![Lu[C]Ka Cinta](https://asset.asean.biz.id/lu-c-ka-cinta.webp)
Beberapa hari kemudian,
Aku merasa aku harus menghabiskan waktu 24 jamku dengan hal-hal yang membuatku terus sibuk dan fokus pada banyak hal. Aku tidak mau kejadian di hari pertunangan yang lalu terus menghantui pikiranku.
Aku tahu Lucka sangat kesal padaku, dan dia tidak bicara apapun lagi sejak hari itu. Dulu, aku selalu membayangkan, setelah seorang gadis bertunangan, kehidupannya satu persatu mulai berubah. Pastinya berubah lebih bahagia.
Tapi yang kurasakan ... aku tidak tahu seperti apa rasanya sekarang. Terasa hampa, dan sepi. Meskipun begitu aku senang, karena aku menyadari perasaanku dan berani menyatakannya.
-Flashback-
"Kenapa kamu melakukan ini? Inikah yang kamu inginkan?" Emosi Lucka sudah tak terbendung lagi.
"Maaf, aku hanya tidak mau kamu menghancurkan hati kakek dan nenek." Dan aku hanya menjawab dengan lirih.
"Jadi memang ini yang kamu inginkan? Apa Kamu tidak memiliki impian yang ingin kamu capai? Usiamu masih sangat muda."
Aku pikir dia mulai peduli padaku.
"Aku berusaha menjalani semua ini dengan hatiku, Lucka. Meskipun rasanya berat."
"Ya. Aku mengerti sekarang. Ini memang yang kamu inginkan! Setelah lulus SMA, kamu mencari pria kaya lalu menikahinya. Begitu kan?"
Tapi aku salah. Dia bukan peduli, dia hanya ingin mengolokku.
"Apa maksud kamu, Lucka?"
"Inilah wajah aslimu yang sebenarnya..."
Kulihat tatapan matanya yang membenciku.
"Tidak. Aku tidak seperti itu. Aku hanya mencoba ikhlas menjalankan wasiat ini. Dan juga, aku pikir aku mulai menyukaimu!"
Namun entah kenapa, aku justru mengatakan hal yang berbeda.
#
#
#
Pernyataan itu membuatku justru semakin jauh darinya. Dia masih dingin padaku. Hatiku sakit saat mengingatnya. Aku hanya bertemu dengannya saat sarapan pagi. Ironis sekali. Jauh dari kata pasangan yang baru saja bertunangan.
"Nona, jadi nona mendapat ijin dari Tuan Besar?" Suara Alisa membuyarkan lamunanku.
"Iya, begitulah." Kujawab dengan mengembangkan senyum. Aku tak mau terlihat lemah di depan Alisa.
Dan disinilah aku, di hari yang masih gelap, aku sudah berkutat dengan rutinitas pagiku yang baru saja kumulai hari ini.
"Nona, ini pupuknya." Seorang pelayan pria menghampiriku.
"Terima kasih, Edi. Coba kamu cek tanaman yang sebelah sana ya. Setelah menyiram yang disini, aku akan kesana."
"Baik, Nona."
"Jadi, Nona benar-benar paham soal tanaman?" Tanya Alisa sambil berdecak kagum.
Mungkin dia pikir aku mau melakukan ini karena aku 'mau' dan 'suka'.
"Tidak juga. Aku baru pertama kali ini bercocok tanam."
"Lalu kenapa Nona mau melakukan ini?"
"Aku hanya menambah daftar kegiatanku saja. Lagipula, dirumah Teh Rina banyak sekali tanaman hias dan bunga. Setidaknya aku sering memperhatikan dia saat merawat tanaman-tanamannya. Aku rasa aku bisa melakukan ini secara otodidak, hehehe."
"Nona bisa saja."
__ADS_1
"Ayo pindah ke sebelah sana!" Ucapku dengan semangat menggebu.
Aku memutuskan untuk berkebun. Lebih tepatnya, merawat tanaman yang sudah ada disini. Yap. Mengisi waktu luangku agar 24 jam benar-benar terasa penuh.
