Lu[C]Ka Cinta

Lu[C]Ka Cinta
52. UNDANGAN PERNIKAHAN


__ADS_3

Pagi ini Cinta sedang memasak sarapan untuk dirinya dan Inah. Bau harum lezat menyengat memasuki indera penciuman Inah.


"Hmm, kamu masak apa, Nduk?"


"Oh ini, Bu. Aku lagi nyoba masak makanan western. Masih belum terlalu ahli sih. Tapi, kurasa rasanya enak. Ibu cobain deh!"


Cinta meminta Inah untuk mencoba masakan menu terbarunya.


"Selama ini aku hanya bisa masak masakan Indonesia saja. Jadi, aku ingin mencoba hal lain, Bu."


"Hmm, lumayan sih. Tapi masakan lokal juga ndak kalah enak, Nduk. Kamu kan ahli dalam masakan lokal. Sebaiknya kamu poles lagi saja keahlianmu agar lebih matang. Jangan malah mencoba yang lain-lain. Lagipula warung makan ibu itu hanya warung nasi biasa, gak cocok kalau harus di kasih menu makanan barat-barat gitu, Nduk."


Cinta terkekeh. "Iya, Bu. Ini kan namanya hanya mencoba saja. Ibu mau sarapan bareng aku?"


"Sudah siang, Nduk. Ibu sarapan di warung saja. Kasihan Tati menunggu di warung sendiri. Oh ya, gimana hubunganmu dengan Nak Lucka?"


Cinta menghela napas. "Gak tahu, Bu."


"Loh? Kok gak tahu?"


"Dia selalu berbuat semaunya sendiri. Banyak sekali aturan yang harus kupenuhi."


Inah yang sedang merapikan barang bawaannya segera menghampiri sang putri.


"Nduk, dari awal kan kamu sudah tahu jika keluarga Bahari itu bukan keluarga sembarangan. Tiga tahun lalu kamu juga mengikuti aturan disana kan? Lagipula, jika nak Lucka banyak mengatur, itu artinya dia pria yang perhatian. Dia gak mau kamu sampai kenapa-napa. Makanya dia memastikan semuanya dengan baik."


"Bu, perhatian dan posesif itu berbeda! Tapi dia lebih mengarah ke posesif. Dan aku gak suka!"


Inah menggeleng pelan. "Ya sudah lah. Ibu gak akan ikut campur. Kalian selesaikan sendiri masalah kalian! Ibu berangkat dulu ya ke warung." pamit Inah.


Cinta mengangguk. Ia kembali menatap makanan hasil karyanya yang ia pelajari dari Chef Marko.


Cinta menyendok satu demi satu. "Emh, lumayan kok. Ya meski masih kalah dengan buatan chef Marko. Setidaknya aku berani mencoba, hehe."


Ketika sedang menikmati sarapannya, ponsel Cinta berdering. Sebuah panggilan dari Lala. Mata Cinta berbinar. Sudah lama sekali ia tak mendengar kabar sahabatnya yang satu ini.


"Halo, La..."


"Kyaaa! Cinta! Apa kabar?"


"Baik, La. Lo sendiri gimana?"


"Baik juga, Ta. Oh ya, hari ini lo sibuk gak?"


"Emh, gak sih. Kenapa emang?"


"Ketemuan yuk! Udah lama banget kan kita gak ngerumpi bareng!"


"Oke! Kita ketemu dimana?"


"Di kafe dekat kampus aja. Gue lagi ngurus persiapan wisuda."


"Oke! Bye, La."


Cinta tersenyum simpul setelah bicara sebentar dengan Lala. Ia melanjutkan sarapan paginya kemudian akan bersiap untuk menemui Lala.


Cinta menimang-nimang apakah ia harus mengatakan ini pada Lucka atau tidak. Setelah perdebatan kemarin, baik Cinta maupun Lucka tidak ada yang menghubungi lebih dulu. Mereka sama-sama mempertahankan ego masing-masing.


Cinta meletakkan ponselnya dan kembali menyantap sarapannya hingga tandas. Cinta rasa mereka masih sama sama punya kebebasan. Dan ia juga tidak suka dengan pria yang terlalu posesif.

__ADS_1


Di tempat berbeda, Lucka uring-uringan karena sejak kemarin Cinta tidak mengirim pesan padanya. Bahkan menghubunginya pun tidak.


Tommy yang melihat tuannya kalang kabut hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Kenapa bukan kamu saja yang hubungi Cinta dulu?" usul Tommy.


"Malas ah! Nanti dia kegeeran lagi!"


"Kalau begini terus tidak akan ada jalan keluarnya, Lucka."


