Lu[C]Ka Cinta

Lu[C]Ka Cinta
55. Percaya Akan Cinta


__ADS_3

Lucka membawa Cinta ke sebuah kafe untuk bicara berdua. Mereka duduk berhadapan dengan belum pembicaraan apapun diantara mereka.


Pelayan membawakan pesanan mereka. Hanya dua gelas minuman hangat yang dipesan oleh Lucka dan Cinta.


Lucka ingin bicara namun sepertinya ia menunggu sesuatu. Cinta hanya diam dan memperhatikan. Ia memilih untuk meminuk coklat hangat yang ia pesan.


Sebuah getaran di ponsel Lucka membuat pria itu bersemangat untuk membukanya. Matanya berbinar senang. Tanpa pikir panjang ia segera menyerahkan ponselnya kepada Cinta.


"Lihatlah ini!" perintah Lucka.


Cinta meletakkan coklat hangat yang baru diminumnya sedikit keatas meja.


"Apa ini?" tanya Cinta bingung.


"Tonton saja dulu baru bicara!" ucap Lucka.


Dengan tanpa curiga, Cinta menerima ponsel Lucka yang ternyata sudah terputar sebuah video yang nampaknya seperti acara konferensi pers.


Dahi Cinta mengernyit mendengarkan semua konfirmasi yang dilakukan oleh Sally. Bahkan suasana menjadi riuh ramai ketika adegan mesra terjadi antara Sally dan pria yang di akuinya sebagai kekasihnya itu.


Lucka ikut penasaran dengan suara heboh yang terdengar dari ponselnya. Ia pun bangkit dari duduknya dan berdiri di belakang Cinta.


Matanya membola menyaksikan sang mantan kekasih dengan panasnya berciuman di depan awak media.


"Astaga! Aku tidak menyangka Sally akan melakukan hal nekat seperti itu," gumam Lucka yang di dengar oleh Cinta. Ia kembali duduk di kursinya dengan masih menutup mulutnya.


Cinta meletakkan ponsel Lucka. "Kenapa? Apa kamu cemburu melihat Sally berciuman dengan pria lain?" sarkas Cinta.


"Cinta! Kenapa bicara begitu? Aku hanya tidak menyangka saja, bukan cemburu." Raut wajah Lucka terlihat sedih ketika mendengar Cinta bicara dingin padanya.


"Apa kamu yang menyuruh Sally untuk melakukan ini?"


"Eh? Kenapa kamu berpikiran buruk tentangku? Sally sendiri yang ingin melakukan konferensi pers ini. Apa kamu tidak percaya padaku? Apa sedikit saja kamu tidak bisa percaya padaku?"


Cinta terdiam. Sungguh ia sangat ingin berpikiran lain tentang Lucka.


"Baiklah. Aku akan mengadakan konferensi pers juga. Aku akan umumkan hubungan kita di hadapan semua orang." tegas Lucka dengan mata tajam menatap Cinta.


"Eh? Konferensi pers?"


"Benar. Maka dari itu, kamu harus datang."


"Tidak! Bu-bukan seperti ini, Lucka. Aku..."


"Apa? Aku sudah memberimu ruang dan waktu. Apa semua ini belum cukup? Berapa lama lagi kita akan terus seperti ini, Cinta? Aku bahkan sudah menunggumu selama tiga tahun. Apa itu masih belum cukup?"


Cinta diam dan tidak menjawab.


"Aku sudah memberimu waktu untuk bisa menggapai semua impianmu. Prioritasmu! Lalu, apakah aku tidak ada dalam daftar prioritasmu? Aku hanya ... sebuah bayang semu bagimu. Begitu?" Lucka terdengar putus asa.


"Aku tidak akan membebanimu dengan selalu mengawasimu. Aku sudah mencoba dan melakukannya. Aku bahkan tidak tahu apa yang kamu lakukan selama seminggu ini. Bagiku itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan. Dan aku akan melanjutkannya hingga kamu menginginkannya kembali."


Cinta memikirkan kata kata untuk bisa menjawab semua kalimat Lucka.


"Aku...aku hanya takut akan kembali terluka. Aku memang mengatakan jika aku masih mencintaimu. Dan aku ingin bersama denganmu. Tapi ... banyak hal yang aku takutkan."

__ADS_1


"Apa yang kamu takutkan?"


"Semuanya..."


"Kamu lupa janjimu di depan makam kakek?"


"Tidak, tentu aku ingat!"


Lucka mendesah pelan. "Lalu...?"


"Berikan sedikit waktu lagi. Kumohon..."


Lucka menghela napas. "Ketakutanmu tidak beralasan. Mungkin memang tidak seharusnya aku menemuimu hari ini..."


Lucka beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Cinta. Sementara Cinta masih diam dan tak berniat mengejar Lucka.


"Mungkin memang ini yang terbaik, Lucka..." batin Cinta.


