![Lu[C]Ka Cinta](https://asset.asean.biz.id/lu-c-ka-cinta.webp)
...***...
Keesokan harinya, Cinta sudah dipindahkan ke kamar perawatan. Matanya mulai membuka dan melihat sekelilingnya.
Ibu Inah yang semalaman berjaga merasa senang karena putrinya sudah sadar.
"Ibu? Aku ada dimana?" Tanya Cinta.
"Kamu di rumah sakit, Nduk. Semalam kamu terkena Hypotermia. Tapi untunglah ada Nak Lucki yang menolong kamu."
"Eh? Kak Lucki?" Cinta mengernyitkan dahi bingung.
Aku sangat yakin kalau semalam Luckalah yang menolongku, tapi kenapa...?
"Gimana keadaan kamu? Sudah enakan? Dokter bilang jika kondisimu sudah membaik. Kamu bisa pulang hari ini." Terang Lucki.
"Aku sudah baikan kok. Terimakasih kakak sudah menolongku---" Ucap Cinta dengan senyum yang dipaksakan.
"Makan dulu ya, Nduk. Setelah ini kamu bisa bersiap-siap untuk pulang."
"Iya, Bu. Maaf ya, aku bikin ibu khawatir."
"Sudah, sudah. Jangan dibahas lagi. Yang penting kamu selamat."
"Aku akan mengurus administrasi dulu. Cinta, makan yang banyak ya!" Ujar Lucki kemudian meninggalkan kamar Cinta.
"Ibu, bagaimana bisa Kak Lucki yang menolongku? Aku yakin sekali kalau---"
"Hush, kamu itu lho! Sudah ditolong kok ngomongnya begitu?"
"Maaf---" Cinta terus berpikir kemana perginya Lucka semalam?
"Eh alah, ini kartu asuransi kamu ketinggalan disini, Nduk. Sebentar ya, Ibu akan menyusul Nak Lucki dulu." Ibu Inah terburu-buru menyusul Lucki.
Cinta masih tak mengerti dengan situasi ini. Makanan yang ada didepannya sama sekali belum ia sentuh.
Seorang perawat datang ke kamar Cinta unuk memeriksa kondisi Cinta.
"Kondisi Mbak Cinta sudah baik. Sudah boleh pulang hari ini."
"Suster, saya mau nanya sesuatu---"
"Apa?"
"Orang yang membawa saya ke rumah sakit, apakah orang ini?" Cinta menunjukkan sebuah foto di ponselnya.
"Umm, saya gak yakin sih, Mbak. Tapi kayaknya iya. Ooh, saya ingat. Teman saya mengambil gambar Mas-mas yang membawa mbak kesini, karena waktu itu suasana heboh melihat mas tampan itu. Benar, Mbak. Itu memang orangnya! Bukankah dia tadi sedang mengurus administrasi? Kenapa mbak Cinta menanyakan ini?"
"Gak apa suster. Makasih ya." Cinta menghela nafas.
Bodoh sekali! Untuk apa aku bertanya pada perawat itu? Wajah Lucka dan Kak Lucki kan sama, tentu saja mereka tidak tahu kalau mereka kembar.
...***...
Lucki dan Inah sangat syok karena tak mendapati Cinta ada dikamarnya. Ia masih belum pulih benar, dan sekarang tiba-tiba menghilang.
__ADS_1
Lucki meyakinkan Inah kalau dia akan menemukan Cinta. Lucki memutuskan untuk mengantarkan Inah ke rumah lebih dulu sebelum mencari Cinta.
Aku yakin Cinta pasti menemui Lucka. Cinta tahu kalau bukan aku yang sudah menolongnya, tapi Lucka---
Lucki menghela nafas dan kembali mengingat kejadian malam tadi saat ia bertemu Lucka.
#
#
#
Flashback ke beberapa jam yang lalu...
Lucki segera menuju ke rumah sakit saat tahu Cinta dilarikan kesana. Lucka lah yang memberitahunya.
Dan saat Lucki sampai di area parkir rumah sakit, Ia bertemu Lucka.
"Apa yang terjadi, Lucka? Cinta mengirimiku pesan kalau ia ingin membuatkan makanan untukmu dan akan pulang terlambat. Kenapa dia malah ada di rumah sakit?" Jelas Lucki panjang lebar.
"Apa?" Lucka terhenyak mendengar penjelasan Lucki.
Tubuhnya ikut merasa lemas setelah mengetahui kalau Cinta celaka karena dia.
"Lucka? Kamu gak apa-apa?"
"Kak, aku ingin minta tolong padamu---"
"Minta tolong apa?"
"Memangnya kenapa?"
"Aku mohon, kak. Aku tidak bisa menjelaskan alasannya."
Wajah memelas Lucka membuat Lucki menganggukkan kepala.
