![Lu[C]Ka Cinta](https://asset.asean.biz.id/lu-c-ka-cinta.webp)
Esok harinya di dapur JB Group,
"Cinta! Ikut ke ruangan saya," ucap Chef Juna tegas.
"Iya, Chef." Cinta mengikuti langkah Chef Juna menuju ke sebuah ruangan di dekat dapur. Itu adalah kantor Chef Juna.
"Tolong tutup pintunya!" perintah Chef Juna.
"Baik, Chef."
"Silakan duduk, Cinta!"
Cinta merasa gugup. Tidak biasanya Chef Juna ingin bicara empat mata seperti ini.
"Kamu sudah baca rules yang tertera di form pendaftaranmu?"
"Sudah, Chef. Maaf saya salah. Saya lancang bicara begitu pada Chef." Cinta menjawab dengan menundukkan kepala.
Chef Juna menghela nafas. "Saya tahu kamu pernah punya masalah dengan keluarga Bahari. Tapi, kamu harus bisa bersikap profesional. Kamu disini untuk magang. Bukan untuk mendekati tuan muda JB Group ataupun keluarganya."
"Iya, Chef. Saya mengerti."
"Masalah tidak akan selesai bila kamu terus menghindarinya. Jadi, saran saya, Kamu harus menghadapi masalah itu."
"Iya, Chef."
"Lalu, bagaimana dengan menu hari ini? Apa kamu sudah membuatnya?"
"Eh?" Cinta mendongak.
__ADS_1
"Saya kasih tahu sama kamu ya. Buatlah menu yang akan membuat orang merasa jatuh cinta."
"Heh?" Cinta mengernyitkan dahi.
"Pikirkanlah! Menu yang bisa membuat orang lain merasa jatuh hati. Saya yakin kamu pasti bisa." Chef Juna tersenyum penuh misteri.
Setelah mendengar semua ceramah dari Chef Juna, Cinta pamit keluar dari ruang kantor Chef Juna.
Cinta menghampiri teman-temannya yang sudah bersiap di dapur.
"Bagaimana Cinta? Menu hari ini sudah siap?" tanya Andreas.
"Emh, belum Chef. Aku akan menulisnya sekarang."
Cinta mengambil buku catatan dan bolpoin. Ia berpikir sejenak dan menuliskan beberapa menu. Lalu, mendiskusikannya dengan Andreas dan juga yang lainnya.
"Siapa yang bertanggung jawab atas makanan disini?!" Murka Lucka melihat beberapa makanan yang tersaji di cafe JB Group.
Beberapa diantaranya adalah makanan pedas sebagai menu utama. Sedang menu pembuka dan penutup, adalah makanan tradisional yang sudah jarang ditemui anak jaman sekarang.
Semua anak magang ketakutan melihat kemarahan Lucka. Andreas maju paling depan untuk bertanggung jawab atas amarah Lucka.
"Saya, Tuan Muda. Saya Chef utama disini," ucap Andreas tak gentar.
"Apa ini? Kenapa membuat makanan seperti ini? Ini bukanlah ciri Dapur JB Group!"
"Maaf, Tuan. Tapi kami memasaknya sesuai dengan ketentuan dapur JB Group."
"Ayolah, Tuan Muda! Kita belum mencicipinya. Saya yakin ini tetap enak dan bergizi." Tommy membela Andreas.
__ADS_1
"Dilihat dari bentuknya saja sudah tidak menarik. Apa kamu juga yang membuat daftar menu makanan ini? Bukankah Chef Juna bertanggung jawab atas daftar menu tiap harinya?" Lucka bergidik ngeri melihat makanan berwarna merah penuh cabai di depannya.
"Chef Juna sudah memberi tanggung jawab sepenuhnya kepada saya. Dan penanggung jawab untuk membuat menu, ada chef lain yang melakukannya." Jawab Andreas.
"Siapa orang itu?" Lucka makin kesal.
"Saya!" Cinta muncul dari belakang badan Andreas.
Lucka membulatkan mata melihat Cinta melangkah maju didepannya.
"Cinta?" Gumam Lucka menatap Cinta yang bicara lantang di depannya.
Cinta menatap kedalam manik hitam kecoklatan milik Lucka. Ada kerinduan yang mendalam di matanya. Cinta mulai berkaca-kaca menatap lelaki yang pernah mengisi hatinya itu, dan hingga sekarang masih singgah disana.
Lucka sendiripun membalas tatapan Cinta. Mata sayu Cinta yang sudah berkaca-kaca menggambarkan kesedihan dan kerinduan.
Semua orang nampak ketakutan melihat kelanjutan drama kemarahan Lucka. Teman-teman Cinta takut kalau-kalau Lucka akan menghukum Cinta.
Namun Tommy tidak melihat adanya amarah lagi di mata Lucka. Tommy tahu kalau tuan mudanya itu masih mengharapkan Cinta. Dan ia hanya bisa menghela nafas kala melihat Lucka memalingkan wajah dan malah meninggalkan Cinta.
Cinta mengedipkan matanya beberapa kali agar air matanya tak tumpah di depan teman-temannya. Hatinya masih sakit mengingat apa yang pernah Lucka lakukan padanya. Tapi kenapa hatinya tak bisa mengeluarkan Lucka dari sana? Hatinya masih menghiba pada Lucka.
"Cinta? Kamu gak apa-apa?" Tanya Andreas sambil menepuk bahu Cinta.
Cinta mengangguk. "Aku gak apa-apa, Chef."
Tommy sangat tahu kalau dua manusia yang dikenalnya ini masih saling mencintai, namun enggan mengakuinya.
Tommy mencairkan suasana dengan mengajak semua karyawan untuk mengambil makan siang yang sudah di siapkan tanpa mempedulikan amukan Lucka beberapa saat lalu.
__ADS_1