![Lu[C]Ka Cinta](https://asset.asean.biz.id/lu-c-ka-cinta.webp)
Cinta mulai membuka matanya, dan melirik ke arah jam weker di samping tempat tidurnya. Sudah pukul empat sore. Dan itu artinya ia sudah tertidur selama hampir empat jam. Tidak biasanya ia tidur siang selama itu. Apakah tubuhnya mulai lelah dengan semua hal dirumah mewah ini?
Dengan malas, ia beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Ia akan berendam selama beberapa menit dengan air hangat.
Usai membersihkan diri, Cinta merasa masih tak enak badan. Dan ia ingat satu hal. Ia melewatkan makan siang. Perutnya sudah meminta untuk di isi. Ia menata rambutnya asal hanya dengan menguncirnya ke belakang ala ekor kuda dan keluar kamar menuju dapurnya. Ia akan memasak yang cepat saja. Karena perutnya tak bisa lagi berkompromi.
Setelah makanannya matang, Cinta langsung melahapnya. Ia hanya memasak telor dadar kesukaannya. Tak ada makanan tercepat selain telor dadar. Benar kan?
Pukul lima sore, tak lupa Cinta melakukan rutinitas hariannya. Menyiram tanaman di taman mansion utara. Melihat tanaman dan bunga-bunga tumbuh segar membuat Cinta bisa tersenyum bahagia.
Di sisi lain taman, ada seseorang yang sedang berjalan ke arah taman, namun seketika menghentikan langkahnya. Ia mengamati Cinta yang sedang merawat bunga-bunga di taman itu.
"Lucki, sedang apa disini?" Sebuah suara membuyarkan konsentrasi Lucki.
"Hai, Tom. Ini masih sore, kenapa sudah di rumah? Apa Lucka juga sudah disini?"
"Tidak. Lucka masih di kantor. Dia memintaku pulang lebih awal. Dia masih ada meeting dengan beberapa klien."
"Oh ya? Terdengar tidak seperti biasanya."
"Tidak juga. Terkadang dia memang ingin sendiri. Jadi, dia memintaku pulang lebih awal."
"Baguslah. Kita jadi bisa mengobrol. Bagaimana kalau ke kafe?" ajak Lucki.
"Ide bagus."
"Bagaimana perusahaan?"
"Lancar. Lucka orang yang sangat cekatan."
"Yeah. Dia mendapat semua yang dia inginkan."
"Tidak juga. Hanya satu yang tidak ia inginkan."
"Apa itu?"
"Perjodohan ini." Tommy melirik ke arah Cinta.
Lucki mengernyitkan dahi. "Benarkah? Lalu apakah gadis itu tahu?"
"Tentu saja. Lucka bahkan berniat membatalkan perjodohan ini di hari mereka bertunangan."
"Lalu, apa yang terjadi?" Lucki makin penasaran dengan kisah adik kembarnya dan Cinta.
"Mereka tetap bertunangan. Gadis itu membuat Lucka mau menerima perjodohan ini."
"Jadi, Cinta menerima perjodohan ini?"
"Tidak juga. Mereka sama-sama menolak. Tapi karena kebaikan hati kakekmu, dia tak kuasa menolak. Gadis itu tidak mau menyakiti hati kakek dan nenekmu."
"Rasanya dia sudah mulai menerima semua ini. Buktinya dia mau merawat taman disini," terka Lucki.
"Ya. Dia terlihat bahagia saat ada di taman ini."
Lucki melihat ke arah Cinta yang sedang tertawa ceria bersama Alisa dan Edi. Entah kenapa ada desiran aneh dari dalam hatinya ketika melihat senyum Cinta. Ada juga perasaan iba yang tiba-tiba hadir kala mengetahui bahwa Cinta tak sepenuh hati menerima perjodohan ini.
__ADS_1
...***...
Keesokan harinya,
Kelas belajar Cinta dengan Ibu Rini selesai lebih awal karena Ibu Rini ada keperluan mendadak. Cinta masih berada di ruang belajar, dan mengerjakan pekerjaan rumah yang Ibu Rini tinggalkan untuknya. Benar-benar seperti anak sekolah.
Lucki mendatangi Cinta yang masih fokus pada buku-buku pelajarannya.
"Kelas selesai lebih awal?"
Cinta seketika mendongak ke arah sumber suara.
"Kak Lucki? Ada apa datang kesini? Apa kakak akan belajar juga?"
Lucki tertawa kecil. "Tidak. Aku ingin menemuimu."
"Menemuiku?" kening Cinta berkerut.
"Kamu suka membaca?" tanya Lucki.
"Umm, lumayan. Kenapa?"
"Sudah pernah masuk ke perpustakaan kami?"
"Hehe, belum. Aku terlalu sibuk belajar disini."
"Baiklah. Kalau begitu ayo ikut denganku. Kita ke perpustakaan."
Cinta langsung bersemangat, dan membereskan buku-buku belajarnya. Ia mengikuti dari belakang kemana Lucki melangkah.
"Disini adalah buku-buku koleksiku. Kamu bisa sekalian belajar disini karena ada meja dan bangku juga disini." Lucki menunjukkan koleksi buku-bukunya pada Cinta.