Lucka terdiam. Ia menatap layar ponselnya. Benarkah dirinya telah melewati batas?


Lucka menghubungi seseorang.


"Halo...!"


"........"


"Tolong kau awasi Cinta! Kemanapun dia pergi, segera laporkan padaku!"


"......."


Tommy mengernyit bingung. "Kamu nelpon siapa?"


"Mata-mata. Aku perintahkan dia untuk mengawasi Cinta."


"Astaga! Aku tidak akan ikut canpur jika Cinta kembali marah padamu!" Tommy melenggang pergi membiarkan Lucka sendiri.


#


#


#


Cinta mendesah pelan. Semua tentang Lucka hanya berisi perdebatan saja. Baik dulu maupun sekarang, rasanya masih berjalan sulit untuk mereka berdua.


"Cinta!" seru Lala dari kejauhan. Sifat heboh Lala nyatanya tidak berubah sama sekali.


"Hei, La." Cinta menyambut kedatangan Lala dan memeluknya.


"Huft! Akhirnya gue lulus juga!"


"Selamat ya, La. Jadi, setelah ini mau fokus cari jodoh nih?"


"Dih, ya gak lah, Ta. Gue masih pengen menikmati hidup. Eh lo sendiri gimana? Masih sama chef Juna?"


Cinta menggeleng.


"What? Serius lo?"


"Iya! Ngapaen juga gue bohong!"


"Kenapa? Apa karena Lucka?"


Cinta terdiam. Semua yang diucapkan Lala adalah hal benar.


"Baiklah, gue gak akan bahas itu lagi. Oke, Ta?"


Cinta mengangguk. "Terserah lo aja dah La!"

__ADS_1


"Oh ya, gue tuh ngajakin lo ketemuan karena ada yang kasih undangan buat lo." Lala menyerahkan sebuah undangan kepada Cinta.


"Undangan pernikahan?" Dahi Cinta berkerut.


"Ini..." Cinta menggantung kalimatnya.


"Iya, itu undangan pernikahannya kak Reno." jelas Lala.


"Wah, aku gak nyangka dia akan menikah."


"Padahal dulu dia ngejar-ngejar lo terus tuh!" Lala terkekeh kala mengingat masa itu.


Cinta tidak mendengarkan omong kosong Lala dan membaca undangan pemberian Reno.


"Pernikahannya dua hari lagi. La, nanti berangkat bareng ya!"


"Lah, emang lo gak sama siapa-siapa?" tanya Lala heran.


Cinta hanya menjawab dengan sebuah senyuman. Lala terus mendesak Cinta agar memceritakan kisah hidupnya selama mereka tidak bertemu.


#


#


#


Malam harinya, Cinta mendatangi rumah keluarga Bahari dan memasak makan malam untuk keluarga itu. Dengan dibantu Chef Marko, Cinta berhasil menyiapkan hidangan lezat umtuk makan malam ini.


Tak lama sosok Lucka kembali dari kantor dan melihat Cinta yang baru selesai menata meja makan. Sejenak waktu serasa berlalu dengan cepat.


Mata Lucka dan Cinta saling pandang hingga membuat atmosferi disekitarnya ikut berubah.


"Kamu datang?" ucap Lucka.


"Hmm, aku sengaja datang untuk bertemu denganmu."


"Benarkah? Kalau begitu mari bicara!" Dengan semangat membara, Lucka menarik tangan Cinta namun gadis itu menepisnya.


"Lihatlah! Nenek dan kak Lucki sedang menuju kemari! Kita bicara setelah makan malam saja!"


...***...


Makan malam pun telah usai, Cinta memutuskan untuk bicara dengan Lucka.


"Ini!" Cinta menyerahkan undangan pernikahan Reno pada Lucka.


"Apa ini? Undangan pernikahan?"


"Oh aku pikir kamu sudah tahu." cibir Cinta.


"Hahahaha. Aku memang sudah tahu. Ini adalah undangan pernikahan Reno kan? Baiklah, aku hargai kejujuranmu."


Cinta menatap jengah.


"Kita akan berangkat bersama. Kemanapun kamu pergi, aku akan selalu ada disisimu."


Cinta akhirnya diam. Sungguh ia tak ingin berdebat di suasana syahdu seperti malam ini. Ia memilih menuju taman dan menikmati pemandangan bunga-bunga yang sedang mekar.


Lucka memetik satu bunga untuk ia berikan Kepada Cinta. Gadis itu menerima dengan mengucap terima kasih.

__ADS_1


"Berdamailah denganku, Cinta..."


__ADS_2