![Lu[C]Ka Cinta](https://asset.asean.biz.id/lu-c-ka-cinta.webp)
Tiga Tahun Kemudian,
"Baiklah, Ibu-ibu sekalian. Kita sudahi kelas memasak kita hari ini. Silahkan bawa masakan yang tadi sudah kita buat bersama. Semoga keluarga di rumah menyukainya. Sampai jumpa minggu depan. Selamat sore semuanya."
"Selamat sore, Chef Cinta!" Jawab ibu-ibu kompak dan pergi berurutan.
Cinta meregangkan otot-ototnya yang kaku setelah mengajar kelas memasak selama dua jam.
Setelah membereskan kelas, Cinta berganti baju dan bersiap pulang. Ia mengunci pintu dan gerbang ruang kelas memasaknya yang berada di sebuah ruko di pinggiran kota. Sudah hampir dua tahun ini Cinta mengajar kelas kursus memasak di sekolah memasak milik Chef Juna. Chef Juna banyak membantu Cinta dalam mewujudkan impiannya.
Cinta memastikan lagi kalau gerbang ruko sudah terkunci rapat. Cinta menunggu seseorang di depan ruko. Tak lama sebuah mobil sport mewah berhenti tepat di depan Cinta. Seorang pria tampan turun dari mobil dan menyapa Cinta.
"Gimana kelas hari ini?" Tanya sang pria yang tak lain adalah Chef Juna.
"Good. Aku mulai terbiasa dengan ibu-ibu yang selalu cerewet." Cinta meringis.
Chef Juna tertawa. "Bukannya semua ibu-ibu tuh cerewet ya? Kamu sudah dua tahun disini, pasti sudah mulai hapal kan dengan perangai tiap muridmu di setiap musim."
"Hmm, begitulah. Aku menyukai pekerjaanku yang sekarang."
"Kita sudah terlambat, ayo cepat masuk mobil!" Ucap Chef Juna sambil melirik jam tangannya.
"Oke!"
"Banyak hal terjadi selama beberapa tahun ini. Semua terasa sangat cepat. Sejak kepergian Lucka ke Singapura, dan juga penolakanku terhadap Kak Lucki. Semua hal berubah. Hidupku juga berubah. Aku tak mau terus dibayang-bayangi oleh penyesalan. Aku ingin menggapai apa yang aku impikan. Aku ingin bahagia.
Dan aku merasa sudah cukup bahagia sekarang. Aku tak boleh serakah. Aku akan mensyukuri hidupku yang sekarang. Meski semua tak sesuai dengan yang kuharapkan."
"Kita mau kemana sih, Mas?" Tanya Cinta pada Chef Juna.
"Dan entah sejak kapan panggilan itu melekat pada seseorang yang kini bersama denganku."
"Ke resto lah. Si Marko bilang dia punya resep baru dan mencoba masak di dapurku. Semoga saja enak ya!"
__ADS_1
"Jangan memandang rendah orang lain, Mas. Chef Marko selalu hebat dalam membuat makanan."
"Cih, kamu kenapa belain dia?"
"Aku gak bela Chef Marko. Aku hanya menyampaikan fakta. Aku penasaran, kali ini Chef Marko masak apa ya?"
"Gak usah penasaran. Nanti kamu juga tahu!"
Cinta melirik ke arah Juna yang senyam-senyum sendiri.
"Ada apa sih?" Cinta mengernyitkan dahi.
"Gak ada. Udah kamu duduk tenang aja disitu! Gak usah melirik kesini."
Cinta tersenyum geli melihat Chef Juna salah tingkah. "Mas grogi ya aku lihatin mas dari sini?"
"Diamlah! Jangan menggodaku!"
Sesampainya di resto milik Chef Juna, disana sudah ada Tommy dan Alisa yang memberi kejutan pada Cinta.
"Happy birthday!" Mereka berseru gembira menyambut Cinta.
"Alisa? Tommy?" Cinta masih tak percaya kalau mereka ingat hari ulang tahun Cinta.
Suasana riuh gembira mengisi seluruh ruangan resto yang hari ini sengaja di tutup oleh Chef Juna.
"Tiup lilinnya! Tiup lilinnya!" Seru Tommy dan Marko.
"Eh, tunggu Nona! Buatlah harapan dulu sebelum meniup lilinnya." Alisa masih memanggil Cinta dengan panggilan 'Nona'.
Cinta memejamkan matanya.
"Tuhan, aku tidak tahu harus meminta apa. Aku tidak bisa meminta lagi padaMu. Aku sudah terlalu banyak meminta. Aku hanya ingin seseorang yang jauh disana ... dia selalu baik-baik saja. Dan aku aku juga ingin selalu baik-baik saja disini... Aamiin."
__ADS_1
Cinta membuka matanya dan langsung meniup lilin di depannya. Tersemat angka 22 disana.
"Yeay! Selamat ulang tahun, Nona. Semoga Nona selalu mendapat hal baik dalam hidup Nona." Ucap Alisa sambil memeluk Cinta.
"Terima kasih banyak Alisa."
"Ayo kita foto bersama!" seru Tommy.
#
#
Dua jam kemudian,
"Chef! Apa konsep kue tart yang kamu bikin ini?" Tanya Cinta penasaran.
"Umm, gak tahu juga ya. Aku hanya mengikuti tren saja. Akhir-akhir ini kan ada beberapa toko bakery yang membuat kue tart tapi dari bahan mie instan. Jadi, aku hanya ingin mencoba membuatnya. Tapi menggunakan pasta. Bagaimana menurutmu?"
"Umm, bagus sih. Terlihat berbeda. Rasanya juga enak."
"Thank you. Aku tahu ini pasti berhasil."
"Tapi, kenapa harus pasta?" tanya Cinta penasaran.
"Entahlah. Mungkin karena mengingatkanku pada seseorang."
"Eh?" Cinta tertegun, kemudian terdiam.
"Cinta, sudah malam. Aku akan mengantarmu pulang. Marko! Bereskan semuanya sebelum kamu pulang!" Chef Juna menghampiri Chef Marko dan Cinta yang sedang bicara berdua.
"Oke boss! Hati-hati di jalan ya! Cinta, sekali lagi, happy birthday ya!"
Cinta membalas dengan sebuah senyuman manis.
__ADS_1