![Lu[C]Ka Cinta](https://asset.asean.biz.id/lu-c-ka-cinta.webp)
"Lucki?! Jadi benar ini kamu?"
"Sally?"
"Apa yang kamu lakukan disini? Aku gak nyangka seorang Lucki Bahari datang ke acara peragaan busana tingkat dunia."
"Hehe. Begitulah. Aku hanya memenuhi undangan dari kawan lama." Lucki menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Hmm, begitu. Bagaimana kabarmu? Aku banyak mendengar soal kalian. Terutama soal Lucka dan Cinta."
"................" Lucki terdiam.
"Gimana kalo kita ngobrol di tempat lain aja?" tawar Sally.
"Boleh." Sambut Lucki baik.
#
#
Di sebuah cafe,
"Jadi, kamu menetap di Paris?" tanya Sally.
"Iya. Aku sedang lanjut kuliah."
"Wow! Calon profesor?"
Lucki mengangguk. "Kamu sendiri? Masih tinggal disini rupanya."
"Aku masih terikat kontrak sampai tahun ini. Setelah itu aku akan kembali ke Indonesia."
"Apa?!" Lucki terkejut.
"Gak usah kaget gitu! Memangnya aku mau kemana lagi selain pulang ke rumah?"
"Sally..."
"Aku tahu maksud tatapan kamu. Kamu pasti gak mau aku mengganggu kehidupan adik kamu lagi kan? Tenang saja. Aku kembali ke rumah, hanya untuk menata hatiku. Aku tidak akan mengganggu Lucka. Kamu sendiri? Mau sampai kapan tinggal disini? Aku dengar kamu ... sempat bersama dengan Cinta..."
Lucki tersenyum menyeringai. "Kamu memata-matai kami?"
"Bukan begitu. Aku hanya mendengar kabar dari beberapa teman di Indonesia. Aku turut bersedih karena kalian putus. Kalau boleh tahu, kenapa kalian berpisah? Apa ... Cinta masih menyukai Lucka? Bukankah wajah kalian sama, kenapa Cinta tidak bisa bersama denganmu?"
Lucki mulai tak nyaman dengan pembicaraan ini.
"Soal itu, kamu tanya aja sama diri kamu sendiri. Kenapa kamu juga lebih memilih Lucka? Bukan memilih aku? Padahal wajah kami sama," jawab Lucki sarkastik.
"Lucki!" Sally meninggikan suaranya.
"Ah! Aku tahu. Kamu lebih memilih Lucka karena dialah yang akan mewarisi perusahaan kakek. Bukan aku. Benar kan? Kamu memilihnya bukan karena cinta, tapi karena hal lain. Aku tahu kamu, Sally. Jadi jangan coba memprovokasiku."
Sally merasa terpojok. Ia hanya diam.
"Tapi kali ini, jangan rusak hubungan mereka lagi. Aku tidak akan membiarkan kamu menyakiti adikku lagi."
Sally menjawab dengan diam seribu bahasa. Lalu tanpa berpamitan, Lucki meninggalkan Sally yang masih duduk terdiam.
...
__ADS_1
SALLY...
...***...
International Airport, Jakarta.
Seorang pria muda sedang menunggu di ruang tunggu untuk kedatangan penumpang dari luar negeri.
Beberapa kali ia melirik jam tangannya sambil celingukan mencari orang yang ditunggunya.
Saat sedang asyik mencari, seseorang mengagetkan si pria dengan menepuk bahunya keras.
"Woi! Nyari siapa?"
Pria itu berbalik dan tersenyum lebar.
"Lucka!" Ia langsung memeluk orang yang ditunggunya.
"Tom! Apaan sih? Lebay amat!"
"Terima kasih sudah kembali, Tuan muda!"
"Hahaha. Apaan sih? Tentu saja aku harus kembali. Banyak yang harus kulakukan disini!"
"Mari tuan muda, tuan besar dan nyonya sudah menunggu di rumah." Tommy dengan girang membawa barang bawaan Lucka dan mengarahkan Lucka ke arah mobilnya terparkir.