...***...
Pukul lima pagi, Lucka bersiap untuk berolahraga. Dia melakukan jogging mengitari mansion. Setelah melakukan pemanasan, Lucka mulai berlari kecil dan memasang headset di telinganya. Berolahraga sambil mendengarkan musik membuatnya lebih bersemangat.
Dari kejauhan, Lucka melihat beberapa orang ada di taman mansion utara, mansion miliknya. Ia pun menghentikan langkah berlarinya. Ia memicingkan mata untuk melihat ke arah orang tersebut.
Tommy yang menemani Lucka berlari ikut terhenti.
"Apa yang dia lakukan pagi buta begini di taman?" tanya Lucka.
"Alisa bilang Cinta meminta ijin pada Tuan Jansen untuk merawat taman di mansion ini sendiri. Dan rupanya Tuan Jansen memberi ijin padanya."
Lucka hanya mengernyitkan dahinya lalu berdecih. Kemudian ia melanjutkan jogging paginya tanpa berkomentar apapun lagi. Tommy hanya tersenyum simpul melihat kelakukan tuan juga sahabatnya itu.
...***...
Cinta mendapat telepon dari Lala, sahabatnya yang meminta untuk bertemu. Usai pelatihan bersama Ibu Rini, Cinta meminta ijin untuk keluar rumah. Dan Nenek mengijinkannya.
Cinta bertemu Lala di sebuah kafe dekat sebuah universitas ternama. Ternyata Lala baru saja menyelesaikan melengkapi berkas administrasi disana.
"Senang banget gue bisa ketemu lo. Kayak udah berapa tahun gitu gak ketemu, Ta." ucap Lala.
"Iya, gue juga senang." balas Cinta.
"Ta, lo beneran gak kuliah?"
Cinta menggeleng.
"Lo beneran mau nikah? Beritanya udah kesebar. Makanya gue minta ketemu, gue mau nanya langsung sama lo."
"Lo baik-baik aja kan?"
"Iya, gue baik. Lo tenang aja." Cinta tetap mengembangkan senyumnya.
Saat sedang asyik mengobrol, seorang pria muda menghampiri mereka berdua.
"Cinta? Lala?" Sapa si pria.
"Kak Reno? Lo ngapain disini?" Tanya Lala.
"Gue kuliah disini. Lo kuliah disini juga?" tanya pria bernama Reno balik.
"Iya, gue daftar disini. Dan keterima. Jadi, lo bakal jadi senior gue dong!" cerita Lala.
"Hehe, iya. Ternyata dunia sempit ya. Oh ya, Cinta, apa kabar?" Kini Reno beralih pada Cinta.
"Eh? Kabar baik, Kak." Cinta menjawab dengan gugup.
Reno adalah kakak kelas Cinta sewaktu di SMA. Dan dia pernah beberapa kali menyatakan perasaannya pada Cinta, namun selalu ditolak dengan alasan Cinta ingin fokus pada sekolahnya.
Reno bergabung dengan Cinta dan Lala. Mereka bak sedang bernostalgia. Dan, tatapan Reno pada Cinta seolah ia masih mengharap Cinta mau menerima perasaannya.
"Waduh, gue lupa. Ada berkas yang belum gue kasih ke admin. Ta, gue cabut duluan gak papa kan?" ucap Lala sedikit panik.
"Iya, gak papa La."
"Kak Reno, gue titip Cinta ya. Awas ya jangan lo apa-apain. Dia itu mau jadi istri orang." Pamit Lala sambil mengepalkan tangan ke arah Reno.
Sepeninggal Lala suasana makin canggung antara Cinta dan Reno.
"Jadi, kamu selalu nolak aku karena kamu sudah dijodohkan?" tanya Reno.
__ADS_1
"Maaf, Kak. Sebaiknya gak usah bahas soal itu."
