![Lu[C]Ka Cinta](https://asset.asean.biz.id/lu-c-ka-cinta.webp)
Pagi hari ini, Cinta membantu sang ibu yang akan berangkat ke warung. Sebelumnya Tati sudah lebih dulu berangkat untuk menyiapkan semua keperluan warung.
Ponsel Cinta berdering ketika gadis itu berada di dapur. Inah memanggil Cinta agar menjawab panggilan telepon terlebih dahulu.
"Nduk, ada yang telepon! Coba kamu lihat dulu itu! Biar ibu yang lanjutkan di dapur."
"Iya, Bu." Cinta segera berjalan menuju ponselnya yang ada di dalam kamar.
Wajahnya sudah bersemu merah karena ia mengira Lucka lah yang menghubunginya. Secepat kilat Cinta mengambil ponselnya.
DEG
"Chef Juna?" lirih Cinta.
Dengan sedikit keraguan, Cinta menjawab panggilan yang ternyata dari Chef Juna.
"Halo, Chef..." sapa Cinta.
"Halo, Cinta. Bagaimana kabarmu?"
" Aku baik, Chef."
"Cinta, hari ini tolong datanglah ke kantorku. Ada yang ingin kubicarakan denganmu."
"Iya, baik Chef."
"Oke! Saya tunggu pukul 10 nanti."
Chef Juna mematikan sambungan telepon. Semenjak hubungannya dengan Chef Juna kandas, Cinta tidak pernah lagi datang untuk mengajar di tempat kursus milik pria itu.
Sebenarnya Cinta masih ingin mengajar, hanya saja ... ia takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan mengingat Lucka adalah seorang pencemburu. Jadi, tanpa pemberitahuan apapun, Cinta memilih untuk keluar secara perlahan dari tempat kursus tersebut.
"Nduk! Kok malah melamun! Siapa yang telepon?" tanya Inah.
"Emh, bukan siapa-siapa, Bu. Oh ya, Bu. Hari ini Cinta gak bisa bantu ibu di warung. Cinta ada pekerjaan."
Inah menghela napas. "Ya sudah! Lakukanlah apa yang menurutmu benar. Ibu hanya akan mendukungku."
"Terima kasih, Bu." Cinta memeluk Inah.
Setelah bersiap, Cinta segera pergi menuju ke tempat kursus memasak milik Chef Juna.
Cinta menaiki taksi menuju ke resto milik Chef Juna. Beberapa karyawan menyapa Cinta. Mereka masih belum tahu jika hubungan Cinta dan bos mereka sudah selesai.
"Chef Andreas, apa chef Juna ada?" tanya Cinta.
"Ada di ruangannya. Biasanya kamu langsung masuk aja."
Cinta mengulas senyumnya. Kebiasaan yang sering Cinta lakukan, harus mulai ia hilangkan.
Cinta mengetuk pintu. Terdengar sahutan dari dalam.
"Masuk!"
Cinta membuka pintu perlahan. Ia melihat Chef Juna sedang duduk di kursi kebesarannya.
"Ah, Cinta. Silakan duduk!" Chef Juna menyambut Cinta dengan cara yabg datar.
"Jangan tegang! Saya tidak akan memakan kamu kok!"
"Eh?" Cinta memang sedikit gugup karena setelah mereka putus, tidak ada lagi pertemuan dan bahkan sapaan lewat pesan singkat.
"Sebelumnya saya minta maaf karena sudah mengganggu waktumu. Tapi, saya harus memastikan lagi tentang rencanamu ke depan."
Chef Juna bicara dengan bahasa formal. Sama seperti dulu saat mereka tidak memiliki hubungan apapun.
"Maksud Chef?"
__ADS_1
"Kamu masih terdaftar sebagai pengajar di tempat kursus saya. Murid-murid mencarimu. Apa kamu masih ingin bekerja atau keluar dari pekerjaanmu?"
"Saya pikir Chef sudah memecat saya..."
Chef Juna menggeleng. "Tidak, Cinta. Bukan seperti itu cara saya berbisnis. Di industri ini kamu sangat di butuhkan, jadi saya harap kamu bisa mempertimbangkannya dengan baik. Atau kalau tidak...bicarakan dulu saja dengan Tuan Lucka."
"Eh?"
"Bagaimana? Apa kamu masih mau lanjut mengajar?"
Cinta menautkan kedua tangannya yang mulai berkeringat.
"Sebenarnya ... saya sangat suka mengajar, Chef. Tapi saya sudah tidak masuk beberapa hari. Apa Chef masih mau menerima saya kembali?"
Chef Juna tertawa. "Cinta Cinta! Tentu saja saya masih mau menerima kamu. Tadi kan saya sudah bilang, saya membutuhkan kamu di bisnis ini."
Cinta menarik sudut bibirnya. "Baiklah. Saya akan kembali mengajar!"
"Bagus! Murid-muridmu sudah merindukanmu."
