Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik

Mafia Cantik Terjerat Cinta Klasik
054. Cinta itu apa?


__ADS_3

“Nona Sima, saya membawakan beberapa pakaian yang sebelumnya sudah disiapkan. Silahkan bawa tas ini.”


“Ya, terima kasih.”


Sudah angin kencang, hujan deras pula. Lalu kuda besi mogok di tengah jalan. Ini sungguh di luar dugaan. Tetapi, memikirkan cuaca yang memburuk setelah beberapa jam lamanya, Sima sendiri tak menyangka bahwa mengobrol bersama Dendi sudah menghabiskan banyak waktu.


“Aku seharusnya memperhatikan waktu.”


“Aku juga harusnya begitu, Mbak. Maaf, padahal saat itu kita sudah keluar dari bandara tapi masih saja keasyikan mengobrol.”


“Bukan salahmu, Dendi.”


Karena semua hal yang sudah terjadi, membuat Sima dan Dendi harus menginap sementara di hotel seberang.


Di depan resepsionis.


“Apa? Tersisa satu kamar saja?!” Sima sampai tidak sadar berteriak.


“Ya, maafkan saya. Karena cuaca buruk, semua orang terutama turis memutuskan untuk menginap di hotel.”


“Ah, baiklah. Baik.”


Satu kamar, yang benar-benar tak sesuai dugaan. Betapa hokinya Sima, yang pandai berakting seolah ia tidak menyangka ini terjadi. Seharusnya seorang wanita takkan suka apabila satu kamar bersama seorang lelaki namun lain cerita kalau Sima, terlebih lelaki itu adalah orang yang ia sukai.


“Bagaimana ini Dendi? Tidak masalah bukan?” tanya Sima berwajah melas.


“Kalau Mbak Sima tidak mempermasalahkannya maka tidak masalah.”


“Baiklah.” Wajah Sima terlihat biasa saja di depan mata namun aslinya di dalam benak. 'Yeah!' Jeritan kebahagiaan membuat hati Sima menggebu-gebu.


Lalu, sesampainya di kamar yang sudah mereka pesan.


“Aku akan tidur di sofa panjang itu saja ya, Mbak. Dengan begitu tidak akan mengganggu privasi Mbak.”


“Eh, kamu yakin? Aku takut kamu kedinginan nanti, jadi tidak masalah buatku jika kamu ingin tidur satu ranjang denganku,” kata Sima menawarinya yang sebenarnya memaksa.


“Tapi Mbak ...”


“Bukan masalah buatku. Lagi pula Dendi adalah pria yang baik-baik, jadi aku percaya.”


“Baiklah, Mbak Sima.”


“Sebelum beristirahat. Kita harus mandi dengan air hangat. Di sini hotel yang sangat mewah, jadi tidak perlu sungkan. Nah, kamu mandi duluan saja,” kata Sima sembari menyerahkan handuk putihnya.

__ADS_1


Dengan ragu Dendi menerimanya. Ia gugup karena mencoba untuk menenangkan pikiran liar yang sempat terlintas dalam benaknya.


“I-Iya Mbak.”


Usai Dendi masuk ke dalam kamar mandi. Sima terduduk di tepian ranjang sembari melepas pakaiannya. Hanya dengan menggunakan tank top, lihatlah dirinya yang begitu percaya diri padahal ada seorang lelaki yang ada di dalam kamar yang sama bersamanya.


“Kemeja ini menyesakkan. Siapa yang membawa pakaian ini sih?” gerutu Sima.


Cedera di kepalanya belum pulih, Sima masih ragu apakah ia harus mandi di tengah cuaca begini. Namun tubuhnya sedikit basah karena hujan dan keringat. Ini membuatnya terasa lengket.


“Aku lebih suka pakaian yang terbuka namun lebar. Itu terasa nyaman dipakai.”


Pintu kamar mandi yang berada di paling sudut ruangan terbuka, nampaknya Dendi telah menyelesaikan urusannya di sana. Sima melirik ke arahnya sambil tersenyum sedangkan Dendi hanya terkejut lantas menutup pintu itu kembali.


“Eh? Kenapa?”


Merasa aneh dengan yang terjadi, lantas Sima menghampirinya.


“Dendi, kamu butuh sesuatu? Ah, tunggu sebentar. Sepertinya kamu juga butuh pakaian ganti ya? Tunggu sebentar,” kata Sima yang kemudian ia terburu-buru tuk mengambilkan pakaian untuk Dendi.


“Tunggu, Mbak Sima!” teriak Dendi dari dalam sana.


“Ada apa, Dendi?”


