![Lu[C]Ka Cinta](https://asset.asean.biz.id/lu-c-ka-cinta.webp)
Usai menemui Kakeknya, Lucki meminta Cinta untuk menunggu sebentar di sekitaran taman kampus. Ada yang harus ia lakukan di ruang administrasi.
Cinta melihat sekitar taman kampus. Ia menatap para mahasiswa dan mahasiswi yang sedang duduk membahas tugas kuliah mereka. Cinta tersenyum getir. Harusnya ia juga melakukan hal yang sama dengan mereka.
Sepertinya menyenangkan jadi mahasiswa. Huft! Andai saja aku juga bisa seperti mereka...
Saat sedang larut dalam lamunannya, ada sesuatu yang memegang pergelangan tangannya. Cinta langsung tersadar dari khayalannya. Ia membulatkan mata sempurna ketika tahu siapa yang menyentuh tangannya.
"Lucka?!"
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Lucka dengan mata memerah karena marah.
"Aku---"
"Ikut denganku! Kita pulang!"
Lucka menyeret Cinta dengan menggandeng tangannya kasar. Lucka membawanya ke tempat parkir kampus.
"Lucka!! Lepaskan!"
"Masuk ke mobil!" Perintah Lucka.
Cinta tak kuasa membantah dan masuk ke dalam mobil.
"Jalan, Pak!" ucap Lucka dingin.
"Baik, Tuan!"
Mobil mulai melaju meninggalkan area kampus. Cinta hanya terdiam selama di perjalanan.
DRRRRTTTTT DRRRRRTTTT DRRRTTTTT
Ponsel Cinta bergetar. Ada panggilan masuk. Cinta mengambil ponselnya dan tertera nama Lucki disana. Ia melirik ke arah Lucka. Ia ragu untuk menjawab panggilan dari Lucki.
"Siapa yang menelepon?" Tanya Lucka sinis.
"Bukan siapa-siapa." Cinta menyembunyikan ponselnya ke dalam tas.
Lucka tahu ada yang tak beres disini. Ia segera merebut tas Cinta dan mengambil ponselnya. Cinta tak kuasa merebut kembali tasnya.
Lucka mengangkat panggilan dari ponsel Cinta. Namun ia masih diam dan mendengarkan si penelepon bicara.
"Halo, Cinta. Kamu dimana? Aku mencarimu di taman tapi tidak ada."
Lucka menggertakkan giginya. "Cinta bersamaku!"
"Apa?"
Bisa Lucka tebak kalau saat ini Kakaknya sedang tercengang mendengar suaranya.
"Baiklah, kalau begitu. Lucka, aku---"
Tuuutt tuuuutt tuuuut.
__ADS_1
Lucka menutup panggilan tanpa mendengar penjelasan Lucki lebih lanjut.
Sesampainya di rumah, Lucka mengantar Cinta hingga ke kamarnya. Lucka masih menunjukkan ekspresi marahnya.
Cinta yang diperlakukan dengan kasar segera membantah Lucka.
"Apa yang kamu lakukan?!" Tanya Cinta geram.
"Harusnya aku yang tanya, apa yang kamu lakukan disana? Bukankah sudah kukatakan jangan pernah meninggalkan rumah ini tanpa ijin dariku!" Lucka mulai menaikkan suaranya.
"Aku pergi bersama kakakmu. Kakakmu! Dan aku juga tidak melakukan apapun dengannya. Kamu tak perlu semarah ini!" Cinta juga mulai emosi.
"Aku begini karena demi nama baik keluarga. Jadi kamu sebaiknya menuruti perintahku!"
"Sudah kubilang aku tidak melakukan hal yang membuat malu keluarga ini. Jadi kamu tidak perlu bicara kasar padaku. Lagipula aku hanya bertemu dengan kakekmu, kakek kalian! Jika tidak ada lagi yang mau kamu katakan, sebaiknya kamu keluar dari kamarku!"
Lucka tak bisa berkata apapun lagi dan memutuskan meninggalkan Cinta sendiri.
Cinta meringkuk di atas tempat tidurnya sambil memeluk lututnya. Matanya mulai panas. Air mata sudah penuh dipelupuk matanya. Dan kali ini ia akhirnya menangis. Ia kembali menangis karena Lucka.
Alisa menghampiri Nonanya yang terlihat amat sedih.
"Nona---"
"Alisa, aku mau minta tolong padamu."
"Apa Nona?"
"Aku ingin sendiri saja disini. Jadi tolong, jangan ada yang masuk ke kamarku sampai besok. Untuk makan malam nanti, tolong bawakan ke kamar saja. Kamu mengerti kan?"
Cinta membalas dengan senyuman. "Terima kasih, Alisa."
...***...
