Lu[C]Ka Cinta

Lu[C]Ka Cinta
34. INSIDEN RUANG PENDINGIN


__ADS_3

Jerry terburu-buru masuk ke gedung JB Group dan bertanya pada satpam yang berjaga. Wajahnya pucat dan panik. Ia baru saja sampai di depan kosnya, namun harus kembali ke JB Group karena mendapat panggilan telepon dari Erlina yang mengabarkan kalau Cinta belum sampai di rumahnya. Ibunya cemas dan meminta Erlina mencari tahu soal keberadaan Cinta.


"Sudah tidak ada orang didalam, Mas. Mas mau cari siapa?" ucap pak satpam.


"Tapi teman saya sepertinya masih ada didalam, Pak," jawab Jerry panik.


"Saya sudah periksa semuanya, Mas. Beneran gak ada orang!" tegas pak satpam.


"Kalau begitu saya boleh kedalam untuk memeriksanya?"


"Ya sudah, silahkan saja." Pak satpam mempersilahkan Jerry masuk ke dalam gedung.


Dan beberapa menit kemudian, Erlina juga datang ke kantor dan bertemu pak satpam. Tak bisa menghalangi Erlina, pak satpam mengijinkan Erlina masuk dan menyusul Jerry.


Lucka baru saja keluar dari tempat parkir dan melewati lobby depan. Ia melihat Erlina berlarian masuk kedalam gedung. Ia penasaran dan bertanya pada pak satpam.


"Ada apa, Pak? Siapa perempuan tadi?" Lucka turun dari mobilnya.


"Itu Tuan, mereka Chef yang magang disini. Tadi katanya teman mereka ada yang belum pulang. Tapi saya sudah cek semuanya dan gak ada orang, Tuan."


"Siapa nama chef magang yang belum pulang itu?"


"Kalau tidak salah, namanya Cinta. Iya benar. Cinta!"


"Apa?!"


Lucka terlihat panik dan lari masuk kedalam gedung. Pak satpam yang kebingungan ikut berlari dibelakang Lucka.


Lucka menuju dapur. Tak ada siapapun disana. Lucka menuju ruang pendingin yang ternyata dikunci.


"Kunci ruangan ini ada dimana, Pak?"


"Saya yang simpan, Pak."


"Cepat bawa kemari. Kita harus membuka ruangan ini."

__ADS_1


"Tapi gak mungkin ada orang disana, Tuan. Saya sudah periksa dan gak ada siapa-siapa disana."


"Jangan membantah! Cepat ambilkan kuncinya!"


"I-iya, baik Tuan." Pak satpam berlari cepat untuk mengambil kunci.


Lucka menunggu dengan cemas. Lalu Jerry dan Erlina juga sampai di depan ruang pendingin. Mereka terkejut melihat keberadaan Lucka disana.


"Bagaimana? Kalian menemukannya?" tanya Lucka.


"Kami sudah cari di semua tempat tapi tidak ada, Tuan. Tadi Cinta bilang ia ingin memasak sesuatu karena ingin makan. Di dapur tak ada tanda-tanda orang yang habis memasak, itu artinya Cinta belum memasak apapun," ungkap Jerry.


"Ibunya sudah menelepon ke semua orang yang dikenalnya, dan memang benar Cinta tidak bersama mereka," imbuh Erlina.


Lucka berdecih kesal. Ia sangat khawatir pada Cinta. Dan perasaannya mengatakan kalau Cinta masih ada di gedung ini.


Pak satpam akhirnya tiba dengan membawa kunci. Lucka menyuruhnya untuk membukakan pintu ruang pendingin.


Hawa dingin langsung menusuk kulit saat pintu terbuka. Tanpa aba-aba Lucka langsung masuk ke ruang pendingin dan meneriakkan nama Cinta. Dengan hawa dingin yang kian menusuk tulangnya, Lucka tetap mencari Cinta sementara tiga orang yang lain hanya menunggu di depan ruang pendingin. Mereka tahu seperti apa dinginnya ketika masuk kesana. Dan mereka berasumsi kalau Cinta tak mungkin terkunci di ruang pendingin. Lalu bagaimana kalau itu mungkin?


Lucka menemukan tubuh Cinta tergeletak di lantai. Ia segera mengangkat tubuh Cinta yang sudah sangat dingin.


