![Lu[C]Ka Cinta](https://asset.asean.biz.id/lu-c-ka-cinta.webp)
"Selamat datang kembali, Tuan." Sambut Teddy pada Jansen dan Jessi yang baru tiba di rumah.
"Terima kasih, Teddy. Bagaimana kabar Cinta dan Lucka? Mereka ada kemajuan?" tanya Jansen.
"Sangat bagus, Tuan. Mereka semakin akrab saja."
"Baguslah." Jansen tersenyum puas.
Baru saja Jansen memasuki rumah dan akan menuju kamarnya. Diperjalanan, mereka terhenti karena melihat Alisa yang berlarian memanggil nama Teddy, ayahnya.
"Bapak! Bapak!" Alisa bertemu Teddy dan Jansen.
"Ada apa Alisa? Kenapa berlarian seperti itu? Jaga sikapmu! Ada tuan besar dan nyonya baru saja datang," lerai Teddy.
Alisa terengah. Ia mengatur nafasnya. "Ma-maaf, Pak. Maaf juga Tuan, dan Nyonya. Saya hanya ingin memberikan ini..." Alisa menyerahkan sebuah surat dan kotak.
"Apa ini?" tanya Jansen.
"Itu itu dari Nona Cinta, Tuan. Dia ... dia sudah pergi."
"Apa?!" Jansen dan Jessi tak percaya dengan penjelasan Alisa. Jansen membuka surat yang tadi diberikan Alisa, dan membacanya.
Kakek, jika kakek membaca surat ini, mungkin aku sudah tak ada lagi di rumah kakek. Kakek dan nenek, aku minta maaf. Aku tidak bisa menjadi cucu menantu kalian. Dunia kita terlalu berbeda. Dan aku tidak akan bisa menyeimbangkan perbedaan ini. Aku senang bisa bertemu dengan kakek dan nenek. Kalian adalah orang yang sangat baik. Aku menyayangi kalian berdua. Tapi, sekali lagi aku minta maaf. Aku harus membatalkan perjodohan ini. Ini aku kembalikan cincin milik mendiang Nyonya Arina. Sekali lagi, aku ucapkan terima kasih karena sudah banyak membimbingku selama aku tinggal disini. Jaga kesehatan kakek dan nenek.
Jansen memegangi dadanya. Ia merasa sesak. Jessi memapah suami tercintanya itu.
"Dimana Lucka?! Dimana anak brengsek itu?!" tanya Jansen dengan amarah membuncah. Tak ada yang berani menjawab Jansen, dan ia langsung menuju ke kamar Lucka.
Sesampainya di kamar Lucka, Jansen bertemu dengan Tommy.
"Dimana dia?! Dimana anak kurang ajar itu?!" tanya Jansen dengan mata yang memerah.
Tommy kebingungan melihat kemarahan Jansen. "Maaf, Tuan. Tuan Lucka tidak ada dikamarnya."
"Lalu dimana dia? Cepat bawa dia padaku!"
__ADS_1
Dari kejauhan, Lucka melihat orang-orang berkumpul di depan kamarnya. Pagi ini ia terbangun dan berada di kamar apartemen milik Sally. Namun Lucka tidak menemukan sosok Sally disana dan hanya sebuah catatan yang Sally tulis untuknya. Sally ada urusan hingga ia meninggalkan Lucka sendiri.
"Ada apa ini? Kenapa semua berkumpul di kamarku?" tanya Lucka dengan rasa penasaran yang besar.
"Anak kurang ajar! Apa yang sudah kamu lakukan pada Cinta, huh? Kenapa dia sampai pergi dari rumah?" tanya Jansen.
PLAK!
Satu tamparan mendarat di pipi kiri Lucka. Baru kali ini Lucka melihat kakeknya penuh dengan amarah.
Lucka memegangi wajahnya. "Apa maksud kakek? Siapa yang pergi?"
"Kamu masih belum paham juga, huh? Cinta pergi meninggalkan rumah ini, dan kamu? Kamu bahkan tidak pulang ke rumah. Dari mana saja kamu?!"
"Cinta pergi?" Lucka masih tak percaya dengan apa yang dikatakan kakeknya. Kemudian Jansen menyerahkan surat dari Cinta pada Lucka.
