Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik

Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik
055. Bermalam di Hotel


__ADS_3

Bermalam di hotel tidaklah buruk, hanya saja apa yang dilakukan oleh Dendi bisa menjadi pemicu kejadian tak terbayangkan nanti. Dan itu membuat Sima resah, bagaimana jika dirinya tidak bisa mengendalikan diri? Maka semuanya akan berakhir.


Terlalu berdekatan dengan Dendi memang terlalu cepat untuknya, namun siapa pun akan merasa senang jika berada dekat dengan sosok yang mereka sukai.


“Dendi, tenanglah.” Entah apa yang Sima bicarakan, yang kemudian mengutarakan kalimat aneh seperti itu. Ia gugup karena Dendi memegang kedua lengannya dan tatapannya itu mendekat padanya.


Wajah Sima sudah pasti sangat merah saat itu, tetapi Sima tidak bisa melakukan apa pun lagi selain berkeringat dingin tak karuan.


“Aku jatuh cinta padamu. Tidak salah lagi!” ungkap Dendi tanpa berbasa-basi lagi.


Penyataan yang membuatnya tercengang, waktu Sima seolah terhenti sekarang. Namun ia mencoba memikirkan apakah kalimat tersebut nyata ataukah tidak.


“Den—”


“Aku serius! Karena itu aku tidak mau kehilangan Mbak Sima!”


Tatapan Dendi membara, terlihat ketulusan terpancar dari sana. Cara ia menggenggam lengan dengan lembut pun terkesan ia sedang berharap pada Sima.


“Aku pun ...memiliki perasaan yang sama.” Tetapi, Sima tidak bisa membalas perasaannya. Ia memilih untuk mengubur rasa cinta ini di lubuk hatinya yang terdalam, lalu dirinya menundukkan kepala.


“Aku tidak bisa menjalin hubungan denganmu.”


“Kenapa?” Ada perasaan kekecewaan yang mengalir langsung dari raganya. Dendi memeluk tubuh Sima dengan niat tertentu.


“Dendi, lepaskan.” Sima meminta.


“Tidak bisa! Kalau aku melepaskanmu pasti Mbak Sima akan ...menghilang.”


“Menghilang?”


“Aku takut jika Mbak tidak mau membalas perasaanku padahal kita memiliki perasaan yang sama. Karena ketakutanmu akan sesuatu,” ujar Dendi berupa sindiran keras langsung.


Dendi bukanlah pria yang akan menimbang-nimbang banyak hal dalam suatu kehidupan. Apa pun ia sama ratakan lalu ia selesaikan. Tetapi, masalah Sima sama sekali berbeda jauh dari bayangan Dendi dan Sima takut apabila Dendi membencinya karena hal tersebut.


'Aku paling tidak suka dengan diriku sendiri yang lemah dalam urusan hal ini. Ini bisa menghambatku,' batin Sima dengan perasaan yang bercampur aduk tak karuan.

__ADS_1


“Semua orang pasti akan menyadarinya bahwa Mbak Sima sebenarnya ada sesuatu yang menjanggal dan masalah itu sulit diselesaikan benar?”


“Kenapa kamu menganggapnya seperti itu?”


“Karena aku tahu apa yang kamu rasakan,” katanya.


Mulai detik itu, secercah harapan merasuk ke dalam tubuhnya. Angin yang kencang dan dingin mungkin tak pernah masuk melewati celah dinding, namun ia merasakan angin itu sedang melewatinya yang seakan-akan hendak menghapuskan secercah tersebut.


“Aku memang tidak bisa diandalkan dan payah. Tapi aku akan berusaha untuk membantu, tapi ...aku juga tidak mau kalau Mbak mengangapku akan membencimu karena masalah yang kamu punya!” ujarnya sekali lagi.


Lagi-lagi, ucapan Dendi membuat Sima tercengang. Tak bisa membalas setiap perkataan karena semua telah dipatahkan oleh pria satu ini.


Seberapa besar rasa cintanya pada Sima? Itulah yang ditanyakan sekarang. Namun, ia enggan melihat seberapa besarnya itu.


'Cukup aku saja yang mencintaimu.' Itulah yang Sima katakan dalam hatinya, lantas membalas pelukan Dendi.


Seraya berucap, “Aku mencintaimu. Lalu maaf karena sepertinya mustahil untuk mempererat hubungan kita yang baru.”


“Aku minta maaf, karena aku tidak—”


Bruk!


“Tunggu, Dendi?”