#
#
#
Mulai hari ini Cinta resmi kembali bekerja sebagai pengajar di tempat kursus milik Chef Juna. Cinta menyapa murid-muridnya.
Kelas Cinta termasuk yang paling digemari ibu-ibu karena pembawaan Cinta yang menyenangkan. Cinta tersenyum bahagia karena ia bisa melakukan hal yang sangat ia sukai ini. Memasak.
Pukul lima sore kelaspun usai. Ponsel yang sedari tadi Cinta silent, kini mulai berdering karena ada panggilan dari Lucka.
"Halo, Lucka..."
"Kamu dimana?"
"Aku di tempat kursus."
"Ini aku mau bilang..."
Telepon ditutup secara sepihak.
"Kenapa dengannya? Hah! Ya ampun! Sulit sekali menghadapi tuan muda itu!"
Cinta menggeleng pelan kemudian merapikan barang-barangnya. Ia memastikan jika pintu sudah di gembok rapat.
Cinta meraih ponselnya dan akan memanggil ojek online. Namun sebuah pelukan membuatnya terkejut.
"Lucka?" Cinta tertegun.
"Aku sangat merindukanmu..."
Cinta bingung. Bagaimana bisa Lucka sudah ada disana?
"Lucka... Bisa lepaskan? Ini di tempat umum!"
Lucka segera melepas pelukannya. Cinta mengernyit bingung.
"Sudah terlambat, Cinta."
"Hah?! Maksudnya?"
"Kamu tadi bilang kamu mau mengatakannya padaku. Tapi kamu terlambat. Aku sudah tahu."
"Apa Chef Juna yang memberitahumu?"
Lucka mengangguk. "Iya. Dia selalu melapor padaku."
__ADS_1
"Maksud kamu?"
"Ah, sudahlah! Ayo pulang!" Lucka segera menggandeng tangan Cinta menuju mobil.
"Eh tapi tunggu! Aku sudah memesan ojek online!"
"Batalkan saja dan kasih uang tips padanya. Gampang kan?"
"Tapi Lucka..."
"Hah! Ya sudah! Kita tunggu sampai orangnya datang."
Cinta tersenyum. Sedikit demi sedikit Cinta mulai bisa mengubah sifat Lucka yang pemaksa.
"Terima kasih banyak, bang. Maaf ya!" Cinta meminta maaf dan berterimakasih pada si abang ojol. Tentunya dengan memberi tips secara tunai juga.
"Begitulah cara kita bersosialisasi, Lucka. Akan lebih sopan jika kita bertemu secara langsung."
"Iya iya, baiklah. Sekarang ayo pulang!"
#
#
#
Selama perjalanan tidak ada percakapan diantara keduanya. Entah kenapa Lucka jadi pendiam saat ini.
"Ehem!" Cinta berdeham.
"Lucka, apa ada yang ingin kamu katakan?"
"Bukannya kamu yang harusnya bicara?"
"Tapi apa kamu tidak ingin bertanya?"
"Tidak. Aku sudah tahu semuanya."
Cinta menghela napas. "Apa kita tidak bisa bersikap secara normal saja, Lucka?"
Lucka menepikan mobilnya dan berhenti. Lucka menatap Cinta.
"Menjadi bagian dari keluarga Bahari tidak bisa membuatmu menjadi orang normal biasa, Cinta! Kamu tahu itu bahkan dari tiga tahun yang lalu."
Cinta memalingkan wajahnya.
"Aku akan membiarkanmu tetap bekerja disana tapi tentunya semua harus sudah dengan persetujuanku. Chef Juna sudah menghubungiku lebih dulu sebelum dia meneleponmu. Dan aku bilang lakukan saja sesuai keinginanmu. Aku tidak melarangmu, Cinta."
"Masalahnya bukan itu, Lucka!" Cinta mulai jengah.
"Apa semua yang aku lakukan harus diatur olehmu? Apa jika kamu tidak mengizinkannya maka aku tidak boleh melakukannya?"
"Ya, begitulah adanya. Dan Chef Juna sudah tahu itu makanya dia melakukan ini."
Cinta mendesah kasar. "Aku ingin menjadi manusia normal, Lucka! Menjalani kehidupan ini tanpa harus ada peraturan ini dan itu."
"Kamu tahu seperti apa keluargaku. Dan seharusnya sebelum kamu memutuskan kembali, kamu sudah tahu resikonya."
Cinta menatap Lucka. "Baiklah! Aku bisa melakukannya. Tapi, apa kamu juga bisa melakukan apa yang kuminta?"
"Tentu saja aku bisa. Asal itu tidak merugikan keluarga dan perusahaan!"
"Oke! Aku catat janjimu ini!"
"Tidak, ini bukan janji, Cinta. Ini adalah sebuah kesepakatan!"
"Iya iya, terserah saja apa maumu!"
__ADS_1
Lucka kembali tancap gas dan membiarkan Cinta dengan mood yang kembali berantakan.
"Ya Tuhan! Apa aku bisa hidup dengan manusia ini seumur hidupku?" batin Cinta meronta.