
Telah terjadi pemadaman listrik di hotel saja sementara yang berada di tempat-tempat lain di luar sana masih menyala dengan terang. Sesuatu yang buruk telah terjadi, entah itu karena korselting atau alasan lainnya.
Terdengar jeritan para wanita yang terkejut, dan juga suara para pria yang sepertinya adalah petugas keamanan untuk membantu orang-orang lainnya dengan mengintruksikan.
Beberapa dari mereka pula sigap dengan menyalakan layar ponsel guna mendapatkan sedikit cahaya.
Dan pada saat itu Dendi, tampaknya terjadi sesuatu padanya dengan merasakan tangan dan punggungnya yang bergetar. Dalam benak Dendi, ia terlihat seperti sedang membayangkan hal-hal menyeramkan sampai ia bergumam-gumam tak jelas mengapa.
“Dendi? Kamu mendengarku? Jawab panggilanku,” kata Sima berusaha membuat Dendi tenang dengan mengeluskan punggungnya pelan.
Berharap setidaknya sedikit rasa aman hadir pada Dendi yang takut akan kegelapan, namun sepertinya percuma.
“Dendi!”
“Hentikan ...hentikan ...jangan ganggu aku. Jangan dekati aku ...kumohon. Tolong aku ...siapa pun.” Suaranya semakin bergetar hebat, yang kemudian ia ambruk ke lantai sembari menutup kedua telinganya rapat dengan kedua tangan.
Ia teringat kenangan buruk di masa lalunya saat ia masih kecil. Terduduk di sudut ruangan dengan tanpa lampu dan hanya menghadirkan kegelapan di sekelilingnya. Tak ada sedikit cahaya sedikit pun bahkan cahaya rembulan enggan masuk melewati celah jendela yang sedikit terbuka.
Hanya semilir angin masuk melewati celah itu, tapi tidak membuatnya tenang namun justru semakin mengerikan. Hawa mencekam yang membuat Dendi kecil ketakutan, hanya dapat menutup telinga yang membisikinya dan hanya dapat menutup matanya dengan berharap takkan ada hal yang mengerikan ia lihat.
“Hantu, hantu, hantu, hantu ...,” Hanya kata-kata ini saja yang Dendi gumamkan sejak tadi. Sima berusaha untuk menenangkan Dendi yang kalut, ketakutan. Tapi, suara Sima tidak bisa menggapainya.
“Aku ...aku ...” Kembali ia meracau.
“Tenangkan dirimu Dendi!” teriak Sima seraya mencubit wajahnya, dan berharap agar Dendi cepat sadar.
Karena gelap inilah Dendi tidak bisa berpikir jernih serta berpikir ada hantu atau semacamnya, lantas Sima pun secepatnya mengambil ponsel di balik saku miliknya lalu menyalakan layar ponsel agar Dendi dapat menyadari adanya cahaya saat ini.
“Lihat aku! Atau cahaya ini! Dendi!” Sima terus mengguncangkan tubuhnya selama Dendi terus meracau seakan tengah kerasukan entah setan apa.
Membutuhkan waktu sekitar 2 menit lamanya, barulah Dendi menyadari adanya cahaya di depan mata. Cahaya dari layar ponsel membuat Dendi kembali sadar dan mulai melihat keadaan sekitarnya yang sudah gelap.
__ADS_1
“Dendi, ada aku. Kamu tidak sendirian di sini! Ya?”
Awalnya Sima yang berpura-pura ketakutan karena terjebak lift sebelum ini, niat Sima adalah agar dapat memeluk Dendi. Tapi apa yang terjadi setelahnya, justru Dendi yang sekarang benar-benar ketakutan karena telah terjadi pemadaman listrik di hotel.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Sima.
Dendi sama sekali tidak menjawab namun keadaannya jauh lebih dari sebelumnya, dan tanpa sadar ia menjatuhkan tubuhnya sendiri, lantas bersandar ke pundak Sima.
'Eh, apa yang terjadi?' batin Sima terkejut karena Dendi yang tiba-tiba bersandar ke pundaknya.
Bagaimana Sima tak terkejut sekaligus gugup bahkan jantungnya berdetak cepat tak seperti biasanya. Jangankan itu, bahkan bernapas saja sudah sulit sekali. Ini bukan karena hotel yang berubah menjadi gelap melainkan karena Dendi yang terlalu dekat dengan Sima.
