Lu[C]Ka Cinta

Lu[C]Ka Cinta
30. BERTEMU LAGI (1)


__ADS_3

"Cinta!"


Sebuah suara yang tak asing di telinga Cinta berhasil membuatnya mematung.


Itu adalah suara Lucka. Lucka ada dihadapan Cinta sekarang. Mata Cinta membulat sempurna dan menatap Lucka. Mereka saling adu pandang namun tak ada satupun yang bicara.


Jantung Cinta berdegup kencang, namun berusaha ia tutupi. Sosok yang ia rindukan tiba-tiba muncul dihadapannya. Sosok yang tak ingin ia temui, namun akhirnya ia temui juga meski secara kebetulan.


Status mereka kini sudah berbeda. Cinta menyadari dirinya sekarang hanyalah karyawan magang. Dan Lucka, dia adalah pemilik perusahaan.


Cinta membungkukkan badan menyalami Lucka dan berjalan melewatinya. Cinta kembali menuju dapur dengan memegangi dadanya yang terasa sesak.


...***...


Pukul tiga sore Cinta bersiap untuk pulang ke rumah. Magang hari pertamanya berakhir sampai disini.


"Untuk hari ini, yang akan kebagian shift malam hari ini adalah Erlina, Andi, dan Rizki. Karena jumlah murid wanita hanya ada lima, maka setiap hari akan ada satu murid wanita yang kebagian shift malam, dan dua sisanya adalah murid pria. Kalian mengerti?" jelas Andreas.


"Iya, Chef."


"Bersemangatlah! Masih ada empat hari lagi di minggu pertama magang kalian. Aku yakin ini akan jadi minggu yang menakjubkan untuk kalian. Untuk yang shift malam, silahkan kalian bersiap-siap. Shift kalian berakhir sampai pukul delapan malam. Dan yang lainnya, kalian bisa pulang. Terima kasih atas kerja sama kalian hari ini. Sampai bertemu besok pagi."


"Terima kasih, Chef," jawab mereka kompak.


Cinta berpamitan pada Erlina. Selama di akademi, Cinta paling dekat dengan dia. Cinta melangkah perlahan menyusuri gedung JB Group. Kenangan akan tempat ini mulai merasuki pikirannya.


Dalam langkah gontainya, Cinta dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang ternyata menunggunya di lobby gedung.

__ADS_1


"Cinta!" Orang itu menyapa dengan mengembangkan senyumnya.


"Kak Lucki?" Cinta mengerutkan keningnya tak percaya.


"Aku kesini untuk menjemputmu. Ayo pulang bersama. Aku ingin membawamu ke tempat kakek Gerald. Ia sedang sakit."


"Eh? Kakek Gerald sakit?"


"Kamu bisa ikut kan?"


Cinta menimang-nimang apakah akan ikut dengan Lucki atau tidak.


"Baiklah. Aku ikut dengan kakak."


Cinta berjalan beriringan dengan Lucki. Beberapa karyawan menyapa Lucki dan beberapa juga berbisik-bisik. Kantor masih ramai karena belum waktunya jam pulang.


Apa maksudnya senyum itu? Cinta bertanya dalam hati.


Mobil Lucki terparkir di depan gedung. Ia membukakan pintu mobil untuk Cinta. Dan setelahnya mobil Lucka sudah meninggalkan halaman gedung JB Group.


"Bagaimana hari pertama magang?"


"Kakak tahu dari mana kalau aku magang di JB Group?"


"Dari ibu kamu. Tadi aku sempat ke rumah kamu, tapi katanya kamu udah mulai magang hari ini."


Cinta hanya bisa ber 'oh' ria.

__ADS_1


"Jadi gimana? Hari pertama magang?" Lucki mengulangi pertanyaannya.


"Mmm, begitulah. Lumayan sibuk dan untungnya hari ini aku gak masuk shift malam. Tapi bakalan dapat giliran juga sih."


"Syukurlah! Semoga kamu betah ya." Lucki mengacak rambut Cinta pelan.


Cinta tersenyum canggung saat diperlakukan seperti itu oleh Lucki. Ingatannya kembali pada Lucka yang sering mengacak rambutnya ketika dirinya bermanja-manja padanya.


Hening kembali terjadi, dan Lucki fokus dengan jalanan di depan mereka. Ponsel Lucki berdering. Dengan cepat ia pasang earphone dan menjawab panggilan yang ternyata dari kantor kakeknya.


Cinta berusaha mencerna pembicaraan Lucki dengan si penelepon. Dari yang Cinta tangkap, sepertinya terjadi sesuatu.


"Ada apa, Kak?" Tanya Cinta sesaat setelah Lucki mengakhiri panggilan.


"Cinta, aku harus balik ke kampus dulu. Gak apa kan kalau kita ke kampus dulu? Ada yang harus kuurus untuk menggantikan kakek."


"Iya, gak apa kak."


Sesampainya di kampus, Lucki pergi ke kantor kakeknya dan Cinta menunggu di taman kampus sambil duduk santai memandangi para mahasiswa yang lalu lalang. Semua hal nampak berubah. Padahal baru setahun lalu ia pernah datang kemari bersama Lucki. Dan terjadi insiden tak menyenangkan yang membuatnya bertengkar dengan Lucka.


Ya ampun, Cinta! Kenapa otakmu tak bisa berhenti memikirkan Lucka?


Cinta tak bisa berhenti merutuki dirinya sendiri. Ia merasa sangat tak berdaya bila menyangkut tentang Lucka. Sudah setahun ini ia tak memikirkan soal pria itu. Namun keberadaanya di JB Group membangkitkan kenangan masa setahun lalu itu.


"Cinta!"


Sebuah suara lagi-lagi membuyarkan lamunannya. Akhir-akhir ini Cinta terlalu banyak melamun.

__ADS_1


"Eh?" Cinta menoleh. Dan ia terkejut melihat siapa yang telah memanggil namanya.


__ADS_2