Lu[C]Ka Cinta

Lu[C]Ka Cinta
43. SANG MANTAN


__ADS_3

Di tengah perjalanan menuju kantor, ponsel Lucka berdering. Sebuah panggilan dari Tommy.


"Iya, Tom."


"Kamu dimana?"


"Ini aku lagi dijalan. Sebentar lagi sampai kantor."


"Baiklah. Aku tunggu!"


Sesampainya di gedung Arina Rayyan Company, Lucka meregangkan otot-ototnya lebih dulu sebelum masuk kedalam kantor.


Tentu saja ia lelah. Sedari pagi ia mengurus pekerjaan di kantor, dan sore hari ia mengikuti kelas memasak, lalu malam hari harus kembali lagi ke kantor.


Lucka berjalan cepat menuju lantai tiga. Tommy sudah menunggunya di ruang rapat. Sudah ada beberapa staff disana.


"Bagaimana?" tanya Lucka.


"Semua sudah berjalan lancar, Pak. Dan kontraknya juga sudah di tanda tangani."


"Bagus. Semoga ini jadi awal yang baik untuk Arina Rayyan Company."


Tommy membisikkan sesuatu pada Lucka.


"Benarkah? Jadi Brand Ambassador kita sudah ada disini? Saya yakin kalian pasti mencari yang terbaik."


"Tentu saja, Pak. Kami tidak akan mengecewakan Pak Lucka." Balas Jeremy.


Rapat singkat itu sudah berakhir dan Lucka kembali meninjau soal Brand Ambassador yang akan mempromosikan perusahaan barunya itu.


Tommy mengantarkan Lucka untuk bertemu langsung dengan sang BA yang sedang melakukan photoshoot.


Lampu-lampu sorot yang sangat terang membuat Lucka tak begitu jelas melihat sang BA yang dikabarkan adalah model ternama.

__ADS_1


Begitu photoshoot selesai dan semua staff saling bersalaman, sang Brand Ambassador menghampiri Lucka dengan tersenyum manis.


"Apa kabar, Lucka? Lama tidak bertemu," ucap sang model dengan mengulurkan tangannya ke arah Lucka.


Lucka masih terdiam tak percaya dengan yang dilihatnya. Tangannya mengepal kuat.


"Sally?! Apa yang kamu lakukan disini? Tommy! Inikah yang kamu sebut dengan yang terbaik?" Lucka mulai emosi.


"Tenang dulu, Lucka. Jangan marah!" Tommy menenangkan Lucka.


"Lucka, jangan salah sangka. Aku disini untuk bekerja. Dan pihakmu sudah menyetujui untuk mengontrakku sebagai Brand Ambassador kalian." Sally ikut menjawab.


"Aku jamin itu!" Imbuh Tommy.


"Kalau kamu gak percaya, kamu bisa tanya manajerku. Jo!!" Panggil Sally pada manajernya.


"Benar sekali, Tuan Lucka. Anda jangan khawatir. Sally disini hanya bekerja. Dan dia tidak akan mengganggu kehidupan pribadi anda. Saya jamin itu!!"


Lucka tak bisa berkata apapun lagi dan memilih mengalah.


#


#


"Aku tahu aku salah. Aku minta maaf. Tapi aku tahu kalau dia profesional dalam bekerja."


"Kapan dia kembali ke Indonesia? Kenapa tiba-tiba dia sudah ada disini?"


"Yang aku dengar sekitar seminggu yang lalu. Dan pihak perusahaan langsung menghubungi dia. Lucka, Sally itu model papan atas. Dan dia dari luar negeri. Itu sangat bagus untuk prospek kedepannya perusahaan kita. Kamu tenang saja! Sudah kupastikan Sally tidak akan melakukan hal diluar pekerjaan."


"Ya sudahlah. Aku percaya denganmu. Tapi yang jelas, Aku gak mau dia kembali merusak hubunganku dan Cinta."


Lucka memijat keningnya pelan.

__ADS_1


...***...


Suasana kelas memasak kembali gaduh karena Lucka mengalirkan suasana ceria kedalam kelas. Lucka bercanda tawa bersama murid lainnya di sela-sela memasak.


Cinta melihat ada hal yang berbeda dari Lucka. Cinta tersenyum sendiri kala melibat ibu-ibu sangat senang mendengar candaan Lucka.


"Kakek benar. Kamu sudah berubah, Lucka. Meski begitu, hubungan kita juga sudah berubah. Senang bisa melihatmu tertawa seperti itu. Semoga kamu selalu bahagia, Lucka."


Tak terasa sudah pukul lima sore, dan kelas sudah berakhir. Cinta membersihkan meja dan merapikan alat-alat masak. Lucka menawarkan diri untuk membantu Cinta, dan Cinta menyetujuinya.


Lambat laun, Cinta mulai merasa nyaman berada di dekat Lucka. Tapi ia berusaha menutupi perasaannya yang sebenarnya terhadap Lucka.


"Bukankah kamu harus kembali ke kantor?" tanya Cinta berbasa-basi.


"Iya. Setelah ini aku harus kembali kesana. Masih ada beberapa pekerjaan yang belum kuselesaikan."


"Kenapa memilih mengikuti kelas memasak kalau kamu sangat sibuk?" tanya Cinta penasaran.


"Ada beberapa hal yang harus diprioritaskan, Chef. Dan aku rasa, menjadi bagian dari tempat ini merupakan prioritas juga untukku."


Cinta tersenyum simpul.


"Sudah selesai semua, Chef. Oh ya, aku ingin minta maaf soal waktu itu. Aku rasa aku bicara tidak sopan padamu dan Chef Juna."


"Tidak apa. Aku sudah melupakannya."


Lucka berpamitan pada Cinta. Cinta melihat Lucka nampak berjalan terhuyung. Cinta menghampiri Lucka.


"Lucka, kamu gak apa-apa? Apa kamu sakit?"


"Gak apa kok, Chef. Mungkin aku hanya kelelahan saja."


BRUK!

__ADS_1


Tubuh Lucka ambruk di depan Cinta. Cinta memanggil-manggil nama Lucka namun tak ada jawaban. Lucka tak sadarkan diri.


__ADS_2