![Lu[C]Ka Cinta](https://asset.asean.biz.id/lu-c-ka-cinta.webp)
Cinta yang penasaran mengikuti Chef Juna dari belakang. Cinta tak sempat melihat siapa yang duduk di meja nomor 10, namun karena Chef Juna mengucap cukup jelas siapa tamu yang ada di meja nomor 10 itu, dengan cepat Cinta membalikkan badan dan kembali ke dapur.
Cinta mengatur nafasnya. Ia tak percaya dengan apa yang diucapkan Chef Juna. Namun saat melihat kembali kertas pesanan meja nomor 10, Cinta yakin kalau yang duduk di meja itu adalah benar Lucka.
"Cinta!" Chef Juna kembali ke dapur dan mencari Cinta.
Air mata Cinta sudah mengalir deras ketika Chef Juna menemuinya.
"Cinta? Kamu gak apa-apa?"
"Chef, apa benar itu dia?" Tanya Cinta sambil terisak.
"Iya. Saya akan bicara dengannya dan bilang kalau menu yang dia pesan tidak ada dalam daftar menu kita."
"Chef!" Cinta menghentikan langkah Chef Juna.
"Ada apa?"
"Biar saya saja yang menemuinya!"
"Heh?! Kamu yakin?"
Cinta mengangguk. Chef Juna tak kuasa menahan Cinta. Karena ia tahu, Cinta tak suka jika ada yang mencampuri urusan pribadinya.
"Baiklah, Silahkan kamu temui dia."
Cinta menghapus air matanya dan berjalan tegap menghampiri Lucka. Sudah lama mereka tidak bertemu. Dan ini tidaklah mudah untuk Cinta bertemu lagi dengan Lucka.
"Tuan Muda, Lucka!" Panggil Cinta.
Lucka yang sedang memainkan ponselnya sontak mendongak mendengar suara Cinta memanggilnya.
"Cinta?!" Lucka terkejut melihat Cinta ada di hadapannya.
"Mohon maaf, Tuan. Pesanan anda tidak ada di daftar menu kami. Jadi, kami tidak bisa membuatkannya untuk tuan. Jika tuan memang ingin makan disini, silahkan pilih menu makanan yang sesuai dengan daftar menu kami." Cinta menyodorkan buku menu ke arah Lucka.
"Cinta, apa aku tidak bisa makan bakmie jowo buatanmu?" Jawab Lucka dengan wajah memelas.
Cinta yang hampir berkaca-kaca kembali menjawab pertanyaan Lucka.
"Tidak bisa, Tuan. Silahkan pilih menu sesuai yang ada di daftar menu kami!" Cinta mengulangi kalimatnya.
Lucka menatap Cinta dengan tatapan yang berbeda. Tatapan kerinduan yang sudah lama ia pendam.
"Tolong cepat, Tuan! Pelanggan sudah banyak yang mengantre."
"Baiklah. Buatkan saya nasi goreng saja. Lengkap dengan daging ayam, seafood, sosis dan bakso."
__ADS_1
DEG.
Jantung Cinta tak bisa tenang. Itu adalah menu yang pernah mereka masak bersama.
"Dan jangan lupa bumbunya harus di haluskan dengan ulekan dan cobek, bukan dengan blender." imbuh Lucka.
Cinta mencatat pesanan Lucka dengan tangan dan bibir yang bergetar, air matanya sudah dipelupuk mata, namun ia tahan agar tak jatuh.
"Ba-baik, Tuan. Pesanan anda akan segera datang." Cinta membalikkan badan dan kembali menuju dapur.
Disana tangis Cinta akhirnya pecah. Chef Juna menghampiri Cinta dan mengambil kertas pesanan di tangannya.
"Andreas! Gantikan Cinta untuk memasak pesanan ini!" Titah Chef Juna.
"Baik, Chef!"
Cinta menangis terduduk dengan memeluk lututnya. Chef Juna tak bisa berbuat apapun selain membiarkannya.
...***...
Sepulang kerja dari resto, seperti biasa Lucki menjemput Cinta dengan mobilnya. Selama perjalanan Cinta hanya terdiam dan melihat keluar jendela.
Lucki merasa ada yang aneh dengan Cinta. Karena biasanya Cinta selalu bercerita tentang kesehariannya selama di resto dengan gaya berapi-api. Tapi hari ini, Cinta nampak tak bersemangat seperti biasanya.
Lucki ingin bertanya namun ia enggan. Ia sudah bersama dengan Cinta beberapa bulan ini, namun rasanya ia masih belum bisa menggapai hati Cinta. Ia hanya bersama raganya saja.
