![Lu[C]Ka Cinta](https://asset.asean.biz.id/lu-c-ka-cinta.webp)
"Ada apa, Mas?"
"Tuan Jansen ... meninggal dunia."
"A-apa?!?"
Seketika itu juga tubuhku serasa tak bisa merasakan apapun. Aku terdiam cukup lama, hingga Mas Juna menyadarkanku. Dia sudah membubarkan kelasku tanpa kusadari. Dia menarikku dan membawaku kedalam mobilnya. Dia bilang dia sudah menghubungi Ibu dan keluargaku. Kami akan menjemput mereka. Bagaimanapun juga, Kakek Jansen adalah teman mendiang Kakekku.
Selama perjalanan menuju kediaman Bahari, aku terus memikirkan banyak hal. Memikirkan kenangan yang terjadi antara aku dan Kakek. Dan juga pertemuan kami kemarin, yang ternyata adalah pertemuan terakhir kami.
Aku melangkah mengikuti langkah Mas Juna. Tubuhku masih belum bisa merespon apapun. Kami menuju ke lahan pemakaman milik Keluarga Bahari yang terletak di samping rumah megah mereka. Para pelayat sudah berkumpul disana. Dan tubuh Kakek Jansen baru saja masuk ke liang lahat.
Dari jauh kulihat sosok Lucka yang berdiri paling depan dengan setelan jas hitam dan kacamata hitam. Aku tahu dibalik kacamatanya Lucka memendam kesedihan. Mas Juna meraih pundakku dan menguatkanku. Entah kenapa setelah melihat kesedihan Lucka, air mataku ikut mengalir deras. Mas Juna mengeratkan tangannya di bahuku. Aku menangis dalam pelukannya.
Orang-orang mulai meninggalkan area makam setelah seorang ustadz selesai mendoakan jenazah Kakek Jansen. Aku lihat beberapa orang menepuk bahu Lucka untuk memberinya kekuatan. Tommy meminta Lucka untuk meninggalkan area pemakaman dan kembali ke rumah.
Aku dan Mas Juna mengikuti rombongan para pelayat yang kembali ke rumah. Ada juga yang langsung pergi setelah dari pemakaman.
Kediaman Bahari dipenuhi para pelayat yang ikut berduka atas kepergian Kakek Jansen. Lucka banyak menerima ucapan berduka cita dari beberapa rekan bisnisnya.
Aku tak melihat Nenek Jessi disana. Ia pasti sangat bersedih atas kepergian Kakek. Ingin rasanya aku ada disisinya saat ini.
"Nona Cinta---"
"Alisa---"
Aku langsung memeluk Alisa dan menenangkannya. Para asisten disini sudah dianggap seperti keluarga oleh Kakek Jansen. Mereka pasti sangat kehilangan sosok Kakek.
"Nona, Nyonya besar ingin bertemu dengan Nona. " Pak Teddy datang menghampiri aku dan Alisa.
"Eh?"
Pak Teddy mengantarkanku ke kamar Nenek. Aku berpamitan pada Mas Juna terlebih dahulu.
Kulihat Nenek sedang duduk memegang foto Kakek dan mengelusnya lembut.
"Nenek---"
"Cinta---"
Nenek langsung menyambutku dan memelukku. Raut kesedihan sangat terlihat jelas di wajahnya.
"Maafkan Kakek ya, Nak. Tolong maafkan kesalahannya."
__ADS_1
"Nenek, jangan bicara begitu. Akulah yang banyak salah pada kalian. Aku pergi tanpa pamit pada kalian."
"Jangan mengingat yang sudah berlalu."
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Kakek? Dia sempat menemuiku beberapa waktu lalu. Dia terlihat baik-baik saja."
"Cinta, sejak kamu pergi, Kakek sering sakit-sakitan. Dia merasa bersalah padamu."
"Tidak, Nek."
"Tapi sekarang dia sudah tenang. Doakan dia ya, Nak. Dia sudah tidak merasakan sakit lagi sekarang."
Demi apapun, aku merasa sangat bersalah pada mereka. Kakek dan Nenek yang sudah sangat baik padaku. Tapi aku sudah menyebabkan luka di hati mereka. Maafkan aku, Kakek...
"Cinta, menginaplah disini!"
"Heh?"
