Lu[C]Ka Cinta

Lu[C]Ka Cinta
36. LELAH DAN MENYERAH


__ADS_3

Air mata Cinta sudah mengering. Tatapannya kosong dan tak ada gairah hidup. Sesaat yang lalu ia begitu bersemangat untuk menemui orang yang dicintainya. Namun kenyataan pahit yang harus ia dapat.


Cinta duduk termenung dan tak bicara apapun sejak di selamatkan oleh Chef Juna yang secara tak sengaja menyaksikan semua drama antara Cinta dan Lucka di kantor JB Group pagi tadi.


Chef Juna membawa Cinta ke restoran miliknya. Ia membuatkan sesuatu untuk Cinta agar lebih tenang dan rileks.


"Minumlah! Ini coklat panas. Bisa membuatmu lebih tenang."


Cinta melirik tajam ke arah Chef Juna.


"Jangan melihat saya seperti itu. Saya hanya berusaha menolong kamu. Dari pada kamu diusir oleh satpam."


".............." Cinta tak menanggapi apapun ocehan Chef Juna.


"Minumlah! Setelah itu saya akan mengantar kamu pulang. Ibu kamu pasti khawatir. Kamu kabur dari rumah sakit tanpa pamit."


Mata sembab Cinta mengisyaratkan kesedihan yang dalam. Chef Juna bisa melihat itu.


Cinta meraih secangkir coklat panas yang ada di depannya dan meneguknya perlahan.


"Habiskan! Lalu kita pulang!"


Cinta mengangguk pelan. Dan meneguk semua coklat panas buatan Chef Juna tanpa tersisa.


...***...


Selama diperjalanan menuju rumah Cinta, tak ada satupun yang membuka perbincangan.


Chef Juna sibuk menatap jalanan didepannya. Sedangkan Cinta menatap keluar jendela. Ia menatap langit yang hari ini sangatlah cerah.


Harusnya itu bisa membuat hati Cinta juga bersinar cerah, namun semua hal tak selalu sesuai dengan keinginan kita.


Tak lama kemudian, mobil Chef Juna sudah terparkir di jalan masuk gang arah rumah Cinta.


Cinta masih terdiam dan enggan keluar mobil. Ada hal yang ingin ia sampaikan, namun tak tahu harus memulai dari mana.


"Sudah sampai depan gang rumah kamu." Ucap Chef Juna.

__ADS_1


"Saya bukannya mengusir kamu, tapi saya harus segera kembali ke resto. Untuk hari ini, kamu istirahat dulu saja di rumah. Kalau sudah baikan, kamu bisa kembali berangkat." tambah Chef Juna.


"Terima kasih, Chef. Maaf sudah merepotkan." Cinta buka suara pada akhirnya.


"Tidak apa. Kamu adalah tanggung jawab saya juga. Kecelakaan yang menimpa kamu ... saya minta maaf ya. Kejadian yang menimpa kamu, akan saya pastikan tidak akan terulang lagi di kemudian hari."


"Chef!"


"Ada apa?"


"Saya ... saya tidak bisa melakukan ini lagi. Saya tidak bisa melanjutkan semua ini. Saya mohon, tolong Chef mengerti."


Chef Juna menghela nafas.


"Saya lelah. Saya tidak bisa melanjutkannya. Saya menyerah sampai disini." Mata Cinta mulai berkaca-kaca lagi.


"Umm, baiklah. Jika itu keputusan kamu. Maaf saya sudah membawa kamu sampai sejauh ini---"


Cinta menatap Chef Juna dan tersenyum. "Terima kasih atas bimbingan Chef selama ini. Terima kasih. Ini bukan salah Chef, jadi tidak perlu merasa bersalah."


Cinta turun dari mobil Chef Juna dan berpapasan dengan Lucki yang akan menuju mobilnya usai mengantar Ibu Inah.


Lucki langsung memeluk erat tubuh rapuh Cinta. Cinta membenamkan wajahnya kedalam pelukan hangat Lucki dan menangis disana. Air mata Cinta kembali tumpah.


