![Lu[C]Ka Cinta](https://asset.asean.biz.id/lu-c-ka-cinta.webp)
...***...
Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku. Terkadang aku merasa sedih jika mengingat kalau masa remajaku sudah direnggut dariku karena aku harus mengikuti wasiat dari kakek untuk menerima perjodohan ini. Namun di satu sisi, aku senang dengan perjodohan ini. Mungkin lebih tepatnya, ini karena Lucka. Pria dingin yang tak pernah menganggap aku ada, namun kemarin, secara tiba-tiba kami pergi bersama dan menghabiskan waktu bersama.
Sebenarnya dia pria yang baik, hanya saja seperti yang dikatakan Alisa, dia tidak pandai mengungkapkannya. Dia terlalu kaku. Mungkin karena tekanan pekerjaan yang terus mendera di usianya yang masih muda. Dia hanya lima tahun diatasku, itu artinya usianya sekitar 22 tahun.
Hari pertunangan kami sudah makin dekat. Orang-orang mulai sibuk. Begitu juga aku. Aku terus berlatih agar pantas bersanding dengan Lucka.
Ditengah pelajaranku bersama Ibu Rini, Kakek tiba-tiba menemuiku.
"Cinta..." panggil Kakek.
"Kakek, ada apa? Ibu Rini bilang kakek mencariku."
"Iya. Ada yang ingin kakek sampaikan."
Wajah Kakek terlihat serius. Aku mendengarkan kakek dengan seksama.
"Pertunangan kamu dan Lucka tinggal tiga hari lagi. Kakek ingin, sambil menunggu hari pertunangan, kamu bisa pulang ke rumah Ibumu."
"Apa?! Kakek serius?" Aku sangat bahagia mendengarnya.
"Iya, tentu saja. Kamu pasti merindukan ibumu, kan?"
"Iya, Kek. Terima kasih banyak." balasku dengan senyum yang mengembang.
Dengan semangat membara, aku mengemasi barang-barangku yang akan kubawa ke rumah Ibu. Dan pastinya aku tak perlu membawa banyak barang, karena disana barang lamaku masih tertata rapi. Aku ambil kotak yang berisi gelang untuk Ibu. Senang rasanya bisa memberikan sesuatu untuk Ibu. Jika melihat gelang itu, aku jadi teringat Lucka. Apa kabarnya dia? Setelah pergi ke toko perhiasan waktu itu, kami belum bertemu lagi. Dia sangat sibuk. Bahkan tak sempat bergabung untuk sarapan dan makan malam.
Kadang, aku kasihan dengannya. Dia hanya mengurus pekerjaannya saja. Dia tidak memiliki kehidupan pribadi. Apa dia bahagia dengan semua ini?
Huft! Kenapa aku jadi ikut repot? Itu adalah pilihan hidupnya. Aku tak perlu ikut campur.
"Nona!"
"Eh, Alisa. Kamu sudah tahu kan? Kalau aku akan kerumah Ibuku?" tanyaku.
"Iya. Dan tadi Bapak bilang padaku, kalau Tuan Besar memintaku untuk ikut bersama Nona."
"Heh?! Yang benar?" Mataku berbinar mendengarnya.
"Iya, Nona."
Aku merasa sangat gembira. Alisa akan ikut denganku ke rumah Ibu. Kami akan melakukan banyak hal bersama. Aku berjingkat kegirangan bersama Alisa.
...***...
Sementara itu di sisi Lucka,
"Tumben suasana mansion sepi, Tom? Kemana adik kamu dan si tukang keluyuran itu?" tanya Lucka
"Ehem! Kamu mulai mencarinya ya?" goda Tommy.
"Apaan sih? Aku hanya bertanya saja!" elak Lucka.
"Cinta sedang ke rumah Ibunya. Dan Alisa ikut dengannya." jawab Tommy.
__ADS_1
Lucka hanya bisa ber 'oh' ria.
"Kenapa? Kamu mulai menyukainya ya?" Tommy sangat senang menggoda sahabat sekaligus bosnya itu.
"Jangan mulai deh, Tom. Dia itu masih bocah. Mana mungkin aku tertarik dengannya." Lucka menggeleng.
"Yakin tuh?!" Tommy terus menggoda Lucka.
"Usia 17 tahun itu usia dimana seorang gadis sedang mekar merekah bak bunga di taman. Itulah kenapa mereka sangat menggoda untuk dipetik." lanjut Tommy.
"Jangan ngawur! Sudah! Jangan membahas bocah itu terus. Hari ini kita akan sangat sibuk. Aku tak ada waktu memikirkan hal lain."
Tommy menahan tawanya melihat tuan mudanya yang salah tingkah.
...***...
