19 tahun," ujar Lucki.
"Enak aja! Dari kapan tahun juga aku bukan anak-anak lagi, Kak! Awas kamu ya!" Cinta mengepalkan tangannya.
Keluarga kecil Cinta ditambah para tetangga baik hati yang selalu menemani hari-hari Cinta, kian menambah ramai suasana hari ulang tahun Cinta.
Mungkin tahun lalu adalah ulang tahun kelabu untuk Cinta, tapi tahun ini akan jadi tahun yang berbeda dari sebelumnya.
Setelah bercengkerama bersama keluarga Cinta, Lucki berpamitan pada Cinta dan keluarganya. Cinta mengantarkan Lucki hingga ke depan gang rumahnya.
"Maaf ya Kak, rumahku masuk ke dalam gang sempit. Jadi mobil kakak gak bisa masuk kesini."
"Hahaha, gak masalah Cinta. Bukankah berjalan kaki akan terasa lebih romantis dari pada naik mobil."
"Heh?" Cinta membulatkan matanya.
Apa yang Kak Lucki bicarakan? Kenapa membahas soal romantis? Kami baru bertemu lagi setelah satu tahun, kenapa dia tiba-tiba---?
"Cinta..." Lucki menghentikan langkahnya.
"Hmm?"
"Aku tahu satu tahun yang lalu adalah tahun yang berat untukmu. Maaf aku tidak ada bersamamu saat kamu menghadapi masa sulit itu."
"..............." Cinta terdiam.
"Aku tidak tahu harus berkata apa. Bukannya aku senang kamu dan Lucka berpisah, tapi itu artinya aku masih punya kesempatan untuk memiliki hatimu. Jadi, tolong berikan kesempatan itu untukku. Aku akan melakukan yang terbaik."
"Kakak?"
"Kita lakukan perlahan saja, ya. Perasaanku terhadapmu masih seperti yang dulu..." Lucki mencium kening Cinta, kemudian berpamitan.
Cinta kembali ke rumah dengan langkah berat menuju kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang, dan memikirkan banyak hal.
Air matanya tak kuasa ia tahan. Cinta menangis dalam diam. Bertemu dengan Lucki membangkitkan kenangannya bersama Lucka. Karena wajah mereka sama persis, hanya sifat mereka yang berbeda.
Inah mendatangi putrinya yang sedang terisak. Inah tahu seperti apa perasaan putrinya saat ini. Cinta memeluk Inah dan menangis dalam dekapan ibunya.
Meski Cinta selalu bilang dirinya baik-baik saja, tapi hatinya tak pernah baik-baik saja.
Kenapa bukan kamu yang datang? Kenapa? Meski hatiku sakit, tapi aku masih mengharap kamu mau menemuiku. Aku merindukanmu. Aku merindukanmu, Lucka...
Tangis Cinta makin keras dan pelukannya pada Inah makin erat. Inah hanya bisa membelai lembut punggung putri semata wayangnya itu.
Sementara itu, di suatu tempat dekat rumah Cinta. Seseorang yang sedari tadi berada di mobilnya dan tak kunjung turun, kini sedang menatap ke arah buket bunga lili yang tadi dibawanya. Orang itu tak sempat memberikan bunga itu pada seseorang yang lama tak ditemuinya. Bukan tak sempat, hanya kurang cepat dalam mengambil kesempatan.
Orang itu menundukkan wajahnya ke dalam kemudi, dan terisak. Sebuah jeritan hati yang tak bisa ia katakan. Yang tak bisa ia ungkapkan. Dan hanya bisa di resapi dengan air mata.
Maafkan aku, Cinta. Maafkan aku...
__ADS_1
...©©©©©...
Bersambung