“Apa yang membuatmu begini? Mbak Sima yang aku kenal tidak selemah ini,” ucap Dendi yang nampaknya berbicara hal lain.


“Apa maksudmu berkata seperti itu. Tunggu, Dendi ini posisi yang tidak nyaman untuk bicara dan—”


Kata-kata Sima kembali tersendat, ia terkejut saat Dendi kini berada di atasnya dengan tatapan tajam.


“Mbak Sima tidak seperti ini.”


“Makanya aku bertanya apa maksudmu? Sampai menahanku seperti ini. Apa kamu tahu ini artinya apa? Posisi kita terlalu ambigu,” ujar Sima yang berusaha agar kepalanya tetap tenang.


“Setiap kita bertemu, dan di saat ada kesempatan untuk berduaan seperti ini. Memangnya semua lelaki akan polos selamanya?” Suara Dendi yang lemah lembut seperti perempuan, kini sepenuhnya berubah drastis.

__ADS_1


Suaranya berat tak seperti biasa. Tidak ada keimutan atau keramahan dalam nadanya. Namun terdapat rasa khawatir dan juga rasa yang tidak diketahui oleh Sima. Sejujurnya ini pertama kalinya bagi Sima yang menghadapi pria yang sulit ditebak.


Terkadang periang dan kepolosannya mencuat dan terkadang pula bisa bersikap dingin ataupun agresif seperti ini. Untuk sesaat Sima berpikir, “Kepribadian ganda?”


“Mbak Sima!” panggil Dendi dengan sedikit berteriak.


“A-a-apa?” jawabnya dengan terbata-bata.


“Sejak tadi arah tatapan Mbak Sima itu ke mana? Tatap aku!” kata Dendi sembari mencubit kedua pipi Sima.


“Eh? Tunggu! Dendi, apa yang kamu lakukan? Jangan lakukan, aduh!”


Baru Dendi berhenti melakukannya saat Sima mengaduh kesakitan.


Plak!


Sebagai pembalasan, kali ini giliran Sima yang melakukannya. Ia menampar wajah Dendi dengan kedua telapak tangannya, tetapi tidak sekuat tamparan yang sebenarnya.


“Tolong, jangan bersikap seperti ini. Aku pun tidak mengenali Dendi yang saat ini aku lihat. Coba katakan, apa kamu berhak menanyakan bagaimana sikapku sementara kamu terkadang suka berubah-ubah?”


Sima berwajah serius. Kondisi otaknya; normal. Pemikiran liarnya masih bisa dikendalikan. Setidaknya untuk beberapa menit agar Sima bisa menjelaskan dan bertanya sesuatu pada Dendi.


“Aku bingung harus bagaimana sedangkan kamu sendiri seperti ini. Iya aku tahu, kamu tidak sepolos yang aku tahu karena mau bagaimanapun kamu adalah laki-laki.”


Beberapa kali Sima menganggukkan kepala. Kembali ia berucap, “Ya. Itu benar! Aku sendiri mana tahan jika terus berada dekat denganmu.”


Sebuah kecupan mendarat dengan mulus. Kedua bibir itu menyatu dan saling berpagutan dengan ritme yang halus. Angin hilir masuk melewati celah jendela yang sedikit terbuka, malam yang pekat identik dengan warna gelap pun lalu rembulan seakan menyorot ke arah mereka berdua.


“Ini cintaku. Aku sama sekali tidak bisa menahannya, tapi ...,” Sejenak ia mengambil napas sebentar. Kembali ia melanjutkannya, “Ini bayaranmu yang telah mengecup bibirku tanpa seizin dariku,” katanya seraya menunjuk bibir Dendi.


Namun tentu saja, wajah Sima tidak normal. Kapasitas kewarasannya telah meledak sehingga membuat wajahnya kini memerah seperti kepiting rebus. Tidak luput juga dengan Dendi, ia pun hanya bisa terdiam lalu tersenyum.


“Aku menikmatinya. Sama sepertimu, lelaki polos pun takkan tahan,” ucap Dendi yang hendak melakukan hal itu lagi.


“Hentikan,” pinta Sima seraya mendorong wajah Dendi.

__ADS_1


Meski kapasitas kewarasannya sudah meledak, namun bukan berarti ia sudah tidak waras dan menyerah akan segala tindakan Dendi. Sima akan tetap melawan sebagaimana ia seorang wanita dewasa yang harus menjaga kehormatan lelaki polos ini.


“Aku tidak membalas perasaanmu. Nah, sekarang tidur saja! Ma-maksudku tidur betulan!”


__ADS_2