![Lu[C]Ka Cinta](https://asset.asean.biz.id/lu-c-ka-cinta.webp)
Pagi itu aku sudah bersiap untuk memasak sarapan. Aku berjalan menuju dapur yang dulu di buatkan kakek Jansen untukku.
Aku terkejut karena melihat Lucka ternyata sudah ada di dapur.
"Lucka, kamu ngapain disini?" tanyaku.
"Memangnya kamu gak lihat aku sedang apa? Di dapur ya pasti masak lah!"
Aku terkekeh. Benar juga apa yang dikatakannya.
"Apa aku boleh membantu?" tawarku.
"Boleh, ayo sini pakai apronnya. Tumben kamu kemari, biasanya kamu sibuk merawat taman."
"Emh, tadi sudah ada Edi yang merawatnya. Aku pikir aku harus bangun dan membuat sarapan."
Aku meringis menatap Lucka. "Kamu mau masak apa sih?"
"Masak yang mudah saja. Pasta!"
Aku mencebik. "Itu mah makanan kesukaan kamu sendiri."
"Jadi, kamu masih ingat makanan kesukaanku?"
Sejenak aku terdiam lalu kami saling bertatapan. Aku tidak pernah melupakanmu, Lucka. Bahkan dimanapun kamu berada, aku selalu mendoakanmu.
Hah! Seandainya saja bicara itu mudah. Mungkin akan terdengar jika aku menggombali Lucka.
CUP
Satu kecupan mendarat di pipiku.
"Lucka!" Aku terkejut.
"Katanya mau bantuin masak. Kok malah bengong!"
"Ah iya!" Aku segera memposisikan diri.
Aku mengiris bawang dan bahan yang lain.
"Setelah sarapan, kita temui ibumu."
"Eh?"
"Fokus, Cinta! Memasak!" tegur Lucka.
Lucka menggeleng. Memang benar. Aku banyak tidak fokus saat di dapur. Entah apa yang kupikirkan.
Tapi kini aku merasa lega karena kamu ada disisiku. Aku pun tersenyum sambil memandangi Lucka yang sigap memasak.
#
#
#
Kami kembali sarapan bersama. Aku melihat neneo Jessi sudah kembali ceria. Baru tiga hari dan kami harus terus menghibur nenek agar dia tidak mengingat tentang kakek.
Namun semakin kami menghiburnya, semakin dia ingat tentang kakek.
"Jika saja kakek kalian masih ada, dia pasti sangat senang melihat kalian berkumpul bersama disini. Itu adalah impiannya sejak dulu. Melihat kalian bersatu."
Aku dan Lucka juga kak Lucki merasa bersalah terhadap kakek. Terlebih aku yang sudah menghancurkan hati kakek dengan pergi dari rumah ini.
Lucka menggenggam tanganku. Sepertinya dia tahu jika aku merasa bersalah pada nenek.
"Nek, setelah ini aku akan menemui keluarga Cinta untuk meminta restu," ucap Lucka.
Nenek Jessi tersenyum. "Tentu saja, Nak. Ucapkan permohonan maaf pada ibu Inah. Selama ini kita sudah banyak menyakiti keluarga Cinta."
"Tidak, Nek. Jangan bicara begitu. Aku dan Ibu justru merasa bersalah pada kakek dan nenek. Aku sudah membatalkan pertunangan kami secara sepihak."
"Kamu pantas melakukannya karena adikku memang harus dihukum!" celetuk kak Lucki.
"Apaan sih, Kak? Aku tidak seburuk itu..." sergah Lucka.
__ADS_1
Aku hanya menggeleng pelan melihat kakak adik ini kembali bertengkar kecil. Mungkin begitu jika kita memiliki saudara. Sering berantem, tapi saling menyayangi.
#
#
#
Aku menunggu Lucka di depan kamarnya. Aku beberapa kali melihat jam tanganku dan dia tidak juga muncul.
Aku putuskan untuk mengetuk pintu kamarnya.
"Lucka! Kamu ngapain sih? Ayo, udah makin siang nih. Jalanan macet kalau keburu siang!"
Pintu kamar terbuka dan terlihat Lucka masih memakai kaus dalamnya.
"Ayo masuk!"
Lucka menarik tanganku.
"Ada apa sih?" tanyaku bingung.
"Cinta, pilihkan baju untukku!" ucap Lucka.
Aku terkekeh geli. Astaga, jadi sejak tadi dia bingung mau pakai baju yang mana.
Beberapa stel jas tergeletak di ruang gantinya.
"Kenapa mesti bingung? Bajumu banyak begini tinggal pilih salah satu saja!" ucapku sambil merapihkan pakaian milik Lucka.
"Aku akan melamarmu secara resmi. Tentu saja aku sangat...gugup. Aku tidak ingin terlihat jelek di depan keluargamu."
Aku menahan tawaku. Geli rasanya melihat Lucka yang biasanya dingin dan tanpa ekspresi tiba-tiba berubah gugup hanya karena akan bertemu dengan keluargaku.
