
Nyanyian seseorang yang terdengar merdu telah membuat Sima terbangun dari tidur lelapnya. Untuk sesaat saja ia merasakan ketenangan hati, yang pernah sekali ia rasakan saat bersama Ibunya.
“I—”
Sadar bahwa dirinya berada di tempat lain, Sima kemudian menoleh ke segala arah, ia menatap Dendi yang berada di sebelah kanannya lalu sebelah kiri terdapat Raka dan Rani yang nampaknya tertidur.
Lidahnya kelu hampir saja memanggil sang Ibu yang kini sudah tiada. Tetapi, suara merdu barusan membuatnya lupa dirinya siapa. Dan yang menyanyikannya adalah Dendi.
Sejauh mata memandang hanya ada halaman luas, padang rerumputan hijau dengan dinding yang terkesan bahwa ruangan ini berada di perkotaan.
Sejenak Sima tengah memproses sesuatu dalam benaknya. Berusaha memikirkan ulang kembali terkait dirinya.
“Sima baik-baik saja?” Dendi bertanya.
“Y-ya.” Sima menjawabnya dengan gagap.
Saat ini, ia tengah terduduk di kursi panjang bersama Dendi dan kedua anak ini. Satu hal yang ia tahu, ia sempat jatuh pingsan karena rasa sakit di bagian kepala. Kemudian tempat ini bukanlah taman melainkan ruangan.
“Aku berada di mana?” tanya Sima.
“Kamu mungkin bingung ini di mana, tapi tenanglah ini tempat yang akan membuatmu tenang. Kita masih belum keluar dari area mall, dan ruangan ini adalah salah satu tempat yang sepi setidaknya untuk saat ini.
“Apa yang terjadi padaku? Apa aku telah merepotkanmu?”
“Tidak. Sima sama sekali tidak merepotkanku. Justru kami semua yang telah merepotkanmu.”
“Kamu bicara apa barusan? Oh, ya. Tadi kamu bernyanyi ya?”
Dendi mengangguk lalu beranjak dari tempat duduknya dan berkata, “Ini aneh ya. Anak-anak itu tertidur pulas saat aku nyanyikan itu tapi kalau Sima justru terbangun.”
“Nyanyianmu bagus. Aku terbangun karena terkejut saja, Dendi.”
“Begitu ya? Syukurlah.”
Hari-hari telah Sima lewati bersama Dendi. Sebagai pasangan kekasih, asmara di antara mereka mungkin saja terus berlanjut. Lalu, membutuhkan banyak waktu bagi Sima untuk memulihkan kondisi yang sering membuatnya sakit kepala.
Dua pekan berlalu. Tak ada perkembangan yang dapat Sima ketahui mengenai Dendi. Dendi sama seperti malam hari itu. Malam di hotel saat itu.
“Sima, aku ingin menutup matamu dengan kain hitam ini. Hanya sebentar saja, tidak masalah bukan?” tanya Dendi.
__ADS_1
“Ya, tidak masalah. Apa kamu berniat untuk memberiku sebuah kejutan?”
“Wah, Sima menebaknya dengan benar. Bagaimana bisa tahu?”
“Bagaimana aku tidak tahu karena aku akan tahu semua orang akan melakukan hal yang sama sepertimu saat sedang memberi sebuah kejutan,“ ujar Sima.
“Itu benar juga, ya. Hehe.”
Berjalan tanpa melihat dengan Dendi menuntunnya secara perlahan. Setiap langkah kaki yang menyentuh tanah secara tak langsung dengan alas kaki yang sedikit lebih tebal.
Terhitung puluhan langkah yang hampir menyentuh ratusan. Saat itu Sima berhenti berjalan. Kali ini Sima merasa Dendi sedang berdiri di depannya. Setelah beberapa saat terdengar samar-samar suara seseorang yang bukan Dendi.
“Sima, berjalanlah beberapa langkah kaki. Awas, ada tangga di depan.”
“Iya.”
Tepat setelah menaiki beberapa anak tangga, Sima berjalan lurus sampai suara pintu terbuka terdengar. Nampaknya Sima sudah mengetahui bahwa dirinya sedang berada dalam ruangan.
“Silahkan,” ucap Dendi.
Kain hitam yang menutupi kedua matanya pun akhirnya dibuka. Betapa ia sangat terkejut melihat pemandangan di depan mata Sima, pemandangan indah yang berwarna-warni. Dinding yang dihiasi serta beberapa kotak yang berisi kue-kue.