...***...
Satu hari setelah kembali ke rumah keluarga Bahari, Lucka disibukkan dengan membangun bisnis baru dari cabang Arina Rayyan Company.
Tiap hari ia berada di lokasi proyek, dan meninjau langsung perkembangan proyeknya. Ia berdedikasi tinggi terhadap pekerjaannya sama seperti kakeknya.
Di saat sedang senggang, Lucka mencuri-curi waktu untuk datang ke tempat kursus memasak dimana Cinta mengajar.
Lucka hanya memandangi dari jauh sosok Cinta yang sedang mengajar murid-muridnya.
Sesekali senyum Cinta mengembang agar suasana memasak tidak tegang dan kaku.
Cinta masih tetap ceria seperti dulu. Lucka lega melihat Cinta baik-baik saja. Kini Cinta sudah bersama Chef Juna. Maka ia juga harus menata hati agar bisa melupakan Cinta. Tapi, apakah bisa?
...***...
"Kamu sudah dengar?" tanya Chetlf Juna ambigu.
"Eh?"
"Tuan Muda Bahari sudah kembali."
"Eh?" Cinta masih bengong.
"Jangan kaget begitu! Aku tahu hari ini pasti akan tiba."
"Apa maksudmu, Mas?"
"Cinta, aku tahu kamu pernah punya masa lalu dengannya, tapi aku denganmu sekarang. Bisakah kamu..."
"Mas!" Cinta tak suka jika harus membicarakan masa lalunya.
__ADS_1
"Baiklah. Aku minta maaf." Chef Juna memeluk Cinta.
"Aku yang harusnya minta maaf, Mas. Aku sudah memanfaatkanmu."
Chef Juna melepaskan pelukannya.
"Sudah kubilang jangan merasa bersalah. Aku sendiri yang ingin menjadi tamengmu."
"Terima kasih," ucap Cinta diiringi senyum manisnya.
"Kamu lapar? Kita ke resto dulu setelah itu akan kuantar kamu pulang."
Cinta mengangguk mantap.
...***...
"Chef!" sapa Lucka.
"Iya, tuan muda! Ada yang bisa saya bantu?" balas Chef Marko antusias.
"Bisa buatkan aku bakmie jowo?" tanya Lucka.
"Heh?"
"Kamu bisa membuatnya kan? Malam ini aku ingin makan itu. Tolong ya!"
"I-iya, baik tuan muda."
"Chef! Kamu masih hapal resep rahasia dari Cinta?"
"Eh?"
"Buatkan rasa seperti yang pernah Cinta buatkan untukku."
"Baik, Tuan. Tapi saya tidak janji kalau rasanya akan sama persis seperti yang dibuat oleh Nona Cinta."
"Umm, ya sudah. Tidak apa! Terserah kamu saja."
#
#
"Apa Tuan Muda masih mencintai Nona Cinta?" Tanya Chef Marko saat sedang duduk bersantai bersama Tommy.
"Mungkin. Dia tiba-tiba kembali setelah hari ulang tahun Cinta."
"Tapi, Nona Cinta sekarang bersama Juna. Dan dia temanku. Aku gak mau kalau Juna sampai terluka."
"Marko! Cinta itu tidak bisa dipaksakan. Karena cinta melibatkan hati. Apa kamu gak bisa lihat kalau Cinta hanya menjadikan Chef Juna sebagai tameng saja? Aku sangat yakin kalau Cinta masih mencintai Lucka."
"Hei, Tom! Jangan sembarangan bicara!"
"Itu memang benar! Kamu saja yang tidak peka! Payah!"
"................."
Dan Chef Marko tidak melanjutkan perdebatannya dengan Tommy. Benaknya malah mempertanyakan apa yang dikatakan Tommy tadi.
"Kalau Nona Cinta masih mencintai Tuan Lucka, lantas bagaimana nasib Juna nantinya?" Batin Chef Marko.
__ADS_1
"Duh, kok aku jadi ikutan pusing memikirkan ini..." batinnya lagi.