Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik

Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik
039. Aksi Heroik = Tendangan Super Si Bos


__ADS_3

Sima tidak jadi melancarkan aksinya di dalam kegelapan sebab ada seseorang yang sudah menumbangkan mereka lebih dulu. Sesaat sebelumnya, Sima sempat melihat ada sedikit cahaya berupa aliran listrik, rupanya itu adalah stun gun yang digunakan untuk menumbangkan tiga orang cabul ini.


“Syukurlah, Mbak Sima nggak terjadi apa-apa,” ucap Dendi.


Tak!


Karena terkejut, Sima sampai tak sengaja menjatuhkan ponselnya. Dendi lantas membantu untuk mengambil ponsel Sima yang terjatuh.


“Ah, aku baru ingat. Bukankah ponsel Mbak Sima dirampas sebelumnya?” tanya Dendi seraya menyerahkan kembali ponsel itu.


Dengan menerima ponsel itu, Sima kemudian berkata, “Terima kasih. Ponsel ini ponsel lamaku. Untuk yang saat itu, aku biarkan saja. Lainnya bisa aku urus,” jawabnya.


“Oh, begitu. Syukurlah.”


“Em ....hei!” Seri memanggil Sima dengan ragu-ragu, tampaknya ia akan membicarakan hal yang sama lagi.


“Kenapa?”


“Tentang Dendi. Aku mohon ijinkan satu malam ini saja ya?” Sudah dapat diduga, ia kembali memohon seraya mengatupkan kedua tangannya ke depan.


“Tidak. Aku tidak akan mengijinkannya. Dendi orang polos, bisa-bisa ternodai olehmu yang sudah bejat, mengerti.” Masih jawaban yang sama, apa pun alasannya Sima menolak.


Kini terlihat seperti, Sima adalah ibu Dendi dan wanita bernama Seri justru terlihat seperti pacar Dendi yang memohon agar dapat tinggal bersama.


“Hei! Masa' tidak boleh begitu? Aku sudah menyelamatkanmu dan ini balas budimu?” ketus Seri.


“Apa masalahmu? Ini dan itu adalah hal yang berbeda, dan tanpamu aku bisa melawan mereka sendirian. Ya, meski di sini sangat gelap, aku tetap yakin bahwa aku masih bisa,” tutur Sima seraya menganggukkan kepala berulang kali.


“Lalu, apakah Dendi tidak bilang padamu? Tentang masalahmu, biar aku yang urus!” tegas Sima.


“Memangnya wanita sepertimu bisa apa? Dan juga kau ini siapanya Dendi sebenarnya, hah?” Makin ke sini makin nyolot saja mulut si Seri ini.


Tanpa terkunci barang sedetik saja, mulut yang sudah seperti hewan buas itu terus mengatakan beberapa patah kata dengan ketus.

__ADS_1


“Aku? Ha! Pacarnya dong!” Dan anehnya Sima terus menanggapi omongan Seri. Setelah mengaku sebagai pacar Dendi yang tentunya adalah kebohongan semata, Sima lantas merangkul lengan Dendi, sengaja ia menjauhkan Dendi dari Seri.


“Apa? Itu—”


“Eh?” Sementara yang paling syok adalah Dendi, ia tiba-tiba menjadi sangat gugup. Ia bungkam mulut sejak tadi karena bingung harus bertindak bagaimana. Terlebih sekarang dirinya tengah diperebutkan oleh dua wanita.


“Mengerti bukan? Jadi kau tidak berhak melakukan hal di luar nalar. Kau saja yang tidak tahu aku siapa, ingat saja mulai besok pagi kau akan hidup seperti biasanya!” Sima berkata seraya menunjuk-nunjuk Seri dengan kebanggaannya yang dapat merangkul Dend tanpa rasa gugup sedikit pun.


“A-apa? Ugh! Aku mohon sekali saja?!”


“Jangan berteriak, atau aku akan membu— ...membuatmu tidak bisa berkata-kata lagi,” kata Sima, yang sebelumnya nyaris ia mengatakan hal yang seharusnya tidak ia katakan.


“Eh, ah ...tunggu. Tu-tunggu! Tunggu ...sebentar ...anu ...kalian berdua,” lirihnya dengan kebingungan. Dendi jadi sulit berkata-kata saking intensnya pertarungan saling adu mulut antara sesama wanita.


Pats!


Lampu, atau keseluruhan listrik akhirnya kembali menyala. Semua orang yang tadinya berkumpul dalam satu titik kini mulai berpencar kembali hingga memenuhi aula lantai ini. Tuan yang memiliki acara ini pun turut senang, sementara Sima akan memulai aksinya tuk menangkap seseorang yang telah mengutak-atik keamanan hotel ini.


