![Lu[C]Ka Cinta](https://asset.asean.biz.id/lu-c-ka-cinta.webp)
Keesokan harinya, aku terbiasa dengan rutinitasku yang dulu kulakukan disini. Dengan sigap aku segera mengambil peralatan menyiram tanaman. Tak lupa kuberi pupuk agar semua tanaman tumbuh dengan subur. Aku menyapa Edi yang masih setia bekerja di keluarga Bahari.
Pukul enam pagi kulangkahkan kakiku menuju dapur. Dapur itu bukanlah dapur permanen yang berada di dalam ruangan. Aku yakin pasti dapur itu sudah tidak ada lagi sekarang.
Namun aku terkejut mendapati dapur itu masih ada disana. Aku tersenyum haru karena kakek tidak membongkarnya.
Aku melihat seseorang sudah ada disana.
"Lucka?" Aku bergumam sendiri.
Apa ini nyata? Lucka sedang memasak disana. Tidak sia-sia dia ikut kelas memasak. Aku menghampirinya. Aku merasa ada yang aneh dengannya. Semalam dia masih terlihat sangat sedih. Tapi sekarang dia sudah ceria dan malah memasak.
"Lucka, apa yang kamu lakukan?"
"Aku? Sedang memasak lah. Emang kamu gak lihat aku sedang apa?"
"Aku tahu. Tapi kamu kan masih berduka. Tidak perlu bersusah payah menyiapkan sarapan. Sini biar aku saja yang lanjutkan."
"Tidak perlu. Aku ingin membuatkan sarapan untuk Nenek. Dari kemarin dia belum mau makan."
"Tapi, apa kamu yakin Nenek mau memakan masakanmu?"
"Hei, Chef! Jangan menghina dong! Aku sudah kursus memasak hampir satu bulan. Sini! Silahkan cicipi dulu! Jika tidak enak langsung muntahkan saja!"
Aku mengambil sendok dan mengambil sedikit makanan yang Lucka masak. Dia memasak nasi goreng.
"Hmmm, rasanya lumayan. Kerja yang bagus, Lucka!" Aku meringis.
"Aku menggunakan cobek dan ulekan untuk membuat bumbunya. Sama seperti yang pernah kamu lakukan."
"Eh?"
"Kamu ingat? Dulu kamu bilang, ingin jadi seperti cobek dan ulekan yang tidak akan pernah terpisahkan. Tapi kenapa sekarang kita malah terpisah?" ucap Lucka terlihat sendu.
"Lucka---"
"Cinta, bisakah kita kembali seperti dulu? Bisakah kita seperti cobek dan ulekan yang tak akan terpisahkan?"
Aku menatap Lucka dalam. Mencari kebenaran dari apa yang dia katakan.
"Tidak perlu menjawabnya sekarang. Aku akan mengantarkan ini ke kamar Nenek. Lalu, kita akan sarapan bersama."
Lucka, aku tidak tahu bagaimana perasaanku sekarang. Tapi bersama denganmu seperti ini membuatku sangat bahagia.
#
#
Pukul tujuh pagi kami mulai sarapan. Aku dan Lucka duduk berhadapan. Kami saling mencuri pandang sesekali. Aku tersipu malu saat dia terus memandangku.
"Ada apaan sih? Apa ada yang aneh dengan wajahku?" tanyaku asal.
__ADS_1
"Tidak. Hanya saja kamu sangat cantik."
Ya Tuhan! Kenapa dia mengatakan hal seperti ini?
"Kamu sudah jadi wanita dewasa sekarang."
"Terima kasih." Ucapku sambil mengulas senyum.
"Selamat pagi, Tuan Lucka..."
Aku membulatkan mata melihat siapa tamu yang datang menyapa Lucka.
"Mas Juna? Sudah datang?"
"Apa aku mengganggu acara sarapan kalian?"
"Tidak. Silahkan duduk, Mas!"
"Kamu datang untuk menjemput Cinta?" tanya Lucka dengan sedikit nada kesal.
"Iya. Dia harus mengganti kelas mengajarnya karena kemarin dia ijin." Chef Juna menjawab santai.