Setelah beberapa saat, Cinta membuka matanya. Ia tersadar. Namun tubuhnya masih sangat lemah.


"Lucka..." panggil Cinta lirih. Kemudian ia kembali tak sadarkan diri.


"Aku akan membawamu ke rumah sakit. Bertahanlah, Cinta!" Lucka menggendong tubuh Cinta dan membawanya keluar dari ruang pendingin.


Tiga orang yang menunggu diluar hanya bisa membulatkan mata kala melihat Lucka menemukan tubuh Cinta yang sedingin es. Mereka masih tak percaya kalau Cinta benar terkunci di ruang pendingin.


Lucka berjalan cepat menuju mobilnya, kemudian melesat menuju rumah sakit terdekat.


...***...


Di rumah sakit, Lucka membawa Cinta ke ruang IGD. Lucka cemas setengah mati dan hanya mondar mandir di depan IGD.

__ADS_1


Lucka bertanya pada perawat yang menangani Cinta. "Bagaimana keadaannya? Dia baik-baik saja kan?"


"Pasien mengalami Hypothermia. Suhu tubuhnya dibawah rata-rata. Sebenarnya apa yang terjadi?"


"Dia terkunci di ruang pendingin. Tapi, dia masih bisa diselamatkan kan, suster?"


"Kita tunggu sampai suhu tubuhnya kembali normal. Kalau boleh saya tahu, anda siapanya ya? Suaminya atau..."


"Bu-bukan, suster. Saya bukan suaminya. Dia adalah karyawan saya," jawab Lucka canggung.


"Oh, begitu. Karena bukan suami atau anggota keluarga, maka kami akan menutupi tubuh pasien dengan selimut tebal saja. Sebenarnya akan lebih cepat jika pasien dapat kehangatan dari suhu tubuh orang secara langsung."


"Eh? Gimana maksudnya, Suster?" Lucka mengernyitkan dahi. Si perawat menjelaskan dengan bahasa yang sederhana kepada Lucka.


Dan akhirnya, yang akan mengobati Cinta adalah Lucka sendiri. Seperti yang dijelaskan oleh si perawat kalau suhu tubuh Cinta akan kembali normal dengan cepat bila bersentuhan langsung dengan suhu tubuh manusia lain. Alhasil Lucka lah yang membagi suhu tubuhnya pada Cinta dengan cara memeluknya erat didalam selimut.


Itu adalah kesempatan bagus untuk Lucka. Meski terkesan mengambil kesempatan dalam kesempitan, hehe.


Lucka mendekap erat tubuh Cinta. Jarak diantara mereka sangatlah dekat. Lucka membelai rambut Cinta yang tergerai. Mantan tunangannya ini sudah berubah. Dia bukan lagi gadis kecil yang dulu suka diolok-olok oleh Lucka.


Bagaimana bisa kamu ada diruang pendingin, Cinta? Apa yang kamu lakukan disana?


Lucka tak bisa menahan gairahnya. Posisinya yang terlalu intim dengan Cinta membuatnya tak bisa menahan diri. Ia mengecup lembut kening Cinta.


Cinta membuka sedikit matanya. Mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi.


"Lucka..." panggil Cinta lirih.


"Sssttt, jangan bicara dulu. Istirahat saja. Aku ada disini," bisik Lucka.


"Hmm." Cinta kembali memejamkan matanya. Ia mulai tertidur. Lucka makin mendekapnya erat agar Cinta lekas pulih.


Tiga puluh menit sudah berlalu, dan suhu tubuh Cinta mulai normal. Lucka senang Cinta mulai pulih. Lucka mulai mengantuk dan berniat tidur disamping Cinta, namun ia kembali tersadar saat mendengar suara Ibu Cinta, Inah yang memasuki ruangan IGD. Ia segera bangkit dari ranjang Cinta, dan mengendap-endap bersembunyi agar tak ada yang melihatnya.


"Dimana anak saya, Suster?" tanya Inah panik.

__ADS_1


"Pasien atas nama Cinta ada di bangsal nomer 3," jelas si perawat sambil mengantar Inah.


Si Perawat membuka tirai dan kebingungan karena tak mendapati Lucka ada di ranjang Cinta. Inah bergegas memeluk putri kesayangannya yang masih terbaring lemah dan terpejam.


__ADS_2