
Sejak tadi, Sima tak melihat wanita itu lagi. Namun setelah beberapa saat, terlihat siluet dari balik dinding. Karena gemas sendiri, Sima pun akhirnya memutuskan tuk menghampiri wanita tersebut.
“Ah, kau menyadari keberadaanku?”
Tak ada reaksi terkejut sekalipun. Wajahnya benar-benar santai. Ia lantas berjalan ke arah kafe Dadi Muncul kemudian diikuti oleh Sima. Di sana cukup sepi di jam siang, cuaca juga semakin panas.
Di dalam sebuah kafe yang sepi, mereka berdua memilih bangku di sudut ruangan.
“Apa kau benar-benar tidak mengingat diriku?” tanya wanita tersebut. Beberapa menit, Sima menatap wajahnya lalu kemudian ia menyadari bahwa wanita ini adalah tunangan Adrian.
“Oh, maaf. Aku buruk dalam mengingat wajah seseorang. Kau Lisa, ya?” ucap Sima dengan senyum tersungging.
“Baguslah kalau kau masih mengingatnya. Tidak perlu berbasa-basi lagi, aku datang untuk membuatmu membayar semua penderitaan Adrian. Selama ini dia tersiksa karenamu kau tahu,” tukas Lisa.
“Halo? Bukankah itu salahmu juga. Kudengar kau meninggalkan Adrian setelah tahu dia dipecat? Bukankah kau sendiri yang telah membuatnya menderita?” sindir Sima.
Sudut bibir yang naik sebelumnya pun jadi hilang. Senyum serta tatapan tak mengenakkan darinya lenyap seketika. Lisa menatap lurus ke arah pandangan Sima secara langsung.
Mata lebar berwarna hitam itu tanpa celah melirik ke segala sisi raut wajah Sima seorang. Sima terdiam, ia kemudian menyilangkan kedua lengan lantas memiringkan kepala tanda tak mengerti dengan apa yang Lisa tatap darinya.
“Hah, aku rasa kau memang tidak diberitahu apa pun pada Adrian.” Lisa menghela napas.
“Apa maksudmu?” tanya Sima tak mengerti.
Perbincangan mereka nyaris tak didengar oleh siapa pun karena jarak di antara pelanggan lain berjauhan serta para pelayan di sana juga tidak terlalu banyak.
Mungkin sebagian sedang beristirahat.
Lisa mendekatkan bibirnya langsung ke telinga Sima, agar dapat didengar tanpa kehilangan beberapa kata.
“Adrian memacarimu karena dia ingin tahu siapa dalang dibalik pembunuhan Ayahnya,” bisiknya dengan wajah kesal.
“Tunggu ...apa? Lantas apa urusannya denganku sehingga kau bertanya seperti ini? Lagipula yang harusnya di sini juga bukan kau melainkan Adiran,” sahut Sima mulai mendengus kesal.
__ADS_1
Lisa kemudian duduk kembali di bangkunya. Sekali lagi menatap wajah Sima, tak tersirat sedikit pun benih-benih kebohongan yang nampak.
“Aku tak mau membahas hal lain. Tapi sebagai tunangannya aku ingin kau segera masuk penjara dengan mengakui pembunuhan yang telah kau lakukan pada Ayahnya,” jelas Lisa, ia sepertinya sangat ngotot terhadap arah perbincangan ini.
“Di sini tidak baik membicarakan hal yang mengerikan seperti itu. Lalu, hentikan tuduhanmu yang tak berdasar.”
“Aku tahu itu semua ulahmu.”
“Lalu di mana buktinya? Apa kau punya? Bahkan dendam saja aku tak pernah, Lisa. Adrian juga sudah bukan lagi urusanku,” kata Sima tak peduli.
“Ya, kau benar. Kau tidak ada hubungan lagi dengannya. Memang untuk sekarang aku tak punya bukti itu. Tapi biar kukatakan satu hal, akulah yang menyuruh Adrian untuk memacarimu untuk mencari kebenarannya tapi dia sudah terlanjur jatuh cinta,” jelas Lisa.
Barusan yang dikatakan oleh Lisa menjelaskan kenapa Adrian selalu memasang wajah kaku di hadapannya. Bahkan saat ketahuan selingkuh saja, Adrian hendak mengelak tapi di satu sisi sudah tidak bisa. Setiap ucapan yang ia lontarkan pun terasa dipaksakan.
Dan ternyata itu semua karena Lisa.