“Ini ...Dendi? Ini apa? Kenapa kamu memberiku kejutan ini?” Sima bertanya lantas bingung dengan kejutan yang Dendi berikan.
“Eh? Serius? Apa jangan-jangan kamu tahu warna—”
“Tanpa bertanya aku tahu warna apa yang Sima sukai dari toko kue itu. Dindingnya berwarna terang, merah muda. Dan pintu berwarna coklat terkesan bahwa bangunan toko kue itu adalah bagian dari kue itu sendiri.”
Dendi berjalan ke depan, mengambil salah satu kotak di sana dan memberikannya pada Sima.
“Karena toko itu aku berpikir Sima akan menyukai kejutan ini,” ucap Dendi.
“Kue ...ini kue yang pertama kali kamu buat? Yang ada selai strawberry di bagian tengahnya? Wah, aku jadi rindu!”
Sima tertawa saat menerima pemberian kue darinya. Merasa bernostalgia karena pertemuan mereka saat itu sungguh lucu, mengingatnya sampai membuat Sima tertawa.
“Jadi, apa yang mau kamu bicarakan sebenarnya?” tanya Sima sesaat setelah menenangkan diri akibat terus tertawa.
“Maksudmu apa berkata seperti itu, Sima?” tanya Dendi.
__ADS_1
“Aku hanya berpikir ada satu-dua patah kata yang hendak kamu katakan padaku. Seperti perpisahan atau sejenisnya,” pikir Sima.
“Kamu masih memikirkan hal itu? Aku benar-benar tidak percaya bahwa Sima akan jadi pesimis seperti ini,” tukas Dendi.
“Kamu marah?”
“Tentu saja aku marah! Aku akan marah karena Sima selalu bersikap seolah aku tak tahan lalu meninggalkanmu. Aku mana mungkin akan melakukannya,” kata Dendi.
“Begitu 'kah? Wah, aku senang. Dendi, hanya kamu satu-satunya yang bisa membuatku tenang. Aku merasa aman namun juga gelisah. Lalu aku merasa kamu menyembunyikan sesuatu dariku.”
Dendi menghela napas sejenak, ia kemudian duduk di sebuah kursi yang berada di dekat rak panjang. Tak terlihat ada kegelisahan namun sorot mata yang tajam itu tertuju pada Sima yang saat ini sedang berdiri di dekatnya.
“Apakah kamu yakin tidak masalah jika aku mengatakannya sekarang?”
“Kenapa harus tanya.”
“Kalau begitu apa kamu ingat beberapa puluh tahun yang lalu? Saat kamu masih kecil.”
Sontak saja Sima terkejut. Ia terdiam mematung dengan mata terbelalak.
“Hei, apa maksudmu?”
Ketika bertanya, justru Dendi menunjuk-nunjuk bagian dalam mulutnya yang sudah terbuka lebar.
“Kue,” katanya.
“Kita sedang berbicara serius sekarang. Aku yakin kamu sudah mengetahuinya. Den—”
“Kue,” ucap Dendi yang sengaja memotong kalimatnya. “Suapi aku, ini akan menjadi kenangan terindah yang sudah lama aku inginkan.”
“Maka aku akan memberitahu segalanya yang belum kamu ketahui sampai saat ini juga,” imbuh Dendi.
“Ternyata benar ada yang salah denganmu atau mungkin kamu bukan Dendi?” pikir Sima. Ia kemudian berdiri tepat di harapan Dendi.
“Jangan berpikir bahwa aku ini kembaran seseorang. Pada dasarnya aku adalah aku, Sima. Tidak, mungkinkah sudah seharusnya aku memanggilmu Bos Sima?”
Kesal, Sima lantas menyuapi beberapa kue kering itu langsung ke dalam mulutnya sekaligus. Bisa dikatakan emosi Sima sedang melunjak karena sosok pria yang berada di hadapannya ini benar-benar berbeda dari yang biasanya.
“A-a ...apa... Uhuk!” Alhasil Dendi jadi tersedak-sedak dan memuntahkan kembali kue kering yang nyaris memaksa masuk ke dalam kerongkongannya.
__ADS_1
“Sima!” teriaknya memanggil nama wanita itu, sambil memegang tangannya yang sekarang masih memegang satu kue kering.
“Ada apa? Katamu aku harus menyuapimu? Kenapa malah dimuntahkan? Nah, ayo sekarang makan!” Emosinya benar-benar tidak stabil, inilah Sima mode iblis, tidak, Bos Sima lah yang sekarang tengah berhadapan dengan Dendi.