Lu[C]Ka Cinta

Lu[C]Ka Cinta
50. PRIA YANG HANGAT


__ADS_3

Usai berbincang dan Lucka mengutarakan maksudnya untuk melamarku secara resmi, kini kami menikmati hidangan yang sudah disiapkan oleh Bude Sri dan Teh Rina. Aku sangat bahagia karena mereka tetap mendukungku dan Lucka.


Mungkin mereka paham jika selama ini aku tidak pernah bisa melupakan Lucka. Cinta pertamaku.


"Kenapa senyum-senyum?"


Ternyata Lucka memergokiku sedang tersenyum sendiri.


"Gak ada! Ayo ikut keluar! Aku gak sangka ternyata pakde Gun sampai bikin tenda segala buat kita."


Aku melangkah membawa senampan buah semangka yang baru saja kuiris. Siang-siang begini sangat segar memakan buah semangka.


"Cinta!"


Lucka menghentikan langkahku. "Ada apa? Kamu butuh sesuatu?"


"Bukan itu. Aku hanya ingin bilang...terima kasih. Aku tidak pernah menyangka jika kamu..."


"Sudahlah! Dulu kita masih sama-sama egois. Aku juga masih terlalu muda untuk bisa menentukan masa depanku. Sekarang, aku sudah bisa memilih mana yang ingin aku lakukan. Aku memilih apa yang hatiku katakan."


Lucka tersenyum. "Ayo aku bantu!"


Lucka mengambil alih nampan yang sedang kubawa. Dia menyapa semua orang dan menyodorkan semangka yang dibawanya.


Aku juga melihat kegembiraan di wajah kak Lucki. Pria berkacamata ini akhirnya bisa berdamai dengan keluarganya, dengan semuanya.


Lucka menarik tanganku dan membuatku tersadar. Dia membawaku untuk ikut bergabung bersama anggota keluarga yang lain.


"Nak Lucka, bude ndak tahu apakah rasa gudeg ini sesuai dengan lidah Nak Lucka atau tidak. Monggo silakan di cicipi," ucap Bude Sri.


Lucka dengan senang hati mengambil seporsi nasi gudeg komplit yang disodorkan oleh Bude Sri. Lucka menyuapkannya ke mulut dan dia terdiam sejenak.


"Emh, ini enak, Bude. Tolong ajari aku untuk membuatnya," canda Lucka yang membuat semua orang tergelak.


"Lucka adalah salah satu muridku di tempat kursus. Dia lumayan pandai memasak, Bude," timpalku.


"Wah, benarkah? Jadi kapan-kapan boleh dong Bude nyicipin masakan Nak Lucka," goda Bude Sri.


Kami semua tertawa dan saling melempar candaan. Hingga tak terasa waktu sudah berganti sore. Kak Lucki dan Tommy sudah lebih dulu berpamitan dan hanya menyisakan Lucka saja.


Lucka mengobrol dan bersenda gurau bersama Bude Sri, Teh Rina dan Bulik Tati. Aku tidak tahu jika tenyata Lucka adalah pria yang hangat. Dia tidak seperti yang kukenal dulu. Dingin dan sangat menyebalkan.


"Nduk..."


Ibu memanggilku.


"Ada apa, Bu?"


"Ibu senang karena akhirnya kamu melakukan apa yang hatimu inginkan."


Aku menatap ibu sendu. Aku banyak bersalah padanya.


"Ibu..." Aku memeluk Ibu. Banyak hal yang ingin kuutarakan padanya. Namun semua kata rasanya tidak akan cukup untuk mengungkap rasaku saat ini.


"Terima kasih karena ibu mau merestui hubungan kami."


Ibu mengusap punggungku. Aku sangat lega. Aku melirik Lucka yang juga sedang menatapku. Ia tersenyum penuh kelegaan juga.


#

__ADS_1


#


#


Malam menjelang, sudah saatnya Lucka pulang ke rumah. Dan aku kini akan kembali ke rumahku sendiri. Tidak mungkin aku tinggal di rumah Bahari.


"Cepat halalkan Nduk Cinta, jadi kalian bisa cepat-cepat tinggal bersama." nasihat Pakde Gun.


Aku dan Lucka tersipu malu.


"Siap, Pakde. Secepatnya akan saya urus." jawab Lucka dengan menatapku.


Ini sungguh mendebarkan. Benarkah aku akan menjadi istri Lucka? Ah rasanya seperti mimpi. Dulu aku menolak perjodohan ini. Tapi ternyata aku jatuh cinta dengan pria dingin yang tidak menganggapku ada.


Semuanya masih misteri. Aku hanya berharap yang terbaik untuk kami berdua.


Aku mengantar Lucka hingga ke depan gang. Kami berdua sama-sama tidak ingin mengakhiri malam ini.


