Lu[C]Ka Cinta

Lu[C]Ka Cinta
EXTRA PART : LAMARAN


__ADS_3

Aku membuka mataku di pagi hari. Meregangkan ototku yang terasa kaku. Lalu aku mengerjapkan mata dan menenangkan pikiranku sejenak.


Aku melirik jam dinding di kamarku. Hari apa ini? Kenapa rasanya sungguh berbeda dengan hari-hari biasanya.


"Cinta! Nduk! Kamu sudah bangun?"


Itu adalah suara ibuku.


"Iya, Bu." jawabku dengan suara serak khas bangun tidur.


"Bangun Nduk. Mandi lalu sarapan sini!" seru ibu.


"Iya, Bu."


Aku segera bangkit dari tempat tidur kemudian menuju ke kamar mandi. Lima belas menit berada di kamar mandi kurasa sudah cukup.


Ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Lucka. Aku tersenyum membaca pesan singkat darinya.


Ya setelah dari kamar mandi tadi, aku ingat jika hari ini adalah hari pertunanganku dengan Lucka. Acara hari ini akan berbeda dengan acara pertunangan yang dulu.


Aku sengaja meminta Lucka untuk mengganti semua prosesinya. Dan dia menyanggupinya.


Aku keluar kamar dan terlihat banyak orang berlalu lalang di rumahku. Beberapa orang mengatur dekorasi dan ada juga yang sedang memasak di dapur.


Chef Juna membantu para ibu untuk menyiapkan hidangan untuk keluarga Bahari yang datang. Ya, kali ini semua prosesi lamaran sesuai dengan keinginanku. Ini adalah hal yang kutunggu.


"Nduk, makan dulu. Ini chef Juna yang masak lho!" ucap ibuku.


"Oh ya?" Aku langsung berbinar.


"Ehem! Apa begini kerjaan anak perawan yang mau dilamar? Saya sudah ada disini sejak subuh tadi dan kamu baru bangun?" Chef Juna geleng-geleng kepala.


Aku hanya meringis mendengar keluhannya.


"Ah itu mah Chef aja yang kepagian datangnya. Acaranya kan masih siang nanti."


"Hmm dasar! Selalu saja pintar ngeless!" Chef Juna mengacak rambutku.


Aku duduk di kursi meja makan dan menyantap nasi goreng buatan Chef Juna. Jika melihat nasi goreng, rasanya aku selalu ingat tentang kenanganku bersama Lucka.

__ADS_1


Saat sedang asyik menyantap sarapanku, ponselku berdering. Sebuah panggilan dari Lucka. Panjang umur sekali dia. Baru saja aku memikirkannya, dan dia langsung meneleponku.


"Halo, Mas..." Panggilan yang dulu sempat menghilang, kini kembali lagi.


"Halo, sayang."


"Ada apa?"


"Sayang, apa benar aku tidak perlu ikut dalam acara lamaran nanti?"


Aku terkekeh. Ternyata dia menelepon hanya untuk menanyakan itu.


"Memang gak boleh, Mas. Adatnya begitu."


"Tapi, aku kan orang yang melamarmu, kenapa malah tidak datang?"


"Yang melamar bukan kamu, tapi nenek dan kak Lucki."


"Haaah! Jadi, aku harus mengikuti adat istiadat?"


"Iya, Mas. Besok setelah acara lamaran, baru kita bertemu."


Ah Ya Tuhan! Aku paling tidak tahan jika mendengar Lucka merajuk.


"Tahan dulu Mas sampai besok. Nanti minta Tommy saja untuk kirimkan videonya."


"Haah! Ya sudah. Kamu sudah siap-siap?"


"Ini masih sarapan, sebentar lagi bersiap."


"Baiklah. Aku tutup teleponnya. Love you..."


"Iya, love you too."


Panggilan berakhir. Aku jadi merasa bersalah karena mendengarnya beberapa kali menghela napas.


"Ada apa, Nduk? Apa nak Lucka masih ngotot minta ikut?" tanya Ibu.


"Iya, bu. Gimana dong?" Aku jadi ikut merajuk pada ibu.

__ADS_1


"Biarkan saja. Lagian hanya satu hari saja masa ndak kuat nahan rindu. Itu loh kalau berat suruh Dilan saja yang ngangkat."


"Hah? Dilan siapa, Bu?"


"Kamu anak muda kok malah ndak tahu. Dasar bucin!"


"Dih, Ibu! Apaan sih? Gak jelas deh!" Aku tertawa lalu memeluk Ibu.


Seandainya saja ayah dan kakek masih ada disini. Pasti mereka juga akan sangat senang mendengar aku dilamar. Tapi, seperti apapun kondisiku, aku harus banyak bersyukur karena selalu ditemani oleh orang-orang yang menyayangiku.


#


#


#


Kini tibalah di acara prosesi yang di tunggu-tunggu olehku. Rombongan keluarga Bahari datang dengan membawa banyak barang sebagai hantaran lamaran.


Aku masih bersembunyi di kamar bersama Lala dan hanya mendengar suara orang-orang yang ada di luar. Suara gelak tawa juga hadir dalam acara hari ini.


Pakde Gun bertugas mewakili keluargaku sebagai pengganti ayah. dan kakek. Sedangkan dari pihak Lucka, ada kakek Gerald yang bicara sebagai orang yang ingin meminang diriku untuk cucunya.


Aku tidak tahu seperti apa ekspresi Lucka sekarang. Yang jelas, pastinya dia agak kesal karena tidak diperbolehkan untuk ikut hadir. Mungkin saja dia masih marah, atau mungkin juga tidak.


Ketika keluarga Bahari telah menyatakan niatnya, kini tiba saatnya keluargaku untuk menjawab. Pakde Gun memanggilku untuk menjawab lamaran dari pihak Lucka.


"Bagaimana Nduk Cinta? Ini ada pemuda baik hati, baik keluarganya, dan baik pula pekerjaannya. Keluarganya datang untuk bermaksud melamar dan meminang Nduk Cinta. Apakah di terima atau tidak?" tanya Pakde Gun padaku.


Aku tersenyum menyambut semua orang yang hadir. Aku menatap nenek Jessi, lalu kak Lucki dan juga Alisa. Mereka semua hadir dalam acara penting ini.


"Jawabanku adalah ... tidak!"


Tentu saja semua orang heboh karena mendengar pernyataan anehku.


Maaf ya Lucka, aku hanya mengerjaimu saja.


"Tidak menolak maksudnya..."


Akhirnya semua orang berseru lega. Tak terkecuali seseorang yang ada disana. Sejak tadi dia melakukan panggilan video dengan Tommy. Dan kini aku mendengarnya bersorak gembira.

__ADS_1


__ADS_2