"Iya, baiklah. Tapi, apa kamu benar-benar mencintai calon suamimu? Yang aku dengar, pewaris JB Grup orangnya songong dan menyebalkan!"
"Udah siang, aku harus segera pulang. Maaf, Kak Reno. Aku permisi."
Cinta berpamitan pada Reno dan segera keluar dari kafe. Saat ini statusnya adalah tunangan Lucka dan calon menantu keluarga Bahari yang terkenal, ia tidak mau ada orang yang melihatnya bersama dengan pria lain.
"Ta, aku antar pulang ya!" Reno mencegat Cinta dan meraih tangannya.
Cinta segera menepisnya. "Maaf, Kak. Aku pulang sendiri aja. Gak enak kalo ada yang lihat."
"Cinta!" Teriakan Reno tak digubris oleh Cinta yang langsung masuk ke dalam taksi.
...***...
Malam harinya usai makan malam, seperti biasa Cinta menikmati keindahan malam sambil duduk santai di taman mansion. Ia menghirup udara malam yang begitu sejuk. Lelahnya hari ini serasa menguap kala melihat bunga-bunga cantik bermekaran.
Tak berapa lama, dilihatnya Lucka berjalan cepat ke arahnya. Cinta sontak berdiri saat mengetahui Lucka menghampirinya. Cinta sangat senang karena akhirnya Lucka menemuinya.
"Lucka!" sapa Cinta diiringi senyum manisnya.
"Pergi kemana kamu tadi siang?" Tanpa ada kata sapaan lebih dulu, Lucka langsung mencecar Cinta.
"Apa maksud kamu?" Cinta menjawab dengan pertanyaan.
"Pertanyaan saya cukup jelas dan tidak perlu saya ulang."
"Aku bertemu dengan teman lamaku. Kenapa memangnya?" Kali ini Cinta menjawab dengan lebih santai.
"Teman lama atau teman pria?"
"Hah?" Cinta mengernyitkan dahi.
"Siapa pria ini?" Lucka menunjukkan satu foto. Itu adalah foto Cinta dan Reno saat di kafe tadi.
"Ooh, dia? Dia kakak kelasku waktu di SMA dulu. Dan itu kenapa yang difoto hanya berdua? Kami bertiga loh tadi." bela Cinta.
"Jangan mengalihkan pembicaraan!" bentak Lucka.
"Maaf. Tapi, ngomong-ngomong kamu dapat foto itu dari mana? Kamu memata-matai aku ya?" Cinta tidak takut dengan bentakan Lucka dan malah menggodanya.
"Apa? Jangan terlalu percaya diri. Aku melakukan ini semua demi nama baik keluarga Bahari."
"Oke. Aku mengerti." Jawab Cinta santai.
"Jangan pernah meninggalkan mansion ini tanpa adanya ijin dariku. Paham?!"
"Kenapa? Aku sudah minta ijin pada Nenek, dan dia bilang boleh."
"Jangan membantah! Kamu adalah tunanganku! Dan aku lebih berhak mengaturmu dari pada Nenek."
"Ciye, katakan saja kamu mulai peduli padaku, iya kan?" goda Cinta.
"Apa katamu? Sudah kubilang jangan ke'pede'an. Aku hanya melindungi nama baik keluarga dan juga perusahaan."
"Iya-iya, aku tahu. Tidak perlu berteriak padaku! Apa ada lagi yang mau kamu sampaikan?"
"Masuklah ke kamarmu. Sudah malam." Hanya itu kalimat terakhir Lucka, dan setelahnya ia melenggang pergi meninggalkan Cinta yang tersenyum geli melihat tingkahnya.
Aku tahu, semua memang sangat tidak mudah. Terkadang aku merasa sangat bahagia, kadang juga aku sangat sedih dengan sikap dinginmu terhadapku. Tapi hari ini, aku tahu ... paling tidak sedikit demi sedikit kamu mulai peduli padaku, dan mulai menganggap aku ada.
...☆☆☆...
Bersambung,,,
__ADS_1