“Jadi itulah mengapa kau datang kemari? Kau yang tahu bukti-bukti itu lalu kenapa tidak bilang semuanya pada Adrian?” tanya Sima.
“Oh, rupanya kau mengakuinya?”
Sudut bibirnya naik sedikit, sebelah alis Lisa sedikit berkedut seolah ia tahu kalau Sima akan berkata seperti itu.
“Oke, terserah dirimu. Aku cukup yakin itu adalah kau. Tapi karena Adrian melunak karena dirimu, maka akulah yang akan melawanmu.”
“Seenaknya saja dia menuduhku. Kenapa dia terlihat sangat percaya diri? Tapi aku juga tidak pernah melakukan hal keji seperti itu. Jangankan membunuh, menghajar orang pun aku selalu menahan diri,” batin Sima dengan hati yang gelisah.
Pertemuannya dengan Lisa ternyata bukan hanya sekadar pertemuan biasa. Mana kala, terlihat seperti dua wanita yang bertengkar memperebutkan satu pria.
Tapi sebenarnya, Lisa malah menuduh Sima. Dengan mengatakan bahwa Sima pernah membunuh Ayah Adrian. Lalu alasan Adrian memacari Sima pun juga karena ingin tahu kebenarannya yang dimana itu semua berawal dari suruhan Lisa sendiri.
Kemudian?
Adrian terlanjur jatuh cinta pada Sima. Tapi kini hubungan mereka telah kandas. Lisa sendiri yang mengakhirinya.
__ADS_1
“Kedepannya berhati-hatilah, Nona Sima. Kau harusnya lebih peka terhadap pertemuan kita hari ini.” Lisa kemudian beranjak dari sana lalu melanjutkan, “Nona Sima. Hanya akulah yang tahu siapa dirimu sebenarnya.”
Ekspresi Lisa tiba-tiba berubah jadi licik. Ditambah nada suaranya yang terdengar lembut namun mengancam. Seketika hati Sima bergetar.
“Siapa wanita ini?!”
Gura yang telah mengabarkan bahwa Faksi Pertama mulai bergerak lagi. Lalu pertemuannya dengan Lisa. Apakah ini hanya kebetulan? Atau hanya Sima saja yang berprasangka buruk, bahwa ini ada hubungannya dengan Faksi Pertama?
“Hei!” Sima memanggil, menghampirinya lantas berbisik, “Apa pun yang kau katakan, kujamin itu adalah sebuah kesalahan besar. Jika kau sampai berani mengusik diriku lebih lanjut, maka kau akan tahu akibatnya.”
Pantas saja perasaan Sima tidak nyaman setelah Gura menghubunginya, hal inilah yang mengganggu. Sima pun pergi dari kafe tersebut.
“Heh, dasar wanita kasar. Dia memang tidak berubah.”
***
Sedangkan saat ini di ruang peristirahatan kafe Dadi Muncul. Sejumlah pelayan sedang asik menggosip sendiri. Terutama Dendi yang sejak tadi belum menunjukkan batang hidungnya.
“Harusnya jam 10 pagi tadi dia datang. Tapi kenapa sampai menjelang sore begini, dia masih belum kemari?”
“Senior, mungkin dia terkena musibah. Aku dengar Ibunya meninggal dunia kemarin pagi.”
“Oh, kalau begitu aku turut berduka. Aku baru tahu hal ini, kau tahu darimana?”
“Barusan dia chat, tapi dia agak terlambat datang ke sini karena ada pekerjaan lain katanya,” ungkap si junior seraya menunjukkan isi chat dari ponselnya.
Selain mereka yang tengah membicarakan soal Dendi. Beberapa lainnya membicarakan tentang dua wanita yang tidak terlihat asing lagi.
Jelas saja, kejadian memalukan itu terjadi tepat di depan mata mereka. Takkan mudah dilupakan bahkan bagi Sima sekalipun.
Lalu, Lisa juga berani unjuk diri di kafe Dadi Muncul bersama Sima. Entah niatnya apa selain membahas hal sentimen, tapi yang pasti salah seorang pelayan wanita berpikir bahwa Lisa hendak mempermalukan Sima dengan membuatnya datang kemari lagi.
Namun gagal.
__ADS_1
Walau Sima memang tidak peka, tapi hatinya memang terbuat dari batu. Mengasihi orang lain juga sering melanda hatinya, namun batu yang dimaksud adalah ia tak mempan dipermalukan seperti itu. Terlalu kebal, layaknya seorang bos mafia yang tak mudah goyah.