Lucka syok membaca surat itu. Kakinya mulai lemas. Begitu juga tubuhnya.
"Sudah sadar sekarang, huh? Teddy! Kumpulkan semua orang! Aku akan tanya satu persatu pada semua orang di rumah ini!" Jansen meninggalkan kamar Lucka.
Tommy menghampiri Lucka yang mematung. "Kamu gak apa-apa, Lucka? Sebenarnya apa yang terjadi? Kamu dari mana saja? Kenapa tidak pulang?"
Lucka melirik ke arah Tommy sinis. "Bisa tidak tanyakan satu persatu dulu? Otakku sedang gak bisa bekerja saat ini!"
"Maaf..." Tommy tak berkomentar apapun lagi. Dan memilih diam.
...***...
Jansen menginterogasi semua asisten, dan meminta mereka untuk bicara jujur. Salah satu penjaga gerbang akhirnya mengaku kalau dia lah yang sudah membukakan pintu gerbang utama untuk Cinta.
"Maaf, Tuan. Saya tidak tahu kalau nona Cinta akan pergi. Dia bilang hanya ingin berjalan-jalan saja, menghirup udara segar pagi hari. Saya tidak menyangka kalau..."
"Sudah-sudah. Aku tahu. Tidak perlu meminta maaf lagi. Teddy, coba hubungi keluarga Cinta. Siapa tahu dia pulang ke rumah ibunya," putus Jansen.
"Baik, Tuan."
__ADS_1
Jansen memijat keningnya. Jessi senantiasa menenangkan Jansen.
Tak lama kemudian, Teddy kembali dengan memberi kabar.
"Tuan, saya sudah menghubungi Ibu Inah. Beliau bilang, benar nona Cinta ada di rumah."
Jansen bernafas lega. Lalu Jessi meminta suaminya itu untuk beristirahat dulu di kamar. Mereka baru saja tiba namun sudah dikejutkan dengan kejadian tak terduga di rumah mereka.
...***...
Lucka mendatangi kamar Cinta. Sunyi terasa disana. Tak ada tawa ceria dari si empunya kamar. Lucka menuju tempat tidur dan dilihatnya boneka beruang besar pemberiannya berada disudut tempat tidur. Semua barang disini masih utuh. Cinta tak membawa barang apapun yang ada dikamarnya, bahkan pakaian.
Lucka mulai merasa bersalah. Ini semua karena dirinya. Andai saja ia tidak menerima panggilan dari Sally. Andai saja ia cepat kembali dan tak mengecewakan Cinta. Mungkin saja Cinta masih ada disini.
Tommy sudah mencari tahu dari Alisa tentang alasan kenapa Cinta pergi. Benar ini semua salah Lucka yang tak datang di hari ulang tahun Cinta dan malah menemui Sally. Cinta sudah mengetahui tentang masa lalu Lucka dan Sally.
Lucka mengepalkan tangannya. Ia marah pada dirinya sendiri. Lucka ingin menemui kakeknya. Sudah tiga hari sejak kepergian Cinta, dan Lucka belum bertemu lagi dengan kakek neneknya. Dan ia tahu kalau kakeknya belum memaafkan kesalahannya.
"Kakek..." sapa Lucka lirih tanpa menatap Jansen.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Nak? Teddy bilang kalian baik-baik saja. Kenapa jadi begini?" Jessi bertanya dengan lemah lembut pada Lucka.
"Nenek, maafkan aku. Ini semua salahku!"
"Baguslah kalau kamu sadar! Lalu, apa yang akan kamu lakukan untuk memperbaiki ini semua?" Jansen menjawab dengan nada kesal.
"Apa yang kakek katakan, akan aku lakukan."
"Kalau begitu, susul Cinta ke rumah ibunya, dan minta dia kembali kesini. Jika kamu tidak bisa melakukannya, maka jangan harap kamu dapat maaf dari kakek." Jansen berlalu dari hadapan Lucka.
Lucka tak memberi jawaban apapun. Saat ini yang dia rasa adalah bersalah. Ia mengutuk dirinya sendiri karena sudah mengecewakan Cinta.
Dan sesuai dengan instruksi kakeknya, Lucka menemui Cinta di rumah ibunya.
...©©©...
__ADS_1
bersambung