![Lu[C]Ka Cinta](https://asset.asean.biz.id/lu-c-ka-cinta.webp)
Hari-hari Cinta makin ceria setelah Lucka menyatakan perasaannya. Seakan sinar mentari selalu menemani kehidupannya dan tak ada kehidupan gelap gulita bak di malam hari untuknya.
Senandung suka cita selalu Cinta nyanyikan saat melakukan kesehariannya. Orang-orang disekitarnya pun merasa teraliri arus positif dari kebahagiaan Cinta.
Cinta menelepon Ibunya dan mengabarkan kalau dia baik-baik saja sekarang dan sangat bahagia. Ibunya sangat bersyukur karena putrinya hidup bahagia bersama keluarga barunya. Itu berarti ayah mertuanya yang notabene adalah kakek Cinta, tidak salah dalam memilihkan pasangan untuk cucunya.
Hari ulang tahun Cinta tinggal beberapa hari lagi. Cinta tidak menginginkan sebuah pesta perayaan ataupun makan malam mewah. Ia akan menyiapkan sendiri pesta ulang tahun sederhananya di rumah Bahari. Karena Jansen dan Jessi sedang tidak ada di rumah, maka Cinta akan merayakan ulang tahunnya bersama Lucka saja. Ia akan memasak sesuatu yang enak di hari istimewanya.
"Nona, biar saya saja yang melakukannya. Nona dan Tuan Lucka tinggal menyantap hidangannya saja."
"Tidak, Chef. Aku akan menyiapkan semuanya sendiri. Aku akan mulai berbelanja hari ini," jawab Cinta dengan senyuman manis di wajahnya.
Chef Marko memahami keinginan Cinta yang ingin memasak sendiri menu spesial di hari ulang tahunnya.
Cinta meminta Pak Teddy untuk menyiapkan sopir untuknya pergi berbelanja keperluan ulang tahunnya besok. Ia akan pergi tanpa di temani Alisa. Karena ia akan memberikan kejutan untuk Lucka. Ia akan datang ke kantor Lucka usai berbelanja.
Cinta menghubungi Tommy dan menanyakan keberadaan Lucka. Tommy menyuruh Cinta untuk menunggu di ruang kantor Lucka.
Cinta duduk menunggu kedatangan Lucka yang sedang rapat bersama kliennya. Lima belas menit Cinta menunggu, dan akhirnya Lucka memasuki ruangannya dengan masih berdiskusi dengan Tommy soal rencana meeting selanjutnya.
Cinta berdiri menyambut Lucka dengan senyum manis di wajahnya. Lucka terkejut karena ia bagai melihat bayangan Cinta di ruangannya.
"Tom, jangan-jangan aku sudah gila. Kenapa aku melihat bayangan Cinta ada disini?" bisik Lucka pada Tommy.
"Iya. Sepertinya kamu mulai tidak waras, Lucka!" jawab Tommy terkekeh.
"Tapi kenapa bayangannya nampak nyata sekali?"
"Itu karena kamu terlalu mencintai dia, Lucka!"
"Hei! Kalian lagi ngapain sih? Kok bisik-bisik?" Cinta mulai bicara.
"Dia bisa bicara, Tom!" Dan Lucka masih tidak sadar kalau sosok didepannya memang Cinta.
"Mas! Ini beneran aku!"
"Heh? Apa?"
Tommy tertawa terbahak melihat Lucka yang masih tak percaya kalau Cinta ada di depannya.
"Tommy! Jangan mengejeknya terus." Cinta menghampiri Lucka dan bergelayut manja di lengannya. "Mas, ini beneran aku kok."
"Sial kamu, Tom!! Kamu mempermainkanku!" sungut Lucka.
"Sorry-sorry. Ya sudah, kalau begitu, lanjutkan waktu kalian."
"Terima kasih ya, Tom." imbuh Cinta.
"Lucka, awas ya! Jangan kebablasan!" bisik Tommy sebelum akhirnya meninggalkan mereka berdua dengan tawa menyeringainya.
Lucka menggeram dan mengepalkan tangannya. Namun ia menjaga emosinya di depan Cinta dan berpura-pura tersenyum manis.
Lucka mempersilahkan Cinta duduk.
"Ada apa kamu tiba-tiba datang kesini?"
__ADS_1
"Aku mau kasih surprise aja sama kamu, hehe. Oh ya, kita makan siang bareng yuk! Trus abis itu kita jalan-jalan ke mall."
Lucka mengernyitkan dahi. "Tapi aku sibuk, Cinta. Mana bisa aku jalan-jalan di jam kerja? Nanti aku di pecat sama kakek gimana?"
"Hmm, ya sudah. Aku akan menunggumu sampai selesai bekerja."
Lucka tak bisa membantah tunangan kecilnya ini. Iapun mengiyakan keinginan Cinta. Lagipula ini pertama kalinya mereka pergi berdua. Anggap saja ini kencan pertama.
...***...
Lucka dan Cinta makan siang di cafetaria milik JB Group. Menu makanan disini disediakan oleh Chef profesional.
Semua mata memandang ke arah mereka berdua saat sedang makan siang. Ada yang berbisik-bisik dan bergosip. Dan menilai kalau calon istri bos mereka itu masihlah sangat muda dan terbilang masih anak-anak. Tapi ada juga yang mengagumi kecocokan mereka. Mereka berdua adalah pasangan yang serasi.
Saat sedang di toilet wanita, Cinta sempat mendengar beberapa obrolan karyawan wanita yang mengolok dirinya yang hanya anak seorang penjual warung nasi. Cinta sempat sedih mendengar percakapan mereka meski itu adalah benar. Cinta memang bukan siapa-siapa. Ia hanya gadis miskin yang tiba-tiba di jodohkan dengan keluarga kaya. Cinta tak mau menyerah dengan semua itu. Ini memang sudah resikonya karena mau menikahi pria kaya dan berkuasa seperti keluarga Bahari.