"Pulanglah! Nenek pasti mencarimu!" ucapku. Meski sebenarnya aku masih sangat ingin bersama dengan Lucka.


"Hmm, kamu kembalilah ke rumah."


Aku mengangguk. Aku berbalik badan dan melangkah meninggalkan Lucka.


"Cinta!"


Aku kembali menoleh. Lucka menarik tanganku dan membawaku masuk kedalam mobil.


"Lucka! Kita mau kemana?"


"Ada deh! Pakai sabuk pengamanmu!"


"Aku akan meneleponnya di jalan nanti."


"Cih, dasar! Kamu akan mendapat hukuman dari Pakde Gun nanti."


Lucka malah tertawa. "Tidak apa. Siapa takut? Palingan nanti di nikahin."


"Dih, kamu tuh..."


Lucka kembali terbahak. Aku hanya menggeleng pelan.


Entah aku tidak tahu kemana Lucka akan membawaku. Semoga saja bukan tempat yang aneh.


"Lucka! Kita mau kemana? Ini sudah agak jauh dari kota." ucapku panik.


"Jangan takut! Aku tidak akan menculikmu kok. Aku hanya ingin membawamu ke tempatku biasa menyendiri."


Aku mengerutkan kening. Sudahlah, aku yakin Lucka tidak akan berani macam-macam.


Kami tiba di sebuah tempat yang...


"Pantai? Kamu membawaku ke pantai?" tanyaku bingung.


Oke! Malam-malam ke pantai? Agak sedikt aneh menurutku. Tapi, ini adalah seorang Lucka. Dia memang sedikit aneh.


"Kenapa kamu? Kamu pasti mengejekku kan?"


"Hah?! Tidak! Aku tidak mengejekmu! Beneran!" Aku meringis.

__ADS_1


"Hah! Jangan berbohong! Kamu pasti berpikir aku ini aneh karena membawamu ke pantai di malam hari. Tapi ... ini adalah kesukaanku."


"Eh?"


"Sejak kamu pergi. Aku banyak merenung di tempat ini. Aku sangat menyesali semuanya, Cinta."


Lucka menatapku dengan tatapan sendunya. Apakah aku harus mengungkit masa lalu? Apa yang sebenarnya terjadi saat itu?


"Jika kamu masih belum bisa memaafkan aku karena kejadian malam itu, maka..."


"Aku sudah memaafkanmu, Lucka. Kita jangan membahas soal masa lalu..."


Aku berjalan hingga tiba di bibir pantai. Aku melepas sandalku dan merasakan air laut dingin yang menerpa kulit kakiku.


Aku sendiri tidak tahu kapan terakhir kalinya aku menikmati hari-hari seperti ini. Damai dan tenang. Tidak ada yang mengganggu.


Lucka memakaikan jasnya ditubuhku.


"Lucka..."


"Pakai saja! Angin laut sangat dingin di malam hari."


"Lalu kamu sendiri?"


Tiba-tiba Lucka memelukku dari belakang.


"Aku begini saja. Ini membuatku tenang dan nyaman."


"Ish, dasar!" Aku memukul pelan tangan Lucka yang melingkar di perutku.


"Lucka..."


"Hmm, ada apa?" Lucka menyandarkan dagunya di bahuku.


"Saat kamu di Singapura, apa kamu pernah memikirkan aku?"


Pertanyaan bodoh apa yang kau katakan Cinta!


"Bukan pernah! Tapi setiap hari aku memikirkanmu."


Jawaban Lucka membuatku tertegun.


"Maaf aku sudah menyakitimu, Lucka. Aku bahkan menjalin hubungan dengan kak Lucki. Apa itu yang membuatmu pergi?"


Lucka melepaskan pelukannya dan membuatku berhadapan dengannya.


"Dengar, akulah yang salah karena tidak berani memperjuangkan cintaku. Saat itu kakek memintaku untuk berhenti. Tapi, hingga aku pergi jauh pun, aku tidak bisa melupakanmu."


Aku tersenyum mendengar pengakuan Lucka.


"Padahal kamu hanyalah gadis kecil yang masih ingusan."


Aku melotot. "Apa katamu?!"


"Tapi semua keceriaanmu telah mengalihkan duniaku. Maaf ya aku sudah merenggut senyum ceriamu selama tiga tahun ini."


Aku langsung memeluk Lucka. "Jangan bicara begitu. Aku selalu bersyukur karena aku bisa bertahan dengan cinta yang kupendam selama ini. Sekarang, aku tidak akan memendamnya lagi."


Aku melepas pelukanku. Aku menatap Lucka dalam. Aku menarik kerah kemeja Lucka dan membawanya mendekat. Dengan berani aku mencium bibirnya terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2