
“Kau bertanya, kau ada di sini karena apa?”
Senyum tipis itu kembali tersungging. Mendadak firasat Sima mengatakan hal ini buruk.
“Seperti yang mereka bilang, kesepakatan belum tercapai di antara dua belah pihak. Namun mengingat kau sangat setia pada pasanganmu ...”
Erik menoleh ke sekitar dan melihat anak buahnya kini tumbang, ekspresinya berubah seketika. Semula senang berubah menjadi kesal.
“Kenapa kau tidak mengiris pergelangan tanganmu saja?” Sebaris kalimat yang bukan untuk mencari jawaban. Itu jelas bukan candaan melainkan ancaman, jika Sima tidak melakukan hal itu maka yang akan terjadi yang sebaliknya.
“Apa sebenarnya yang jadi masalahmu? Dan apa yang kau maksud tentang pasanganku?” tanya Sima meminta kejelasan yang pasti.
“Pasanganmu, Adrian. Ah, iya sudah jadi mantan pacarmu,” sahut Erik.
“Hei!”
“Insiden yang terjadi dua tahun lalu. CEO dalam bidang farmasi, Pak Pratama mengalami kecelakaan bersama dengan seorang wanita. Mereka berdua tewas mengenaskan, terlindas kereta api.”
Berita itu juga masih terngiang-ngiang di kepala Sima. Kecelakaan tapi di satu sisi, banyak orang atau lebih tepatnya orang-orang Faksi Pertama dan Lisa menganggap itu adalah pembunuhan.
“Erik, itu murni kecelakaan, bukan? Kenapa kau mengungkitnya?”
Di satu sisi, Sima berpikir apakah Lisa juga bagian dari Faksi Pertama. Karena mereka berpikir hal yang sama, tentang insiden yang dianggap sebagai kecelakaan.
Hal ini sungguh aneh, mengingat ada dua orang membicarakan tentang itu di depan wajah Sima.
“Apa kau berniat menuduhku juga? Kalau begitu biar aku jelaskan bahwa aku sama sekali tidak ada hubungan dengan kejadian itu,” ungkap Sima.
“Kau yakin? Bukankah wanita itu adalah kau? Nona Sima?”
Deg! Jantungnya berdetak lebih keras dalam sekali. Perasaan yang membuat merinding ini apa? Sekujur tubuh Sima bergemetar, seolah merespon apa yang dikatakan oleh Erik saat itu.
Raut wajah Sima pun menjadi suram. Berbeda dengan Erik, ia justru semakin tersenyum lebar.
__ADS_1
“Tidak. Wanita itu jelas bukan aku. Kalau benar, kenapa aku masih hidup? Apakah mereka mengira bahwa Misa adalah aku?”
Itulah yang Sima duga. Dalam sekejap ia menangkap perkataan Erik dan semua berita yang tertulis secara digital. Kecelakaan yang melibatkan Misa, kembarannya justru menjadikan Sima sebagai pelampiasan orang-orang sekitar.
Hati Sima mulai gelisah. Bukan karena perasaan bersalah tapi beban itu telah ada di punggungnya. Memaksanya dipikul seorang diri, cemas akan kejadian yang terjadi di masa lalu membuat napasnya berat.
“Di sini membuatku sangat sesak. Apa kau yakin itu adalah aku? Tidak, kau salah besar. Semua yang kau pikirkan tentangku itu salah besar! Atas dasar apa kau berpikir bahwa aku adalah wanita itu? Lalu apa maksudmu adalah akulah yang membunuh pria itu?” cerocos Sima dengan kesal.
“Kalau bukan kau lalu siapa?”
“Itu ...” Sima ragu untuk mengatakan kebenarannya. Karena masih belum cukup jelas apakah ia benar-benar tidak berhubungan dengan insiden itu atau tidak.
Masih berupa teka-teki. Sumur tanpa dasar akan membuatnya jatuh kembali. Setidaknya menjaga harga diri di depan lawan itu penting.
“Kau tidak bisa mengatakan siapa wanita itu? Bahkan dengan koneksi keluargamu, kau bisa mengubah status hidup dan matimu, Nona Sima. Semenjak kau mendekati putra dari CEO, saat itulah kami mulai mencurigai siapa dirimu,” jelas Erik.
“Apa? Kau tak mengenal wanita bernama Lisa? Wanita itu mengatakan hal yang sama denganmu.”
Erik terkejut saat mendengar pernyataan Sima. Kalimat yang terlontar langsung dari mulutnya itu membuat ia terdiam seketika.
“Kupikir ada hubungan di antara mereka. Misalnya sesama rekanan di atas nama Faksi Pertama. Tetapi tidak? Lalu wanita itu siapa sebenarnya? Identitasnya tidak jelas. Aku harus menyelidikinya.”
