![Lu[C]Ka Cinta](https://asset.asean.biz.id/lu-c-ka-cinta.webp)
Setelah melalui proses yang panjang. Waktu yang panjang pula, akhirnya aku dan Lucka akan menapaki kisah yang akan kami mulai kembali.
Pernikahan bukanlah akhir. Pernikahan adalah awal jika diriku dan dirimu akan menapaki kisah yang baru dalam hidup ini.
Kita akan melaluinya bersama. Suka, duka, air mata, tawa, rasa cemburu, dan yang lainnya. Melebur menjadi satu.
Aku tidak pernah mengharapkan apapun dalam hidup. Aku hanya berharap semuanya berjalan sesuai dengan keinginanku, meski itu tidaklah mungkin dan tidak mudah.
Akan selalu ada aral melintang dalam setiap kehidupan. Dan aku ingin menjalani semua itu bersama denganmu...
"Cinta!"
Aku menoleh. Seseorang yang tidak pernah pergi dari hidupku. Seseorang yang akan memberikan pundaknya untuk kusandar. Seseorang yang selalu mengulurkan tangannya di saat aku kesulitan.
Dialah Ibu. Seorang ibu tidak akan membiarkan anaknya terluka. Seorang ibu akan melakukan apapun demi kebahagiaan sang anak.
"Iya, Bu." Aku menjawab dengan mengulas senyumku.
"Kenapa masih diluar? Udara malamnya dingin lho!"
"Gak kok, bu. Udaranya hangat. Sehangat cinta ibu padaku." Aku memeluk ibuku.
"Besok kamu akan menjadi istri dan juga bagian dari keluarga Bahari. Apa kamu senang, Nduk?"
Aku menatap ibu. Ada semburat kesedihan disana.
"Apa ibu sedih karena aku akan menikah?"
Ibu menggeleng. "Tentu saja tidak. Ibu sangat bahagia karena putri ibu sudah menemukan tambatan hatinya."
Ibu merangkum wajahku. "Ada sedikit ketakutan dalam diriku, Bu."
"Apa itu, Nduk? Itu wajar saja karena kamu akan menyandang status yang baru mulai besok."
"Aku gak tahu, Bu. Aku hanya takut jika aku tidak bisa menjadi istri yang baik untuk Lucka."
"Jangan memikirkan hal yang belum terjadi. Pikirkan saja kebahagiaan kalian besok pagi."
Aku mengangguk. "Iya, bu. Terima kasih karena sudah merawatku dengan baik selama ini."
Ibu mengusap punggungku dengan lembut. "Kamu tahu kenapa ibu dan bapakmu menamaimu dengan nama 'cinta'?"
Aku menggeleng. Aku memang tidak tahu apa alasannya.
"Ibu dan bapak berharap jika kelak kamu akan menjadi orang yang penuh cinta dan juga dicintai."
"Ibu..." Aku kembali memeluk ibu.
"Sudah malam. Besok kamu harus bangun pagi karena akan di rias."
"Iya, bu. Ayo masuk!"
Aku dan ibu masuk ke dalam rumah. Diluar rumah masih ada beberapa pekerja yang sedang mendekor halaman rumah menjadi aula pernikaha untukku dan Lucka.
Sebenarnya nenek Jessi memintaku untuk mengadakan pernikahan di hotel. Tapi aku menolaknya. Aku lebih suka dilakukan di rumah karena akan berkesan lebih kekeluargaan dan hangat.
Lagipula aku sudah memiliki konsep pernikahanku sendiri. Bukan sebuah konsep pernikahan mewah. Tapi sebuah pernikahan sederhana yang sarat akan makna dan kehangatan keluarga.
Tiba di hari ini, hari dimana semua orang sibuk berlalu lalang. Dan aku sedang mematut diri di depan cermin. Semua orang sedang menunggu kedatangan mempelai pria dan keluarganya.
Tak lama setelahnya, aku mendengar dari Lala jika Lucka dan keluarganya sudah datang. Aku menghembuskan napas lega.
"Kenapa? Lo takut kalau Lucka gak datang di hari pernikahan kalian?" tanya Lala padaku.
Mungkin itu hanya sebuah ketakutan semata. Tapi tetap saja aku tidak bisa menutupinya. Semua hal terkadang terjadi di saat yang tidak terduga. Namun ketakutanku tidak terbukti.