Usai sarapan aku segera pergi bersama Mas Juna. Bagaimanapun, aku bukanlah bagian dari keluarga Bahari lagi. Aku menjaga perasaan Mas Juna juga. Dialah yang bersama denganku sekarang, bukan Lucka. Aku berpamitan pada Lucka meski rasanya berat.
Sesampainya di depan rumah, Mas Juna membukakan pintu mobilnya untukku. Dia memang orang yang sangat perhatian.
Sudah beberapa menit aku didalam mobil bersama Mas Juna, namun ia tak jua menghidupkan mesin mobilnya.
"Cinta, ada yang harus kusampaikan padamu."
"Eh? Soal apa?"
"Aku sudah berbohong padamu. Saat itu aku bilang aku tidak mengujimu, itu semua tidak benar. Aku memang sengaja menempatkan Lucka di kelasmu, untuk mengujimu, apakah kamu masih mencintai dia atau tidak. Dan sekarang aku sudah mendapat jawabannya."
Suasana mendadak hening kembali. Aku menatap kedalam manik hitam Mas Juna. Ada kesedihan disana.
"Kamu masih mencintai Lucka..."
Sejenak aku terhenyak dengan kalimat Mas Juna.
"Mas, aku dan Lucka..."
"Kamu yakin kamu sudah melupakannya? Kamu yakin kamu tidak mencintainya lagi? Untuk pertama kalinya, jujurlah pada hatimu sendiri, Cinta. Aku mohon..."
Mas Juna benar. Aku tak bisa berbohong lagi.
"Maafkan aku, Mas..." Air mataku tak dapat lagi kubendung.
Meski tak ada jawaban pasti dariku, ternyata tetap bisa membuat Mas Juna mengerti tentang hatiku.
"Pergilah! Kejarlah kebahagiaanmu, Cinta..."
__ADS_1
Aku membuka pintu mobil dan berlari masuk kedalam rumah. Dengan keberanian yang kupunya saat ini, aku harus mengakui perasaanku pada Lucka.
Aku terus berlari menuju mansion utara. Kuhapus air mataku dengan tangan dan terus berlari.
Itu dia! Itu Lucka! Aku melihatnya.
"Luckaaaaaaaaa!" Aku berteriak.
Lucka berdiri mematung melihatku berlari ke arahnya.
Aku mengatur nafasku setelah aku berhasil berdiri dihadapannya.
"Cinta? Kamu kembali?" tanya Lucka bingung.
"Lucka, aku mencintaimu..."
Dan kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirku. Lucka tersenyum bahagia mendengarnya.
"Aku juga mencintaimu."
Kamipun berpelukan. Sangat erat. Aku sangat merindukanmu, Lucka. Aku tidak mau kehilangan kamu lagi.
"Terima kasih karena sudah mau mengakuinya," ucapnya lirih di telingaku.
...***...
Kami berdua menuju makam Kakek Jansen yang masih basah.
"Kakek, maafkan kami karena belum bisa mewujudkan keinginan Kakek sampai kakek meninggal. Tapi kali ini kami janji akan melakukan wasiat yang kakek berikan. Aku akan menikahi Cinta."
Lucka menunjukkan jari manis dan kelingkingnya yang ternyata tersemat cincin pertunangan kami yang dulu.
"Jadi kamu...?"
"Aku masih menyimpannya dan memakainya. Aku yakin kalau kamu adalah wanita yang dikirim Tuhan untukku. Meski jalan kita cukuplah panjang untuk bisa bersatu. Tapi aku selalu yakin, kalau kamu masih mencintaiku. Cinta, kali ini maukah kamu bertunangan lagi denganku?"
Aku mengangguk mantap. "Bahkan menikah denganmu pun aku mau..."
Lucka melepas cincin yang ada di jari kelingkingnya dan memakaikannya di jari manisku yang ternyata masih muat meski sudah berlalu selama lima tahun. Kamipun tersenyum bahagia bersama. Lucka mencium keningku.
"Aku merestui kalian!"
Suara seseorang yang tak asing berhasil mengejutkan kami berdua.
"Kak Lucki!" ucapku girang.
Kak Lucki menuju ke makam Kakek Jansen. Bersimpuh disana selama beberapa menit kemudian berdiri.
"Maaf ya, aku datang terlambat. Dan aku berharap kalian akan selalu bahagia. Berdua selamanya."
"Aamiin..." Jawab kami serempak.
__ADS_1