Lucki melirik ke arah Cinta dan melihat gadisnya sudah terlelap dan pergi ke alam mimpi. Lucki tersenyum melihat Cinta tertidur.
Mungkin dia kelelahan dan mengantuk. Makanya ia tak bercerita apapun tentamg kesehariannya hari ini. Lucki tetap berpikiran positif.
...***...
Sementara itu,
"Lucka! Dari mana saja kamu? Kakek dengar kamu seharian ini tidak ada dikantor. Apa yang sebenarnya kamu lakukan? Bagaimana kamu akan mengurus perusahaan jika kamu bersikap seperti ini?" Jansen tak bisa menahan amarahnya.
"Maaf, Kakek. Aku ada urusan sebentar tadi."
"Urusan apa hingga membuatmu lupa akan tanggung jawab dan pekerjaanmu?"
"Maaf, Kek. Aku tidak akan mengulanginya lagi."
"Baiklah! Kakek akan memaafkanku jika kamu benar-benar bisa berubah. Kemarilah! Ada yang ingin kakek bicarakan denganmu." Jansen mulai melunak pada Lucka.
Lucka duduk di sebelah Jansen. "Ada apa Kek? Apa ada masalah serius? Maaf kalau akhir-akhir ini aku banyak membuat masalah..."
"Ini---" Jansen memberikan sebuah berkas pada Lucka.
__ADS_1
"Apa ini?"
"Itu adalah berkas perusahaan Papamu yang ada di Singapura."
"Apa? Perusahaan Papa? Aku tidak pernah tahu kalau Papa punya perusahaan di Singapura."
"Iya. Albi memang sengaja menutupinya dari kakek. Dan juga dari kalian. Tapi, setelah kematian Papamu, semua terungkap karena laporan dari pengacaranya."
"Lalu, apakah perusahaan itu masih ada? Atau sudah di jual semua asetnya?"
"Masih ada, Nak. Papamu membeli perusahaan itu atas nama Mamamu. Dan ia menamainya dengan nama Arina Rayyan Company."
"A-apa?" Lucka tak percaya dengan apa yang dia dengar dari kakeknya.
"Lucka, selama ini jika kakek dan nenekmu pergi ke luar negeri. Itu adalah untuk mengurus perusahaan Papamu ini. Maaf karena kakek tak pernah memberitahumu."
"Lalu kenapa sekarang kakek memberitahuku?"
"Karena kakek ingin mulai sekarang kamulah yang akan mengurus perusahaan itu."
"Heh?! Apa maksud kakek?"
"Sudah saatnya kamu mengambil alih perusahaan milik Papamu. Kakek sudah tidak sanggup jika harus bolak balik Jakarta-Singapura tiap waktu. Kamu bersedia kan?"
"Tapi, Kakek..."
"Kakek percaya padamu. Selalu percaya padamu. Seperti dulu saat kakek mempercayakan JB Group padamu. Kakek yakin kamu bisa memimpin Arina Rayyan Company dengan baik."
"Kakek!" Lucka masih ingin menolak lagi, tapi...
"Lucka, jangan mengharapkan Cinta lagi. Biarkan dia bahagia bersama Lucki. Kakek tahu kamu berat untuk pergi karena Cinta kan? Tapi dia sekarang sudah bersama Lucki. Jadi, ikhlaskan dia. Kamu pasti akan menemukan wanita yang baik di luar sana."
"Kakek..."
"Bersemangatlah, cucuku! Cuma kamu satu-satunya harapan kakek dan nenek! Lucki sudah memutuskan hubungan dengan keluarga Bahari, dan dia tidak akan kembali kesini---"
Lucka memeluk kakeknya yang terlihat rapuh. Ia tahu setelah kepergian kakaknya, Kakeknya mulai sakit-sakitan. Mungkin karena usianya yang sudah lanjut. Ditambah lagi beban dihatinya jika memikirkan akhir kisah Lucka, Cinta dan Lucki yang bisa dibilang rumit dan tak berujung. Impiannya untuk menjodohkan Lucka dan Cinta tak berjalan baik. Dan kini Cinta malah memilih Lucki.
Lucka melepaskan pelukannya. Dan menatap mata sendu kakeknya.
"Kakek jangan khawatir. Aku akan pergi ke Singapura, dan meneruskan bisnis Papa disana."
"Benarkah? Terima kasih banyak Lucka! Terima kasih!" Jansen memeluk haru cucu kesayangannya itu.
...©©©©©...
Bersambung
__ADS_1