Lu[C]Ka Cinta

Lu[C]Ka Cinta
15. PERSAINGAN (1)


__ADS_3

Setelah mendengar semua penjelasan Alisa, Cinta mulai bersimpati pada keluarga Bahari.


Sepertinya keluarga ini memiliki banyak masalah dan juga rahasia. Tapi, aku tak berhak ikut campur lebih jauh. batin Cinta.


Cinta kembali memasak menu sarapannya pagi ini.


"Pagi..."


"Kak Lucki?" Cinta tersenyum lebar menyambut Lucki.


"Masak apa untuk sarapan pagi ini?"


"Hanya nasi goreng. Kakak mau?"


"Boleh deh. Buatkan untukku juga ya!"


"Baiklah."


Lucki menunggu Cinta memasak, dan duduk di ruang makan gazebo sambil membaca buku.


Beberapa menit kemudian, menu sarapan sudah selesai dibuat dan Cinta menyajikannya ke hadapan Lucki.


"Kakak sangat suka membaca buku?"


"Itu harus. Kamu juga harus suka membaca buku. Karena dari buku kita bisa tahu banyak hal tentang dunia. Seperti kata pepatah, Buku adalah jendela dunia."


"Aku sangat suka belajar. Asal kakak tahu, aku mendapat nilai terbaik di kelulusanku kemarin."


"Oh ya? Itu sangat bagus. Kalau begitu kamu harusnya masuk ke perguruan tinggi terbaik dong!"


Seketika senyum di wajah Cinta meredup.


"Maaf, aku tidak bermaksud---" Lucki jadi tak enak hati pada Cinta.


"Tidak apa, Kak." Cinta kembali mengulas senyumnya. "Menjalankan amanah dari yang sudah meninggal, itu adalah suatu hal baik, bukan? Aku sudah mengikhlaskan semuanya. Dan mulai menjalani semua ini dengan hatiku."


Lucki membalas dengan senyuman. "Apa ini sudah boleh dimakan?" Tunjuknya ke arah nasi goreng yang sudah tersedia di depan matanya.


"Hahaha, kakak apaan sih! Ya pasti lah boleh dimakan. Silahkan cicipi."


Lucki mengambil satu sendok dan memasukkan kedalam mulutnya.


"Hmm, ini enak sekali, Cinta."


"Benarkah? Syukurlah jika kakak menyukainya."


"Aku sangat menyukainya. Aku habiskan ya?"


Cinta tertawa kecil melihat Lucki yang makan bak orang sangat kelaparan.


Sementara itu, dari kejauhan ada dua mata yang memandang sinis keakraban Lucki dan Cinta.


"Sejak kapan mereka jadi sedekat itu?" tanya pria yang tak lain adalah Lucka.


"Aku kurang tahu juga. Memangnya kenapa?" jawab Tommy.


"Tidak apa. Ayo kita berangkat!"


"Kamu tidak ikut bergabung dengan mereka? Kita sarapan bersama. Aku yakin Cinta pasti membuatkan juga untukmu."


"Tidak! Tidak perlu! Aku akan sarapan di kantor saja!"


Lucka melenggang pergi meninggalkan Tommy yang masih melihat ke arah Cinta dan Lucki yang sedang sarapan bersama.


"Lucka! Tunggu!"


...***...


Di kantor JB Grup,


Lucka tak bisa berkonsentrasi dalam pekerjaannya. Entah kenapa bayangan kedekatan Kakaknya dan Cinta masih terasa nyata di depan matanya.


Kenapa sih aku ini? Kenapa juga aku jadi mikirin gadis bodoh itu? Sial!


"Lucka, sebentar lagi klien datang. Bersiaplah, kita akan ke ruang meeting."

__ADS_1


Tak ada respon dari Lucka.


"Lucka!" Tommy memanggil Lucka sekali lagi. "Lucka, kamu dengar aku kan? Kita harus ke ruang meeting sekarang."


"Iya iya, aku dengar. Tidak perlu mengulangnya." Lucka bergegas bangun dari kursi kerjanya dan melangkah pergi ke ruang meeting.


...***...


Sudah satu minggu sejak kedatangan Lucki ke rumah keluarga Bahari. Dan Cinta senang karena sekarang bak memiliki teman baru sekaligus kakak.


Mereka berdua banyak menghabiskan waktu bersama. Luckipun sering membantu Cinta di dapur dan juga mengurus taman.


Selalu ada tawa riang ketika mereka bersama. Dan ini membuat Lucka makin kalang kabut. Ia tak suka dengan kedekatan kakak dan tunangannya. Tunangan? Mungkinkah Lucka akan mulai mengakui Cinta sebagai tunangannya?


"Bagaimana kabar kamu dan adikku?" Tanya Lucki di sela-sela menyiram bunga.


"Eh? Aku dan Lucka? Ya begitulah, hehe."


"Begitu bagaimana?"


"Kakak kan tahu bagaimana dia."


"Apa dia memperlakukanmu dengan tidak baik?"


"Tidak! Bukan begitu. Dia sebenarnya orang yang baik. Hanya saja dia tidak menunjukkannya."


"Kenapa kamu tidak merawat taman milik Mama?"


DEG.


Cinta menelan ludah. "Itu---"


"Lucka tidak mengijinkanmu?" tebak Lucki.


"Bukan. Sungguh bukan begitu---"


"Cinta, aku mengenalnya dengan baik. Jika memang begitu, tidak apa. Kamu bisa menceritakannya padaku. Aku akan bilang padanya agar kamu bisa merawat taman milik Mama."