Sementara itu, Lucki yang buru-buru pulang ke rumah langsung menemui Lucka. Mereka berpapasan di taman mansion utara.
"Lucka, apa yang kamu lakukan pada Cinta?"
"Apa yang aku lakukan? Harusnya aku yang tanya sama kakak, apa yang kakak lakukan bersama tunanganku?"
Lucki berdecih. "Tunanganmu? Jadi sekarang kamu sudah menganggap dia sebagai tunanganmu?"
"Kakak! Aku tidak akan mengatakan ini lagi jadi dengarkan baik-baik. Jangan pernah membawa pergi Cinta tanpa ada ijin dariku!"
"Maaf jika aku mengajaknya tanpa ijin. Tapi, kami hanya menemui kakek Gerald. Jadi kamu tidak perlu semarah ini."
"Jangan melewati batas, Kak! Aku lebih berhak atas Cinta dari pada kamu."
"Berhak? Kalau begitu apa kamu tahu bagaimana perasaan Cinta sekarang? Apa kamu pernah sedikit saja peduli padanya? Dia ingin berjalan-jalan menghirup udara segar untuk menghilangkan penatnya. Apa kamu juga tahu, dia sangat ingin bisa melanjutkan pendidikannya seperti teman-temannya. Dia selalu bersedih jika mengingat harus melakukan kewajibannya karena perjanjian kakeknya dan kakek kita. Apa kamu bahkan tahu itu?!" Lucki sudah mencapai batasnya.
"Lalu kenapa kamu begitu peduli padanya, Kak? Dia adalah tunanganku! Bukan urusanmu dia bersedih atau tidak. Atau jangan-jangan kamu menyukainya?"
Lucki terdiam. Ia menimang-nimang apakah akan menjawabnya atau tidak. Ia terpojok sekarang. Haruskah ia---?
__ADS_1
"Jawab aku, Kak!" Lucka mengepalkan tangannya.
Lucki menatap adik kembarnya dengan wajah serius. Rasanya selama mereka tumbuh bersama, tak pernah sekalipun mereka berdebat seperti ini. Tidak pernah sebelum ada seseorang di antara mereka beberapa tahun lalu. Dan kini rasanya semua bagai mengulang masa lalu.
"Iya! Aku menyukai Cinta!" Jawab Lucki mantap.
Semua tertegun mendengar pernyataan Lucki. Tommy yang ada disanapun tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Lucka tak menanggapi pernyataan kakaknya. Dan membiarkan kakaknya pergi.
"Aku rasa kamu sudah keterlaluan, Lucka." Ucap Tommy sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan Lucka.
Tommy mengejar Lucki yang menuju kamarnya.
"Lucki!" panggil Tommy.
"Ada apa Tom? Maaf saat ini aku sedang tidak ingin bicara apapun."
"Maaf, kalau begitu istirahatlah. Aku tidak akan mengganggumu."
"Thanks, Tom---"
Dan malam ini berakhir dengan ketiga orang yang sedang dilanda kegalauan hanya mengurung diri di kamar masing-masing.
...***...
Keesokan harinya pukul lima pagi,
Alisa datang ke kamar Cinta dan melihat nonanya masih terlelap di tempat tidur. Tidak biasanya nonanya itu masih memejamkan mata. Beberapa menit kemudian, Alisa melihat nonanya mulai membuka matanya.
"Nona, apa Nona baik-baik saja? Nona sakit?"
"Tidak, aku tidak sakit. Aku tidak apa-apa kok. Hari ini aku hanya ingin sendiri. Aku tidak mau bertemu siapapun dulu hari ini. Dan untuk pelajaran hari ini, aku sudah mengirim pesan pada Ibu Rini jika hari ini libur. Kamu tolong bantu Edi untuk menyiram tanaman ya."
"Termasuk bertemu Tuan Lucki?"
"Iya, aku tidak bisa menemuinya hari ini."
"Nona---"
"Kadang aku berpikir, apakah aku sudah mengambil keputusan yang tepat untuk melanjutkan perjodohan ini? Aku sendiri masih bingung, Al. Lucka dan aku ... berjalan berseberangan. Sulit sekali memahami hatinya." Air mata Cinta kembali menetes.
"Nona---" Alisa ikut bersedih melihat nonanya.
"Pergilah! Sudah lewat pukul lima. Edi pasti membutuhkanmu."
Alisa berpamitan pada Cinta dan keluar kamar. Ia bertemu dengan Lucki yang sudah menunggunya di depan kamar Cinta.
"Nona tidak mau bertemu dengan siapapun, Tuan."
Lucki memahami perasaan Cinta yang masih terluka. Ia pun meninggalkan area kamar Cinta dan kembali ke kamarnya.
...©©©...
__ADS_1
bersambung...