Bagaimana ini? Aku tak bisa menolak keinginan Nenek. Aku mengiyakan permintaannya.
Aku kembali menuju ke Mas Juna yang sedang berbincang dengan temannya.
"Kita pulang sekarang?" Tanyanya padaku.
"Oh, begitu. Ya sudah, tidak apa. Aku akan pulang bersama Ibu dan yang lainnya."
"Maaf ya, Mas. Aku tak kuasa untuk menolak."
"Tak apa. Aku yakin Nyonya Jessi ingin bersama denganmu."
Aku mengantarkan Mas Juna juga Ibuku dan yang lainnya sampai ke depan rumah. Aku kembali masuk ke dalam rumah setelah mobil Mas Juna sudah tak terlihat lagi.
Aku melihat Lucka masih menerima banyak tamu. Aku tak mau mengganggunya. Kulihat Sally baru datang dan langsung memeluk Lucka. Entah kenapa aku tak suka melihatnya. Aku memutuskan untuk pergi menuju kamar lamaku di rumah ini. Aku meminta Alisa menemaniku.
"Kamarnya masih sama seperti saat dulu aku meninggalkannya."
"Tuan Lucka sangat menjaga kamar Nona," ucap Alisa.
"Apa?!"
"Tuan Lucka sangat yakin kalau suatu saat Nona pasti akan kembali ke kamar ini. Dan ternyata itu benar. Meski butuh beberapa tahun untuk mewujudkan itu."
Aku kembali meneteskan air mataku. Kembali ke kamar ini membangkitkan kenangan lamaku tentang semua hal di masa lalu.
__ADS_1
Kulihat boneka beruang besar masih berada di pojok ranjangku. Boneka itu adalah hadiah dari Lucka di hari ulang tahunku yang ke 18.
Aku mendekati boneka itu dan mengambilnya. Sudah empat tahun berlalu, Lucka...
Meski hatiku sakit saat mengingat semuanya, tapi aku tak pernah bisa menghapusnya dari hatiku.
Aku memeluk boneka beruang besar itu. Aku menangis disana. Aku ingat aku pernah berkata kalau aku akan memeluk boneka ini kalau aku merindukanmu. Dan kini, aku memeluk boneka ini.
Aku merindukanmu Lucka. Sangat merindukanmu.
Tangisanku makin keras. Aku tak peduli Alisa ada disana melihatku. Ia pasti tahu apa yang kurasakan sekarang. Aku mengeratkan pelukanku pada boneka ini. Aku sangat merindukanmu, Lucka...
...***...
Malam akhirnya tiba, suasana mulai sepi disini. Aku mengitari taman bunga seperti biasa. Mereka masih di rawat dengan baik. Aku merindukan saat-saat dulu aku merawat taman ini.
Sejak pemakaman Kakek, aku belum melihat sosok Lucka lagi. Dia pasti masih sangat bersedih. Aku mencoba mendatangi kamarnya.
Pintunya tidak ditutup. Kulihat Lucka terduduk di sofa. Dia termenung disana.
Bagaimana ini? Apakah aku harus kesana? Tapi aku tidak mau merusak lamunannya. Beban di pundaknya kini benar-benar berat sekarang.
Oh ya, Kak Lucki? Aku tak melihat keberadaannya. Dia berada sangat jauh dari rumah. Apa dia tahu kalau Kakeknya sudah tidak ada? Apa dia merasakan kesedihan seperti yang dirasakan Lucka?
Ah, sudahlah. Aku bukan lagi anggota keluarga ini. Tidak perlu ikut campur urusan mereka.
Aku kembali melangkah menuju kamarku, sebelum akhirnya ada suara yang memanggil namaku.
"Cinta..."
Aku terkesiap dan menoleh ke belakang. Lucka menyadari kalau aku dari tadi di depan kamarnya. Bagaimana ini?
"Kemarilah!" ucapnya.
"Heh?"
Dengan ragu aku berjalan perlahan memasuki kamar Lucka. Aku duduk di sebelahnya.
Dia tak mengatakan apapun lagi dan malah menyandarkan kepalanya di pundakku.
"Ijinkan aku meminjam pundakmu sebentar saja."
Aku tak menjawab permintaan Lucka karena dia memang sudah melakukannya sebelum meminta ijin.
__ADS_1