"Jangan, Kak. Itu bukan karena Lucka. Sungguh! Aku hanya merasa tidak sanggup saja kalau harus mengurus semuanya, hehehe. Aku kan juga harus belajar. Dan juga memasak."


Untuk kesekian kalinya Cinta bisa tertawa lepas bersama Lucki.


...***...


"Alisa!"


"Tuan Lucki. Mau kemana malam-malam begini? Sebentar lagi jam malam, lho!" lerai Alisa.


"Iya, aku tahu. Aku ingin ke kamar Cinta sebentar. Dia ada di kamarnya kan?"


"Iya Tuan. Nona baru saja masuk."


Lucka menguping pembicaraan antara kakaknya dan Alisa. Ia membelalakkan mata mendengar kalau kakaknya akan menuju kamar Cinta.


Tanpa ba bi bu, Lucka langsung melesat pergi ke kamar Cinta. Ia berlari sekencangnya agar sampai lebih dulu di banding Lucki.


Lucka mengatur nafasnya, lalu mengetuk pintu kamar Cinta.


Tok tok tok


Cinta membuka pintu lalu mengernyitkan dahi. "Lucka? Mau apa kamu malam-malam kesini?"


"Itu gak penting! Bisakah kamu persilakan aku masuk?"


"Ya sudah, ayo masuk!"


Lucka mengekori Cinta masuk ke dalam kamarnya. Diliriknya Lucki yang berdiri mematung di depan kamar Cinta. Lucka tersenyum puas.


"Ada apa?" Tanya Cinta begitu duduk di ruang tamu kamarnya.


"Ehem, kamu tidak menawarkan aku minum?" Ucap Lucka sambil terbatuk.


"Mau minum apa? Aku hanya punya teh."


"Oh iya boleh. Apa saja boleh!"

__ADS_1


Cinta menuju dapur kecilnya dan membuatkan teh untuk Lucka.


"Sebentar lagi jam malam. Kenapa kamu malah ada disini?" tanya Cinta.


"Apa tidak boleh? Aku hanya mengunjungi kamar tunanganku."


Cinta malas meladeni Lucka. "Ya udah terserah kamu saja. Ini tehnya." Cinta membawakan secangkir teh untuk Lucka.


Cinta memandang pria di hadapannya ini dengan serius. Cinta tahu pasti ada sesuatu yang tak beres dengannya.


"Kenapa perutmu?" Tanya Cinta karena melihat Lucka memegangi perutnya.


"Aku lapar. Aku belum makan malam, hehehe."


"Ya ampun, kupikir ada apa. Kamu ingin makan apa? Akan kukirimkan pesan pada Chef Marko."


"Jangan! Tidak perlu mengirim pesan pada Chef Marko. Aku ingin kamu yang buatkan makan malam untukku."


"Aku tidak punya bahan-bahan disini. Aku harus mengambilnya dulu di dapur."


"Eh? Tidak perlu! Tidak perlu mengambil bahan. Masakkan saja sesuatu yang ada di dapurmu sekarang."


"Apa?! Emh, baiklah. Akan kulihat dulu."


Lucka mengikuti langkah Cinta menuju dapur mini di dalam kamarnya.


"Hanya ada telor di lemari es. Bagaimana?"


"Tidak masalah. Aku suka telor. Apalagi kalau yang setengah matang."


"Ya ya, baiklah. Akan kubuatkan."


Lucka memperhatikan dengan seksama cara Cinta memasak. Cinta merasa risih dengan tatapan Lucka yang seakan enggan berpaling darinya.


"Ini, makanlah! Untung saja aku masih punya nasi putih."


"Hmm, sepertinya enak. Aku makan ya!"


Usai makan, Lucka kembali duduk diruang tamu dan meneguk tehnya. Suasana mulai canggung diantara mereka berdua. Selama ini mereka tak pernah duduk bersama dan mengobrol, apalagi menghabiskan waktu di malam hari bersama seperti saat ini.


"Kamu tidak kembali ke kamarmu?"


"Hmm? Nanti saja. Aku masih ingin disini." jawab Lucka asal.


"Lepaskan saja jasmu itu. Pasti gerah memakainya seharian."


"Tidak. Aku suka memakai jas."


"Tapi ini sudah malam, lepaskan saja! Kamu bisa pakai kamar mandiku bila ingin membersihkan diri."


"Oh, baiklah."


Lucka melepas sepatu dan dasinya, lalu menuju ke kamar mandi. Cinta menatapnya dengan tatapan aneh.


Lagi kenapa sih dia? Kesurupan setan apa coba sampai dia tiba-tiba datang kesini? Hih ngeri!


Tak lama kemudian, Lucka keluar dari kamar mandi. Ia memakai kaos dalam hitam dan celana kain yang sedari pagi dipakainya. Baru kali ini Cinta melihat Lucka tanpa setelan jasnya.


"Lucka, sebaiknya kamu..."


"Aku ingin main kartu!" Cegat Lucka memotong kalimat Cinta.


"Hah? Main kartu?"


"Iya. Kamu pasti punya kan? Kartu Uno. Ayo keluarkan!"


Bener deh. Ni orang kayaknya emang kesambet (kesurupan). Ckckckck, apa yang harus kulakukan?


Cinta mengambil kartu permainan Uno dari dalam lemarinya.


Kok dia bisa tahu kalau aku punya kartu mainan Uno? batin Cinta yang masih bingung.


"Ayo main!! Kita akan bermain kartu sampai pagiiiiiiii." Ucap Lucka dengan gembira.


...©©©...

__ADS_1


Bersambung,,,


*Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 😘😘


__ADS_2