Lu[C]Ka Cinta

Lu[C]Ka Cinta
29. PERISTIWA MAGANG


__ADS_3

Cinta mendapat pesan di grup whatsapp yang dikirim oleh Chef Juna untuk murid-muridnya angkatan tahun ini agar besok mereka semua berkumpul di kantor pusat JB Group pukul delapan pagi untuk melakukan magang selama tiga bulan.


Cinta mendengus kesal. Ia tak tahu kenapa Chef Juna memilih JB Group sebagai tempat untuk magang.


Cinta keluar dari kamar dan melihat keluarganya sedang membaca sertifikat kelulusan miliknya yang kemarin baru saja ia terima.


"Nilai Nduk Cinta dari awal memang sudah bagus. Dia sudah mendapat ranking pertama dari awal masuk akademi," puji Bude Sri.


"Iya ya. Cara nilaine piben leh?" (Cara menilainya bagaimana ya?) Timpal Bulik Tati.


"Kamu gimana atuh, Tati. Penilaiannya kan dari rasa masakan, terus tampilan makanannya. Dari awal Neng Cinta teh emang berbakat. Dia mewarisi bakat dari ayah ibunya. Juga dari kita. Betul tidak? Sejak kecil kan Neng Cinta tinggal sama kita-kita yang punya warung. Dan pandai memasak. Iya kan?" imbuh Teh Rina.


"Hahahaha, benar juga ya Teh. Nduk Cinta memang turunan awake dhewe." (Keturunan diri kita). Tambah Bude Sri.


Karena hatinya sedang kesal, Cinta tak mau merusak suasana dengan bergabung bersama mereka. Cinta memutuskan keluar rumah mencari udara segar.


Ibu Inah yang melihat ada yang berbeda dengan Cinta, segera mengikutinya.


"Nduk, ada apa? Kamu marah karena Bude Sri dan yang lain melihat nilai sertifikat memasak kamu?"


"Bukan, Bu. Bukan karena itu. Aku senang karena mereka bangga padaku. Paling tidak, aku sudah melakukan sesuatu yang membuat Ibu bangga padaku."


"Tentu saja Ibu bangga padamu. Kamu kebanggaan kami semua. Lalu, ada apa kenapa kamu terlihat kesal?"


"Ibu, besok aku harus berangkat magang."


"Ya bagus dong. Setelah lulus, memang seharusnya kamu magang dulu. Itung-itung belajar kerja. Terus kamu dapat magang dimana?"


"JB Group."


"Heh? JB Group? Punya Tuan Jansen?"


Cinta mengangguk. Kemudian menghela nafas.


"Kamu masih gak mau bertemu Lucka?"


"Ibu..."


"Cepat atau lambat kamu harus menghadapi ini, Nduk."


"Tapi rasanya masih berat, Bu..."


"Kamu masih memikirkan dia?"


"Gak tahu lah, Bu."


"Sayang, kamu sudah dewasa sekarang. Kamu boleh menentukan jalan hidupmu sendiri asalkan itu adalah hal baik. Sudah, jangan cemberut terus. Ayo bergabung dengan yang lain. Mereka ingin menemui kamu."

__ADS_1


"Iya, Bu." Cinta memaksakan senyumnya.


...***...


Keesokan harinya,


Cinta sudah berada di depan gedung JB Group. Ia berdiri menatap gedung yang megah itu. Ia pernah datang kemari setahun lalu. Saat ia memberi kejutan pada Lucka. Hari itu dia sangat bahagia, dan kenangan itu masih terus membekas di hati Cinta.


Cinta ragu untuk masuk ke dalam gedung. Pikirannya masih dihantui beberapa hal yang tak ia inginkan, yaitu bertemu Lucka. Ia masih belum siap bertemu dengannya. Meskipun hatinya ingin sekali bertemu.


Apa sudah saatnya aku bertemu denganmu lagi, Lucka?


"Sedang apa kamu berdiri disini? Cepat masuk!" Suara Chef Juna membuyarkan lamunan Cinta.


"I-iya Chef."


Cinta mengikuti langkah Chef Juna dibelakang. Ia mencoba bersembunyi dibalik tubuh kekar Chef Juna. Cinta berharap tak ada yang mengenalinya. Ia akan sangat malu bila ada yang tahu ia ada disini sekarang. Statusnya sekarang bukanlah tunangan Lucka lagi. Melainkan mantan tunangan. Hmmm, it's so bad to hear.


Chef Juna menuju ke dapur utama gedung JB Group. Cinta membulatkan mata melihat dapur besar yang ada disana. Itu adalah dapur yang mewah menurut Cinta.