Semenit setelahnya ia tersadar, alasan sikap Dendi yang aneh setelah membuka pintu kamar mandi karena tubuh Sima yang terlalu terekspos.


“Maaf, Dendi. Aku pikir tidak masalah. Yah, selama tidak bermacam-macam.”


Sembari Sima memberikan pakaian ganti seadanya, ia berkata, “Apa kamu tidak terbiasa?”


“Tentu saja tidak, Mbak! Seorang lelaki sejati tidak akan pernah melihat wanita yang berpakaian terbuka seperti itu.”


“Tapi di luar banyak loh?”


Sima selalu menganggap itu adalah hal yang wajar namun sebetulnya ia juga berniat tuk menggoda Dendi.


Setelahnya Dendi pun keluar. Ia menyampirkan handuk pada Sima tuk menutupi bagian yang terbuka di belahannya.


“Hari ini cuacanya berangin dan hujan deras. Pasti akan cepat kedinginan. Meskipun sudah memakai air hangat sekalipun.”


“Dendi, kamu ...”


Situasi mendadak jadi canggung. Lebih tepatnya setelah membersihkan badan mereka. Keduanya sama-sama terduduk di tepian ranjang dengan menatap ke bawah.

__ADS_1


'Loh kok jadi begini?' pikir Sima dalam benaknya.


'Bagaimana ini? Ini pertama kalinya aku berbagi ranjang bersama seorang wanita. Bagiamana ini?' batin Dendi tak karuan.


Kedua-duanya sama-sama tak tahu harus berbuat apa. Mereka hanya bisa duduk terdiam sampai salah satu dari mereka akan bicara.


“Anu ...,” Namun mereka justru angkat bicara secara bersamaan.


“Mbak duluan.”


“Tidak, kamu saja Dendi.”


Yang pada akhirnya mereka saling menatap satu sama lain dalam diam. Sedikit demi sedikit perasan canggung kian melekat. Tetapi setelah melihat langit malam ini di balik jendela, perasaan canggung pun memudar seiring waktu berjalan.


“Cuaca buruk pun masih terlihat ada bintang. Tidak seperti biasanya,” ucap Sima sembari memandang langit di balik jendela di dekatnya.


“Ya, seperti Mbak Sima.”


“Eh? Kenapa aku?” Sima menoleh, menatap Dendi dengan heran.


Dendi sekilas tersenyum menatap langit lalu mengalihkan pandangannya pada kota di bawah sana, yang memiliki setidaknya cahaya mirip seperti bintang di angkasa.


Mendekatkan bibirnya langsung pada daun telinga Sima. Dendi berbisik lembut, “Meski masalah yang dimiliki Mbak Sima saling bertumpang tindih, tapi senyumannya yang manis masih ada.”


“A-a-apa yang tiba-tiba kamu bicarakan? Tidak biasanya kamu menggombal seperti ...,” Sima menjauhkan diri dari Dendi. Ia bergidik tepat setelah mendengar rayuan tak langsung itu.


“Dendi.” Sekali lagi Sima memanggil namun dengan hati yang resah. Sebab dirinya bingung ketika melihat ekspresi Dendi yang berubah.


Tidak biasanya Sima mendapati Dendi seperti ini. Senyum tipis yang tersungging serta manik-manik mata yang terkesan menyipit seolah menarik pandangannya. Memang terlihat seperti tidak biasanya, namun di samping itu Sima juga kebingungan.


“Jika aku berterus terang, sebenarnya aku sangat jatuh cinta dengan Mbak Sima. Sungguh. Karena itulah setiap melihatmu, aku selalu hilang kendali dan semacamnya.”


Semua ungkapannya barusan adalah nyata. Sima yang mendengarnya pun merasa begitu. Dan entah mengapa itu membuatnya teringat akan ucapan Dendi yang lampau.


“Dulu kau pernah bertanya begini, "Apakah aku harus menyerahkan jiwa dan ragaku untuk membalas budimu?", atau semacam itulah, dan kemudian aku berpikir mungkin kamu telah salah paham sesuatu.”


“Bukan.” Dendi menyangkal tentang apa yang barusan Sima katakan. Ia menggelengkan kepala lantas menyahut, “Yang aku katakan, bukan aku tanyakan. Itulah maksudku sebenarnya.”


“Tidak biasanya kamu—”


Kali ini tidak hanya mencoba untuk mendekat, Dendi meraih kedua lengan Sima dan membuat Sima tetap menatapnya lebih dekat.


“Aku jatuh cinta. Dan penyebabnya adalah Sima!”

__ADS_1


__ADS_2