“Entah apa yang diincar olehnya. Tapi orang ini akan berguna untukku suatu hari nanti,” gumam Sima seraya berlari cepat menuju ke arah anak tangga.


“Maaf, aku akan kembali ke sini. Jadi jangan ke mana-mana!” sahutnya yang kemudian berlari menuruni anak tangga.


Lift telah dipenuhi banyak orang, tentu Sima akan mengambil jalan bertangga untuk turun ke bawah. Hanya dalam beberapa menit saja, tidak lebih dari 3 menit, Sima akhirnya turun ke lantai 9.


“Gura bilang dia ada di sini. Nah, sekarang mana orang yang terlihat mencurigakan,” gumam Sima seraya memutar bola matanya guna mencari seseorang sembari jari-jemarinya bergerak mengetik nomor ponsel Gura agar dapat menghubunginya segera.


Mangsa ada di depan mata, dan sekarang Sima sedang mencarinya setengah mati. Tapi terlalu banyak orang yang berpakaian formal karena acara besar milik pejabat di hotel, sehingga sulit untuk meneka mana hacker tersebut.


“Oh!”


Namun tak berselang lama kemudian, ekor matanya melirik ke arah seorang pria berambut tipis disisir rapi ke belakang. Ia mengenakan tuksedo namun kemeja putih bagian dalamnya, lebih tepatnya di bagian lengan terlihat tak rapi. Juga ia membawa sebuah laptop di genggaman tangan kirinya.


“Aku mencium aroma busuk dari orang itu. Jika aku berlari mengejarnya, akan dia kabur? Ya, dia akan kabur jika dia benar-benar hacker itu,” ucap Sima menyeringai.

__ADS_1


Beruntung ia tak sedang mengenakan gaun atau pakaian yang sesak di dada. Sima mengenakan pakaian biasa, dengan celana panjang yang menjadi ciri-cirinya.


Tanpa mengenal keadaan sekitar, Sima lantas berlari mengejar pria itu. Sontak saja pria itu terkejut lantas melarikan diri. Sesuai dugaan, ialah orang mencurigakannya.


“Tunggu!!!” teriak Sima seraya melancarkan tendangannya, mendarat tepat di kening pria itu sampai ia kemudian ambruk di tempat.


Namun hanya berselang beberapa waktu saja, pria itu kembali bangkit dan melarikan diri dari Sima.


“Aku tidak akan mengejarmu. Tapi sebagai gantinya ...hei, Gura!” Akhirnya panggilan di antara majikan dan bawahan tersambung. “Tangkaplah, hacker itu!” perintah Sima telah dikeluarkan, Gura pun telah bersiap di luar sana.


Hacker akan berada di tangan Sima tak lama lagi. Lalu, sebelum ia kembali, Sima harus memberi pesan pada bawahannya yang lain.


Pesannya berisi perintah lain, "Habisi pria yang menguntit wanita ini." Dengan melampirkan sebuah foto Seri yang baru saja ia ambil sesaat setelah lampu kembali menyala.


“Dengan ini selesai sudah. Aku hanya tinggal menerima laporan dari mereka. Nah sekarang, sisanya hanya perlu meyakinkan wanita itu.”


Urusannya selesai dalam waktu singkat, Sima bergegas kembali ke lantai atas untuk menemui Dendi dan Seri.


“Mbak Sima, apa Mbak nggak apa-apa?” tanya Dendi khawatir.


“Ya, aku tidak apa-apa.” Paling-paling Sima hanya sedikit cemas apabila Sima diejek oleh para penghuni hotel di lantai bawah sebelumnya. Serta berharap bahwa kejadian itu tidak akan ada yang merekamnya.


“Dan ke mana tiga orang yang ditumbangkan tadi?” tanya Sima menoleh ke samping, ia bertanya sebab keberadaan tiga orang yang sudah tak sadarkan diri itu sudah menghilang.


“Petugas keamanan mengusir mereka,” kata Seri.


“Begitu, ya. Sayang sekali aku tidak dapat mengetahui wajah mereka lebih jelas lagi. Ya sudahlah.”


Sima kemudian tersenyum lagi, lalu menarik tangan Dendi.


“Kalau begitu, mari kita pulang?”


“Tunggu sebentar! Bagaimana denganku?” sahut Seri cemas.

__ADS_1


“Tenang saja. Kamu pulanglah lalu tidur, semua akan baik-baik saja,” ucapnya santai sambil menyeret Dendi pergi.


__ADS_2