#


#


#


"Bagaimana? Hubunganmu dengan Cinta sudah baik-baik saja kan?" tanya Sally ketika mereka sedang istirahat siang di lokasi syuting.


"Entahlah." Lucka mengusap wajahnya kasar.


"Ada apa? Dia sudah menonton video klarifikasiku kan?"


"Ah, the kiss? Aku sendiri tidak tahu kenapa aku dan James memilih untuk berciuman di depan publik. Kurasa itu sudah cukup membuktikan jika kita hanya rekan kerja saja."


Lucka berdecih. "Kamu pikir Cinta akan berpikiran begitu?"


"Tidak? Ah, aku tahu dia adalah gadis yang unik. Kalau begitu biar aku saja yang bicara dengannya."


"Hei! Jangan macam-macam!"


"Tenang, Lucka! Aku tidak akan menyakitinya! Ada kalanya wanita harus bicara dengan sesama wanita. Trust me!"


Lucka menghela napas. Entah sudah ke berapa kali pria tampan ini tidak bisa fokus dalam bekerja.


"Sudah ya! Jangan dipikirkan. Aku akan kembali ke lokasi." Sally menepuk bahu Lucka kemudian berlalu.


#


#


#


Sally menemui Cinta di tempat kursus memasak milik Chef Juna. Sally sengaja menunggu Cinta hingga selesai mengajar.


Sally tahu pasti tidak mudah bagi gadis seperti Cinta untuk bisa mengakui perasaannya. Padahal dulu gadis itu begitu percaya diri ketika pernah memarahi Sally. Namun kini kemana sosok Cinta yang dulu? Sekarang hanya spekulasi buruk saja yang dia pikirkan.


"Hai, Cinta!" sapa Sally ketika Cinta keluar dari ruko.

__ADS_1


"Sally?" Cinta terkejut.


"Bisa bicara sebentar?" tanya Sally.


"Apa Lucka yang memintamu kemari?" tanya Cinta balik menyelidik.


Sally terkekeh. "Apa aku terlihat seperti wanita suruhan?"


"Eh?"


"Kita bicara di kafe depan situ saja." ajak Sally tanpa menunggu persetujuan Cinta.


"Tunggu, Sally! Aku tidak bilang aku setuju!" seru Cinta.


"Setuju atau tidak kamu akan tetap ikut denganku!" ucap Sally dengan percaya diri.


Dan memang benar, Cinta mengikuti langkah Sally tanpa membantah lagi.


Kini mereka duduk saling berhadapan.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Sally.


"Terserah saja," jawab Cinta cuek.


"Kamu suka espresso? Baiklah, pesan 2 cangkir espresso hangat ya. Terima kasih," ucap Sally sambil menyerahkan buku menu pada pelayan.


"So, Cinta..." Sally menatap Cinta.


"Kamu masih tidak percaya pada Lucka?" lanjutnya.


"Apa kalian selalu saling memberitahu tentang masalah kalian?" tanya Cinta dengan nada sedikit tidak suka.


Sally tertawa renyah. "Kamu cemburu, Cinta?"


"Ti-tidak!" Cinta berusaha menutupi kegugupannya.


"Matamu tidak bisa menyembunyikan apa yang tersimpan dalam hati. Sudahlah, akui saja. Mungkin kamu belum bisa percaya terhadap Lucka. Tapi, bisakah kamu percaya pada cinta kalian? Kalian sudah saling memendam semuanya selama bertahun-tahun. Selama aku mengenal Lucka, aku tidak pernah melihat dia seperti ini. Hanya kamu saja yang bisa membuat Lucka seperti ini, Cinta. Dia selalu mencintaimu bahkan ketika kalian terpisah oleh jarak dan waktu."


Cinta merebahkan tubuhnya diatas ranjang setelah tiba di rumahnya. Rekaman pembicaraan dirinya dan Sally kini kembali memutar.


Dirinya memang terlalu takut untuk menghadapi apa yang belum jelas akan terjadi. Harusnya ia hanya fokus pada hubungannya dan Lucka saja. Bukannya malah memikirkan hal lain.


Cinta meraih ponselnya dan mencari nama Lucka disana. Tangannya gemetar ketika ingin menekan tombol panggil.


"Bagaimana ini? Apa aku harus meneleponnya? Atau mengirim pesan saja?"


Cinta gundah. Ia tidak tahu apa yang akan ia katakan ketika menghubungi Lucka nanti.


"Ah sudahlah! Terserah nanti mau ngomong apa!"


Cinta mendial nomor Lucka. Terdengar nada tunggu disana. Namun ternyata Lucka tidak mengangkat panggilan darinya.


"Nomor yang anda tuju tidak menjawab. Silakan tinggalkan pesan setelah nada berikut!"


Cinta menghempaskan ponselnya ke ranjang. "Sudah kuduga!" gumamnya dengan semburat kekecewaan disana.

__ADS_1


__ADS_2