Chef Juna menyuruh para murid berkumpul lalu memberikan ucapan selamat datang dan sedikit kata sambutan.


"Selamat datang di Dapur JB Group. Mulai hari ini sampai tiga bulan ke depan, kalian akan berada disini, dan melayani semua karyawan disini. Seperti yang kalian tahu, CEO JB Grup tidak menginginkan wanita sebagai Chef Utama disini. Jadi, kalian akan dibantu oleh senior kalian di akademi."


Kemudian tiga pria muda muncul dan menyalami Chef Juna.


Cinta tak terlalu fokus mendengarkan semua ucapan Chef Juna. Jiwanya terasa tak ada disana bersama raganya.


"Cinta!" Panggil Chef Juna sekali lagi.


"Eh? Iya, chef. Maaf."


"Mulai besok dan seterusnya kamu yang akan membuat daftar menu tiap harinya."


"Heh?" Cinta sangat terkejut.


"Tidak perlu terkejut seperti itu, Cinta. Kamu mendapat nilai terbaik di tahun ini, jadi saya harap kamu tidak mengecewakan saya."


"Iya, Chef."


"Kalian ada 20 orang, dan saya sudah membagi kalian kedalam tiga tim. Untuk besok, kalian akan menentukan sendiri mau masuk ke tim yang mana. Tapi ingat! Kalian harus saling bertukar tempat. Saya pastikan akan selalu mengawasi kalian."


"Yes, Chef." Jawab mereka kompak.


"Ini daftar nama kalian dan sudah tertera kalian masuk ke tim yang mana. Selanjutnya, kalian harus bersiap dengan tim masing-masing. Dan yang akan bertanggung jawab atas kalian semua saat saya tidak ada adalah Chef Andreas. Ada pertanyaan?"


Cinta sangat ingin mengajukan pertanyaan. Namun bibirnya tak mampu mengatakan apapun.

__ADS_1


"Baiklah, jika tidak ada pertanyaan. Saya anggap kalian semua sudah paham. Ingat! Kerjasama tim itu yang utama. Selamat bekerja. Dan semoga sukses. Saya permisi dulu. Terima kasih." Chef Juna pergi meninggalkan dapur.


Kini giliran Andreas yang menjelaskan tata cara memasak di dapur JB Group. Semua murid mendengarkan dengan seksama. Namun hanya Cinta saja yang tak bisa berkonsentrasi karena memikirkan suatu hal. Cinta akhirnya menginterupsi Andreas lalu meminta ijin untuk keluar dapur.


Cinta mengejar Chef Juna yang sudah sampai di lobby gedung. Cinta memanggil Chef Juna.


Chef Juna terhenti dan berbalik badan. "Kamu? Ada apa kamu memanggil saya?"


"Maaf, Chef. Tapi, ada yang harus saya tanyakan." Cinta mulai mengatur nafasnya.


"Tentang apa?"


"Kenapa Chef memilih tempat ini sebagai tempat magang kami? Apa Chef sengaja menempatkan saya disini?"


Chef Juna tertawa kecil. "Jadi kamu menuduh saya sengaja memilih tempat ini karena tahu masa lalu kamu dengan pewaris JB Group??"


"Saya tidak menuduh, saya hanya bertanya."


"Saya akui keberanian kamu. Tapi maaf, saya tidak melakukan hal diluar prosedur yang ada. Semua ini sudah tertulis di form pendaftaran yang kamu tanda tangani. Apa kamu tidak membacanya?"


"Eh?"


"Sudah bisa dipastikan kamu tidak membacanya." Chef Juna menyilangkan tangannya. "Murid sepintar kamu kenapa bisa seceroboh ini. Tidak membaca semua peraturan dengan teliti tapi malah langsung menandatanganinya saja."


Cinta menundukkan kepalanya. "Maaf, Chef..."


"Atau jangan-jangan, kamu mendaftar karena kamu adalah salah satu penggemar saya?"


"Heh?" Cinta membulatkan matanya. "Bu-bukan begitu, Chef. Saya minta maaf karena bertanya seperti ini. Saya akan memperbaiki kesalahan saya."


"Ya sudah. Kembalilah ke dapur. Teman-temanmu pasti menunggu."


Cinta membungkukkan badan lalu berpamitan pada Chef Juna. Ia merasa sangat bodoh sekarang.


Cinta memukul-mukul kepalanya dan merutuki dirinya sendiri sambil berjalan. Namun tiba-tiba...


"Cinta!"


Sebuah suara yang tak asing di telinga Cinta berhasil membuatnya mematung.


...©©©...


bersambung


*Special cameo : Chef Juna


__ADS_1


__ADS_2