Hari pertunangan akhirnya tiba. Pertunanganku dan Lucka di adakan di ballroom sebuah hotel berbintang. Aku sangat gugup. Meskipun berkali-kali Alisa menenangkanku.
Aku menatap diriku di cermin. Dengan balutan dress warna putih tanpa lengan, aku terlihat cukup cantik. Inikah akhir masa 17 tahunku?
Tidak! Ini bukan akhir. Ini adalah awal. Awal dari kehidupanku yang baru. Aku menghela nafas dengan teratur sejak lima menit lalu untuk menghilangkan rasa gugup.
Tok tok tok
"Masuk!" jawabku.
Aku terkejut melihat siapa yang datang ke kamar riasku.
"Lucka?" Aku mengernyitkan dahi.
"Kamu yakin akan melakukan ini?" tanyanya tanpa berbasa-basi.
"Aku pikir setelah kamu pulang dari rumah Ibumu, kamu akan memohon pada Kakek agar membatalkan perjodohan ini."
"Apa? Membatalkan? Kenapa kamu...?"
"Jadi ini yang kamu inginkan?" tanyanya lagi.
Apa sih yang sedang Lucka bicarakan? Aku sama sekali tak memahami sikapnya.
"Lucka!"
"Aku tidak pernah menerima perjodohan ini. Jika kamu ingin melanjutkannya, maka silakan!" ucapnya dingin.
"Jika kamu tidak menerimanya, kenapa tidak bicara pada Kakek? Kenapa bicara padaku?"
"Karena kakek tidak akan mendengarkan aku. Tapi dia akan mendengarkanmu!"
"Jadi, kamu meminta aku untuk membatalkan perjodohan ini? Dengan bicara pada Kakek?" Aku menyimpulkan sendiri apa maksud semua kata-kata Lucka.
"Kamu cukup pintar rupanya."
"Tapi hari ini adalah hari pertunangan kita, Lucka. Kakek sudah menyiapkan semuanya. Aku tidak bisa melukai hatinya." tolakku.
"Justru itu, ini adalah momen yang pas."
__ADS_1
"Kamu ingin mempermalukan Kakek di hadapan para tamu? Kamu tega sekali, Lucka!"
"Jadi, apa keputusanmu?"
Aku menatap Lucka dengan mataku yang memerah. Ingin menangis rasanya mendengar semua ini dari Lucka.
"Awalnya ini memang berat untukku. Tapi, jika kuingat kebaikan Kakek Jansen dan Nenek Jessi ... aku tidak akan sanggup menyakiti mereka." ucapku.
"Kamu mau melakukan semua ini untuk mereka?"
"Untuk orang-orang yang kita sayangi, pengorbanan tidaklah berat, Lucka."
"Pengorbanan katamu?!"
Lucka terlihat marah dan mencengkeram bahuku.
"Selama ini aku sudah melakukan semuanya untuk mereka! Kamu tahu itu! Aku mengorbankan semuanya demi mereka!" Lucka berteriak padaku.
"Lucka! Acaranya akan segera dimulai. Ayo bersiap!" Suara Tommy membuat Lucka melepaskan cengkeramannya di bahuku.
Dan diapun pergi meninggalkanku. Aku menyeka air mataku yang tak tahu kapan mengalir melewati pipiku.
...***...
"Saya ucapkan terimakasih kepada para tamu undangan yang sudah berkenan hadir di acara pertunangan cucu tercinta kami, Lucka Bahari dan Cinta Putri.
Empat belas tahun lalu, saya membuat sebuah perjanjian dengan Kakek Cinta, untuk saling menjodohkan cucu-cucu kami saat mereka dewasa.
Dan dengan senang hati, ternyata, mereka berdua menerima perjodohan ini dengan lapang dada. Benar begitu kan, Cinta?"
"Eh?" Aku tertegun.
Apa ini? Apa kakek bertanya padaku? Aku harus menjawab apa? Aku melirik ke arah Lucka.
"Cinta? Kamu menerima perjodohan ini kan?" tanya Kakek sekali lagi.
Bagaimana ini? Aku harus menjawab apa? Sementara Lucka ... dia terus memberi kode untuk mengatakan tidak.
Ya Tuhan! Tolong aku!
"Lucka? Bagaimana denganmu, Nak? Mungkin Cinta gugup karena banyak tamu yang hadir."
Kakek ganti bertanya pada Lucka. Tidak! Jika Lucka menjawab tidak setuju, bagaimana dengan Kakek? Dia pasti sangat sedih. Aku tidak bisa membiarkan Lucka menghancurkan hati kakek.
"Iya! Kami menerima perjodohan ini!"
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirku. Dan sontak membuat Lucka mendelik kepadaku. Aku tak peduli. Saat ini yang aku pikirkan adalah perasaan kakek.
...©©©...
Bersambung,,,
...Cinta Putri...
__ADS_1
...Lucka Bahari...