Lu[C]Ka Cinta

Lu[C]Ka Cinta
16. PERSAINGAN (2)


__ADS_3

Lucki masih tertegun tak percaya melihat Lucka yang tiba-tiba datang ke kamar Cinta. Ia duduk di bangku taman dan memikirkan banyak hal.


Aku baru saja mengenalnya. Kenapa hatiku terasa sakit melihatnya dengan Lucka? Gadis itu adalah tunangan adikku. Tidak mungkin aku...


"Lucki? Sedang apa disini? Ini sudah lewat dari jam malam."


"Hei, Tom. Kamu sendiri? Kenapa juga masih ada diluar?"


"Hari ini adalah jadwalku untuk berpatroli."


"Jadi kamu merangkap jadi security juga?"


"Tidak. Ini hanya tugas cadangan saja. Sebaiknya kamu masuk! Aku tidak mau kamu terkena masalah nantinya."


"Apa kita bisa bicara?" tanya Lucki.


"Boleh. Sebaiknya kita ke kamarmu saja."


Lucki dan Tommy menuju ke kamar Lucki. Ia ingin menceritakan kegundahan hatinya.


"Sejak kapan Lucka dekat dengan Cinta?" Tanya Lucki tanpa berbasa-basi.


"Dekat?! Mereka tidak terlihat dekat." Tommy mengerutkan dahi.


"Tadi kulihat Lucka memasuki kamar Cinta. Dan sepertinya sampai sekarang dia belum keluar."


"Apa?! Lucka pergi ke kamar Cinta? Itu tidak mungkin!"


"Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, Tommy. Tapi, entah kenapa aku merasa kesal melihat kedekatan mereka berdua."


"Lucki, jangan bilang kamu---"


"Aku tidak tahu, Tom. Aku baru mengenal gadis itu, tapi entah apa yang terjadi dengan hatiku. Dia gadis yang baik. Dan ceria. Dia selalu tertawa. Aku menyukainya saat dia tersenyum."


"Tidak, Lucki... jangan lakukan hal bodoh untuk kedua kalinya." Tommy menepuk bahu Lucki.


"Sebaiknya kamu istirahat. Aku akan kembali memeriksa keadaan mansion." lanjut Tommy.


"Iya. Terima kasih sudah mau mendengar ceritaku."


...***...


Keesokan harinya, Lucka terbangun dengan berada di sofa kamar Cinta. Keadaan kamar terlihat sepi. Lucka melirik jam tangannya. Pukul lima pagi saat ini.


Gadis itu pasti sudah bangun, dan dia sedang menyiram taman. Pikirnya.


Lucka mengambil kemeja dan jasnya, lalu melangkah keluar dari kamar Cinta. Ia menuju kamarnya dengan mengendap-endap. Ia tak mau ada orang lain yang tahu soal kebersamaannya bersama Cinta semalam. Cukup kakaknya saja yang tahu.


"Lucka!"


Itu adalah suara Tommy. Lucka menghadap ke arah Tommy.


"Apa yang sudah kamu lakukan di kamar Cinta?" Tommy bertanya sambil melipat tangannya.


"Tidak ada! Kami hanya---" Lucka tak bisa melanjutkan kalimatnya.


Tommy menggelengkan kepala. "Ya sudah. Pergilah bersiap untuk jogging. Aku akan menunggumu."

__ADS_1


"Iya, baik."


"Dan kuharap kamu tidak melakukan hal yang tidak-tidak terhadap Cinta." Tommy melenggang pergi dari hadapan Lucka.


"Tidak-tidak?! Apa maksudnya? Huh! Dasar kau!" Gerutu Lucka sambil mengepalkan tinju ke arah Tommy yang membelakanginya.


...***...


"Hai, Cinta!" sapa Lucki saat Cinta sedang menyiram bunga.


"Hai, Kak. Selamat pagi."


"Pagi juga. Sini aku bantu!"


"Oh, boleh silahkan."


"Umm, Cinta---"


"Ya?"


Lucki nampak bingung melanjutkan kalimatnya. 


"Ada apa, Kak?" tanya Cinta menatap Lucki.


"Semalam aku ... aku melihat Lucka datang ke kamarmu."


"Ah itu? Aku juga tidak tahu kenapa dia tiba-tiba datang ke kamarku. Kakak tenang saja, kami tidak melakukan hal yang buruk kok, hehehe." Cinta menjawab dengan santai.