Aku mendengar suara lantang Lucka saat mengucapkan janji di hadapan penghulu dan juga kedua keluarga kami. Aku mengucap syukur yang amat besar karena akhirnya hari ini terlalui dengan lancar.
Lala membawaku keluar dari kamar. Untuk pertama kalinya aku melihat ketegangan di wajah Lucka.
Aku tersenyum kearahnya. "Wajahmu tegang sekali," ucapku menggodanya.
__ADS_1
"Benarkah? Masih terlihat ya? Padahal aku sudah mati-matian untuk menyembunyikannya.
Aku terkekeh. "Tidak apa. Semuanya sudah berlalu."
Usai menyalami semua anggota keluarga. Aku dan Lucka melakukan prosesi adat pernikahan satu demi satu.
Rasa lelah mulai menghinggapi. Aku dan Lucka menuju ke dalam kamar pengantin kami yang sudah di dekor seindah mungkin.
"Maaf ya, kamarku tidak seluas kamarmu disana." ucapku yang merasa tidak enak hati.
"Ah, tidak apa. Asalkan denganmu tidur di kolong jembatan pun aku tak apa."
"Ish kamu! Apaan sih? Masa dikolong jembatan!"
Kami pun terkekeh bersama.
Para tamu undangan ibuku tidak terlalu banyak. Hanya mengundang tetangga sekitar saja.
Mungkin jika nanti keluarga Bahari mengadakan resepsi, pasti banyak kolega bisnis Lucka yang datang.
"Kamu bersihkan diri dulu saja!"
Aku memberikan sepotong handuk untuk Lucka. Pria yang kini sudah menjadi suamiku ini mengernyit bingung.
"Ada apa?" tanyaku ikut bingung.
"Kamu menyuruhku untuk mandi sendiri?"
Aku mengangguk.
"Gak mau! Kita mandi bersama saja!"
"Hah?! Apa?! Yang benar saja!"
"Ssst! Jangan keras-keras! Nanti ibumu dengar. Kita kan sudah resmi jadi suami istri. Kita sudah boleh melakukan apapun!"
"Iya, tapi kan..."
Lucka yang tak bisa dibantah kembali muncul. Aku tidak bisa menolaknya. Dia menggendongku menuju ke kamar mandi.
#
#
#
Aku dan Lucka keluar dari kamar dan disambut oleh kedua keluarga. Nenek Jessi memintaku duduk disampingnya.
"Titip Lucka ya. Jika dia macam-macam atau membuatku sedih, maka nenek yang akan menghukumnya."
Aku tertawa kecil mendengar pesan dari nenek Jessi.
"Nenek! Aku tidak akan menyakiti Cinta. Percayalah." Lucka membela dirinya.
"Dan jika dia berkhianat, maka aku siap untuk menggantikan posisimu, Lucka." celetuk kak Lucki. Aku tahu ituu hanyalah kalimat candaan saja.
"Lucka, nenek dan kakakmu akan kembali ke rumah. kamu baik-baik ya disini. Jangan merepotkan ibu Inah dan Cinta."
Lucka geleng-geleng kepala. "Nek! Aku bukan anak kecil lagi."
Dan terdengarlah suara riuh tawa semua orang yang ada di rumahku yang sederhana.
Malam harinya, ibu sudah tidak menerima tamu lagi dan kini para pesuruh yang dibayar Lucka sedang membereskan rumah ibu agar kembali seperti sedia kala.
Aku menghampiri ibu yang sedang duduk meluruskan kaki di lantai yang beralaskan karpet. Ada bude Sri, bulik Tati, dan teh Rina juga disana.
Aku ikut duduk dan memijat kaki Ibuku.
"Ibu pasti capek ya?" tanyaku sambil tanganku memijat kaki ibu.
"Yah namanya punya hajat pasti capek, Nduk. Tapi ibu senang dan lega. Akhirnya selesai juga." ucap Ibu.
__ADS_1
"Iya, Nduk. Sebagai orang tua, melihat putri mereka bis menikah adalah anugerah yang terindah. Itu artinya kami sebagai orang tua sudah berhasil mengantarmu untuk menjadi pribadi yang sesungguhnya." sahut Bude Sri.
