![Lu[C]Ka Cinta](https://asset.asean.biz.id/lu-c-ka-cinta.webp)
Setelah kepergian Lucki, keakraban antara Cinta dan Lucka mulai terjalin. Lucka mulai beradaptasi dengan kegiatan rutin Cinta.
Tiap pagi, Lucka ikut membantu mengurus taman. Menyiram, dan memberi pupuk. Awalnya Lucka ragu karena pupuk tanaman berbau tak sedap. Namun sudah dua hari ini, Lucka mampu melakukan semuanya dengan baik.
Usai mengurus taman, Lucka dan Cinta menuju ke dapur milik Cinta. Lucka membantu Cinta menyiapkan bahan-bahan untuk memasak sarapan. Seperti biasa Cinta akan memasak nasi goreng.
Cinta meminta Lucka untuk mengupas bawang. Namun baru sebentar Lucka menyerah karena matanya terasa pedih dan berair.
Dengan penuh rasa sayang, Cinta meniup mata Lucka yang memerah.
"Apa tidak bisa ya mengupas bawang tanpa harus menangis?" tanya Lucka yang merasa tersiksa.
"Tidak juga. Tidak selalu saat mengupas bawang, kita menangis. Kamu cuma belum terbiasa saja. Nanti lama-lama juga tidak pedih," balas Cinta.
"Setelah ini apa lagi?"
"Mau dikasih topping apa nasi gorengmu?" tanya Cinta.
"Hmm, apa yah? Bagaimana kalau seafood? Lalu, sosis, bakso dan telor."
Cinta terkekeh. "Lengkap amat. Kalau begitu siapkan semua bahannya! Kamu potong-potong cumi-cuminya. Dan iris sosis juga baksonya."
Dengan telaten Cinta mengajari Lucka cara menggunakan pisau yang benar. Selama ini Lucka tak pernah tahu urusan dapur. Ia hanya tahu makannya saja.
"Sudah siap semua?" tanya Cinta.
"Iya. Lalu apa lagi?"
Cinta mengambil sesuatu dari dalam lemari.
Lucka mengerutkan dahi. "Apa itu?"
"Kamu tidak tahu ini apa?" tanya Cinta heran.
Lucka menggeleng.
"Ini namanya cobek dan ulekan. Mereka adalah pasangan yang tak dapat dipisahkan. Di daerahku yang ini di sebut 'layah', dan yang ini di sebut 'uleg-uleg'."
"Nama yang aneh. Lalu, bagaimana cara pakainya?" Lucka mengernyit.
"Begini---"
Cinta memberi contoh bagaimana cara menghaluskan dan mengulek bumbu menggunakan cobek dan ulekan.
"Ayo teruskan!" titah Cinta.
"Hah? Aku?"
"Iya. Lanjutkan mengulek seperti yang aku contohkan tadi."
Lucka mulai mengulek perlahan.
"Kenapa tidak pakai blender saja? Kan akan lebih praktis."
"No! Hasil akhir ulekan dan blender sangatlah berbeda. Kamu akan tahu nanti. Makanan akan lebih enak saat bumbunya di ulek dengan cobek."
"Terserah kamu saja!"
Cinta tak melanjutkan perdebatannya dengan Lucka. Itu hanya akan membuat acara memasak mereka makin memakan waktu lama.
Setelah mengulek semua bumbu, Cinta meminta Lucka untuk menyalakan kompor dan bersiap untuk eksekusi terakhir.
"Beri sedikit minyak. Tunggu sampai panas dulu, lalu baru kamu masukkan semua bumbu tadi."
"Iya. Aku tahu." Jawab Lucka pamer.
__ADS_1
Cinta memajukan bibirnya. "Sok tahu!" Gumamnya.
Aroma dari bumbu yang dimasukkan Lucka kedalam penggorengan mulai terasa.
"Hmm, harum sekali. Sepertinya enak."
"Ya iyalah. Nyatanya kamu ketagihan kan sama masakan aku?"
"Dih, jangan kepedean. Hachiiiiihh! Hachiiiiihhhh."
"Kamu kenapa?" tanya Cinta sedikit panik.
"Ini nih, bumbu kamu baunya menyengat hidung. Bikin aku .... hachhiiiihhh! Hachiiiiihh!"
"Hahahaha, kalo kata ibuku, ini namanya 'nyegrak' atau menyengat."
"Haciiiiiiihhhh! Haciiiiiiiihhhh!"
"Ya sudah, kamu duduk saja sana. Biar aku yang lanjutkan."
Cinta mendorong tubuh Lucka menjauh dari dapur. Lucka duduk di kursi meja makan sambil menunggu Cinta selesai memasak.