"Menangislah! Keluarkan semua kesedihanmu. Aku ada bersamamu. Aku akan selalu ada disisimu." Bisik Lucki lembut.


Tangisan Cinta makin keras setelah mendengar suara lembut Lucki. Lucki makin mengeratkan pelukannya.


Meski hati Lucki terasa sakit melihat kesedihan Cinta, tapi ia harus menguatkan Cinta.


Biarkan aku jadi sayap penopangmu di saat kamu jatuh, Cinta. Meski hatimu tak pernah memanggilku masuk ke dalam, tapi aku akan bertahan disini. Hingga nanti kamu membuka hatimu untukku.


...***...


Beberapa Bulan Kemudian,


Cinta memutuskan tidak melanjutkan magang kerjanya di JB Group. Chef Juna menempatkan Cinta untuk magang di resto miliknya. Disana Cinta benar-benar belajar menjadi chef yang sesungguhnya. Cinta memasak beberapa menu yang dipesan oleh customer. Meski tak semua menu bisa Cinta masak, tapi paling tidak pengetahuan Cinta jadi bertambah karena langsung terjun ke lapangan kerja.

__ADS_1


Awalnya Cinta menolak untuk magang di resto milik Chef Juna. Tapi setelah diyakinkan beberapa pihak keluarga dan juga Lucki, akhirnya Cinta menerima tawaran Chef Juna.


Suasana hati Cinta yang beberapa waktu lalu terasa muram, kini sudah berganti ceria. Ia bisa tersenyum tanpa beban. Dan Cinta juga sudah memutuskan untuk menerima pernyataan cinta Lucki.


"Kamu bilang kamu tidak mau berurusan lagi dengan keluarga Bahari. Kenapa sekarang kamu malah bersama dengan Lucki? Dia adalah bagian dari keluarga Bahari. Meskipun ia menyangkal. Tetap saja darah Bahari mengalir dalam dirinya." Chef Juna mengkritisi keputusan Cinta.


"Kak Lucki memang memiliki darah Bahari. Tapi dia sangat berbeda dengan Bahari yang lainnya."


"Maksud kamu Lucka? Bagaimanapun juga mereka adalah saudara kembar."


"Tapi sifat mereka sangatlah bertolak belakang. Saya tahu Chef sudah banyak membantu saya, tapi tolong jangan ikut campur urusan pribadi saya. Saya akan tetap bekerja dengan baik disini. Dan tidak akan membawa masalah pribadi kedalam dapur milik Chef Juna," tegas Cinta.


Sejak saat itu, Chef Juna tak pernah mengungkit hubungan Cinta dan Lucki.


...***...


Hari itu resto Chef Juna dipenuhi oleh banyak pelanggan. Cinta dan teman-teman chefnya sangat sibuk membuat hidangan para customer.


Tak ada waktu untuk istirahat jika sudah memasuki jam makan siang. Karena lokasi resto dekat area perkantoran, sudah pasti banyak pekerja memilih tempat makan yang dekat dari kantor mereka.


"Cinta, tolong buatkan pesanan untuk meja nomor 10." Perintah Chef Juna.


"Iya, Chef." jawab Cinta dengan langsung mengambil kertas pesanan meja nomor 10.


Cinta mengernyitkan dahi ketika membaca menu yang dipesan oleh pelanggannya. Cinta terdiam dan mematung.


"Cinta! Kenapa malah bengong disitu? Cepat segera masak pesanan pelanggan. Mereka semua menunggu!" Teriak Chef Juna.


"Tapi, Chef menu ini tidak ada di daftar menu kita." Cinta menunjukkan kertas menu.


"Apa maksud kamu?"


"Chef lihat saja sendiri." Cinta menyerahkan kertas itu pada Chef Juna.


Chef Juna juga ikut terkejut membaca menu pesanan si pelanggan.


"Siapa sebenarnya yang berada di meja nomor 10?" Chef Juna meninggalkan dapur dan menuju ke ruang pelanggan.

__ADS_1


Chef Juna membulatkan mata melihat siapa yang duduk di meja nomor 10.


"Lucka?!" ucapnya terkejut.


__ADS_2