Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik

Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik
018. Kencan = Bermain


__ADS_3

Hari yang cukup panjang. Sima merasakannya begitu dan berharap sesuatu tentang permintaannya pada Dendi.


“Mbak Sima ingin mengajakku kencan? Wah, aku nggak menyangka hal itu. Tapi kenapa? Apakah ini ada hubungannya dengan mantan pacar Mbak?” pikir Dendi dengan raut wajah sedih.


Seperti biasa. Dendi memang selalu peka akan keadaan sekitar. Tak hanya Sima, bahkan mungkin semua orang yang ada di sekitarnya pun dapat dengan mudah menebak apa yang dipikirkan oleh orang itu.


“Ya, begitulah. Aku tahu itu egois, tapi tidak bisa ya? Yah, wajar sih. Apalagi dengan pekerjaanmu yang bertubi-tubi itu. Pagi sampai malam, 'kan.”


Wajah Sima nampak lesu kembali. Dendi jadi merasa bersalah, karena memang ia berniat untuk menolaknya. Tapi ia tidak tegaan, ia pun menyetujui permintaan Sima yang egois.


“Baiklah, kak. Kalau hanya sebentar juga nggak masalah buatku. Itung-itung juga meredakan kesedihan karena Ibuku sudah tidak ada,” jawab Dendi memelas.


“Itung-itung ya ...” batin Sima, yang sudah bosan mendengar kata-kata unik itu.


“Terima kasih. Aku akan menunggumu di sini. Kamu sudah hapal jalan kemari, 'kan?” tanya Sima berwajah ceria kembali.


Dendi menganggukkan kepala. “Ya! Aku ingat jalannya. Jadi jangan khawatir.”


“Kalau boleh cerita sedikit, aku sebenarnya tadi ada kencan buta. Tapi berakhir kacau, untungnya pria itu masih hidup sekarang,” ucap Sima seraya mengalihkan pandangan.


Mendengar cerita Sima, sesaat Dendi terkejut. Tapi ia memaklumi, rumah sebesar ini sudah pasti Sima adalah orang kaya. Kencan buta adalah awalan untuk memulai hidup baru tanpa didasari apa pun.


Jika sukses mereka akan membuat keluarga tapi jika tidak ya wassalam.


“Mendengar seorang wanita yang mengajak kencan denganku, aku sungguh senang karena aku diperlukan. Tapi saat mendengar bahwa ada alasan dibalik itu, sejujurnya aku sedih tapi aku memakluminya. Tapi tetap saja ...”


Suasana jadi mencanggung. Sima menelan ludah dan berpikir keras bagaimana cara menenangkan emosi Dendi yang labil seperti anak-anak.


“Ma-maaf membuatmu terbebani. Tapi kencan bukan hanya untuk pasangan kekasih saja, bukan?” ucapnya dengan tergagap.


“Oh, ya. Benar juga!” Tiba-tiba ekspresinya kembali normal. Dendi tidak merenung sedih lagi, itu bagus tapi aneh.

__ADS_1


“Haha, baiklah. Selamat bekerja, semoga kau lancar ya!” tutur Sima memberinya semangat dengan tertawa pendek. Ia menepuk pundak lalu mengacungkan jempol untuknya.


***


Setelah kepergian Dendi, Sima hanya terduduk santai di ruang tamu dengan pakaian serba pendek. Menghadap layar ponsel seraya menyalakan kipas guna membuat tubuhnya tak lagi berkeringat panas.


Tampak ia gundah gulana melihat layar ponselnya. Sebentar-sebentar Sima berdecak, menatap sipit lalu tak lama kemudian mendesah lelah.


Apa yang ia lihat adalah tentang berita kecelakaan yang dialami oleh CEO Farmasi. Pria tua yang sudah berkeluarga, mempunyai satu-satunya anak yang bernama Adrian.


Kecelakaan terjadi di rel kereta api yang ada di suatu jalan bersebrangan dengan rumah penduduk. Itu terjadi dua tahun yang lalu. Korbannya tak hanya CEO tersebut melainkan juga ada orang lain yang ikut terseret.


Mereka terlindas kereta api yang berjalan cepat, kedua dari mereka diduga sedang membereskan beberapa lembar kertas berserakan di sekitar sana.


Karena itulah, kejadian tersebut hanya dianggap sebagai kecelakaan lalu lintas. Namun, Lisa. Wanita itu pernah mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan kecelakaan. Bahwa kejadian itu bukanlah seperti yang dipikirkan banyak orang, melainkan pembunuhan.