Cinta menenangkan diri dan akan melupakan semua gosip buruk tentang dirinya. Saat ini yang terpenting adalah Lucka mencintainya. Dan ia tak akan peduli omongan orang lain yang menjatuhkannya.
"Lama sekali ada di toilet, kamu tidur disana?" Tanya Lucka saat Cinta keluar dari toilet.
"Apaan sih, Mas? Aku kan mau kencan denganmu, jadi aku harus tampil cantik dong!" jawab Cinta dengan mengembangkan senyumnya meski hatinya sakit mendengar hal buruk tentang dirinya.
Lucka mencubit pipi Cinta. "Kamu itu sudah cantik. Dan aku menyukaimu yang begini. Tidak perlu banyak polesan make-up."
Lucka berhasil membuat Cinta tersipu malu. Dan itu membuat Lucka makin gemas dengan gadis kecilnya. Ingin rasanya mengecup bibir mungilnya kalau saja ini bukan ditempat umum.
Pekerjaan Lucka selesai lebih cepat dari yang dijadwalkan. Alhasil, Lucka akan memenuhi janjinya pada Cinta untuk berjalan-jalan ke mall.
"Bukannya anak SMA sering jalan-jalan ke mall? Kenapa memilih kemari saat kencan dengan tunanganmu?" tanya Lucka saat berjalan menyusuri deretan toko-toko di mall.
"Benarkah?"
Cinta memukul lengan Lucka pelan. "Beneran, Mas!" Cinta mengerucutkan bibirnya. Lucka tertawa melihat tingkah tunangannya yang masih kekanakan.
"Iya-iya, aku percaya. Trus sekarang kamu mau apa kesini?"
Cinta menyeringai. "Hehehe, aku mau kado dari kamu!"
Lucka tertawa kecil. "Ya ampun. Aku pikir ada apa. Kado? Kamu mau kado apa? Jam tangan? Tas? Sepatu? Baju?"
Cinta menggeleng. Lucka mengernyitkan dahi. "Trus apa?"
Cinta menarik tangan Lucka ke sebuah toko mainan. Mereka menyusuri deretan etalase yang tersusun rapi. Lucka tersenyum dan baru menyadari kalau tunangannya ini masih anak-anak, pastilah ia memilih ke toko mainan dari pada ke sebuah butik.
"Aku mau yang ini, Mbak!" ucap Cinta pada seorang pelayan.
Lucka membulatkan matanya. Cinta menunjuk ke sebuah boneka beruang besar yang seukuran manusia.
"Kamu mau ini?" Tanya Lucka.
Cinta mengangguk mantap.
"Mbak, tolong dibungkus ya." Ujar Lucka pada si pelayan.
"Baik, Pak."
__ADS_1
Lucka menghampiri Cinta yang sedang melihat-lihat mainan lain.
"Kenapa memilih boneka besar itu sebagai hadiah ulang tahunmu?"
"Mas mau tahu?"
"Iya lah. Karena biasanya wanita suka kalau di belikan tas atau baju. Kenapa memilih boneka?"
"Umm, karena boneka itu adalah dirimu..." tunjuk Cinta pada Lucka.
"Eh? Kok aku?" Lucka makin bingung.
"Iya. Itu adalah simbol dirimu. Saat aku rindu padamu, aku akan memeluknya. Saat kamu membuatku marah, aku akan memukulinya. Begitu!" Cinta meringis menjawab pertanyaan Lucka.
Lucka tertawa kecil dan geleng-geleng kepala. "Kamu ada-ada saja. Bukankah kalau kamu rindu bisa langsung menemuiku. Atau aku yang akan mendatangimu."
"Tidak. Terlalu klise kalau seperti itu."
"Cih, anak kecil ini!" Lucka mencubit hidung Cinta.
"Aw, sakit!" Cinta berniat akan memukul Lucka.
"Eits! Tunggu dulu! Kamu bilang jika aku membuatmu marah kamu akan memukul boneka itu. Kenapa malah mau memukulku?"
"Ih, Mas. Itu kan nanti kalau Mas gak ada."
"Hahahaha!" Lucka tertawa, dilanjut dengan Cinta yang juga ikut tertawa.
...***...
Sementara itu di tempat berbeda,
"Ingat ya, shay. Lo itu datang kesini buat kerja. Bukan untuk yang lainnya." ucap seorang pria dengan nada gemulai.
"Iya, gue tahu. Tapi mumpung gue lagi disini. Ada yang mau gue temui sebelum gue balik ke Paris."
"Jangan bilang lo mau ketemu mantan lo itu! Ingat Sally, dia itu udah punya tunangan."
"Memangnya kenapa kalau dia punya tunangan? Toh mereka masih belum menikah. Masih bisa putus juga kan!"
"Ckckckck, gue gak paham jalan pikiran lo. Ingat ya! Jangan sampai lo rusak reputasi lo gara-gara cowok!"
"Lo tenang aja! Gue gak akan merusak karir gue karena dia."
"Bagus lah kalo lo tahu. Gue cabut duluan ya! Lo buruan siap-siap. Pemotretannya lima belas menit lagi."
"Iya, Jo sayang. Gue tahu."
Sally menatap dirinya di cermin. Matanya memerah karena marah. Dan tangannya mengepal kuat.
Bisa-bisanya kamu melupakan aku dan memilih gadis warteg itu, Lucka! Aku gak akan membiarkan itu terjadi. Aku akan merebut kembali apa yang sudah hilang---
...©©©©...
Bersambung,,,,
__ADS_1