Lucki tertawa kecil. "Hal buruk? Kamu pikir aku mikir apa?"


"Kami hanya bermain kartu saja. Itu benar, Kak! Oh ya, aku akan pindah menyiram ke sebelah sana. Kakak tolong yang sebelah sini ya!"


Cinta, sepertinya aku mulai menyukaimu...


Dan lagi-lagi, Lucka merasa terancam dengan kedekatan Cinta dan kakaknya. Ia melihat ada keintiman yang terjadi antara kakaknya dan Cinta. Ia tak mau berlama-lama jadi penonton kedekatan mereka. Ia kembali berjogging ria dan memasang headset di telinganya. Ia tak mau mendengar sedikitpun tawa riang yang dikeluarkan Cinta bersama kakaknya.


...***...


Siang itu setelah kelas pelatihan Cinta usai, Lucki menemuinya di ruang belajar.


"Lho? Kak Lucki? Sedang apa disini?"


"Aku sengaja menunggumu."


"Ada apa Kak?"


"Ikut denganku. Akan kukenalkan pada seseorang."


"Eh? Siapa?"


"Udah ikut aja. Nanti juga kamu tahu."


Tanpa pikir panjang, Cinta menerima ajakan Lucki. Sudah lama juga Cinta tidak keluar rumah. Ia butuh udara segar agar tidak merasa penat.


Mereka menuju ke sebuah kampus perguruan tinggi ternama. Cinta mengenal tempat ini. Ini adalah kampus Lala, sahabatnya, dan juga Reno, kakak kelasnya. 


Cinta mulai panik. Ia takut kalau-kalau saja bertemu Reno disini. Tapi, Reno tak akan berani mendekatinya lagi. Apalagi Cinta kemari bersama Lucki. Orang yang wajahnya sangat mirip dengan Lucka. Pasti Reno akan mengira kalau Lucki adalah Lucka.

__ADS_1


Lucki mengajak Cinta ke sebuah kantor yang bertuliskan 'Rektorat'. Cinta mengernyitkan dahi.


Sebenarnya Kak Lucki mau ajak aku kemana sih?


"Kak, kita mau kemana?" Tanya Cinta pada akhirnya.


"Sebentar lagi sampai."


Cinta tidak bertanya lagi. Ia mengikuti kemana langkah Lucki berjalan. Hingga akhirnya mereka sampai di ruangan yang cukup luas, dan bertemu dengan seorang resepsionis.


"Selamat siang, Mas Lucki. Mau cari Profesor?"


"Iya, Mbak. Beliau ada?"


"Tunggu di dalam saja, Mas. Profesor sedang ada kelas mengajar. Sebentar lagi selesai."


"Baiklah, terima kasih. Ayo Cinta, kita masuk!"


Cinta memasuki sebuah ruangan yang bertuliskan 'Ketua Dewan', lalu duduk di ruang tamu bersama Lucki.


"Kak, apa yang kita lakukan disini?"


"Umm, baiklah akan kuceritakan. Kamu masih ingat tentang profesor yang pernah kuceritakan padamu? Yang membantuku untuk tetap berkuliah meskipun aku tidak ada disini."


"Iya, aku ingat. Jangan-jangan...?"


"Ini adalah kantornya."


"Kakak ingin menemuinya atau...?"


"Lucki!" Sesosok pria berambut putih dan berpakaian rapi mendatangi Lucki dan Cinta.


Lucki berdiri begitu sang profesor berjalan kearahnya.


"Profesor..." Lucki memeluk sang profesor.


"Senang melihatmu disini." ucap profesor bernama Gerald.


"Oh ya, Prof, kenalkan ini Cinta."


Gerald nampak mengerutkan dahi. "Dia...?"


"Dia adalah tunangan Lucka." jawab Lucki.


"Aahhh, halo. Salam kenal. Saya Gerald, kakeknya Lucki." Gerald mengulurkan tangannya pada Cinta.


"Eh? Kakek?" Giliran Cinta yang mengerutkan dahi.


"Iya, kakek dari Mamaku." jawab Lucki.


"Ooh, begitu... Salam kenal juga, Kek."


"Maaf ya, kakek tidak bisa datang di hari pertunanganmu dengan Lucka. Kakek sedang tidak ada disini."


"Tidak apa, Kek." Cinta memberikan senyum terbaiknya.


Dan mereka bertiga berbincang santai di ruang kantor Gerald.

__ADS_1


...©©©...


Bersambung,,,


__ADS_2