Dan orang yang terseret "kecelakaan" bersama dengan CEO adalah kembaran Sima. Bernama Misa.


Akan tetapi, apa? Sama sekali Sima tidak bisa mengingatnya dengan baik. Sesaat berpikir adakah masalah di antara CEO dengan kembarannya?


Lantas, kalaupun benar kenapa Sima dituduh sebagai pembunuh?


“Huh, sungguh tidak masuk akal. Memangnya dia tahu apa? Tunangan saja sudah bukan, kenapa wanita itu sok-sokkan ikut campur urusan,” gerutu Sima.


Terlihat dari luar, di halaman belakang dan depan rumah Papuana. Banyak saudaranya tengah mengintip dan mendengar semua celotehan Sima seorang diri.


Mereka hendak menenangkan bos mereka namun tidak bisa karena Bos Sima tidak suka diganggu di saat ia sedang serius menyelami suatu masalah. Ditambah lagi, kalau mereka dengan berani angkat bicara di tengah-tengah itu. Sudah pasti Sima takkan mengampuni mereka.


Bahkan kalau hanya sekadar memberi pendapat saja juga percuma. Bisa-bisa benda pusaka mereka hilang. Padahal mereka membujang selama puluhan tahun karena belum bertemu dengan jodoh.


Meratapi nasib sial yang akan ditimpa mereka jika menganggu Bos Sima, mereka pada akhirnya hanya menghela napas panjang dan tetap bersembunyi di manapun yang aman.

__ADS_1


Malam pun tiba. Suasana malam dengan rembulan penuh yang sudah lama Sima tunggu akhirnya muncul. Mengenakan pakaian sederhana dengan kaos dan celana panjang. Tak lupa ia mengenakan jaket olahraga agar tidak kedinginan.


Dihadapan Dendi yang saat ini mencoba mencerna situasi, ia tak bisa berhenti berkedip lantaran stylist Sima benar-benar unik.


Mengajak kencan dengan pakaian yang sering digunakan untuk jongging di pagi hari? Dendi pun tertawa kecil melihatnya.


“Kenapa tertawa?” tanya Sima dengan heran.


“Hanya lucu saja melihat seorang wanita yang berbeda seperti wanita pada umumnya,” jawabnya yang tengah menahan tawa.


Untungnya Dendi tidak mengenakan pakaian formal, ia hanya memakai pakaian yang sedikit mirip dengan selera Sima namun masih terlihat sopan dengan celana jeans.


Tidak hanya selera pakaian Sima. Bahkan Sima mengajak Dendi pergi ke warnet. Ia tak mengira Sima berniat bermain di tempat ini.


“Nggak nyangka kalau Mbak Sima ternyata hobi main di warnet,” gumam Dendi.


Suasana di warnet yang ramai akan pengunjung. Mayoritas laki-laki yang sedang asik bermain game di komputernya. Terkadang kata-kata kasar mereka sering keluar di saat-saat tertentu sambil menggerakkan mouse.


“Hm, tidak berubah, ya. Mereka tidak sopan. Abaikan saja mereka, mari kita main?” ajaknya berkeliling masuk ke dalam dan mencari tempat yang kosong.


Keramaian yang benar-benar tidak terhitung jumlah mereka di sini. Meskipun tempat tersebut sudah seperti gudang belakang yang luas dan besar, tapi tetap saja terlihat sempit.


Dendi dan Sima bermain di komputer masing-masing, tak terkira bahwa Dendi juga jago mainnya. Sungguh tak terduga.


Dalam hati ia berkata, “Gura lupa mencatat kalau Dendi suka main game, ya? Haha.” yang sebenarnya Sima kesal.


“Dendi, apa kamu sering main kemari?” tanya Sima.


“Nggak juga. Sesekali mampir tapi bukan di tempat ini juga,” sahut Dendi menggelengkan kepala seraya terus menggerakkan mouse-nya.


Hingga 5 jam sudah berlalu. Tak terasa mereka menghabiskan banyak waktu hanya dengan bersenang-senang dengan main game saja. Dendi juga Sima merasakan kesenangan itu bersama.

__ADS_1


“Kencannya sukses bikin Mbak Sima senangsenang,” ucap Dendi dalam hati yang ikut senang.


__ADS_2