Beberapa menit kemudian, nasi goreng ala Cinta dan Lucka sudah siap disantap. Lucka tak sabar untuk melahap makanan yang ada didepannya.
"Baca doa dulu dong!" Lerai Cinta diiringi senyum manisnya.
"Iya, bawel!"
"Ibu bilang jika kita berdoa di depan makanan, semoga makanan yang kita makan bisa jadi berkah."
"Begitu ya? Baiklah."
Lucka dan Cinta memejamkan mata dan mulai berdoa.
Lucka membuka matanya dan melihat Cinta masih memejamkan mata.
"Iya. Aku tidak hanya berdoa untuk keberkahan makanan, tapi juga untuk kita."
"Kita?" Lucka mengerutkan kening.
"Hu'um. Aku ingin kita benar-benar seperti cobek dan ulekan. Jadi pasangan yang tidak terpisahkan, hehe."
"Kita ini kan manusia, kenapa disamakan dengan cobek sih?"
"Hehe, itu hanya perumpamaan, Lucka. Romantis dikit kenapa sih?"
"Terserah deh. Aku mau makan, lapar!"
Dan Cinta tertawa kecil melihat Lucka yang makan dengan lahap seperti anak kecil.
...***...
Hari ini Lucka pulang kantor lebih awal dan memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan kantor di perpustakaan.
Cinta yang mendapat tugas dari Ibu Rini juga menuju ke perpustakaan.
"Lho? Lucka? Kamu ada disini juga?"
"Hmm---" jawab Lucka sambil tetap menatap layar notebooknya.
Cinta mendecih melihat Lucka yang seperti biasa, tanpa respon, tanpa ekspresi.
"Apa aku boleh bergabung disini?" Tanya Cinta lagi.
"Hmm---" Jawab Lucka masih tanpa ada tatapan.
__ADS_1
"Sepertinya kamu gak mau di ganggu. Ya sudah aku pergi saja."
"Tunggu!" Tahan Lucka dengan meraih tangan Cinta.
"Belajarlah saja disini. Temani aku!"
Ada secercah senyum kebahagiaan di wajah Cinta yang kemudian duduk didekat Lucka. Cinta tak mau mengganggu pekerjaan Lucka namun ia penasaran kenapa Lucka pulang cepat hari ini.
"Umm, Lucka. aku boleh tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Kenapa kamu pulang cepat hari ini?"
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin mengerjakan pekerjaanku dirumah."
"Ooh, begitu. Aku pikir karena ingin bertemu denganku." Goda Cinta.
"Jangan berpikir macam-macam, kerjakan saja tugasmu!" Jawab Lucka galak.
"Iya-iya, baiklah Tuan Lucka."
Lucka melirik sinis ke arah Cinta. Cinta membalasnya dengan tersenyum manis.
.
.
.
Sore sudah mulai berganti malam,
Lucka dan Cinta masih berada di perpustakaan mengerjakan tugas masing-masing. Sudah tak terdengar lagi suara Cinta yang sedari tadi memenuhi ruang perpustakaan. Suasana terasa sunyi.
Lucka melirik ke arah Cinta, kemudian tertawa kecil. Cinta sudah menjelajah ke alam mimpi rupanya. Dilihatnya wajah Cinta yang sedang tertidur.
Dia pasti kelelahan. Sampai ketiduran gitu!
Lucka menyelesaikan pekerjaannya kemudian mengangkat tubuh Cinta dan membawanya keluar perpustakaan menuju kamarnya.
Lucka masih memandangi Cinta yang terpejam. Ia merasakan ada desiran aneh di dadanya.
Kenapa jantungku jadi berdegup kencang begini? Apa aku? Jangan-jangan aku benar mulai menyukai gadis ini---
Lucka mendekatkan wajahnya ke arah Cinta yang masih terlelap.
Mungkin benar aku mulai menyukaimu---
Jarak diantara mereka semakin dekat dan tanpa sekat.
"Lucka! Apa yang kamu lakukan?" Mata Cinta bertemu dengan mata Lucka.
Detak jantung Lucka makin berdegup semakin kencang. Ia tak tahu harus berbuat apa karena sudah 'tercyduk' akan mencium Cinta. Wajahnya sudah berubah seperti kepiting rebus. Lucka tak mampu lagi menutupi rasa malunya.
Dan iapun bergegas pergi dari kamar Cinta dengan menutupi wajahnya.
Cinta mulai membuka matanya sempurna dan berpikir apa yang tadi akan dilakukan oleh Lucka?
Jangan-jangan dia...?
Cinta tersenyum geli memikirkan apa yang akan Lucka lakukan padanya.
...©©©©...
Bersambung,,,,
__ADS_1
Ihiiiiiiiiirrrrrr musim semi sudah dimulai....