Aku mengangguk paham.
"Selalu patuhi apa kata suami, Neng. Nanti pasti hidup Neng Cinta bahagia." nasihat teh Rina.
"Iya, terima kasih karena aku memiliki kalian dalam hidupku."
"Sudah malam, sana ajak suamimu masuk." perintah bude Sri.
"Tapi bude... Lucka masih asyik ngobrol sama pakde Gun. Cinta gak enak mau mengganggu." jawabku.
"Halah, pakdemu itu kalau sudah ngobrol mesti ndak ada habisnya. Harus di stop itu! Ayo bude temani! Wong manten anyar kok ditanggap. Bapak ki piye tho?"
Bude Sri beranjak dari duduknya dan menarik tanganku lalu mengajakku keluar rumah.
"Pak, iki nduk Cinta sama nak Lucka mau istirahat di kamar. Bapak kok malah ngajakin nak Lucka ngerumpi. Kepiye tho?" omel bude Sri.
Aku hanya menggaruk tengkukku yang tidak gatal. Lucka pun melakukan hal yang sama.
"Tidak apa, Bude. Saya senang ngobrol sama pakde. Wawasan pakde ternyata sangat luas." jawab Lucka.
Aku tersenyum melihat Lucka.
"Hmm, yo wes. Ayo kita masuk lagi, Nduk."
Bude Sri kembali menarik tanganku masuk ke dalam.
Aku tidak tahu kenapa Lucka menjawab begitu pada bude Sri. Apakah dia juga merasakan hal yang sama denganku? Aku sangat gugup saat ini. Dan pastinya akan sangat aneh ketika nanti kami bertemu di kamar. Ya meskipun tadi kami sudah mandi bersama.
Oh ya ampun! Rasanya malu sekali jika mengingat tentang yang tadi. Aku ingin bersembunyi saja terus. Tadi itu ... aku sangat menyukai sentuhan yang Lucka lakukan padaku.
Astaga! Mikir apa aku ini? Aku sedang bersama para sesepuh dan otakku travelling? Yang benar saja!
Pukul sepuluh malam, aku memutuskan untuk masuk ke dalam kamarku. Rasanya mataku sudah tidak kuat lagi. Aku mendengar Lucka masih bercengkerama dengan pakde Gun.
Ah biarkan sajalah. Mungkin Lucka merindukan memiliki keluarga yang banyak. Karena di rumahnya ia tak sempat untuk bercengkerama seperti disini.
Aku mulai memejamkan mata. Sudah tak kuat lagi aku membuka mata.
"Selamat malam, suamiku..." gumamku pada ruang kosong di sampingku.
Entah berapa lama aku tertidur. Namun yang pasti, suara riuh ibuku sudah terdengar ke telingaku.
Aku membuka mata. Aku mengerjap pelan. Aku mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk.
Aku melihat sisi sampingku. Kosong. Tidak ada siapapun
"Kemana Lucka? Apa sepagi ini dia sudah pergi?" gumamku yang masih belum bisa membuka mata sempurna.
Pintu kamar pun terbuka. Menampilkan sosok Lucka yang sudah menjadi suamiku.
"Selamat pagi, Istriku..." ucap Lucka dengan tersenyum manis dan membawa sebuah nampan.
"Makanlah dulu! Kamu pasti butuh asupan gizi yang cukup." ucapnya.
"Tapi aku tidak terbiasa makan di dalam kamar. Aku akan ke kamar mandi dulu saja."
"Apa perlu aku bantu?"
"Tidak perlu." Aku mengulas senyum pada Lucka.
Aku berusaha bangkit dari tempat tidur, akan tetapi...
"Aw!" Aku memekik kesakitan. Aku merasakan sesuatu yang perih di area pangkal pahaku.
"Masih sakit ya? Maaf ya..."
Aku menatap Lucka bingung. Apa maksudnya ini? Apakah semalam aku dan Lucka...?
"Maaf ya, Sayang. Setelah ini aku akan melakukannya dengan lebih lembut," ucap Lucka dengan menggaruk kepalanya.
__ADS_1
"Apa?!"
Aku belum bisa mencerna yang terjadi. Jadi yang semalam itu bukanlah mimpi?