Lucki segera bergegas menuju ruang IGD dimana Cinta masih terbaring disana.
Perawat yang tadi menangani Cinta tak sengaja bertemu Lucki dan memberitahu keluarga Cinta kalau Luckilah orang yang sudah membawa Cinta ke rumah sakit.
Ibu Inah langsung berterimakasih kepada Lucki. Ia sangat bersyukur kalau putrinya masih bisa selamat.
Lucki hanya membalas dengan senyuman hambar, dan mencoba mencari jawaban kenapa Lucka sampai melakukan ini.
#
#
#
Dan pagi ini semua sudah terjawab. Lucka ingin memberi kesempatan pada Lucki agar bisa mendapatkan hati Cinta. Tapi semua tetap percuma. Karena hati Cinta hanya tertuju pada Lucka.
Lucki tak bisa konsentrasi mengendarai mobilnya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana nanti bila bertemu Cinta. Ia sudah berbohong padanya.
Semua yang ia lakukan terasa tak berguna lagi. Cinta tak akan pernah bisa jadi miliknya.
__ADS_1
"Nak Lucki, maaf ya kalau Cinta merepotkan Nak Lucki---" Ibu Inah membuka pembicaraan.
"Gak apa, Bu. Saya tidak merasa terbebani kok." Jawab Lucki santai. Meski didalam hatinya sedang bergemuruh.
...***...
Cinta berlarian di kantor JB Group untuk mencari keberadaan Lucka. Penampakannya cukup kacau dengan hanya memakai sandal jepit dan piyama tidur yang tadi masih dipakainya saat dirumah sakit. Ia tak punya waktu untuk mengganti baju karena ia harus segera menemui Lucka.
Cinta mencari-cari keberadaan Lucka dengan berurai air mata. Cinta sangat sedih karena Lucka tiba-tiba pergi dari rumah sakit dan malah menjadikan Lucki sebagai penolongnya. Cinta tak habis pikir kenapa Lucka melakukan itu.
Cinta langsung mengetahui kebenarannya hanya dengan melihat ekspresi wajah Lucki yang seakan terpaksa di jadikan dewa penolong untuk Cinta.
Setelah berlarian kesana kemari, akhirnya Cinta menemukan Lucka yang sedang berjalan bersama beberapa orang menuju ruang meeting. Cinta berlari sekuat tenaga menuju Lucka.
"LUCKA!"
Cinta berteriak memanggil nama Lucka. Sontak semua orang menoleh ke arah Cinta yang berteriak sambil berlari.
Cinta mengatur nafasnya yang memburu. Ia sudah berhadapan dengan Lucka sekarang. Tommy ingin menghalangi Cinta karena tak enak hati dengan klien namun Lucka mencegahnya.
"Haaah! Haaaah! Lucka..." Cinta terengah dan mengatur napas sambil memanggil nama Lucka.
Lucka memalingkan wajahnya dan tak menatap Cinta.
Cinta meraih tangan Lucka. "Aku tahu kamu lah yang sudah menolongku. Bukan kak Lucki. Kenapa kamu tiba-tiba----"
"Saya tidak tahu apa yang kamu bicarakan. Saya ada rapat penting bersama para klien. Tolong menyingkirlah!" Potong Lucka sambil melepaskan tangannya dari tangan Cinta.
Cinta tak percaya kalau Lucka akan mengatakan hal buruk padanya.
Lucka sengaja melewati Cinta dan menabrak tubuhnya hingga terhuyung. Cinta menatap Lucka dengan air mata yang mengalir deras.
"Lucka!" Cinta akan mengejar Lucka namun di hadang oleh Tommy.
"Hentikan, Cinta! Jangan seperti ini!"
"Lepasin aku, Tom! Aku harus menemui Lucka. Dia harus jelaskan semuanya padaku!"
"Dengarkan aku, Cinta! Lucka sedang sibuk. Jangan menemuinya sekarang! Tolong mengertilah!"
Cinta jatuh terduduk dan tak berhenti menangis. Tommy merasa iba dengan Cinta. Tapi apa boleh buat, saat ini ada klien penting dan Tommy tak bisa membantu Cinta.
"Maafkan aku, Cinta! Aku tak bisa menolongmu---" Tommy meninggalkan Cinta dan menyusul langkah Lucka beserta para klien penting JB Group.
Cinta menangis terisak dengan memandangi Lucka yang semakin jauh dari pandangannya.
Cinta menundukkan wajahnya dan terus terisak. Hatinya kembali hancur. Dan itu karena satu orang. Sama seperti setahun lalu.
Dan hanya satu nama yang kembali menyakitinya. Lucka...
Nama yang selalu tersemat di hati Cinta. Tapi nama itu selalu menyakitinya.
Lucka...
Dan nama itu kembali membuat luka dihati Cinta...
__ADS_1