![Lu[C]Ka Cinta](https://asset.asean.biz.id/lu-c-ka-cinta.webp)
Tok tok tok
Pintu utama mansion barat milik Jansen Bahari di ketuk oleh seorang tamu yang ingin menemui pria itu.
"Tuan Lucki?"
Ya, tamu yang datang adalah Lucki, cucu sulung Jansen.
"Pak Teddy, kakek ada?"
"Ada Tuan. Silakan masuk." Teddy mempersilakan Lucki untuk masuk.
"Terima kasih, Pak."
"Tumben Tuan muda berkunjung kemari," ucap Teddy.
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan kakek."
"Oh begitu. Silakan duduk, Tuan. Saya akan memanggil Tuan Besar."
Teddy melangkah pergi untuk memanggil Jansen. Lucki duduk tak tenang di atas sofa. Tak pernah ia merasa setegang dan secanggung ini akan bertemu dengan kakeknya. Tekadnya sudah bulat. Ia tak bisa mundur lagi.
"Lucki! Kakek senang kamu datang kesini. Ada apa, Nak?" sambut Jansen dengan memeluk Lucki sejenak.
Jansen memposisikan diri duduk di sebelah Lucki.
"Emh, ada yang ingin aku bicarakan dengan kakek." Lucki melirik ke arah Teddy yang berdiri di samping Jansen.
Teddy paham kalau Lucki tidak mau diganggu oleh siapapun. Lalu Teddy meninggalkan mereka berdua agar leluasa berbicara.
"Kakek, selama ini aku tidak pernah meminta apapun pada kakek. Tapi kali ini aku butuh bantuan kakek."
Jansen mengerutkan kening. "Bantuan apa, Lucki?"
"Tolong berikan Cinta untukku, Kek!"
"Eh? Apa maksudmu?" Jansen tak paham dengan maksud Lucki.
"Aku mohon pada kakek. Batalkan pertunangan Lucka dan Cinta. Dan biarkan aku menggantikan Lucka."
"Lucki----"
__ADS_1
"Kumohon, Kakek! Aku tidak menginginkan apapun selain Cinta. Perusahaan, uang, jabatan, aku tidak butuh itu semua. Aku hanya ingin Cinta."
"Lucki! Cinta bukanlah barang, Nak!"
"Aku tahu. Tapi, aku menyukainya, Kek. Sedangkan Lucka? Dia tidak menyukai Cinta. Cinta akan menderita jika terus melanjutkan perjodohan ini!"
Jansen memijat keningnya.
"Nak, kenapa harus Cinta? Diluar sana banyak wanita yang baik juga. Kamu pasti---"
"Tidak! Aku tidak mau! Aku hanya mau Cinta! Apa begitu sulit kakek mengabulkan permintaanku? Kenapa selalu Lucka, Kek? Kenapa? Aku tak meminta apapun padamu, aku hanya menginginkan Cinta! Apa kakek juga tidak bisa mengabulkannya?"
"Nak, Kakek tidak bisa memutuskan semua ini. Ini masalah perasaan Cinta."
"Lalu, apa yang harus aku lakukan? Aku akan melakukan apapun agar kakek memberikan Cinta untukku."
Jansen menggelengkan kepala. "Tidak, Nak. Bukan seperti itu. Masalah hati tidak bisa kita paksakan. Jadi, biarkan Cinta yang memutuskan. Tanyakan pada Cinta, bagaimana perasaannya pada Lucka, dan juga kepadamu. Ini akan lebih adil untukmu, dan juga untuknya."
Lucki hanya terdiam mendengar penjelasan kakeknya. Ia berpikir sejenak.
"Baiklah, aku akan melakukan yang terbaik, agar Cinta bisa memilihku."
...***...
Tommy membulatkan matanya ketika mendengar cerita Lucki tentang permintaannya kepada Jansen.
"Jangan kaget begitu. Aku tahu ini terasa aneh. Tapi, aku hanya ingin mengambil hakku sebagai cucu kakek. Aku juga berhak mendapatkan hati Cinta."
"Lucki, tapi adikmu---"
"Lucka tidak mencintai Cinta. Benar kan? Mereka selalu berdebat dan sangat tidak cocok."
"Kenapa harus Cinta? Apa kamu ingin membalas Lucka atas kejadian di masa lalu?"
"Apa kamu pikir aku selicik itu?" sarkas Lucki tak terima.
"Tidak, hanya saja ini akan bertambah rumit saja. Lalu, apa Cinta tahu soal permintaanmu?"
"Tidak. Dan aku minta padamu jangan membocorkan ini pada adikku," pinta Lucki.
"Iya, baiklah," balas Tommy patuh.
__ADS_1
...***...
Jansen merenung di ruang kerjanya. Ia tak menyangka kalau Lucki akan meminta hal seperti ini padanya. Selama ini, hubungannya dengan Lucki memang tidak sedekat seperti bersama Lucka. Tapi tetap saja, Lucki adalah cucunya juga. Dan ia harus memikirkan perasaan Lucki.
Jansen memutuskan bicara dengan Lucka soal permintaan Lucki.
"Kakakmu menemui kakek beberapa hari yang lalu---" buka Jansen.
Lucka mendengarkan dengan seksama.
"Dia bilang jika dia menyukai Cinta. Dia ingin kakek membatalkan pertunanganmu dan Cinta. Dia sangat yakin jika kamu tidak menyukai Cinta, dan tidak menginginkan perjodohan ini."
Lucka menghela nafas. Oke! Dia memang sudah tahu soal perasaan kakaknya terhadap Cinta. Tapi dia tak habis pikir jika kakaknya akan menceritakan perasaan hatinya pada kakeknya.
"Apa pendapatmu soal ini, Lucka?" tanya Jansen.
Lucka menatap Jansen. Ia harus mengeluarkan jawaban yang bagus. Ia masih terlihat tak peduli dengan keadaan ini. Dan Jansen ingin Lucka mulai peduli.
"Lalu apa jawaban kakek?"
Jansen tertawa kecil.
"Kakek tahu kamu ingin membatalkan perjodohan ini di hari pertunangan kalian. Kakek juga tahu kalau kamu dan Cinta sering sekali bertengkar dan berdebat. Tapi, apakah benar tak ada sedikit rasapun darimu untuk Cinta? Kamu tidak masalah jika kakek membatalkan pertunangan kalian?" Tanya Jansen dengan sedikit penekanan.
Lucka mulai bimbang. Ia tak tahu bagaimana perasaannya terhadap Cinta.
"Kakek menjawab apa pada kakak?" Dan kalimat itu kembali Lucka tanyakan.
"Kakek bilang Cinta yang harus memutuskan. Dan Lucki harus bertanya sendiri padanya."
"Eh? Apa Cinta tahu soal ini?"
Jansen menggeleng. "Jika kamu peduli pada Cinta. Maka kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan. Bersainglah secara sehat dengan kakakmu!"
Setelah mengucapkan semua hal itu pada Lucka, Jansen berpamitan pergi. Ia harus keluar kota lagi selama beberapa hari.
...©©©...
bersambung...
*Jangan lupa tinggalkan jejak kalian 😘😘
__ADS_1