![Lu[C]Ka Cinta](https://asset.asean.biz.id/lu-c-ka-cinta.webp)
...***...
Cinta menghubungi rumah sakit terdekat dan meminta mobil ambulans datang.
Beberapa menit kemudian, mobil ambulans datang. Cinta menemani Lucka naik kedalam mobil ambulans. Perawat memeriksa kondisi Lucka.
"Sepertinya pasien kelelahan. Kalau boleh tahu, anda siapanya?"
"Eh? Saya? Saya adalah guru memasaknya. Dan dia adalah murid saya," jawab Cinta asal.
"Sebaiknya segera hubungi keluarganya."
"Iya baik, Suster."
#
#
Tiba di rumah sakit, Cinta menunggu di depan ruang IGD dengan cemas.
"Semoga saja dia tidak kenapa-napa. Ya Tuhan! Selamatkan dia!"
Cinta terus berdoa untuk keselamatan Lucka. Tak lama seorang perawat menghampiri Cinta.
"Maaf, Anda yang bernama Cinta?" tanya perawat itu.
"Iya, Suster. Ada apa?" tanya Cinta balik dengan wajah cemas.
"Pasien sudah sadar. Dia memanggil nama Anda."
"Eh?" Cinta yang masih panik segera masuk ke ruang IGD dan menemui Lucka.
Dilihatnya Lucka masih terbaring lemah. Di tangannya sudah terpasang infus. Cinta merasa iba melihat kondisi Lucka.
"Cinta..." Suara Lucka lirih memanggil Cinta.
"Iya, aku disini." Cinta segera meraih tangan Lucka dan menggenggamnya. Wajah sendu Cinta kini mulai terlihat.
"Cinta, jangan bersedih. Aku gak apa-apa kok."
__ADS_1
Cinta tersenyum. "Iya, aku tahu kamu kuat. Harusnya kamu tidak memaksakan dirimu melakukan ini semua. Kenapa sampai mengikuti kelas memasak kalau kamu juga sibuk dengan pekerjaanmu?"
"Karena aku ingin bertemu denganmu lagi, Cinta. Aku ingin bisa bersama denganmu lagi. Aku masih..."
"Lucka!" Sebuah suara memotong kalimat yang akan Lucka ucapkan pada Cinta.
Seorang wanita cantik datang dengan wajah panik juga. Dia adalah Sally.
Cinta segera menyingkir dari ranjang Lucka, dan mempersilahkan Sally menemui Lucka.
"Apa yang terjadi? Aku tadi menelepon ponselmu dan perawat yang menjawabnya. Aku langsung kesini begitu tahu kamu dibawa kesini."
"Sally, aku gak apa-apa," lirih Lucka.
Sally mengusap rambut Lucka lembut. Dan pemandangan itu membuat Cinta merasa tidak nyaman. Ia berjalan mundur perlahan kemudian meninggalkan ruang IGD tanpa Lucka sadari.
Cinta memegangi dadanya. Ia merasa sesak melihat Lucka bersama Sally. Tak terasa buliran bening sudah membasahi pipinya.
Cinta melangkah pergi meninggalkan area rumah sakit. Ia akan memanggil taksi saat seseorang memanggil namanya cukup keras.
"CINTA!"
Sally berlari menghampiri Cinta. "Cinta, kamu mau kemana?"
"Aku ... aku mau pulang," jawab Cinta lirih.
"Lucka mencarimu! Ayo kembali!" ajak Sally.
"Kenapa mencariku? Bukankah sudah ada kamu di sisinya?"
Sally tertawa kecil. "Cinta, kalau kamu mengira aku dan Lucka masih ada hubungan, kamu salah. Aku dan Lucka hanya partner kerja saja sekarang. Kamulah yang dia cintai."
"Eh?"
"Aku minta maaf karena dulu sudah membuat kalian berpisah. Tapi kali ini, akan kupastikan kalian akan kembali bersama. Aku sudah berjanji pada Lucki."
"Kak Lucki?" Cinta bingung.
"Sudah, jangan kebanyakan berpikir. Ayo temani Lucka. Dia menunggumu." Sally menarik tangan Cinta.
__ADS_1
"Tunggu!" Cinta menepis tangan Sally.
"Maafkan aku, Sally. Tapi, hubunganku dan Lucka benar-benar sudah berakhir. Aku tidak bisa melakukan ini karena aku sudah bersama dengan orang lain. Tolong sampaikan permohonan maafku pada Lucka."
"Kamu yakin kamu sudah tidak mencintai Lucka?" selidik Sally.
"..................."
Cinta tak menjawab pertanyaan Sally. Ada semburat keraguan di wajah Cinta. Sally bisa melihatnya. Namun ia tak mau memaksa.
"Ya sudah. Aku tidak akan memaksa. Tapi, sebaiknya tanyakan pada hatimu. Apakah kamu benar-benar sudah melupakan Lucka, atau masih mencintainya. Aku permisi!"
Sally berpamitan pada Cinta dan meninggalkan Cinta yang masih membisu.
...***...
Satu minggu kemudian,
Minggu ini adalah minggu terakhir kelas memasak Lucka bersama Cinta. Sudah satu bulan berlalu, dan itu artinya Cinta bersiap untuk menerima murid baru lagi di bulan berikutnya.
Karena ini adalah minggu terakhir, Cinta ingin membuat menu makanan kesukaan Lucka. Setelah seminggu yang lalu Lucka sempat pingsan dan dilarikan ke rumah sakit, Cinta akan memastikan kalau Lucka makan makanan yang sehat dan bergizi mulai dari sekarang.
Lucka memang tidak di rawat inap karena menurut dokter ia hanya kelelahan. Namun tetap saja, Cinta masih khawatir hal itu terulang lagi.
Sudah lewat lima menit namun Lucka belum juga datang. Semenjak keterlambatannya di hari pertama belajar, ia tak pernah terlambat datang lagi. Namun di minggu terakhirnya, ia justru datang terlambat.
Cinta tak punya pilihan selain memulai kelas lebih dulu. Namun saat akan memulai, tiba-tiba Chef Juna masuk dan berlari ke arah Cinta.
Cinta terkejut dan bertanya, "Lho, Mas? Ada apa? Kenapa tiba-tiba kesini?"
"Cinta, ada yang harus kusampaikan padamu."
Cinta tak bisa memahami ekspresi wajah Chef Juna yang begitu serius.
"Ada apa, Mas?" Cinta menelan ludahnya. Ia tahu Chef Juna pasti membawa berita yang kurang baik.
"Tuan Jansen ... meninggal dunia."
"A-apa?!"
__ADS_1