Cinta tersenyum senang. "Aku boleh memilih buku bacaan sesuka hatiku?"
"Tentu saja."
"Kok bisa kakak punya koleksi buku sebanyak ini? Apa kakak seorang guru?"
"Umm, bisa dibilang begitu."
"Guru yang menjelajah?" tebak Cinta.
"Aku menuliskan tiap perjalananku menjadi sebuah buku. Ada di rak di belakangmu."
Cinta menoleh ke belakang dan di ambilnya satu buku, kemudian membukanya. Buku itu benar menceritakan tentang pengalaman Lucki selama mengajar di banyak tempat di beberapa negara. Ada foto juga disana.
Cinta tersenyum bangga pada Lucki. "Kapan kakak memulai semua ini?"
"Sebenarnya sejak kecil aku tertarik dengan dunia mengajar. Namun aku baru menekuninya setelah lulus SMA, seusiamu."
"Lalu kuliah kakak? Bagaimana kakak menjalaninya sementara kakak keliling dunia?" Cinta makin penasaran dengan sosok kembaran Lucka ini.
"Aku dapat bimbingan dari seorang profesor kenalan kakek. Namanya Profesor Gerald. Beliau yang membantuku untuk tetap bisa kuliah, dan lulus dengan nilai yang bagus."
"Benarkah? Kakak hebat!" Cinta memberikan dua jempol untuk Lucki. Lalu mereka tertawa bersama.
__ADS_1
Dan tak terasa waktu berlalu begitu cepat hingga mereka berduapun larut dalam kegiatan masing-masing di perpustakaan selama berjam-jam.
...***...
Setelah menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan bersama Lucki, Cinta kembali ke kamarnya.
"Nona! Dari mana saja? Aku mencari Nona kemana-mana tapi tidak ketemu!" sungut Alisa begitu Cinta sampai dikamarnya.
"Maaf, aku ke perpustakaan bersama Kak Lucki."
"Bersama Tuan Lucki? Nona baru mengenalnya dua hari yang lalu dan sekarang sudah bersama dengannya di perpustakaan?" Alisa tercengang.
"Memangnya kenapa? Kak Lucki orang yang baik. Dia sangat berbeda dengan Lucka."
"Iya benar. Mereka memang sangat berbeda."
"Nenek bilang Lucka berubah setelah kepergian kedua orang tuanya."
"Iya, itu benar Nona. Tapi bukan hanya Tuan Lucka saja yang berubah. Tuan Lucki juga mulai berubah sejak saat itu."
"Eh?"
"Sejak kecil yang kelihatan mewarisi jiwa pengusaha Tuan Besar adalah Tuan Lucka. Dan Tuan Lucki sepertinya lebih mirip dengan keluarga Nyonya Arina yang kebanyakan bergelar profesor. Dan semua itu jelas terlihat setelah kepergian Tuan Albi dan Nyonya Arina." Alisa tak mampu melanjutkan ceritanya.
"Apa yang terjadi setelah itu?" Cinta menatap Alisa dengan serius. Ia memang ingin memahami keluarga ini.
"Ada rumor yang beredar diantara para asisten..."
"Rumor?"
Alisa mengangguk. "Beberapa asisten mengira kalau Tuan Besar lebih mengistimewakan Tuan Lucka daripada Tuan Lucki."
Cinta terdiam. Dia mulai memahami apa yang terjadi di rumah yang sekarang ia tinggali.
"Maka dari itu ada kemungkinan itulah yang membuat Kak Lucki memutuskan pergi dari rumah?" Cinta menyimpulkan.
"Iya. Ada yang mengatakan begitu. Tapi, Tuan Lucki yang kukenal bukanlah orang yang akan melarikan diri seperti itu."
"Aku mengerti." Cinta mengelus punggung Alisa. Entah kenapa nampak raut kesedihan di wajah Alisa setelah bercerita tentang banyak hal di rumah ini.
"Oh ya, aku penasaran. Kenapa kakak kamu tidak bicara formal pada Lucka dan Kak Lucki?" Cinta mengganti topik pembicaraan.
"Itu karena mereka berteman sejak kecil."
"Ah begitu. Berarti kakakmu lebih dekat dengan Lucka?"
"Tidak. Kakakku sebenarnya berteman baik dengan Tuan Lucki. Malah dia tidak dekat dengan Tuan Lucka. Nona tahu sendiri kan, Tuan Lucka sifatnya bagaimana."
"Ya, aku tahu. Itu artinya dia memang sudah menyebalkan sedari kecil. Buktinya kakakmu tidak cocok dengannya. Tapi kenapa kakakmu jadi asisten Lucka? Harusnya jadi asisten Kak Lucki dong!" protes Cinta.
"Karena Tuan Lucki pergi..." Alisa menundukkan wajahnya.
Dan Cinta tidak mengatakan apapun lagi. Sejauh ini akhirnya ia mulai tahu tentang kehidupan keluarga Bahari. Keluarga barunya.
...©©©...
__ADS_1
Bersambung,,,,