"Mereka tidak akan memakanmu! Pakai saja setelan jas yang biasa kamu pakai!"
"Kalau begitu pilihkan untukku!"
Aku menghela napas. "Iya, Baiklah Tuan Lucka!"
Aku memilih setelah warna merah maroon saja. Karena saat ini aku memakai dress warna yang senada.
Lucka menuju ke ruang ganti dan aku keluar lalu duduk di sofa kamarnya. Kamar Lucka tidak banyak berubah. Mungkin karena dia tidak tinggal disini beberapa tahun terakhir.
Lucka keluar dan sudah nampak tampan. Aku memberi dua jempolku padanya.
"Tolong pakaikan dasi untukku!"
"Eh? Pakai sendiri saja!"
"Hei, calon istri harus bisa memasang dasi suaminya! Cepat kesini!"
"Ish, dasar manja!"
Aku beranjak dari dudukku dan menghampirinya. Lucka menyerahkan dasi kepadaku.
Aku sedikit berjinjit untuk bisa meraih belakang lehernya. Aku fokus melihat lipatan dasi agar bentuknya simetris.
"Cinta, bolehkah aku menciummu?"
Pertanyaan Lucka membuatku membulatkan mata.
"A-apa katamu?"
Aku segera melangkah mundur namun tangan Lucka menahan pinggangku. Aku sangat gugup sekarang. Posisi kami terlalu dekat.
"Lucka..."
"Maaf ya, karena selama ini aku sudah menyakitimu."
Aku menunduk. Aku tidak mampu membalas tatapan Lucka. Ini terlalu canggung.
"Aku tanya sekali lagi, boleh aku menciummu?"
Aduh! Aku harus jawab apa? Aku menggigit bibir bawahku. Lucka tidak akan melepaskanku sebelum dia mendapatkan apa yang dia mau.
__ADS_1
Aku jadi ingat saat insiden ciuman pertama kami. Aku malah menangis setelah Lucka menciumku. Itu adalah hal konyol yang pernah terjadi.
Aku mengangguk pelan. Aku setuju. Dan kali ini aku tidak akan lari ataupun menangis. Aku memberanikan diri untuk menatap Lucka.
Aku tahu dia punya cinta yang besar untukku. Aku ... tidak mampu menolak pesonanya.
Aku memejamkan mataku. Entah apa yang kurasakan saat ini. Aku merasa jantungku akan lepas dari tempatnya ketika bibir Lucka menyentuh bibirku.
Lucka menahan tengkukku agar dia bisa bermain lebih dalam. Kami saling berpagutan. Cukup lama dan intens.
Aku melingkarkan tanganku di leher Lucka. Aku memainkan rambut belakang miliknya dan dia memelukku dengan erat.
Lucka membawa tubuhku keatas ranjang miliknya. Aku terbaring dan dia berada diatasku. Kami kembali berciuman.
Aku sangat menikmati waktu ini. Aku tidak ingin semuanya cepat berakhir.
Lucka melepas pagutannya. Dia menatapku intens. Irama jantungku berdetak tak karuan. Pasti saat ini Lucka bisa mendengar suara degup jantungku.
"Aku mencintaimu..."
Sebuah pengakuan yang membuatku seakan melayang ke angkasa.
"Aku tahu..." jawabku.
Lucka beranjak dari atasku. Aku bangun dan duduk di tepi ranjang. Aku membenahi penampilanku yang sedikit berantakan.
"Ayo berangkat!"
Aku mengangguk. Kami berjalan beriringan dengan saling berpegangan tangan.
Tiba di depan pintu...
"Kenapa Lucka?" tanyaku karena mendadak Lucka berhenti.
"Aku tidak bisa melepaskanmu..."
"Eh?"
Lucka mendorong pelan tubuhku hingga menempel ke dinding.
"Lucka!"
"Kita tunggu sebentar lagi ya?" ucap Lucka lalu kembali meraih bibirku.
Ah Ya Tuhan! Mimpi apa aku semalam? Aku sangat bahagia hari ini...
Lucka menyapu bibirku dengan lembut. Kali ini tidak seagresif tadi. Aku berusaha tetap tenang agar tidak nampak gugup meski sebenarnya iya.
Tok tok tok
Sebuah ketukan di pintu akhirnya membuat kami terhenti.
"Tuan! Mobilnya sudah siap!" ucap Tommy dari luar kamar.
"Iya, tunggu sebentar!" jawab Lucka.
"Lucka, sebaiknya kita..."
Astaga! Dia kembali menyerangku!
Satu menit
Dua menit
Tiga menit...
Aku mendorong tubuh Lucka pelan. Napasku memburu. Aku butuh asupan oksigen lebih banyak.
Lucka mengusap bibirku.
"Maaf ya! Aku sudah membuatmu kewalahan!"
Aku memukul dadanya. Dia sangat pandai menggodaku.
"Tuan!" teriak Tommy lagi.
__ADS_1
"Iya iya, dasar bawel!"
Kami pun akhirnya keluar kamar dengan mendapat tatapan tak biasa dari Tommy. Ah, aku sangat malu!