![Lu[C]Ka Cinta](https://asset.asean.biz.id/lu-c-ka-cinta.webp)
TING
Cinta mendapat sebuah pesan di ponselnya.
^^^Erlina : Cinta, hari ini kamu akan kedatangan murid baru. Masih ada meja kosong kan dikelasmu?^^^
^^^Cinta : Iya. Dia akan datang hari ini?^^^
^^^Erlina : Iya. Dia akan datang hari ini.^^^
Cinta menghela nafas. Mulai hari ini ia akan sangat sibuk meladeni para ibu yang belajar memasak. Sebenarnya mereka bukan tidak bisa memasak. Mereka hanya ingin memperdalam keahlian memasak di dapur juga memperbanyak resep masakan untuk di sajikan di rumah.
Cinta merapikan meja yang akan di tempati murid barunya. Itu berarti hanya kelas Cinta saja yang muridnya penuh. Karena rata-rata guru memasak di tempat kursus Chef Juna hanya memiliki empat murid saja. Hanya dikelas Cinta memiliki enam murid.
"Lima ibu-ibu saja sudah membuatku pusing, apalagi tambah satu. Bakalan ramai kelasku kali ini. Aku pasti bisa menanganinya. Mereka hanya satu bulan disini. Semangat, Cinta!"
Kelas dimulai pukul tiga sore. Cinta sudah menyiapkan semua bahan-bahan di atas meja masing-masing murid. Semua bahan makanan yang akan dimasak sudah disediakan oleh tempat kursus, dan setelah makanan jadi, bisa di bawa pulang oleh para murid.
Cinta masih menunggu murid barunya. Sudah lewat 15 menit dari waktu yang seharusnya. Para murid mulai gelisah karena biasanya mereka sudah mulai untuk menyiapkan bahan masakan.
"Chef, mau nunggu berapa lama lagi?" ucap salah seorang murid.
"Tunggu sebentar lagi ya! Lima menit! Kita tunggu lima menit lagi!" Jawab Cinta dengan memaksakan senyumnya.
"Maaf! Maaf! Saya terlambat!"
Suara seseorang yang tiba-tiba masuk kedalam kelas dengan terburu-buru, membuat para murid dan Cinta langsung menoleh ke arahnya.
Cinta membelalakkan mata ketika tahu siapa murid barunya. Seorang pria muda berjas rapi dan berdasi datang memasuki ruang kelas Cinta.
Sontak para ibu muda yang mengikuti kelas Cinta berteriak histeris dan memuji ketampanan sang pria.
"Terima kasih atas sambutannya ya ibu-ibu." Pria muda itu menuju ke mejanya.
"Maaf, Chef! Saya terlambat. Tapi lain kali, saya gak akan mengulanginya lagi."
Well, ekspektasi Cinta ternyata salah. Murid barunya bukanlah seorang Ibu-ibu, melainkan pria muda yang tampan yang mampu membuat gaduh seisi ruang kelas.
Hari ini Cinta tak fokus dalam mengajar. Murid-muridnya malah sibuk mendekati si pria tampan dan mengajaknya ngobrol.
__ADS_1
Beberapa kali Cinta memperingatkan murid-muridnya untuk fokus saja dalam memasak.
Pukul lima sore kelas berakhir. Cinta membereskan alat-alat masak yang tadi dipakainya.
"Boleh saya bantu?"
Cinta mendelik ke arah sumber suara.
"Lucka, apa yang kamu lakukan disini?"
"Aku ikut kelas memasak. Kenapa memangnya?"
"Seorang tuan muda seperti kamu untuk apa belajar memasak? Kamu tinggal bilang sama chef profesional yang kamu pekerjakan dan duduk manis menunggu makanan datang. Tidak perlu bersusah payah ikut kelas masak bersama ibu-ibu."
"Cinta, sekali saja kamu memandangku bukan sebagai tuan muda, pewaris tahta, atau orang kaya. Pandanglah aku sebagai pria biasa."
Lucka meraih lengan Cinta yang berjalan melewatinya.
"Lepaskan! Aku harus beres-beres."
"Aku merindukanmu, Cinta..."
"Baiklah, kalau kamu memang ingin belajar disini. Maka bersikaplah layaknya seorang murid. Kelas sudah usai. Jadi, sebaiknya kamu pulang."
Lucka mengangguk pelan. "Baik. Aku akan pergi." Lucka melangkahkan kakinya meninggalkan Cinta.
...***...
Cinta mendengus kesal saat tiba di resto Chef Juna. Ia mencari keberadaan pria itu. Seorang karyawan memberitahunya kalau Chef Juna sedang di ruang kerjanya. Cinta masuk tanpa mengetuk pintu. Chef Juna tercengang melihat Cinta membanting pintu.
"Kamu datang kesini? Maaf aku terlambat untuk menjemputmu."
"Gak perlu menjemputku!"
Chef Juna tahu kalau Cinta sedang kesal. Ia berusaha menjawab dengan tenang.
"Duduklah dulu! Dan tenangkan dirimu."
Cinta duduk berhadapan dengan Chef Juna. "Ada apa? Kenapa datang dengan cemberut begitu?" Tanya Chef Juna lembut.
__ADS_1
"Apa Mas sengaja melakukan ini padaku?"
Chef Juna mengerutkan dahi. "Melakukan apa maksud kamu?"
"Kenapa Mas menempatkan Lucka dikelasku?"
"Jadi, dia sudah mulai masuk hari ini?"
"Jawab pertanyaanku, Mas!" Cinta mulai kesal.
"Karena dia memilih untuk masuk ke kelasmu." Jawab Chef Juna santai.
"Apa?! Kenapa mas menerima dia sebagai murid?"
"Karena dia mendaftar di tempat kursus kita."
"Mas!" Cinta tak bisa lagi mengendalikan emosinya.
Chef Juna menghampiri Cinta. "Dengar, aku tahu kamu punya masa lalu dengan dia. Tapi dia adalah muridmu sekarang. Apa kamu tidak bisa bersikap profesional layaknya guru dan murid?"
"Apa Mas ingin mengujiku?" Suara Cinta mulai melembut.
"Tidak. Aku tidak seperti yang kamu tuduhkan. Aku hanya bersikap profesional. Dia mendaftar, lalu aku menerimanya. Itu saja."
"........................."
"Aku tahu ini berat untukmu. Tapi, akan kupastikan dia tidak akan macam-macam denganmu. Jika dia melewati batas, maka aku akan langsung mengeluarkannya dari kelasmu."
Cinta menatap Chef Juna penuh terima kasih.
"Kamu sudah bisa tenang sekarang?"
Cinta mengangguk. Kemudian tersenyum. Cinta berdiri dan akan pergi meninggalkan ruang kerja Chef Juna. Namun dengan sigap tangan Cinta diraih oleh Chef Juna.
"Aku antar kamu pulang ya?"
"Hu'um. Aku tunggu di resto ya." Cinta melangkah pergi.
Chef Juna hanya memandangi Cinta yang kian menjauh.
__ADS_1
"Maafkan aku, Cinta. Aku melakukan ini karena memang ingin mengujimu. Apakah kamu benar-benar sudah melupakan Lucka atau belum. Aku ingin tahu, apa masih ada cinta diantara kalian atau tidak. Jika memang kalian masih saling mencintai, maka aku akan dengan rela membiarkanmu kembali bersama Lucka..."