Berita yang terdengar simpang siur. Bagi kedua belah pihak, tak seorang pun yang mengetahui kejelasan dari insiden tersebut.
Namun pernyataan yang sama antara Erik dengan Lisa. Meski Erik bilang tidak mengenal Lisa. Tapi Sima tidak sebodoh yang ia kira.
“Erik, kau sebelumnya menceritakan masa lalu tentang Ibuku. Lalu sekarang tentang insiden dua tahun lalu. Apa maksudnya ini? Kalian, kau dan Lisa pasti saling berhubungan benar?”
“Huh ...” Erik membuang muka, membuang napas pendek lantaran menahan tawanya yang menggelikan. “Itu benar. Ternyata mengelabuhi Bos Sima itu tidak mudah rupanya. Ya, baiklah aku mengakui bahwa Lisa berhubungan denganku.”
“Baik dari ceritamu di saat kita pertama kali bertemu lalu ceritamu saat ini, sudah jelas ada perbedaan. Kau berusaha memanipulasi ingatan wanita, Erik,” sahut Sima dengan menatapnya tajam.
“Ya, tadinya begitu. Tapi karena sudah terbongkar mau bagaimana lagi? Dan sekali lagi kujelaskan bahwa kesepakatan kita belum terbentuk. Ada masa lalu di antara Ibu dan Ayahmu kemudian masa lalu yang berkaitan dengan wanita itu,” kata Erik.
__ADS_1
Tap ...tap!
Berjalan dua langkah ke depan dengan berani. Namun pandangannya tak mengarah langsung ke arah Erik, ia melewatinya.
Berbisik lembut, “Wanita itu bukan aku. Tapi kembaranku, Misa.”
Menunjukkan punggung dengan rambut yang tergerai. Sinar rembulan terpantul masuk lewat celah jendela. Terpaan angin yang dingin, sesaat tubuh Sima merinding dingin.
Erik masih terpaku di sana. Tak lama ia berusaha mencerna semua omongan Sima hari ini. Ia kemudian sekali lagi menghampiri Sima lalu menarik tangannya.
“Kita belum selesai bicara. Katakan apa yang kau ketahui!” kecamnya menegas.
“Kau pasti berniat balas dendam atas kesalahan Ayahku di masa lalu. Dimana saat Ibuku dipinang paksa dan melahirkan anak kembar perempuan yang tak berguna. Di masa-masa itu, organisasi mafia bayangan mencapai akhir kejayaannya.”
“Ya! Lalu apa? Apa yang terjadi padanya? Katakan!”
“Apa kau mempunyai perasaan terhadap Ibuku?” tanya Sima memastikan sesuatu.
“Tidak! Aku tidak tertarik dengan wanita itu,” jawabnya dengan yakin.
“Tidak? Lalu kenapa kau begitu antusias mendengarku bercerita?” Sima bertanya heran, ia menekuk alisnya dan kemudian melepas genggaman Erik.
“Aku akan jujur. Lisa yang menyuruhku untuk membuatmu berbicara tentang insiden dua tahun yang lalu. Kemudian di saat bersamaan, aku masih tak bisa melupakan bagaimana Ibuku direnggut dariku seperti itu,” jelas Erik.
“Satu hal yang dapat kau pastikan saat ini adalah. Nona Sima, kau adalah bagian dari darah daging yang sama sepertiku. Meski tidak se-ayah tapi kita se-ibu,” sambungnya.
Lagi-lagi ada sesuatu yang menyempurnakan teka-teki. Namun meski begitu, ini masih membuat hatinya terasa sakit. Terasa membakar dari dalam, seolah-olah ingatan yang kini berkabut membuatnya menderita saat Sima mencoba mengingatnya lagi.
Apa saja yang disembunyikan oleh Sukma! Ayah Sima darinya sendiri? Pertanyaan itu terlintas dalam benaknya. Menahan kesal dengan mengepalkan tangan sekuat tenaga.
“Hah ...ini cukup lucu, kau tahu. Untuk saat ini aku tidak bisa ingat apa-apa. Aku Sima, lalu kembaranku Misa dan Ibu?”
“Nona Sima! Apa yang akan kau lakukan?”
__ADS_1
“Apa yang akan aku lakukan, katamu? Sebelum mencari kebenaran yang lebih dalam. Aku harus mengungkap insiden dua tahun lalu,” tutur Sima dengan sorot mata yang sekilas bercahaya dengan tajam.
Insiden dua tahun lalu, di mana kembaran Sima terbunuh. Lalu, untuk mengetahui apa alasan mereka menganggap Sima sebagai pembunuhnya.