Padahal Sima duluan yang pertama mengambil inisiatif, tapi kini saat Dendi yang melakukannya sendiri walau hanya sekadar bersandar ke pundak justru membuat Sima kalang kabut.
“Mbak Sima ...nggak disangka ternyata kita ketemu lagi, ya. Syukurlah.”
Setelah cukup lama ia bersandar ke pundak Sima, lantas Dendi memeluknya dan bersyukur karena telah dipertemukan oleh orang yang ia kenal. Sejenak pikiran Sima kosong, ia jadi sulit berpikir atau lebih tepatnya dalam keadaan blank.
Merasakan debaran jantungnya yang begitu dekat dan terasa lalu tubuh mereka yang saling merasakan hangatnya satu sama lain. Ini adalah momen langka yang tak pernah disangka-sangka oleh Sima sebelumnya.
“Ajaib.”
“Ada apa Mbak Sima?” tanya Dendi.
“Ah, tidak. Bukan apa-apa,” ucapnya gugup seraya menelan ludah.
“Oh, iya! Maaf!” Tiba-tiba Dendi meninggikan suaranya tuk meminta maaf. Lalu ia melepaskan pelukannya, mengangkat tangan dengan terkejut.
“Maaf, untuk apa?”
“Aku minta maaf karena memeluk Mbak, ini jelas-jelas nggak sopan, benar?” tuturnya berpaling wajah dari Sima, menggaruk wajahnya yang tidak gatal dan merasa gelisah.
__ADS_1
Justru Sima yang baru saja mencium harumnya tubuh Dendi hanya bisa tersenyum menatap ke arahnya. Seolah air suci tumpah ke wajahnya, segala luapan emosi yang ada pun berubah menjadi tenang, kalem dan damai.
“Tidak. Bagiku itu tidak masalah. Justru aku yang harusnya minta maaf, Dendi.” Dengan suara yang lembut, tangan Sima yang bergetar ringan itu mencoba untuk meraih jari-jemari Dendi.
“Aku yang pertama kali berbuat tidak sopan terhadapmu,” lanjutnya dengan tersenyum.
“Tidak! Ini salahku! Mbak Sima berbuat begitu karena lift-nya sempat rusak. Aku pun mungkin akan melakukan hal yang sana. Tapi, sepertinya aku bersikap berlebihan karena di sini gelap.”
Mulai lagi, Dendi tampak selalu resah setiap detik sesaat setelah dirinya merasa tenang. Ada hal yang mengganggunya.
“Dendi, kamu takut gelap? Kalau begitu tenangkan dirimu, kalau perlu peluk aku saja tidak masalah,” ucapnya yang sebenarnya berharap dipeluk lagi. Ia mengatakannya sambil merentangkan kedua tangan.
“Iya, maaf. Aku takut gelap karena saat kecil dulu, aku pernah dihantui, Mbak. Jadi kebawa sampai dewasa dan sampai saat ini makin tambah sulit dikendalikan.”
Sima mendekatkan layar ponsel dalam keadaan menyala, guna melihat wajah Dendi yang sampai saat ini tidak mau menatapnya.
“Asalkan ada cahaya, kamu bisa jauh lebih tenang 'kan?” kata Sima.
“Iya, terima kasih Mbak. Maaf sudah merepotkan. Padahal Mbak juga ketakutan karena lift, tapi tiba-tiba jadi aku yang takut. Aku memalukan,” ujarnya yang menjelekkan dirinya sendiri.
Sima yang tak setuju dengan ucapan Dendi lantas meraih dagunya agar mau berhadapan langsung. Mereka berdua yang saling bertatapan dengan cahaya sebatas layar ponsel di bawah mereka, sejenak terdiam untuk beberapa saat.
“Semua orang punya ketakutannya sendiri. Aku menolongmu karena aku ingin. Dendi, jangan sebut itu memalukan,” tegas Sima.
Wanita dewasa. Itulah yang ada dipikiran Dendi tentang Sima. Ia sangat mengaguminya dan juga merasa nyaman hanya karena berada dekat dengannya.
“Daripada wanita lemah, sepertinya aku lebih suka dengan Mbak Sima yang pemberani serta dewasa,” ucap Dendi menyunggingkan senyum.
“A—!”
Panah asmara telah menembus jantung Sima. Rasanya begitu sesak dan panas, ia ingin sekali membanting wajahnya karena telah melihat senyum Dendi bak malaikat dengan mata penuh darah ini.
__ADS_1